
Sehari semalam berlalu semenjak kejadian itu, Alina sedikit merasa tenang, wanita itu menunggu kepastian benda yang saat ini di pegangnya, dengan perlahan Alina membuka matanya dan mengangkat tespacknya
Antara sedih, bahagia dan terharu, Alina terus menatap dua garis merah yang ada di tespack itu, seakan itu adalah petunjuk hubungannya dengan Erick bisa bersatu kembali.
Di ruangan yang sederhana, Alina terus tersenyum dalam tangis, rasa bahagia yang tak bisa di ungkapkan dengan kata kata.
''Aku harus temui kak Erick,'' gumamnya, memasukkan tespacknya ke dalam kantong plastik dan memasukkannya kedalam tas, tak lupa Alina meraih ponsel dan keluar dari kontrakannya.
''Pak Sigit,'' Seru Alina saat mendapati Sigit yang ada di depan pintu rumahnya.
Pria itu diam, mimik wajahnya nampak kecewa, entah apa yang menyelimuti, Alina pun tak tau.
''Ada perlu apa bapak datang kesini?'' Sigit mengambil sebuah map dari dalam tas yang dibawanya.
''Ini surat cerai kamu dan pak Erick.'' ucapnya ragu.
''Apa?! Alina terkejut dan menggeleng, tak percaya dengan ucapan sekretaris suaminya.
''Apa maksud bapak?'' Tanya Alina memastikan.
''Kita masuk ke dalam.'' Terpaksa Sigit merangkul pundak Alina yang hampir runtuh.
Sigit mendudukkan Alina tepat didepannya.
''Pak Erick pergi, dan ini surat cerai yang harus kamu tanda tangani, sedangkan yang ini adalah harta yang diberikan untuk kamu.''
Alina kembali terisak dan menatap beberapa dokumen yang ada didepannya.
''Aku nggak mau cerai, aku nggak mau.''
Melihat kesedihan Alina, Sigit pun tak kuasa dan ikut meneteskan air mata, bahkan pria itu seperti tak sanggup untuk menjelaskan apa yang dikatakan Erick.
''Maafkan aku Al, aku hanya menjalankan tugas.'' Bibir Sigit gemetar dan memilih untuk memalingkan pandangannya ke arah lain.
Alina mengeluarkan ponselnya dan menghubungi suaminya.
Namun nihil, bahkan nomor Erick pun tak bisa dihubungi.
''Pak, Tolong hubungi kak Erick, bilang sama dia, aku ingin mengatakan sesuatu,'' ucap Alina disela sela tangisnya.
Sigit pun mengambil ponselnya dan menghubungi bosnya seperti yang diminta Alina, namun pria itu nampak resah dan kembali menatap layar ponselnya. ''Nggak aktif, Al.''
Sigit kembali mencari nomor Erick yang lain, namun sama, bahkan semua nomor Erick tak ada yang tersambung.
__ADS_1
Akhirya Sigit beranjak menghubungi Diana dan yang lain, kepergian Erick memang tak diketahui siapapun kecuali Sigit, dan kini pria itu merasa bersalah dengan keadaan Alina yang terus sesenggukan.
''Gimana, Pak?'' tanya Alina.
Sigit kembali mendekati wanita itu dan duduk di sampinganya lalu menggeleng.
Jika ini adalah takdirku untuk berpisah dengan kak Erick, aku terima, tapi aku akan tanda tangan surat cerai itu setelah bertemu dengannya nanti.
Alina meraih dua dokumen itu dan kembali menutupnya.
''Pak, ini bawa saja, kelola harta kak Erick dengan baik, dan yang ini aku akan menunggu kak Erick pulang, aku akan tanda tangan nanti didepan dia.''
''Tapi pak Erick bilang dua tahun lagi dia baru pulang, Al.''
Alina tersenyum meskipun dengan paksa.
''Sampai sepuluh tahun pun aku akan menunggu, jangan bilang ini pada siapapun, aku takut Om Indra akan menyalahkan kak Erick dengan keputusannya.''
Hati Sigit benar benar ikut nyeri melihat mata Alina yang sembab.
Iya, aku berharap ada kebahagaian untuk kamu dan pak Erick.
''Peluk Aku Al, anggap saja aku abangmu, supaya kamu bisa tenang.''
