Pernikahan Berselimut Dendam

Pernikahan Berselimut Dendam
Kesempatan


__ADS_3

Di depan ruang gawat darurat, Erick nampak khawatir, sesekali pria itu mengintip dari balik pintu kaca yang trasnparan, menunggu tim medis untuk keluar. Pikirannya kacau, dan melayang, bahkan pria itu tak bisa berpikir jernih saat kenyataan pahit menimpa Alina di depan matanya. Jika waktu itu Erick antusias untuk menyiksa sang istri dengan berbagai cara, kali ini hatinya terasa hancur berkeping keping, apa lagi Alina terkena pukulan demi melindungi dirinya.


''Bagaimana keadaan Alina, Rick?'' tanya pak Indra yang baru saja datang.


''Dokter belum keluar.'' jawabnya lemah, tak ada gairah dalam diri Erick saat ini sebelum mengetahui kondisi Alina.


''Gimana kejadiannya?''


Erick kembali duduk dan mengatur nafasnya yang masih tak beraturan.


''Tadi para penculik itu mau memukulku, tapi Alina malah menghalanginya, aku nggak tau kalau kejadiannya bakal kayak gini, Om,'' ada penyesalan di raut wajah Erick saat ini, dan dengan jelas Pak Indra menangkap kegusaran pria itu.


Tak Hanya Erick, Putra dan Sigit pun nampak cemas dengan keadaan Alina yang kini harus melawan rasa sakitnya.


''Semoga Alina baik baik saja,'' kata pak Indra menepuk bahu Erick.


''Terus bagaimana dengan para penculik itu?'' tanya Erick.


Karena saat Alina pingsan, tiba tiba saja rombongan Pak Indra dan Sigit datang dan menyuruhnya membawa Alina untuk pergi, hingga tak tau lagi apa yang terjadi di gedung itu.


''Mereka tetap tidak mau mengaku, dan memilih untuk mendekam di penjara.'' Jawab Pak indra.


Ceklek.


Keempat Pria itu berlari bersamaan menghampiri Dokter yang baru saja keluar.


Putra yang merasa kikuk memilih untuk mundur, memberi ruang Erick untuk bertanya.


''Gimana keadaan Alina, Dok?'' tanya Erick.


''Non Alina baik, hanya perlu beberapa waktu untuk istirahat, mungkin tonjokan itu membuatnya sok, dan tubuhnya yang lemah juga memicu kesehatanannya yang kurang baik.'' Jelas sang dokter.


''Baik, Dok, terima kasih.''


Setelah Dokter berlalu, Pak Indra mempersilahkan Erick untuk masuk ke dalam, sedangkan yang lain menunggu di luar.


''Sigit, hubungi Diana, bilang kalau Alina ada di rumah sakit.''


''Baik, Om.''


Dengan langkah yang lunglai Erick menghampiri brankar, di tatapnya wajah sendu dengan mata terpejam itu, Karena tak kuat untuk menopang tubuhnya, terpaksa Erick duduk di samping ranjang.


''Kenapa kamu menolongku, padahal aku tak pernah baik padamu, apa yang kamu harapkan dariku.'' Gumamnya kecil.

__ADS_1


Pak Indra yang masih mendengar dengan jelas ucapan Erick itupun mendekat.


''Cinta dan kenyamanan, itulah yang diharapkan Alina, dia sudah tidak punya siapa siapa lagi selain kamu, dan dia yakin kalau kamu adalah tempat terakhirnya untuk bersandar,'' Pak Indra menjeda ucapannya sejenak.


''Mulai sekarang cintai dia, sayangi Alina seperti waktu kecil, lupakan dulu dendam kamu, supaya kamu bisa menikmati hidup kamu bersama wanita yang kamu cintai.''


Tak ada jawaban, Erick masih diam seribu bahasa, berat untuk memutuskan di antara dua pilihan yang baginya sama sama penting.


''Tapi aku butuh bukti kalau bukan papa Alina pembunuh papa, Om,'' tukas Erick yang masih kekeh dengan keinginannya.


''Beri om waktu untuk mencari tau, dan selama itu kamu harus memperlakukan Alina selayaknya seorang istri.'' Pinta lagi pak Indra.


''Baiklah, aku setuju.''


Semoga semua cepat terungkap, kasihan Alina yang terus mendapat pelampiasan Erick, tapi kasihan juga Erick yang selalu di racuni oleh Bima.


Hening sejenak, tiba tiba saja suara tangis memasuki ruangan Alina.


