
Bagiakan suami istri, susah senang bersama, hidup dalam satu atap, terkadang makan satu piring berdua karena keterbatasan uang, keduanya terlihat bahagia, melupakan sejenak masalah yang saat ini menerpa. Namun Putra masih tau batasannya, begitupun Alina yang tetap menjaga jarak, kendati kini keduanya saling mengisi hati masing masing, tak di pungkiri kenyataan Alina adalah milik Erick yang sah.
''Ini beli ikan dari mana, Bang, kok besar besar?'' dari mencuci sampai menggoreng Alina baru mengajukan pertanyaan.
''Beli di pasar, sekali kali kamu makan ikan, nggak tahu tempe terus,'' jawab Putra menyiapkan nasi untuk keduanya.
Alina menoleh menghampiri Putra. ''Bang, besok aku mau pulang, aku sudah siap untuk bertemu kak Erick, dan aku akan minta cerai darinya,'' ucap Alina, meski hatinya masih sedikit berat untuk mengurai ikatan pernikahannya, tapi keadaan berkata lain.
''Kamu yakin ingin pulang?'' tanya Putra memastikan.
Alina mengangguk pelan. ''Masalah bukan di hindari, tapi di hadapi, dan aku ingin terbebas dari belenggu kak Erick.''
''Baiklah, kalau itu yang kamu mau, kita pulang.''
''Sekarang kita makan dulu, nanti kita pikirkan lagi.''
Jedaaarrrr..... baru saja Alina membawa Ikan yang sudah matang itu di meja makan, pintu terbuka dengan lebar, beberapa orang yang bertubuh kekar dengan memakai baju hitam mematung di sana. Alina yang merasa ketakutan seketika memeluk Putra.
''Bang, aku takut,'' ucap Alina mulai gemetar.
''Tenang saja, aku akan melindungi kamu,'' jawab Putra mencoba meyakinkan Alina untuk tetap tenang.
''Siapa kalian?'' tanya Putra merengkuh erat tubuh Alina.
Tak ada jawaban, beberapa orang itu malah mendekati Putra dan Alina yang terus berjalan mundur.
"Jangan mendekat!" Putra mengulurkan tangannya, mencoba menahan mereka untuk tidak mengikuti langkahnya, namun sia sia, kini Putra dan Alina sudah terpojok dan tak bisa ke mana mana karena ruangan yang sangat sempit tak memungkinkan dirinya untuk menghindar lagi.
"Sekarang kalian tidak bisa ke mana mana," ucap salah satu pria seraya tertawa lepas.
Dalam keadaan yang genting, Putra berusaha untuk memutar otaknya mencari cara untuk bisa lepas dari mereka.
Di saat tangan Alina hampir di pegang pria itu, segera Putra menepisnya dan menendangkan kakinya tepat di kaki pria itu hingga membungkuk.
"Alina, aku akan hadapi mereka, kamu pergi dari sini!" ucap Putra.
"Enggak, aku nggak akan pergi, aku tidak akan ninggalin Bang Putra sendiri di sini," tukas Alina dengan diiringi air mata.
__ADS_1
"Alina, aku mohon, kamu pergi dari aku, nanti aku nyusul."
"Enggak." jawab Alina kekeh dan tak mau melepaskan tubuhnya dari pelukan Putra.
Percuma saja jika saling debat karena saat ini Putra tak bisa lagi berkutik saat mereka memegang alat pukul di tangannya.
"Sekarang hanya ada dua pilihan Mas Putra, kalian menyerahkan diri baik baik atau saya akan bermain kasar?" tanya preman yang paling terlihat garang.
"Aku meyerahkan diri," sahut Alina lantang, dalam benaknya tak mau kalau terjadi sesuatu dengan Putra, dan Alina tak mau jika Putra kenapa napa hanya gara gara melindungi dirinya.
"Alina...." Bentak Putra menggoyang goyangkan lengan gadis yang beberapa hari ini hidup dengannya.
"Bang, lebih baik kita menyerah, aku nggak mau terjadi apa apa sama Abang."
''Enggak, sampai mati pun aku akan melindungi kamu dari mereka." Menunjuk empat pria yang menunggu keputusannya.