Alina memantapkan hatinya, ikhlas dengan keputusan Erick yang sepihak.
Kak, jika kita masih di pertemukan kembali, aku ingin kamu tau kalau aku sangat mencintai kamu, dan aku ikhlas merawat bayi kita seorang diri.
''Sekarang bapak pergi saja, aku sudah baik baik saja kok.'' Melepaskan pelukannya.
Tak hanya itu, bahkan mendorong tubuh kekar Sigit keluar dari rumahnya.
''Kamu yakin baik baik saja, apa nggak sebaiknya kamu tinggal dirumah Om Indra.''
Alina menggeleng, tangannya terus memegang perutnya yang terasa mual.
Terpaksa Alina melambaikan tangannya saat Sigit tak juga masuk ke dalam mobilnya, karena saking tak betahnya, Alina menutup pintu rumahnya dan berlari kekamar mandi.
Seketika wanita itu memuntahkan isi perutnya, rasanya tak tahan jika harus menahan apa yang bergejolak.
Sayang, semoga kamu baik baik saja, kita akan pergi dari sini. Dan kita akan hidup di tempat baru.
Setelah perutnya terasa lega, Alina segera membereskan bajunya, tak lupa, Alina juga menulis sedikit pesan bagi siapapun yang mungkin akan mencarinya.
__ADS_1
Setelah pulang dari rumah Alina, Sigit tak langsung pulang kerumah atau ke kantor, kali ini pria itu melajukan mobilnya menuju ke rumah Pak Indra.
Merasa sangat bodoh, bahkan Sigit menuruti semua perkataan Erick dan tak mengatakan pada siapapun tentang kepergiannya.
Setelah sampai, Sigit langsung masuk, meskipun sudah menerka nerka apa yang ia dapat, bagi Sigit sudah biasa jika harus kena marah karena kebodohannya.
''Ada apa kamu kesini?'' Pak Indra nampak curiga dengan wajah Sigit yang datar.
Tak perlu mengulur waktu lagi, Sigit menjelaskan semuanya secara gamblang apa yang di perintah Erick dan juga pesan dari Alina tadi.
Kesal, itu pasti, bagaimana bisa Sigit menuruti permintaan konyol Erick, dan di situasi ini Sigit juga ikut bersalah atas apa yang terjadi.
''Kamu tau kan Erick itu marah, pasti pikirannya buntu, dan tak memikirkan konsekuensi dari keputusannya, tapi kamu, bagaimana bisa kamu ikut ikutan seperti Erick?''
Pak Indra menghempaskan tubuhnya di sofa, sedangkan Romi pun hanya diam dan sesekali menghubungi nomor telepon Erick yang tak Aktif.
''Rom, sekarang kamu kerumah Alina, bawa dia kesini!"
"Baik, Pa."
Bagaimanapun juga kamu adalah titipan Kak Tirta yang harus aku jaga, sampai ke ujung dunia pun Om akan mencarimu, Rick.
"Dan kamu,'' menunjuk ke arah Sigit.
"Saya Om," semacam maling tertangkap basah, Sigit hanya menunduk dengan kedua tangan saling terpaut.
"Siapkan tiket besok, kita akan pergi cari Erick."
"Baik Om," jawab Sigit, dan tak lupa pria itu melirik ke arah Diana yang mematung sedikit menjauh.
''Semangat,'' ucap Diana pelan, namun dengan jelas Sigit masih paham dengan kode dari gadis itu.
Sesampainya di rumah kontrakan Alina, Romi sedikit terkejut saat ada seseorang yang menyapu rumah, itu bukan Alina, dan Romi tak mengenal wanita itu.
''Permisi,'' sapa Romi mendekati wanita yang masih sibuk dengan aktivitasnya.
''Mas mau cari neng Alina ya?'' celetuk wanita itu sebelum Romi kembali bertanya.
Romi mengangguk.
''Ini ada titipan dari neng Alina, katanya di suruh memberikan pada siapa saja yang mencarinya. Baru saja dia pergi dari sini, katanya mau pindah.'' Menyodorkan sebuah amplop di depan Romi.
Surat, memangnya kak Alina pindah kemana? kok nitip surat segala.
__ADS_1
Akhirnya Romi membuka amplop itu dan membacanya dalam hati.