
Setelah membaca surat yang di temukan di laci kamar Alina, Erick meremas kertas itu dan membuangnya ke sembarang arah, merutuki dirinya sendiri yang begitu bodoh dengan kebohongan, Kini harapananya untuk bersatu dengan Alina memang sangat kecil, apa lagi yang ia perbuat pada Alina memanglah sudah keterlaluan dan di luar kendalinya sendiri.
''Pak," Sigit yang melihat kekacauan Erick itu pun mendekat.
Seketika Erick mengusap air matanya yang sempat lolos.
"Apa dia sudah pergi dari kota ini?" Tanya nya tanpa menatap, bahkan saat ini ia tak sudi memanggil pak Bima dengan sebutan paman.
"Sudah, keberangkatannya sudah di atur malam tadi, dan Saya pastikan kalau Pak Bima tidak akan muncul di hadapan Bapak lagi."
Erick mengangguk, meskipun itu belum seberapa di bandingkan apa yang sudah di perbuatnya, Erick masih punya hati, karena campur tangan pria tua itulah ia bisa sampai seperti ini.
"Baguslah, lalu bagaimana dengan Melani dan Putra, apa mereka sudah tau semua ini?"
Sigit mengangguk.
''Sudah pak, Melani dan Putra sendiri yang mengantarkan ke bandara, awalnya Melani mau ikut, tapi Putra menghalanginya.''
Erick mengusap wajahnya dengan kasar, ia bisa membayangkan apa yang di alami Melani dan Putra saat ini, namun Erick tak bisa membiarkan begitu saja Pak Bima berkeliaran.
"Bawa mereka kesini!" Titahnya.
Sigit mengangguk lalu keluar, karena Melani dan Putra memang sudah ada di bawah.
Dengan langkah pelan Putra memasuki kamar Erick, begitu juga dengan Melani yang mengikuti dari belakang, kedua anak pak Bima itu duduk di samping ranjang di depan Erick.
"Kak, aku mohon kembalikan papa!" ucap Melani diiringi dengan tangis.
Miris, jika mendengarkan ucapan Melani, namun Erick sudah terlanjur dengan keputusannya yang tak bisa di gugat siapapun, termausk kedua sepupunya itu.
"Kak, kalau keputusan ini menurut kakak yang paling baik, aku terima, tapi aku mohon, jangan sakiti papa." Timpal Putra yang tak kalah sedihnya, karena bagaimanapun juga Pak Bima adalah orang tua satu-satunya mereka.
Erick melirik Putra dan Melani yang menundukkan kepalanya.
"Maafkan kakak, kalian masih bisa bertemu dengan papa kalian, tapi untuk kembali ke sini, kakak tidak bisa mengabulkan."
Seketika Melani mendongak, menatap wajah Erick.
__ADS_1
"Kakak jahat, kakak nggak tau balas budi, bukankah papa yang sudah membesarkan kakak, bukankah papa yang sudah mengabaikan kami demi kakak, tapi apa balasan kakak, dengan teganya kakak menjauhkan papa dari kami." Teriak Melani.
Putra hanya bisa merangkul pundak Melani menenangkan adiknya yang menangis histeris.
"Mel, dengerin kakak!" Erick ikut merosot duduk di depan Melani dan Putra.
"Kakak tidak memisahkan kalian sepenuhnya, kakak hanya memberi pelajaran pada papa kalian, bukan hanya kamu yang merasa sakit, kakak juga, bahkan kakak harus kehilangan seorang papa atas perbuatan papa kamu, kamu bisa bayangkan, kalau papa kamu di bunuh orang terdekat. Apa kamu masih bisa tinggal diam? apa kamu masih bisa memaafkan orang itu?"
Panjang lebar Erick menjelaskan karena saat ini pikirannya sedang buntu dan hanya fokus dengan kepergian Pak Bima dari kehidupannya.
Putra ikut menitihkan air mata, pria yang sudah dewasa itu tau akan logika yang ada. Meskipun sedikit tak terima dengan keputusan Erick, Putra tau bagaimana hancurnya Erick yang juga harus kehilangan seorang istri karena ulah papanya.
"Sekarang kalian pergi, dan mulai hari ini kalian akan menjadi tanggung jawabku, apapun yang kalian butuhkan, akan aku penuhi, asalkan tidak meminta papa kalian kembali."
