
''Mas Anton nungguin siapa?'' tanya Melani yang baru saja tiba di depan restoran milik Anton, gadis itu nampak penasaran dengan tingkah Anton yang mondar mandir kayak setrikaan yang terpakai.
''Alina, katanya mau kerja, tapi sampai jam segini dia belum nongol, apa jangan jangan terjadi sesuatu sama dia.'' nada khawatir, bahkan Anton seperti tak fokus dengan para tamu yang datang.
Melani kembali meredup, senyum yang sempat diukir kini kembali lenyap mendengar nama yang di sebut Anton. Sungguh tak asing, namun membuat hatinya tersentil nyeri.
''Apa Alina sangat penting buat kamu?''
Anton menarik kursi dan duduk di depan Melani. Menghela napas panjang sebelum menceritakan isi hatinya yang sempat bersandar untuk gadis itu.
''Meskipun dia sudah menikah, aku belum bisa melupakan dia, dia adalah wanita yang pertama kali aku cintai, meskipun cintaku hak pernah terbalas, setidaknya aku bisa melihatnya bahagia.'' ungkap Anton penuh haru.
Melani menunduk dan menautkan kedua tangannya. Merasa iri dengan Alina yang bisa di cintai lebih dari satu pria.
Kenapa harus Alina lagi, apa dia itu memang di ciptakan untuk membuat para laki laki tergila gila. Selama ini aku salah menilai dia, ternyata mas Anton juga menciantainya seperti kak Erick, apa bang Putra juga mencintainya? batin Melani.
''Kamu nggak pesan makanan?'' Suara Anton membuyarkan otak Melani yang sedang bergelut dengan perasaannya yang gundah.
Melani menggeleng, tujuan utamanya adalah ingin bertemu dengan Anton, namun pria itu malah mengharapkan kehadiran wanita lain dan itu membuatnya jengah.
Sesekali Anton mengedarkan pandangannya ke arah pintu depan, masih berharap kehadiran Alina.
Apa pak Erick melarangnya untuk kerja.
''Mel,'' sapa Anton memegang punggung tangan Melani.
Gadis itu hanya bisa menatap dengan mulut membisu, tak tau harus mengucap apa, yang pastinya saat ini hati dan pikirannya sedang tidak bersahabat untuk sekadar berbincang.
''Kamu kan saudara pak Erick, kamu mau kan menanyakan di mana Alina, kenapa dia nggak masuk?''
Melani hanya tersenyum getir saat orang yang dicintainya meminta pertolongan padanya untuk mempertanyakan wanita lain. Sakit tak berdarah, namun tak ada yang tau hati Melani yang remuk bagaikan di hantam benda tumpul.
''Baiklah,'' Melani mengambil ponselnya dan menghubungi Erick.
''Halo kak, aku mau tanya, Kak Alina ke mana ya, apa dia nggak masuk kerja?''
Erick yang sudah bergelut dengan laptop terpaksa menutup sekejap untuk menjawab pertanyaan Melani.
__ADS_1
Dia memang nggak kerja, karena terlambat bangun tadi.
Setelah mendapat kejelasan yang langsung di dengar Anton lewat lodspeaker, Melani memutus sambungannya.
Akhirnya Anton bisa bernapas dengan lega setelah tau alasan Alina tidak masuk kerja.
''Mas aku pulang dulu ya,'' merasa kecewa, Melani kembali memakai tas yang di letakkan dan beranjak dari duduknya.
''Loh kok buru buru, mau kemana?'' Tanya Anton sontak memegang tangan Melani.
''Ada urusan sebentar.'' Dengan hati yang sedikit terluka Melani meninggalkan Anton yang masih di tempat.
Apa mencintai itu sesakit ini, apa ini karma karena aku sudah merebut pacar Diana, dan sekarang aku merasa di abaikan oleh orang yang kita cintai.
Setelah sedikit merasa tenang, Melani kembali melajukan mobilnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tak ingin kemana mana dan tak ingin bertemu siapapun, Melani langsung nyelonong masuk ke dalam kamarnya dan tak mempedulikan Putra yang terus memanggil namanya.
