
Mengenang masa lalu yang terkikis oleh waktu, banyak hal indah yang mereka lewati, siapa lagi kalau bukan sepasang suami istri yang kini hanya bisa bermesraan. Bahkan keduanya membuat semua mata menjadi iri, bagaikan lalat yang berterbangan tak karuan saat melintas di depannya.
Ah, jiwa jomblo Romi meronta ronta. Datang ke kantor Erick nyatanya malah membuat hatinya jadi gegana.
Pamer, coba saja kalau Sita ada di sini.
Bahkan Romi hanya bisa menyebut nama pacarnya yang sedang merintis karir di luar negeri, untuk apa papanya menyuruhnya berbisnis dengan Erick yang kini hanya sibuk dengan Alina.
Ehemmm
Bahkan deheman Romi pun tak digubris, Erick tetap cuwek, tak mau melirik kearah Romi yang sudah mengeraskan rahangnya.
''Kakak.'' Akhirnya pria itu membuka suara karena sudah jengkel saat diabaikan sepupunya.
Erick mendongak melepaskan bukunya yang di pegang bersama Alina.
''Kenapa?'' mukanya sangat datar, rasa hati Romi ingin menonjok hidung mancung pria di depannya itu. Tapi ia hanya bagaikan sebutir debu saat di hadapan Erick.
''Ini bagaimana, bukankah kakak harusnya mengajariku untuk masalah bisnis ini?''
Membuka map yang dari tadi di himpitnya di ketek.
''Bau,'' celotehnya. Terpaksa meraih dokumen dari tangan Romi.
Alina tersenyum renyah, menatap Romi yang masih menunjukkan mimik marah.
Cih alasan, mana ada, aku kan selalu pakai deodoran.
Entah merk apa, yang pastinya Romi selalu pede setelah memakai itu.
Hampir tiga puluh menit Romi hanya bisa menunggu Erick memeriksa laporannya, dan pria itu nampak menguap, apa lagi tak ada camilan maupun minuman di depannya.
''Apakah kantor ini hampir bangkrut, sampai nggak memberi minuman ke tamu yang datang.'' Celetuknya.
Romi menyandarkan punggungnya ke belakang merapikan rambutnya dan melipat kedua tangannya.
''Bentar ya aku bikinin.''
Tanpa aba aba Erick menarik tangan Alina hingga wanita itu kembali duduk.
Erick memencet telepon kantor yang ada di hadapannya.
''Bawa minuman ke ruanganku, bila perlu kasih racun.'' Titahnya.
Whaaatt...sontak Romi terkejut mendengar ucapan kakak sepupunya.
''Mana bisa begitu?'' protes dengan tingkah konyol Erick.
''Makanya diam.''
Dengan tegasnya Erick membentak Romi saat konsentrasi Erick diganggu, jangankan suara Romi yang menurutnya menggelegar, rintihan semut pun Erick tak terima jika mengurus masalah kantor.
Tok... tok..
__ADS_1
Tanpa di suruh pelayan masuk membawa dua cangkir kopi dengan cangkir yang berbeda.
Dan itu tak luput dari pandangan Romi yang mulai curiga.
''Ini benaran ada racunnya?''
Romi menatap pelayan yang masih mematung di sana.
Dengan senyum manisnya pelayan perempuan itu tersenyum.
Bisa bisanya Romi menganggap ucapan Erick itu benaran, padahal hanya gertakan.
Dia kenapa sih, tapi nggak mungkin kan ini ada racuunnya, tapi kenapa cangkirnya harus berbeda.
Tatapan Romi masih saja curiga dan memutar tempat minum itu hingga dua kali.
Tak ada yang aneh saat Romi melihat minuman Erick, keduanya sama sama hitam pekat, bahkan aromanya pun sama.
''Kak mau nggak tukaran sama punyaku.''
Seketika Erick menyodorkan kopi miliknya. Dan mengambil kopi milik Romi.
Alina hanya mengangkat kedua bahunya tak mengerti dengan dua orang di hadapannya tersebut.
''Oh iya, katanya tante sakit, sakit apa?'' Erick menyeruput kopinya, tak seperti Romi yang jiwa takutnya masih sangat tinggi. Hingga setetes lun kopi ktu tak diminumya.
''Kemarin mama jatuh, dan sekarang encoknya kumat.'' Tutur Romi.
''Encok, ulang Erick, tak tau jenis penyakit macam apa itu. Apa sejenis tulang patah?''
Romi hanya bisa bicara dalam hati.
''Nggak, kak, hanya tulangnya sedikit nyeri saja.''
