Pernikahan Berselimut Dendam

Pernikahan Berselimut Dendam
Masa lalu


__ADS_3

Gagal dalam pergulatan ranjang malam tadi tak membuat Erick patah semangat, bahkan di pagi yang buta pria itu ingin mencoba mengusik Alina yang masih berada di alam mimpi. Dengan jahilnya pria itu menyusuri setiap jengkal wajah Alina dengan bibirnya, tak membiarkan Alina tenang dalam tidurnya.


''Kak,'' keluh Alina langsung menebak siapa yang mengganggunya, ''Aku masih ngantuk.'' imbuhnya lagi mencoba menyingkirkan wajah Erick yang membuatnya geli.


''Tapi aku mau sekarang,'' bisik Erick dengan suara parau, pria itu terus mengaktifkan tangannya dan tak mau menyerah sedikitpun.


''Jam berapa sekarang?'' Tanya Alina dengan suara seraknya.


''Jam Tujuh.'' Jawab Erick singkat.


''Whatt.....'' Alina terkejut dan menyibak selimutnya, tak peduli dengan Erick yang memendam hasrat.


''Kak aku telat,'' menggoyang goyangkan lengan Erick.


''Telat kemana?'' tanya Erick pura pura bodoh, padahal Alina sudah cerita kalau ia masuk kerja jam tujuh pagi.


Ckckck... Alina berdecak kesal, memukul dada Erick yang masih tertutup piyama, bagaimana di hari pertamanya kerja harus mendapat omelan dari Anton, itu pikirnya.


''Ya kerja lah, kenapa nggak bangunin aku.'' Menyalahkan Erick, padahal siapa yang membuat nya saat ini terbangun.


''Nggak usah kerja,'' menarik tubuh Alina hingga kembali terjerembab dalam pelukannya.


Keduanya saling tatap, kali ini Alina mendaratkan kecupan di bibir Erick. Tak mau berlama lama yang akhirnya terjun ke dunia nirwana, Alina mencengkal tangan suaminya dan merapikan rambutnya yang masih acak acakan.


''Kemarin kan kakak sudah izinin aku, kenapa sekarang nggak boleh?'' Alina protes.


Memalingkan wajahnya ke arah jendela luar.


''Bukan nggak boleh.'' memeluk Alina dari belakang, ''Tapi kan sudah terlambat, mendingan besok saja.''


Terpaksa Alina mengangguk, dari pada menerima ocehan Anton.


''Kalau gitu aku masakin buat kakak,'' mencoba lepas dari jeratan suaminya.


Kali ini Erick mengendurkan pelukannya membiarkan Alina keluar dari kamarnya.


Ada senyum seringai yang muncul saat punggung Alina menghilang bersama pintu yang tertutup rapat.


Aku tidak akan bisa bahagia sebelum dendamku terbalaskan. siapapun harus menerima upah dengan apa yang di lakukannya.


Tanpa memanggil siapapun, Alina segera memakai celemek dan menyibukkan dirinya dengan peralatan dapur.


''Non,'' suara seorang wanita menghentikan aktivitas Alina sejenak, gadis itu menoleh menatap dengan lekat, ini pertama kalinya Alina melihatnya.

__ADS_1


''Ibu siapa?'' tanya Alina .


''Saya pembantu disini.''


Alina celingukan mencari sesuatu, ''Bi Irah kemana ya, Bu?'' tanya Alina mengingat pembantu yang dalam sekejap menghangatkan dirinya di saat mendapat siksaan dari Erick.


''Bi Irah pulang kampung, dan yang lain mereka melaksanakan tugasnya masing masing.'' jawabnya dengan jelas.


''Ada yang bisa saya bantu, Non?''


Alina mengangguk. ''Baiklah Bu, silahkan!" akhirnya Alina menerima tawaran itu dari pada kelamaan.


Tiga puluh menit Alina sudah selesai menghidangkan masakan ala dirinya, ini pertama kalinya ia membuat makanan untuk Erick dengan penuh cinta dan kasih sayang, tak ada lagi rasa gundah dengan perlakuan lembut suaminya.


"Kok kak Erick belum turun ya, apa dia belum siap, jangan jangan,_


Alina menggantung ucapannya dan berlari menuju kamarnya, tanpa mengetuk gadis itu membuka pintu tiba tiba.


Aaahhh..... tiba tiba saja Alina menjerit saat menatap pemandangan di depan meja riasnya. Dengan pedenya Erick memamerkan tubuh seksinya yang pastinya menjadi dambaan setiap kaum hawa.


