
Alina yang baru saja membuka mata hanya bisa termangu saat Erick sudah tersenyum di sampingnya, pria itu nampak semringah seraya merapikan rambut yang menutupi kening sang istri.
''Kakak sudah bangun?'' Ucap Alina malu-malu, karena yang ia jaga ternyata sudah membuka mata lebih dulu.
''Sudah, terima kasih karena kamu sudah mau datang kesini.''
Alina bangun dan duduk berhadapan dengan Erick yang juga duduk di tepi ranjang. Mendengarkan ucapan demi ucapan yang meluncur dari sudut bibir suaminya yang mengeluarkan isi hatinya.
''Aku minta maaf atas semua perbuatanku, aku mencintaimu.'' Menggenggam jemari Alina dengan erat.
Tak ada alasan bagi Alina untuk menjawab karena di dalam lubuk hatinya yang terdalam Ia pun sama seperti Erick. Akan tetapi rasa sakit itu masih saja menghantui dirinya dan trauma akan sikap Erick padanya waktu itu.
''Sekarang jawablah, maukah kamu kembali denganku?'' Erick terlihat memelas.
Wanita itu mendongak menatap Erick dengan lekat. Rasa ragu itu terus meliputinya saat bertatap muka dengan Erick, pria yang masih sah menjadi suaminya.
''Maaf kak, aku belum bisa.'' Jawabnya.
''Kenapa?'' Sontak Erick meninggikan suaranya. ''Apa begitu bencinya sampai kamu tidak mau kembali denganku, aku tau aku salah, dan aku minta maaf.'' Entah yang keberapa kali Erick memohon, yang terpenting ia bisa memiliki hati Alina kembali.
''Kalau kamu tidak mau kembali, kenapa kamu datang kesini? Kenapa kamu menemaniku?''
''Aku kesini atas permintaan Melani.'' Ucap Alina, karena memang itulah tujuannya datang.
''Apa yang Melani minta?'' tanya Erick dengan nada rendah.
''Dia ingin papanya kembali, dan aku nggak tega menolak permintaannya.'' jawab Alina.
Erickk melepaskan tangan Alina dan beralih memunggunginya.
''Aku akan kabulkan permintaan kamu.''
''Beneran kak?'' Sahut Alina seketika. Tanggapannya sangat serius hingga Alina langsung tersenyum lebar.
''Tapi aku punya satu syarat,'' imbuhnya lagi menatap wajah Alina yang kembali melemah.
''Apa?'' tanya Alina pelan. Karena dalam otaknya sudah berkeliaran menebak syarat yang akan di ajukan suaminya.
''Kembali padaku. Dan sekarang juga aku akan menyuruh Sigit untuk membawa paman kembali.''
Pilihan yang menurut Alina sangat berat, di satu sisi wanita itu tak tega melihat kesedihan Melani, di sisi lain Alina masih belum bisa jika harus kembali disisi suaminya.
''Bagaimana?'' tanya Erick lagi, seakan mendesak Alina yang masih memutar otaknya.
__ADS_1
''Apa nggak ada syarat lain selain itu?'' tawar Alina mencoba negosisasi.
Erick menggeleng, karena tidak ada yang ia butuhkan saat ini selain Alina kembali disisinya.
Apa yang harus aku lakukan, aku memang sangat sakit hati dengan kelakuan Kak Erick, tapi bagaimana dengan Melani, kalau aku juga dendam dengan apa yang ia lakukan, itu artinya aku juga sama seperti dia, aku juga tidak punya hati nurani, Ya Tuhan semoga jalan yang aku pilih ini benar.
''Baiklah, aku akan kembali ke rumah ini, asalkan Melani bisa berkumpul dengan papanya.''
Seketika Erick memeluk tubuh Alina, Bersyukur, akhirnya ia bisa mendapatkan Alina kembali.
''Terima kasih, mulai hari ini kita akan mulai dari awal, maafkan aku karena pernah menyakiti kamu.''
Alina mengangguk pelan.
Setelah mendapat keputusan dari Alina, Erick beranjak dari duduknya dan meraih ponselnya, dan orang yang di hubungi tak lain adalah Sigit, seperti janjinya pada Alina, Erick memerintahkan sekretarisnya untuk mengurus kepulangan pak Bima dengan segera, meskipun sedikit berat, nyatanya ia pun dengan entengnya melakukan itu demi Alina.
