
Akhirnya Romi menceritakan apa yang di dengar dari bibir Alina. Pria itu tak meninggalkan sepatah katapun kejadian sebelum keduanya berpisah.
Di dalam mobil itu, Erick hanya bisa terisak, air matanya tumpah ruah membasahi bajunya, Erlin yang ada di pangkuannya anteng, sesekali tangan mungilnya meranggeh wajah kokoh Sang Papa.
''Maafkan papa, maafkan papa.''
Erick memeluk erat tubuh mungil Erlin. Menciumi tangan dan pipi bayinya. Kini penyesalan menyelimuti otak dan dirinya, hatinya merasa terpukul dan memar saat mencerna ucapan Romi.
''Kak, kak Alina butuh kepercayaan kakak, dia itu wanita yang sangat baik dan luar biasa, tanpa bantuan keluarga kita, dia bisa menghidupi putri kakak, jadi aku harap kakak bisa memberikan itu.''
Aku tau, tapi sekarang aku tidak yakin kalau Alina mau menerimaku kembali.
Baru saja keduanya berbincang, Romi membulatkan matanya saat menatap Sigit dan Alina berjalan menghampiri mobilnya.
''Kak, ada kak Alina, kayaknya mau ke sini,'' Romi nampak gugup saat menepuk lengan Erick.
Berbeda dengan Romi, Erick hanya bisa mengulas senyum, apapun yang terjadi ia harus cepat bertemu dengan istrinya.
Erick membuka pintu mobilnya lalu turun. Menatap dari jauh wajah ceria Alina yang belum fokus pada dirinya.
Hingga Sigit dan Alina sampai ditepi jalan, wanita itu meraih tangan Sigit, menghentikan langkahnya saat menatap lekat wajah Erick yang ada di samping mobil.
Aku nggak mungkin mimpi, itu beneran Kak Erick.
''Kenapa kamu nggak bilang kalau Romi membawa Erlin kesini?''
''Kak Erick adalah papanya Erlin, dia harus tau semuanya.''
Tak dapat di pungkiri, itu memang fakta, namun Alina masih saja sedikit gelisah saat menatap tubuh tegap suaminya.
Akhirnya Erick menyeberang jalan mendekati Alina.
Dua tahun berpisah, Erick merasa sedikit canggung saat di dekat Alina. Pria itu tersenyum saat Alina mengambil putri kecilnya.
Apa maksud kak Erick datang kesini, apa dia mau mengurus surat cerai itu, aku harus siap, apapun keputusannya aku akan menerimanya.
''Kak, sebaiknya kita bicara di dalam rumah saja.'' ucap Alina tanpa menatap.
Alina memutar tubuhnya, namun langkahnya berhenti saat Erick memeluk tubuhnya dari belakang.
''Aku minta maaf,'' ucap Erick, bibirnya bergetar saat menopangkan dagunya di pundak Alina, menyalurkan rindu yang sekian lama menggebu.
''Tidak ada yang perlu di maafkan, semua sudah berlalu, sekarang kita harus intropeksi diri.''
Alina menggenggam tangan Erick yang melingkar di perutnya.
''Kita bicara di dalam. Nggak enak di lihat orang.''
__ADS_1
Alina menggandeng tangan Erick kembali ke rumahnya, sedangkan Sigit dan Romi memilih untuk menunggu di mobil berharap yang terbaik untuk keduanya.
''Bang Adi, kenalin, ini kak Erick.''
Erick mengulurkan tangannya ke arah pria yang waktu itu di lihatnya di rumah sakit.
''Erick.''
''Adi,'' keduanya duduk berhadapan dengan pembatas meja di depannya.
Adi tak menanyakan apapun, karena ia sudah mendengar semua tentang Erick dari Alina.
''Sekarang kakak bicaralah, apa kakak ingin melanjutkan perceraian kita?''
Entah kenapa hati Erick bagaikan tertancap paku saat mendengar ucapan Alina. Bahkan gadis itu mengambil dokumen yang ada di laci dan meletakkannya di meja.
Erick menautkan kedua tangannya, masih bingung harus mamulai dari mana, yang pastinya ia ingin sekali bilang, tidak.
Akhirnya pria itu mengambil map yang ada di depannya dan merobeknya.
Alina diam menyaksikan Erick meremas kertas itu hingga tak berbentuk, dalam hatinya tak ingin bertanya apapun saat Erick merusak map itu.