"Kamu kenapa sih?" tanya Erick menghampiri Alina, menarik lengannya untuk masuk, bingung dengan istrinya yang selalu saja terkejut saat di sampingnya.


"Kenapa kakak nggak pakai baju," cecarnya menatap dada bidang Erick yang menggoda, belum lagi buliran air menghias tubuh kekar pria itu.


"Kan tadi malam nggak jadi, sekarang nggak apa apa kan?" mesumnya kumat lagi.


Baru saja ingin mendaratkan ciumannya, Erick di kagetkan dengan ketukan pintu kamarnya.


"Siapa?" teriak Erick tanpa membuka.


"Saya Tuan, Ada pak Bima di bawah."


"Baiklah, suruh paman menunggu sebentar."


Ternyata kedatangan seseorang yang penting dalam hidupnya membuat Alina bernapas dengan lega sudah lepas dari genggaman suaminya.


Tentang pembunuhan papa Tirta, apa kak Erick sudah tau siapa orangnya.


Alina hanya bisa bertanya dalam hati seraya membantu Erick memakai bajunya. Tak mau berburuk sangka takut Erick kembali salah paham dengannya.


"Kak," menggenggam tangan Erick.


Heemmm.... jawab Erick menatap wajah Alina menunggu apa yang ingin di ucapkan wanita itu .

__ADS_1


"Apa kakak di besarkan paman Bima?"


"Iya, memangnya kenapa?" tanya Erick memakai jam tangannya.


"Nggak apa apa, dia baik ya, itu artinya dia adalah papa kamu dong."


Erick menghela napas. "Setelah papa meninggal, aku sudah menganggapnya sebagai papaku, dan dia adalah satu satunya orang yang aku percaya, tanpa dia aku bukan apa apa, dan aku tidak akan bisa berbisnis seperti sekarang ini."


"Kak,_


"Sudah, kamu mau ikut turun nggak," tawar Erick mengelus pipi Alina.


Alina mengangguk dan mengikuti suaminya untuk menemui sang paman.


Kak Erick sangat menyayangi paman Bima, dan dia tidak mungkin percaya begitu saja denganku tentang tangan yang mirip pembunuh papa Tirta.


''Pagi paman,'' sapa Erick mendekati pak Bima yang ada di ruang keluarga. Sedangkan Alina masih mengintil di belakang punggung suaminya.


''Pagi, Rick, kamu sudah siap?'' tanya Pak Bima.


Erick mengangguk meraih tas yang di bawa Alina.


''Kalau begitu kita berangkat sekarang,'' menilik jam yang melingkar di tangannya, ''Lima belas menit lagi ada tamu penting.'' Lanjut Pak Bima.


''Tapi kakak belum sarapan,'' ucapan Alina menghentikan langkah keduanya.


Erick menatap pak Bima.


''Nanti di kantor saja, sudah terlambat.''


Alina hanya bisa mengangguk menerima, sedikit kecewa sih, kerjanya yang dengan susah payah dilakukan ternyata tak di ambil pusing suaminya.


Terpaksa ia harus makan sendiri tanpa Erick di sampingnya.


Apa aku harus tanya ke kak Erick tentang pembunuhan itu, apa orang itu sudah tertangkap, lalu paman Bima.


Alina mencoba mengingat kembali wajah yang tertutup topeng kala itu, hanya nampak mata dan hidung, serta tangan yang memiliki tahi lalat, selain itu ia tak mengenali apapun.


''Pikirin nanti saja deh, semoga sudah tertangkap dan bukan paman Bima pelakunya.''


Meskipun belum tau pasti, namun Alina terus merasa tak asing dengan wajah paman Bima, dari sorot mata pria itu, Alina tiba tiba saja terus mengingat seorang pria yang menghempaskan tubuhnya hingga lemas.


''Pak Komar, bagaimana kabarnya, jika tak ada dia mungkin aku sudah terbunuh bersama papa Tirta.''

__ADS_1


Mengingat sang supir yang sudah berjasa menyelamatkannya, Alina kembali ke masa di mana ia harus bertaruh nyawa demi papanya Erick, namun Tuhan berkata lain, dan mengambil nyawa Pak Tirta saat itu juga.


Meskipun mencoba untuk melupakan, namun kejadian itu tetap terselip hingga sampai saat ini.


__ADS_2