
Tangis keluarga pak Indra kembali pecah saat Erick tiba di ambang pintu, sebuah hadiah yang tak di sangka, kedatangan Erick bagaikan hujan di musim kemarau, dan itu menyejukkan hati tante Rasti sebagai seorang Ibu. Seketika wanita itu sesenggukan, rasanya bagaikan mimpi di siang bolong bisa melihat keponakannya kembali.
Wanita paruh baya itu tidak bisa bicara apapun dan terus mengelus pipi Erick, dan sesekali memeluknya.
''Tante, jangan nangis, aku baik-baik saja.'' Erick menyeka air mata Tante Rasti yang membasahi pipi.
Tante Rasti menggiring Erick menuju ruang tamu. Mencegah Romi yang hampir saja membuka suara.
Dua tahun Erick meninggalkan jejak, kini isi ruangan itu nampak berbeda.
''Ini anak kamu dan Sigit?'' Tanya Erick, mengelus pipi gembul bayi yang ada di pangkuan Diana.
Diana hanya mengangguk, seperti Tante Rasti, Diana pun tak sanggup untuk menahan air matanya gang sudah berada di pelupuk.
''Mau ikut Om?'' Erick mengambil alih bayi yang baru berumur tujuh bulan tersebut.
''Kakak dari mana saja?'' tanya Diana.
Senyum yang dari tadi terbit kini redup kembali saat Diana bertanya.
''Jangan di bahas, yang penting sekarang aku sudah kembali.'' jawabnya enteng, bahkan sedikitpun Erick tak merasa bersalah sudah membuat semuanya gelisah.
''Kakak,'' Romi pun ikut berhamburan memeluk Erick, melepas rindu yang sudah lama terpendam.
''Kamu sudah menikah juga?''
Romi pun mengangguk dan memperkenalkan istrinya.
Sangat menyayangkan, di hari bahagia keluarga nya, Erick tak bisa hadir dan tak bisa melewati momen bersama.
Erick mengedarkan pandangannya menatap satu persatu keluarga Pak Indra yang masih terlihat masam.
''Aku pulang, tapi kenapa kalian semua malah menangis. Harusnya kalian bahagia.''
Erick tak terima, meskipun ia ikut terharu dengan penyambutan yang spesial, namun hatinya malah ikut ngilu dengan suasana itu.
''Kan kami menangis karena bahagia, harapan kami sempat hilang saat papa dan Mas Sigit tidak bisa menemukan kakak, bahkan papa menyalahkan dirinya sendiri saat kakak dan Kak Alina tidak ada kabar.'' Ungkap Diana.
Alina, apa maksud Diana, bukankah Alina masih ada di kota ini.
Kini Erick menghampiri Om Indra yang masih diam.
''Om, aku minta maaf, aku salah, aku egois.''
__ADS_1
Pak Indra menepuk pundak Erick.
''Jangan salahkan diri sendiri, Om yang salah. Sekarang kamu istirahat, nanti kita bicara lagi.''
Erick mengangguk. Meskipun masih banyak pertanyaan yang ingin di lontarkan, Erick tak mau terburu-buru.
''Sekarang siapa yang ada di perusahaan?''
Pak Indra nampak santai dengan pertanyaan Erick.
''Sigit di sana, karena kamu sudah kembali, dia akan menjadi sekretaris kamu kembali, dan Romi yang akan bekerja di perusahaan Om.''
Erick menatap Romi yang masih duduk bersejajar dengan istrinya. Pria itu sedikit meremehkan dengan kemampuan sepupunya.
''Memangnya dia sudah bisa berbisnis?'' celetuknya menyindir.
''Kan calon pembisnis hebat kayak kak Erick.''
''Aku sudah kembali, itu artinya kamu siap bersaing denganku.''
Seketika Romi membulatkan matanya dan menelan ludahnya dengan susah payah, ternyata kedatangan Erick akan menjadi pesaing bagi bisnisnya.
''Berani nggak?'' Diana menyenggol lengan sang abang yang nampak tercengang.
Semua hanya bisa cekikikan melihat mimik wajah Romi yang sudah menciut.
''Berani,'' ucapnya ragu, meskipun hatinya mendelik, setidaknya Romi tak mau menyerah sebelum bertanding.
''Oke, besok aku akan kembali ke kantor, itu artinya peperangan dimulai.'' Ancam Erick, kendati itu hanya candaan, Romi menilainya dengan serius.