Tak bicara sepatah katapun, Melani keluar dari kamar Erick, dengan masih memendam amarah gadis itu bermuka cemberut.
Setelah berada di luar kamar Erick, Melani menghentikan langkahnya saat pintu kamar itu di tutup dari dalam.
Aku harus minta bantuan kak Alina, pasti kak Erick mau menuruti jika kak Alina yang minta, se jahat apapun papa, aku nggak mau dia pergi.
Dengan sigap Melani menuruni anak tangga, bahkan gadis itu nampak buru-buru dan melintasi Putra yang berjalan santai.
Melani yang sudah di ambang pintu itu tak menggubris panggilan dari Putra.
Bahkan Melani tak peduli dan langsung melajukan mobil milik Putra.
Mau kemana dia.
Putra hanya menggerutu dalam hati, dan memukul pintu utama rumah Erick saat menatap mobil yang di kemudikan Melani menghilang.
"Mau ke mana sih dia?" Tanya pada diri sendiri. Masih penasaran dengan kepergian Melani.
Terpaksa Putra memakai mobil Erick untuk kembali ke rumahnya.
Hampir tiga puluh menit menerobos jalanan, kini Melani sudah berada di depan rumah yang di tempati Alina, gadis itu mengusap air matanya lalu turun, berharap mendapat bantuan dari Alina.
Dengan antusiasnya Melani mengetuk pintu rumah Alina yang tertutup rapat.
__ADS_1
Tak menunggu lama, sekali ketukan Alina sudah membukanya. Dan betapa terkejutnya saat mendapati Melani yang sudah sesenggukan di depannya.
"Melani, kamu kenapa?" tanya Alina, tak ada jawaban, Melani malah berhamburan memeluk Alina.
Sedangkan Erna hanya bisa menatap dari belakang Alina. Karena ia sudah tau tentang perginya pak Bima ke luar negeri.
"Kak, bantu aku!" ucapnya tersendat.
Alina makin tak mengerti. Kenapa Melani tiba tiba saja meminta bantuannya dengan masalah yang belum ia ketahui.
"Kita masuk dulu ya, bicara di dalam." Menggiring Melani menuju ruang tamu.
Setelah keduanya duduk berdampingan, Alina memegang punggung tangan Melani yang berkeringat dingin.
"Sekarang kamu cerita, Sebenarnya ada apa, kenapa kamu nangis kayak gini?" tanya Alina mengawali pembicaraan. Sedangkan Erna menyodorkan segelas air putih untuk Melani yang nampak kacau.
Setelah meneguk minuman dari Erna, Melani merasa sedikit lega dan siap untuk mengatakan tujuannya datang.
"Kak atas nama papa aku minta maaf, tapi aku mohon bantu aku untuk membawa papa pulang."
Alina mengerutkan alisnya, masih nggak ngerti dengan perkataan Melani barusan.
"Kamu jelaskan dulu, sebenarnya apa yang terjadi?"
Akhirnya Melani menjelaskan panjang lebar apa yang di saksikan semalam, dan berharap Alina bisa membantunya.
"Jadi sekarang Pak Bima di luar negeri, dan kak Erick yang sudah membawanya ke sana."
Melani mengangguk kecil.
"Dan sekarang aku mohon ke kakak, bujuk Kak Erick untuk mengembalikan papa."
Hati Alina merasa tersentuh mendengar permintaan Melani, walaupun ia sangat kecewa dengan pak Bima, namun sebagai seorang anak Alina pernah mengalami bagaimana kehilangan papa, dan itu juga sama seperti yang menimpa Melani saat ini.
"Baiklah, aku akan bantu kamu, aku akan bujuk kak Erick untuk mengembalikan papa kamu. Tapi aku nggak janji."
Terpaksa Alina harus bertemu dengan Erick demi menolong Melani, karena wanita itu tak mampu melihat kesedihan orang lain.
__ADS_1
Melani hanya mengangguk mengerti, karena ia tau bagaimana angkuhnya Erick. namun kini Melani bisa tersenyum, setidaknya lewat Alina masih ada harapan untuk bisa berkumpul lagi dengan Pak Bima.