''Apa kamu mau memaafkaan aku?'' tanya Erick, meringsuk duduknya mengelus pucuk kepala putrinya yang mulai mengantuk.
''Aku sudah memafkan kakak, dan aku sudah melupakan semuanya yang terjadi, sekarang aku ingin hidup tenang, aku tidak ingin lagi ada masalah.''
Nyatanya Erick hanya bisa mengucap dalam hati, tak mau banyak janji, kini pria itu ingin membuktikan seberapa besar cintanya untuk Alina.
''Bang, apa abang mengizinkan aku membawa Alina?''
''Kemana?'' tanya Adi, salah satu kerabat jauh Alina, keduanya datang ke kota di saat Bi Mona meninggal dunia karena sakit, dan kini rumah itu menjadi tempat tinggal Alina dan Adi.
''Pulang ke rumah, aku ingin memulainya dari awal, aku sadar, aku salah, seharusnya aku mendengarkan penjelasannya dulu waktu itu.''
''Kalau begitu namanya bukan Erick, pria yang sangat egois dan maunya menang sendiri.''
Alina beranjak dari duduknya dan berlalu masuk ke kamarnya.
Sedangkan Erick merasa sedikit lega melihat punggung wanita itu.
''Selama ini adikku sudah sangat menderita demi putrinya, dia rela banting tulang, jangankan menerima bantuan orang lain, bantuan dariku saja dia tidak mau, dan memilih untuk hidup sendiri. Sekarang aku katakan sama kamu, sedikit saja Alina terluka, kamu sendiri taruhannya.''
Erick hanya mengangguk memahami ucapan Adi.
''Sekarang aku tidak bisa memutuskan, karena Alina yang bisa menentukan hidupnya.''
Adi menepuk bahu Erick dan berlalu meninggalkan pria itu yang masih bergelut dengan otaknya.
__ADS_1
Erick menatap kamar Alina yang sedikit terbuka, terdengar rengekan putri kecilnya.
Sepertinya suara itu memang memanggilnya hingga mampu menggerakkan kakinya mendekati kamar itu.
''Apa aku boleh masuk?'' Ucap Erick.
Tak menjawab dengan suara, Alina hanya mengangguk saat berusaha menenangkan putrinya.
''Biar aku yang gendong.''
Terpaksa Alina menyerahkan putrinya ke tangan Erick.
Setelah Erlin berada di dada bidang Erick, Alina kembali melangkahkan kaki ke arah pintu.
''Kamu mau kemana?'' tanya Erick.
Alina yang hampir membuka pintu kembali menoleh.
''Ke dapur, aku belum masak buat bang Adi.'' Ujarnya.
''Nggak usah, biar Sigit dan Romi yang beli makanan. kamu disini temani aku.''
Kalau di dekat dia kan jantungku deg degan.
Terpaksa Alina kembali menghampiri Erick yang duduk di tepi ranjang. Keduanya duduk bersejajar menatap putrinya yang kini mulai terlelap.
''Kita pulang ya, aku sangat merindukanmu, dua tahun aku mencoba melupakan kamu, tapi nyatanya aku nggak bisa.''
Aku juga nggak bisa kak. Hanya dalam hati.
''Aku akan pikirkan lagi, kalau untuk sekarang aku nggak bisa.'' Alina menekuk wajahnya, ia sungguh tak bisa santai saat berada di dekat suaminya.
Erick membaringkan putri kecilnya dan kembali memeluk Alina.
''Aku akan tunggu keputusan kamu, aku akan tinggal disini sampai kamu mau pulang.''
''Kak, kamu bisa nggak sih tinggalkan aku, dulu kamu juga pernah seperti ini, kamu merayuku, membujukku untuk pulang, tapi apa, kamu kembali menyakitiku, bahkan kamu juga menyiksaku, dan untuk sekarang aku mohon, aku ingin hidup sendiri, hargai keputusanku.''
Erick melepaskan tangan Alina dan menatap wajah putrinya yang terlelap. lalu memukuli pipinya menggunakan tangannya sendiri.
''Aku memang bodoh, dan aku memang laki laki berengsek, aku tidak pantas untuk kamu.''
"Cukup!" Alina meraih tangan Erick dan meletakkan di pipinya.
"Jangan sakiti diri kakak sendiri, lihatlah putri kita, dia sangat membutuhkan seorang papa, jadi tidak ada alasan bagiku untuk tidak menerima kakak kembali."
Seketika Erick mendekap tubuh Alina dan mencium pucuk kepalanya.
__ADS_1