Sedikit khawatir saat menangkap Melani menyeka air matanya dari luar, meskipun keharmonisan tak terjalin dalam keluarganya, Putra sangat perhatian jika sang adik ada masalah. Apa lagi akhir akhir ini gadis itu sering minta bantuan dalam hal apapun.
"Mel, buka dong, siapa tau abang bisa bantu memberi solusi."
Ceklek, akhirnya pintu terbuka lebar.
Melani yang berdiri tegap di depannya itu berhamburan memeluk Putra yang mematung di ambang pintu.
"Kamu kenapa?" tanya Putra mengelus pucuk rambut adiknya. Aneh juga saat melihat adiknya yang menangis sesenggukan di pelukannya, karena Putra pikir itu bukan sifat Melani yang tangguh.
Ini pertama kalinya Putra menyaksikan Melani menangis. Gadis yang terlihat kokoh dengan mulutnya yang pedas itu akhirnya bisa runtuh.
"Aku nggak kenapa napa kok bang, tadi cuma kelilipan." kilahnya asal.
Putra tertawa terbahak bahak. ''Sejak kapan Melani yang ketus dan sombong menjadi penipu, memangnya kamu pikir aku ini mudah di bohongi,'' mencubit hidung Melani yang sudah memerah.
Plaaakkk.... seketika Melani menepuk lengan kekar Putra lalu melangkahkan kakinya dan duduk di tepi ranjang, begitu juga dengan Putra yang juga memilih untuk berada di sisinya.
__ADS_1
''Bang, kayaknya mas Anton itu mencintai Alina,'' ucap Melani ke inti, gadis itu benar benar ingin tau dengan kriteria wanita yang di sukai laki laki.
Anton menoleh menyapa adiknya yang masih terlihat cemberut. ''Kamu cemburu?''
Aku memang cemburu, karena aku suka sama mas Anton, dan perempuan mana yang bisa terima itu.
Nyatanya Melani hanya bisa mengucap dalam hati.
''Cinta itu misteri, pada siapa hati berlabuh kita pun tidak tau, yang pastinya Alina adalah idaman kebanyakan laki-laki. Dia itu mandiri, ceria, cantik, dewasa, dan ramah, tapi,_
Dan itu semua tidak ada pada diriku.
Kali ini Putra meyakinkan Melani. ''Tapi kita itu di ciptakan dengan takdir masing masing, meskipun cinta setengah mati, kalau nggak jodoh nggak mungkin bersatu, jadi kamu tenang saja, abang akan coba bicara sama Anton.''
''Nggak usah bang, dari sini aku belajar, kalau kita harus lebih baik lagi jika ingin mendapatkan yang terbaik.''
Putra mengangkat kedua tangannya dan keduanya saling adu tos.
''Nah, gitu dong, kamu harus dewasa, dan jangan egois, ingat, apapun yang kita lakukan itu akan kembali pada diri kita sendiri, jadi semua akan menuai dengan apa yang di tanam.''
Melani mengangguk mengerti, akhirnya ia mendapat jawaban yang tepat dari sang abang.
Aku pikir dengan menjodohkan Kak Luna dengan kak Erick akan lebih baik, sekarang aku tau mana yang baik dan mana yang tidak, dan aku harus belajar dari kak Alina.
''Bang,'' panggil Melani saat Putra beberapa langkah meninggalkannya.
''Boleh nggak aku minta nomor Kak Alina?''
''Boleh,'' memberikan nomor yang di minta Melani.
Abang juga lebih lega kamu bergaul dengan Alina, abang yakin kamu pasti akan lebih baik lagi dan bisa menerima kenyataan, bukan mementingkan ambisi.
''Apa mau abang antar kesana?'' tawar Putra.
Melani diam masih berpikir langkah apa yang harus di ambil, pertama tama ia harus minta maaf masa Alina tentang sikapnya se lama ini, dan di sisi lain gadis itu ingin belajar menjadi gadis yang lebih baik lagi.
Boleh.'' Akhirnya Melani menerima tawaran dari Putra.
__ADS_1