Erick beranjak dari duduknya melangkah menuju kamar yang biasa di tempati saat menginap.
Sedangkan Romi ikut beranjak meninggalkan Sita, pria itu mengambil sesuatu yang ada di laci sebelum ke kamar Erick.
''Kak, apa aku boleh masuk?''
"Masuklah! pintunya tidak di kunci."
Erick membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
Dengan gontainya Romi menghampiri Erick.
"Kak, ini surat dari kak Alina sebelum dia pergi dari kontrakannya."
__ADS_1
"Surat apa? Maksud kamu apa?" Erick terkejut meraih amplop yang ada ditangan Romi.
Romi ikut duduk di tepi ranjang. "Setelah Sigit ke sini dan bilang kalau kakak pergi, Aku pun ke rumah kak Alina, tapi aku terlambat, karena Kak Alina juga sudah pergi dari sana, dia tidak bilang di mana dia pindah, tapi dalam surat itu, dia mengatakan kalau dia hanya menenangkan diri.''
Erick yang penasaran dengan isi surat itu langsung membukanya perlahan lipatan kertas putih yang tertera tulisan tangan.
Dengan mata tajamnya Erick mulai mengurai kata demi kata dari atas.
Siapapun yang membaca surat ini, aku mohon, sampaikan ke kak Erick, kalau aku merindukannya. Sampai kapanpun aku akan menunggu kedatangannya, kak Erick harus mendengarkan penjelasanku dulu, kak, dengan air mata yang menetes jari lentikku menari di atas kertas, seandainya suatu saat nanti Kita dipertemukan kembali, aku ingin menjadi wanita yang lebih baik, dan seandainya kita memang tidak di takdirkan bersama, aku ingin kakak tidak membenciku, aku memang belum bisa menjadi istri yang sempurna, tapi setidaknya aku sudah berusaha menjadi yang terbaik,___
Erick menitihkan air mata, ia memotong tulisan yang masih panjang lebar, rasanya tak sanggup untuk membacanya dan memilih untuk melipatnya kembali.
Kamu adalah istri yang sempurna dan terbaik, hanya suami kamu saja yang bodoh, yang sudah menyia-nyiakan kamu dan tidak mau mendengarkan penjelasan kamu, dan dia juga tidak bersyukur dengan apa yang di berikan Tuhan.
"Kakak, aku tau kalau kakak juga mencintai kak Alina, sekarang perjuangkan kak Alina, cari dia!"
Erick menoleh menatap wajah Romi yang sedikit suram.
"Tapi tadi aku melihat dia dengan laki-laki, dan dia menggendong seorang bayi."
"Apa?! Romi terkejut, "Nggak mungkin kak, waktu itu papa sudah mencari kak Alina, tapi tidak ketemu, bahkan papa juga sempat ke luar kota, tapi kak Alina juga tidak ditemukan, lalu bagaimana bisa dia ada disini.'' Romi tak percaya.
''Tapi aku yakin itu Alina, Rom, dia datang ke rumah sakit, aku nggak mungkin salah lihat.'' Erick pun masih kekeh.
Mengingat senyum istrinya yang nampak cerah, bahkan sedikitpun Erick tak lupa dengan wajah wanita tersebut.
''Jika kakak yakin, kita harus cari kak Alina.''
Seketika Erick menggeleng, ''Tidak usah, lagi pula aku sudah menceraikannya.''
''Belum.'' sahut seseorang yang tiba tiba saja mematung di ambang pintu.
''Belum?'' Tanya Erick memastikan.
Erick turun dari ranjangnya dan menghampiri seseorang yang sudah menjadi kepercayaannya.
''Apa maksud kamu, bukankah waktu itu kamu yang mengurus semuanya?''
''Apa kakak tidak mau memeluk aku juga, sekarang aku suami Diana, tidak mungkin kan aku memanggil bapak.''
Di saat hati Erick diselimuti rasa penasaran, masih saja pria itu membual. Terpaksa Erick memberikan pelukan untuk Sigit.
''Kak Alina tidak mau tanda tangan, dia menunggu kedatangan kakak, dan dia juga mengembalikan harta yang kakak berikan padanya.''
__ADS_1
Erick hanya diam mencerna setiap kata yang meluncur dari sudut bibir Sigit.