Suasana rumah berbeda, Saat Alina memutuskan kembali, Erick benar benar mencurahkan semua rasa cintanya, tak peduli yang akan di bilang norak, yang pastinya ini adalah hari yang paling membahagiakan dalam hidupnya, menemukan cintanya kembali tanpa rasa dendam seperti waktu itu. Bahkan Erick rela menginjak dapur demi mengambilkan makanan untuk Alina.
''Kak, nggak perlu seperti ini juga, aku bisa turun sendiri.'' keluh Alina saat Erick mengangkat tubuhnya menuju sofa.
''Nggak boleh, lagi pula selama aku di rumah, kamu nggak boleh ambil makanan sendiri.''
Lebay
''Bi, lain kali bibi jangan mau di perintah kak Erick.''
Erick yang tadinya mengambil nasi terpaksa menghentikan aktivitasnya dan menangkup kedua pipi Alina.
''Siapa yang bayar Bi Minah? Kan aku.''
''Tapi kan aku nyonya di sini,'' bantahnya.
Erick kembali melepaskan pipi Alina dan menarik tubuhnya hingga jatuh ke dalam pangkuannya.
''Baiklah, mulai hari ini kamu yang akan mengurus keuangan rumah ini.'' Menyodorkan dompet miliknya.
Alina hanya menatap benda itu tanpa ingin menerimanya, baginya ia belum cukup mahir jika harus bertanggung jawab masalah rumah tangga yang akan di sandangnya kembali.
''Nggak usah kak, aku cukup mendapat cinta dari kakak, itu saja, karena bagiku tidak ada yang penting selain bersama orang yang mencintaiku dan aku cintai.'' Jelasnya.
Tak percaya jika kedatangannya ke rumah Erick justru malah membuatnya terperangkap di rumah itu, kini Alina pasrah dengan hidupnya demi Melani.
''Harus dengan apa aku membuktikan cintaku?'' Ucap Erick meraih tangan Alina dan merentangkan di dadanya.
__ADS_1
''Dengan setia, karena itu yang paling berharga.''
''Baiklah, sekarang kamu makan dulu.'' Menyodorkan satu sendok makanan tepat di mulut Alina.
Semoga kak Erick benar benar berubah, dan ini adalah awal dari kehidupanku menuju kebahagiaan.
Baru juga beberapa suap, keduanya di kejutkan dengan pintu yang kembali di ketuk dari luar.
''Ada apa lagi Bi?'' sahut Erick yang masih duduk si sofa.
Tak ada jawaban.
''Biar aku yang buka kak,'' Akhirnya Alina yang mengalah untuk membuka pintunya.
''Diana...'' Seru Alina saat mendapati sepupu Erick di depan pintu.
''Dari mana kamu tau kalau aku disini?''
Diana tak menjawab, namun pandangannya yang mengarah ke Erick menunjukkan kalau pria itulah yang memberi tau.
''Kakak yang ngasih tau ke Diana?''
Erick mengangguk, karena dari dalam hatinya ingin membuat hari hari Alina bahagia, meskipun berbagai cara harus ia tempuh.
''Dan mulai sekarang Diana akan menjadi teman kamu jika di rumah.''
Alina mendengus dan menggiring Diana untuk masuk.
''Ini sudah berlebihan kak, nggak perlu begini juga, lagi pula aku kan bisa kerja untuk mengisi waktu.''
''Nggak.'' Spontan Erick menyelak pembicaraan Alina.
''Kamu nggak boleh kerja.''
''Kenapa, tapi aku nggak bisa berdiam diri di rumah.''
''Kalau kamu mau kerja, kamu harus kerja untuk aku, kamu harus menjadi asisten pribadi aku.''
Terpaksa Alina diam meng iyakan, dari pada harus terus berdebat dengan suaminya.
Inilah yang aku tidak suka darinya, maunya menang sendiri, giliran salah, tetap maunya benar, egois.
Alina hanya menggerutu dalam hati, tak mau memperpanjang masalah yang menurutnya tak berfaedah.
__ADS_1