
''Mau apa kamu datang kesini? Apa kamu nggak punya nyali untuk menghadapiku sendiri sampai kamu membawa Sigit ke hadapanku.''
Sorot mata keduanya nampak tajam, bahkan saling menantang satu sama lain, Pak Bima duduk di kursi kebesarannya, sedangkan Sigit dan Pak Indra hanya mematung di seberang meja. masih merancang apa yang akan di katakannya.
''Bima, selama ini aku diam karena aku nggak punya bukti, tapi sekarang kamu kalah.''
Sigit menautkan kedua tangannya di belakang seraya memegang ponsel.
''Apa maksud kamu?'' Pak Bima masih dengan bangganya menghisap rokok di tangannya.
''Aku tau kalau kamu yang membunuh kak Tirta.'' Celetuk Pak Indra, baginya sama saja, basa basi maupun tidak, pasti Pak Bima akan mengelak.
''Jangan asal menuduh, aku bisa melaporkan kamu atas perncemaaran nama baik,'' masih dengan santainya pria itu di tempat, bahkan sedikitpun tak nampak ada rasa takut di wajahnya.
Pak Indra melempar sapu tangan tepat mengenai wajah Pak Bima.
''Itu milik kamu kan?'' cetusnya lagi.
Pak Bima terbelalak saat mendapati barang miliknya, meskipun sudah lama, pak Bima tak lupa, karena itu pemberian mendiang istrinya saat awal jumpa.
Dengan kuatnya pak Bima mencengkeram kain itu hingga kusut.
Sialan, apa waktu itu Alina yang sudah mengambilnya, kenapa aku bisa kecolongan.
''Bingung kan mau jawab apa, itu adalah bukti kalau kamu lah pembunuh kak Tirta.'' Jelas pak Indra.
Hahahaha.... Pak Bima bergelak tawa dan memutar kursi kebesarannya. ''Kalian mau menjebakku, nggak akan bisa, ini hanya sebuah sapu tangan, tidak bisa membuktikan apapun.''
Heh, Pak Indra kembali tersenyum getir, ''Mau sampai kapan kamu menutupi kebusukan kamu, serapat rapatnya kamu menyembunyikan bangkai, pasti akan tercium juga, dan kamu tidak akan bisa lari dari semua ini, aku tidak akan membawa kasus ini ke polisi, tapi aku akan tunjukkan ke Erick, siapa musuh dia yang sebenarnya.''
''Kamu pikir kamu siapa, Erick nggak mungkin percaya sama kamu, karena dari kecil aku yang merawat dia, aku yang membesarkannya, dan aku yang memberikan posisi untuk dia sampai seperti saat ini, jadi kamu jangan berharap lebih.''
Di ruangan yang dingin itu suasana semakin panas, kedua pria paruh baya itu sama sama memutar otaknya untuk mencari fakta yang masih kesasar. Sedangkan Sigit hanya diam di tempat menjadi pengawal yang setia.
''Jangan bangga, karena sekarang dia sudah bisa memilih, mana yang benar dan mana yang salah. Erick sangat mencintai Alina, dan aku yakin dia akan mendengar apa yang di katakan Alina padanya.''
''Jangan terlalu yakin, takutnya nanti kamu kecewa.'' Lagi lagi Pak Bima membantah.
__ADS_1
''Terserah, yang terpenting aku tidak akan membuat Erick jatuh kelubang yang sama, dia harus tau ini semua, kalau kamu masih tidak mau mengatakannya, aku akan memanggil seseorang yang melihat pembunuhan itu.''
Kini Pak Bima semakin marah, wajahnya nampak berapi api, tangannya mengepal dan siap untuk menghantam apapun yang ada di sekitarnya.
''Jangan bercanda Indra, aku tidak akan membiarkanmu untuk menang melawanku.''
''Kebenaran pasti akan menang dam kebusukan kamu akan terbongkar, kamu ingat kan, dengan pak Komar, supir pak Johan yang menyelamatkan Alina waktu kejadian itu?''
Pak Bima diam mengingat ingat sosok yang pernah di carinya itu.
Komar, apa dia masih hidup, kenapa Indra bisa tau tentang dia, waktu pembunuhan itu kan dia ada di luar negeri, lalu selama ini Komar bersembunyi di mana.