Aku tau kamu sangat tulus, Bang, tapi maaf, aku tidak bisa mengorbankan orang lain demi diriku sendiri, apa lagi aku tidak bisa membalas apa apa.
"Kamu peluk aku yang erat, jangan sampai lepas," bisiknya.
Seperti yang di ucapkan Putra, Alina pun melingkarkan tangannya di perut Putra dan memejamkan matanya.
"Kita harus pergi dari sini," cicitnya saat membuka pintu, namun nihil, niat yang tadinya antusias kembali menciut di saat Putra menatap beberapa orang yang sudah mematung di teras.
"Kalian sudah di kepung, dan tak bisa ke mana mana, kalau mas Putra mencoba untuk melawan, kami akan melukai Mbak Alina."
Skak.... tak ada jalan lain selain menyerah, karena Putra tak mungkin melawan orang yang begitu banyak, menonjok tiga orang saja tangannya sudah terasa nyeri, apa lagi lebih, bisa bisa patah tulang jari jarinya. Dan lagi, ancaman mereka adalah Alina, itulah kelemahannya.
Aku harus melindungi Alina dengan cara apa lagi, mereka begitu banyak, dan aku tidak bisa melawannya.
Putra menarik pinggang Alina dan kembali memeluknya, ada rasa bersalah karena tak bisa menjaga nya dari para preman yang kini melingkari mereka berdua.
"Maafkan aku," ucap Putra lirih.
"Sssttt....aku yang minta maaf, karena aku, abang jadi ikut kena masalah."
Tak menunggu waktu lagi, kini Alina sudah berada di tangan para preman itu, begitu juga dengan Putra.
__ADS_1
"Setidaknya kita masih bisa berdua." ucap Putra lagi.
Alina hanya bisa mengangguk tanpa suara.
"Tunggu...!!" Teriak Putra saat mereka di bawa ke mobil yang berbeda, waktu bagaikan berhenti sejenak, semua orang menghentikan langkahnya menatap Putra yang seperti kebingungan.
"Kenapa kita beda mobil, bukankah mobil itu masih cukup untuk aku, aku nggak akan lari." dengan lantangnya Putra protes.
"Ini perintah, jadi kami tidak bisa mengabulkan permintaan kamu." jawab seseorang yang mendorong Alina masuk.
Apa apaan ini, kenapa harus beda mobil, bukankah kita sama sama tawanan, kak Erick, ternyata kamu lebih kejam dari yang aku kira.
Terpaksa Putra mengikuti dan masuk ke mobil lain, meskipun hatinya sangat dongkol dan tak terima, apalah daya, semua sudah telanjur.
Sampai terjadi sesuatu dengan Alina, aku tidak sudi menganggapnya jadi saudara.
Selang beberapa menit berlalu, dan suasana sepi, kini tempat itu kembali ramai dengan warga kampung yang menyaksikan kejadian tadi dari jauh, entah mereka saling berbisik dengan hal yang tak di mengerti, dan tiba tiba saja ada mobil yang datang kembali membelah kerumunan itu.
Seperti kejadian yang tadi, beberapa orang yang memakai baju hitam turun dari mobil, dan itu malah membuat warga kampung menjadi takut dan berlari.
Para Preman itu memasuki satu satunya rumah yang ada di sana.
Namun semua tak sesuai ekspektasi saat menyaksikan wanita tua yang sedang merapikan meja makan.
"Kalian siapa?" tanya wanita itu sedikit takut.
"Kami mencari seorang wanita dan pria yang tinggal disini." ucapnya dengan nada tegas.
"Baru saja mereka pergi dengan dua mobil, kalian terlambat," jawabnya.
Sial, ternyata ada orang yang mengincar Alina selain pak Erick.
Tanpa menunggu waktu, salah seorang mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.
Kamu berani menelponku. Itu artinya kamu sudah menemukan Alina dan Putra," ucap orang dari sebrang sana.
"Maaf pak, kami terlambat, ternyata Putra dan Non Alina sudah di bawa kabur suruhan orang lain."
__ADS_1
Apa?"
Betapa terkejutnya Erick mendengar kabar dari anak buahnya, tak melanjutkan berbincangannya karena ponsel Erick tiba tiba saja terjatuh di lantai.