''Sudah di bawa kedokter?''
''Belum, mama nggak mau.''
Alina meringsuk duduknya dan bergelayut manja di lengan kekar Erick.
"Nanti kita ke rumah tante ya kak!" pinta Alina, khawatir dengan keadaan tante Rasti.
Erick mengangguk tanpa suara. Baginya tak ada alasan untuk menolak.
Setelah penelitiannya selesai, Erick mengembalikan map milik Romi dan menyuruhnya untuk keluar, begitu juga dengan pria lajang itu, sudah tak betah jika harus berlama lama berada di ruangan Erick.
Suasana kantor sangat ramai, seperti jam biasanya, Para karyawan selalu makan siang, mereka berhamburan keberbagai tempat favorit masing masing, tak ubahnya Erick, namun kini pria itu memilih untuk tetap berada di ruang bersama istrinya.
"Kak, kapan kita makan?"
Perut Alina merasa tak betah, semua cacingnya sudah meminta jatah. Hingga dirinya merasa lemas.
"Bentar." masih fokus dengan laptop didepannya.
__ADS_1
Sesibuk itukah kak Erick saat bekerja, sampai dia mengabaikan makannya, apakah sebelum menikah dia juga seperti ini, pantas saja badannya sedikit kurus.
Akhirnya Alina pamit untuk keluar.
''Mau kemana?'' tanya nya saat Alina menghampirinya sejenak.
''Ke dapur, aku ingin buat makanan untuk kakak.''
Setelah mendapat anggukan dari Erick, Alina keluar dari ruangan suaminya.
Sekarang Aku cukup membahagiakanmu, supaya hidupku merasa lengkap.
Karena belum terlalu hapal dengan tata letak kantor itu, Alina menghampiri Sigit yang baru saja membuka pintu ruangannya.
''Kamu mau kemana, Al?'' tanya Sigit sebelum Alina menyapa.
Wanita itu hanya mengulas senyum. Sedikit malu, ingat kejadian baju miliknya yang tak sengaja di tenteng Sigit, saat ke ruangan suaminya.
''Dapurnya di mana ya?''
''Kamu mau ngapain mencari dapur?''
''Masak.''
Sigit mengerutkan alisnya, mungkin ini memang pertama kalinya bagi Alina, namun wanita itu tak merasa keberatan jika harus menjadi juru masak untuk suaminya.
''Silakan,'' Sigit menunjukkan jalan menuju dapur.
Semua karyawan hanya bisa menunduk ramah saat Alina melewati depan ruangan demi ruangan, sedikit asing, namun ia harus terbiasa dengan suasana kantor suaminya, apa lagi semalam, Erick sudah memutuskan untuk mengajaknya setiap hari.
''Terima kasih,'' Ucap Alina, setelah keduanya sudah sampai di depan ruangan yang di kerumun banyak orang yang berbaju putih dengan kopyah dikepalanya.
''Tolong kalian bantu istri pak Erick, nanti kalau sudah selesai antarkan ke ruangannya lagi!''
Semua yang ada di sana mengangguk mendengar perintah dari sekretaris itu.
''Silahkan Bu, ada yang bisa saya bantu?'' salah satu Chef tampan menawarkan dirinya untuk menolong Alina.
''Aku ingin masak cumi asam manis, apakah ada bahannya?''
Pria yang berpawakan lebar itu membuka lemari pendingin dan mengeluarkan bahan yang diminta Alina, tak ketinggalan satupun, Pria itu menyiapkan apa saja yang di butuhkan wanita itu.
''Ini, Bu.''
Setelah semua siap, Alina segera bergulat dengan bumbu dan peralatan dapur, tak mau kalau Erick menunggunya lama, apa lagi pria yang kini sibuk itu tadi pagi juga makan sedikit.
''Berapa lama Chef kerja disini?'' Alina mencairkan suasana yang sangat hening, karena semua yang ada di sana hanya menyaksikan dirinya.
''Sudah lama, Bu.''
''Apa yang membuat kamu betah disini?'' tanya Alina, sedikit mengorek tentang kebijakan perusahaan milik suaminya.
''Disini kami mendapat gaji yang seimbang, bahkan bisa di bilang lebih, kami juga mendapat santunan jika keluarga ada yang sakit, Meskipun sibuk dan menjadi orang nomer satu di sini, pak Erick selalu memperhatikan kami dan senantiasa menyuruh kami untuk cuti jika berhalangan.''
__ADS_1
Alina menitihkan air mata, di lubuk hatinya yang terdalam, tak ingin lagi berpisah dari pria itu.