
''Aku ada di mana?'' Dengan kepala yang masih terasa berat dan mata menyipit, Alina mencoba untuk bangun dan mengedarkan pandanganya di setiap sudut ruangan yang kosong, hanya ada dirinya dan satu kursi di sana. Bukan gudang yang seperti ia tempati di rumah Erick, dan juga bukan kamar yang diisi dengan ranjang mewah.
Seketika Alina kembali meluruhkan air mata yang sempat mengering, hatinya merasa teriris mengingat apa yang telah terjadi padanya.
''Kamu benar benar jahat, kak, kamu sudah menghancurkan hidupku, dan sekarang kamu juga menculik bang Putra,'' gumamnya di sela sela tangis.
Dengan tangan yang terikat, Alina tak bisa melakukan apapun selain menerima kenyataan pahit itu.
"Tolong...buka pintunya!" teriak Alina berusaha mencari bantuan.
Gadis itu meringsuk duduknya untuk sampai di belakang pintu.
"Tolong buka pintunya!" dengan kakinya yang juga terikat, Alina memancat pintu hingga bersuara.
Ceklek, akhirnya usahanya tak sia sia, pintu terbuka, namun sosok yang tak di kenalnya yang ada di sana.
"Lepaskan aku!" Pinta Alina membentak.
Pria yang mematung di depannya itu tersenyum sinis, menganggap Alina hanya boneka yang mengoceh dengan daya baterai.
"Aku akan laporkan kalian ke polisi," ucap Alina lagi, mencoba menakut nakuti preman itu.
Kini pria yang ada di hadapannya malah tertawa lepas setelah mendengar ucapannya.
"Silahkan Nona, kami tidak takut," jawabnya.
Tuhan, bagaimana caranya aku bisa lepas dari sini, aku nggak mau terus terusan hidup kayak gini.
"Lebih baik sekarang kamu makan," salah seorang datang dan menyodorkan sepiring nasi serta lauk, juga segelas air putih untuk minum.
"Hai.... pak, tanganku di ikat, mana bisa makan," bantah Alina.
Kedua pria itu hanya saling pandang.
Tanpa berkata pria itu melepas ikatan tangan Alina dan kembali keluar.
Alina mengelus pergelangan tangannya yang memerah, menyesal dengan keputusannya yang langsung menerima pinangan Erick yang kini meredupkan masa depannya.
"Apa yang harus aku lakukan, sekarang siapa yang bsia menolongku, bang Putra, kamu di mana?"
Terpaksa Alina memakan makanan yang tersaji dari pada mati kelaparan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Lepaskan dia!"
Suara itu mengejutkan Putra yang juga terikat, dengan matanya yang membulat sempurna Putra menatap pria paruh baya yang mematung di hadapannya.
__ADS_1
"Papa..." Seru Putra, masih tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Bahkan Putra sempat membenturkan kepalanya ke tembok, meyakinkan dirinya kalau saat ini adalah nyata, dan bukan mimpi belaka.
Setelah semua ikatan di tangan dan kakinya terlepas, Putra segera mendekati Pak Bima.
"Dari mana papa tau aku ada di sini?" tanya Putra, membalikkan tubuh pak Bima yang dari tadi memunggunginya.
"Jangan banyak tanya, sekarang kita pulang." Ajaknya, meninggalkan Putra yang masih terlihat kebingungan.
"Pa..." teriak Putra mengikuti langkah Pak Bima keluar.
"Kita harus bantu Alina juga," ucap Putra menghalangi langkah Pak Bima.
Seketika Pak Bima menarik kerah baju Putra hingga lehernya tercekik.
"Kamu jangan ikut campur urusan Erick, apa kamu mau mati konyol, sekarang mendingan kita pulang," menarik lengan Putra menuju mobil.
Sekarang aku nggak takut lagi sama Kak Erick, aku harus cari Alina sampai ketemu.
Menunda keinginan sampai di depan Rumah, Putra segera turun dan beralih ke mobil miliknya.
''Mau kemana?'' tanya Pak Bima antusias.
''Ke rumah kak Erick.'' Jawabnya singkat.