Pak Indra semakin mantap untuk terus menerobos mendalami kasus pembunuhan itu.
Sedangkan Pak Bima semakin cemas mendengar pernyataan pak Indra yang terakhir.
Baru saja membuka pintu ruangan Pak Bima, Pak Indra tersenyum menepuk bahu sang keponakan saat menatap tubuh kokoh Erick di hadapannya.
''Sekarang semua ada di tangan kamu, Om yakin kamu sudah bisa memilih, mana yang benar dan mana yang tidak, jangan sampai kamu terperosok lagi.''
''Dari kapan kamu datang?'' sahut Pak Bima yang nampak tegang.
''Aku sudah mendengar pembicaraan kalian berdua.'' Mengangkat ponsel yang dari tadi di tangannya.
Sigit hanya tersenyum dan mematikan sambungannya yang terhubung ke Erick.
Mata pak Bima membulat sempurna saat Erick mendekatinya. Ada mimik takut di wajah pak Bima saat menatap Erick.
Sedangkan Sigit hanya bisa tersenyum tipis menghampiri pak Indra dan mengucap sesuatu dengan perlahan, bisa di bilang berbisik.
''Apa benar yang di katakan Om Indra?'' tanya Erick pelan.
''Apa maksud kamu, kamu juga ikut menuduhku?'' Pekik Pak Bima.
Erick memejamkan matanya, masih memendam emosinya yang meluap di ubun ubun.
''Bukan menuduh, sekarang om buktikan kalau tuduhan Om Indra itu salah.''
__ADS_1
Pak Bima diam, kali ini merasa terpojok dengan ucapan Erick padanya. Pria itu mencari cara untuk tetap menyembunyikan kenyataan yang ada.
''Rick, bukti yang paman berikan itu valid, dan kamu jangan percaya sama dia,'' menunjuk ke arah pak Indra yang makin mematung di depan pintu.
''Dia hanya ingin mengadu domba kita.'' Imbuhnya.
''Lalu siapa pak Komar?'' menatap Pak Bima dan membentaknya dengan keras.
''Kenapa paman diam. Apa paman takut kalau Pak Komar menjelaskan semuanya, apa paman sudah tidak bisa lagi memberi bukti yang lain kalau Om Johan pembunuh papa.''
Pak Indra yang hampir saja hengkang itu kembali mendekati Erick.
''Bima, ini adalah masalah keluarga, jadi aku harap tidak ada pertumpahan darah lagi antara kita, katakanlah sebelum terlambat.''
Mata pak Bima masih menyala saat menatap Pak Indra dan Erick yang bersejajar.
''Memang aku yang membunuh kak Tirta.''
Deg, jantung Erick seakan berhenti berdetak, tak menyangka kalau Paman yang di anggapnya papa itu mengatakan sesuatu di luar nalurinya.
''Karena aku dendam sama dia, dia lebih menyayangi adik iparnya dari pada aku. Dan sekarang apa yang mau lakukan jika sudah tau?''
Bug
Seketika Erick menonjok wajah Pak Bima hingga sang empu jatuh tersungkur. Pria itu kembali berapi api mendengar ucapan Pak Bima.
Baru saja ingin melangkah maju, Sigit menarik tubuh kekar Erick dari belakang.
''Lepas!" teriak Erick.
Tak melepas, Sigit semakin mengeratkan pelukannya dan membawa Erick mundur.
"Tenang Rick, kamu jangan emosi, semua sudah terlanjur, sekarang kamu cukup perjuangkan Alina, biar Bima menjadi urusanku.''
Anak buah Erick berhamburan masuk setelah meringkus pengawal pak Bima. Dengan perintah Pak Indra mereka membawa Pak Bima keluar dari ruangan tersebut.
Mendengar nama Alina, Erick menjadi lemas seketika, mengingat apa yang sudah di lakukannya selama ini. Kakinya yang kokoh itu tiba tiba saja luntur dan ambruk.
__ADS_1
Alina, apa dia masih mau memaafkan aku, apa dia masih sudi menganggapku sebagai suaminya.
''Kita pulang, Alina menunggumu."