''Mama, Diana,'' Sapa pak Indra.


''Pa, bagaimana keadaan Alina?'' tanya Bu Rasti di sela sela tangisnya.


''Alina baik baik saja, dia cuma butuh istirahat.''


Entah kali ini merasa terusik atau memang sudah tidak betah dalam dunia mimpi, perlahan Alina membuka matanya saat mendengar suara Diana yang berisik.


''Diana,'' cicit Alina dengan suara serak khas bangun tidur.


''Kakak tidak apa apa kan?'' tanya Diana menyandarkan kepalanya di perut Alina.


''Aku nggak apa apa, ternyata kamu masih manja ya,'' jawabnya menatap Erick yang masih duduk di sampingnya.


Sigit yang berada di samping pintu hanya terkekeh dengan sikap Diana yang ke kanak kanakan.


Apa kak Erick yang membawaku ke sini, jika benar, itu artinya dia masih perhatian sama aku.


''Al, maafkan Om karena tak bisa melindungi kamu.''


Alina tersenyum tipis. ''Kenapa Om harus minta maaf, ini semua bukan salah Om, aku yang salah, sudah pergi tanpa izin suami,'' setelah beberapa saat menatap pak Indra, kini Alina mengalihkan pandangannya ke arah Erick.


''Kak, aku minta maaf karena sudah pergi dari rumah.'' Ucapnya pelan.


''Kak, maaf jika aku bukan istri yang baik, sekarang aku sudah memutuskan, lebih baik kita bercerai.''

__ADS_1


Deg, tiba tiba saja jantung Erick berpacu dengan cepat, wajahnya datar, ucapan Alina bagaikan petir yang menghantam organ tubuhnya hingga mati rasa, begitu juga dengan yang lain, apa lagi Bu Rasti yang masih belum terima keputusan Alina. Wanita itu menangis tersedu sedu di pelukan pak Indra. Menyayangkan dengan pernikahan yang seumur jagung itu harus di ambang perpisahan.


Erick yang tak bisa berkata apa apa memilih untuk keluar dari ruangan tanpa sebuah jawaban.


Kak Erick diam, itu artinya dia menyetujui permintaanku.


''Alina, Om keluar sebentar ya,'' menepuk nepuk punggung tangan Alina yang di hiasi infus.


Pak Indra menghampiri Erick yang sudah duduk di depan ruangan, kepalanya menunduk menatap lantai dengan kedua tangannya saling terpaut.


''Rick, om mau bicara sama kamu.''


Keduanya saling berhadapan, sedangkan Sigit masih mematung di samping pintu menjadi pendengar yang baik.


''Apa kamu menyetujui permintaan Alina?'' tanya Pak Indra.


Ekspresi wajah Erick memang tak bisa di artikan, pria itu nampak bingung dengan jawaban yang ingin di lontarkan.


''Menurut Om?'' balik nanya.


''Om tidak tau, karena yang menjalani itu kamu dan Alina, jadi kamu yang harus memberi keputusan, dan jangan sampai salah, ini perkara yang labil dan tak gampang, ini adalah ikatan yang sudah terjalin bertahun tahun, tapi, hanya gara gara masalah yang sudah lewat kalian harus berpisah seperti ini.''


Erick mencerna setiap kata yang di luncurkan pak Indra, antara petuah dan petunjuk untuk dirinya dalam menghadapi masalahnya.


''Tapi jika kamu tidak bisa membahagiakan Alina, lebih baik kamu lepaskan dia, biarkan dia memilih laki laki yang mencintai dan melindunginya.''


Tak menjawab pertanyaan Pak Indra, Erick kembali masuk ke dalam dan menghampiri Alina.


Sigit yang ada di ambang pintu mengedipkan satu matanya, memberi kode Diana dan Bu Rasti untuk keluar.


''Kak, aku mau ke depan dulu sebentar,'' pamit Diana, begitu juga dengan Bu Rasti yang juga ikut keluar.


Kini di ruangan itu hanya tinggal Erick dan Alina.


Alina yang merasa canggung hanya bisa diam.


''Al,'' suara Erick mengawali pembicaraan.


Alina hanya menoleh tanpa suara.


''Aku minta maaf atas kelakuanku selama ini, beri aku kesempatan sekali lagi untuk mengubah sikap aku.''


Erick menggenggam tangan Alina, berharap sebuah jawaban yang positif yang di terimanya.

__ADS_1


''Beri aku waktu untuk menjawab.''


__ADS_2