Tanpa ba bi bu, Putra melajukan mobilnya membelah jalanan menuju rumah Erick, kali ini hatinya sudah mantap untuk menghadapi sepupunya.
Dua puluh menit Putra memarkirkan mobilnya tepat di halaman rumah orang tua Romi.
''Mau bertemu siapa?'' tanya satpam yang menghampirinya.
''Aku mau bertemu kak Erick.'' Jawabnya.
Satpam itu mempersilahkan Putra dan membukakan pintu untuknya.
''Putra,'' sapa Bu Rasti, mendekati Putra yang hanya mematung di ambang pintu.
Tak hanya Bu Rasti, Erick yang melihat Putra pun berlari menghampirinya, tanpa aba aba Pria itu menonjok wajah Putra dengan kuatnya.
''Di mana Alina?'' tanya Erick, menarik lengan Putra dan mencengkeram kedua pundaknya.
Heh... Putra tersenyum getir seraya mengusap darah segar yang keluar dari sudut bibirnya.
''Alina, kenapa kakak menanyakannya padaku? bukankah kakak yang menculik dia?''
Bug, dua kali wajah Putra menerima kerasnya tangan Erick yang sudah kepanasan.
Kali ini Putra tak bisa menahan tubuhnya hingga jatuh tersungkur.
__ADS_1
''Erick, jangan Rick, kamu jangan emosi dulu.'' Bu Rasti memeluk tubuh kekar Erick dan membawanya mundur.
''Dia sudah membawa Alina pergi tante, dan sekarang dia malah menuduhku yang menculiknya.'' Pekiknya.
Putra mencoba bangun dengan bantuan Romi yang baru saja datang.
''Kakak, tahan emosi dulu, kita bisa kan bicara baik baik.''
Romi ikut mendorong tubuh Erick yang masih nampak emosi.
''Put, sekarang katakan! Di mana Kak Alina?" tanya Romi, sorot matanya amat serius mengalahkan tatapan tajam Erick.
Putra menggeleng pelan, karena ia pun tak tau di mana gadis itu berada.
"Aku kira Kak Erick yang menculik kami berdua, mereka membawa kami dengan mobil yang berbeda." Ungkapnya, dengan ragu dan gemetar, rasa bersalah dan takutnya kembali timbul dalam benaknya.
Sedangkan Erick kembali duduk, merelasasikan kembali dirinya yang tak karuan.
Hening sejenak, semuanya traveling dengan otaknya masing masing, Bu Rasti menghubungi Pak Indra dan Sigit yang ternyata sudah sampai di depan.
"Akhirnya kalian datang juga." Bu Rasti menghampiri Pak Indra yang baru saja datang.
"Ada kabar apa? Putra kamu di sini, di mana Alina?"
Putra kembali menggeleng tanpa suara.
"Di mana kamu di sekap?" tanya Pak Indra duduk di samping Putra.
Putra diam mengingat ingat terakhir kali dirinya berada.
"Aku tidak tau pasti, Om, yang pastinya saat aku pulang melewati jalan ZZ." Jelas Putra.
"Sigit, ikut aku sekarang!" Pak Indra kembali beranjak setelah beberapa detik menyandarkan tubuhnya.
"Aku ikut." Ucap Erick antusias.
Pak Indra menoleh menatap Erick yang sudah berada di belakangnya.
"Kamu yakin?"
Erick mengangguk. "Aku ingin tau siapa yang menculik Alina."
"Baiklah, tapi ingat, jika sampai Alina ketemu, jangan sakiti dia, Om mohon, jika kamu sudah tidak mau bersamanya lagi, Om akan mengangkatnya menjadi putri Om."
Erick hanya diam membisu, ia tak bisa menjawab, di satu sisi janjinya kepada sang Ibu sangatlah berarti, dan di sisi lain Erick pun belum bisa begitu saja melepas Alina.
"Sigit, kamu yang nyetir, Om akan menghubungi anak buah Om."
__ADS_1
Bima, kamu memang licik, tapi sedalam dan sejauh apapun kamu menyembunyikan bangkai, pasti akan tercium juga, dan setelah ini kamu tidak akan bisa berbuat apa apa lagi, aku akan beri perhitungan untuk kamu.