Pernikahan Berselimut Dendam

Pernikahan Berselimut Dendam
Pembawa kebahagiaan


__ADS_3

Hati Alina terus saja gelisah, jantungnya berdetak dengan cepat. Ponsel yang beberapa waktu lalu menyambungkan suara Pak Bima itu masih di tempelkan di dadanya.


''Cepat dong Sayang, siapa tau ada yang penting.''


Alina masih bergeming dan tak ingin mengubah posisinya yang saat ini berbaring menatap langit-langit kamarnya.


''Kak, aku takut.''


Itu bukan ucapan yang pertama, melainkan yang ketiga kalinya semenjak pak Bima menyuruhnya untuk datang ke rumah sakit.


''Nanti kalau paman marah bagaimana?'' Imbuhnya lagi.


Beralih memiringkan tubuhnya, menatap Erick yang sudah rapi dengan baju kantornya dan perfec dengan tampilannya.


''Aku ada di samping kamu, jangan khawatir. Lagi pula sekarang paman tidak akan berani berbuat macam macam sama kamu.''


Erick terus meyakinkan Alina untuk berpikir positif.


Akhirnya Alina terhenyak dari ranjang, tak ke kamar mandi, wanita itu malah memeluk tubuh kekar Erick dari belakang.


''Kakak mau bela aku kan kalau nanti Paman marah?'' Kata Alina dengan manja.


Erick menggenggam tangan Alina yang melingkar di perutnya.


''Iya, jangan terus begini, itu artinya kamu memancing aku untuk melepas dasi lagi.'' Godanya, karena tubuh Erick merasa tersengat dan ada yang mulai bereaksi saat merasakan sentuhan Alina.


Sengaja.


Alina membalikkan tubuh kekar Erick hingga keduanya bersitatap, tak takut lagi dengan ucapan Erick yang sudah dipenuhi gairah.


''Aku nggak takut.''


Dengan laga nya Alina menantang suaminya, padahal nyalinya sedikit menciut mengingat ulah Erick saat di atas ranjang yang menguras tenaga dan peluh.


Dengan sigap Erick kembali membawa Alina ke atas anjang, baginya kali ini ia harus menjalankan misinya, dan Alina sendiri yang sudah menyuguhkan sarapan yang begitu menggoda Iman.


''Kakak, kasihan paman sudah menunggu.'' Ucap Alina nampak memohon supaya Erick membatalkan niatnya yang sudah bergejolak.


Erick berpura-pura tak mendengarkan, pria itu masih sibuk terus menjelajahi tubuh Alina dengan tenang.


''Kamu harus bertanggung jawab.'' bisik Erick dengan suara parau.


Erick mulai melepas satu persatu semua kain yang membalut tubuh keduanya. Tak peduli dengan rengekan Alina yang terus menggema, dan Erick menganggap itu nyanyian untuk mengawali paginya di kamar. Olahraga ranjang yang menurutnya mainstream, dan Erick memang tak berlebihan, takut Alina kelelahan seperti waktu itu.


Awal ingin menjebak kini Alina malah terjebak dengan ide konyolnya. Bahkan Erick terus mengungkungnya dengan erat dan tak membiarkannya untuk lepas.

__ADS_1


Tak seperti yang lalu, saat ini Erick tak memberikan maha karya lebih banyak dan hanya beberapa saja, itu pun di bagian yang bisa tertutup baju.


Ah, sangat menjengkelkan bagi Alina, kesalahan terbesar di pagi ini sudah bisa membuat Erick tenggelam dalam situasi yang penuh dengan alunan keromantisan.


Kurang lebih satu jam, Erick terus menciumi pipi dan kening Alina, Wanita yang masih ada di balik selimut itu merasa bersemu malu saat Erick kembali menunjukkan jati dirinya sebagai laki-laki normal.


''Sekarang kita mandi bersama.'' Tanpa aba aba Erick mengangkat tubuh Alina dan membawanya ke kamar mandi.


Ingin rasanya Alina menjerit. Namun tak gunanya, itu malah akan membangunkan macan yang baru saja tertidur pulas setelah melakukan aksinya.


''Aku nggak mau mandi bareng, kakak keluar dulu!" mendorong tubuh Erick setelah meletakkannya di bak mandi yang sudah berisi air hangat.


"Bersama lebih seru."


Bisa-bisanya Erick masih menggoda Alina yang sudah ingin memukulnya.


''Nggak!" Akhirnya Alina teriak, tak ingin mengulangi kesalahan yang kedua kalinya.


Sebuah kecupan kembali mendarat di kening Alina sebelum Erick keluar dari kamar mandi.


"Jangan lama-lama!" Pesan Erick.


Setelah menutup pintu kamar mandi, Erick membersihkan baju Alina yang tadi dibuang ke sembarang arah.


Sedangkan Alina yang ada di kamar mandi memilih memejamkan mata, menenangkan diri sejenak setelah menerima perlakuan Erick tadi.


Alina dan Erick mempercepat langkahnya saat memasuki rumah sakit, tak ada yang perlu di khawatirkan, hanya saja Erick dan Alina sudah mengulur waktu untuk bertemu Pak Bima yang mungkin menanti kedatangannya.


"Pagi paman." sapanya setelah membuka pintu.


Tak seperti kemarin, ruangan itu sangat ramai. Anak dan menantu Pak Bima sudah berkumpul disana. Pandangan yang berbeda beda saat menatap Erick dan Alina yang ada di ambang pintu.


Pak Bima hanya geleng geleng setelah melihat jam dari layar ponselnya.


"Sudah siang, Rick."


Erick yang terlihat malu ikut melihat jam yang melingkar di tangannya, ternyata sudah lewat empat jam lebih dari panggilan pak Bima.


Akhirnya Erick hanya bisa cekikikan, tak mungkin Ia menjelaskan apa yang membuatnya telat datang.


"Ada apa ini?" tanya Erick mengalihkan pembicaraan.


Pria itu terus menggenggam tangan Alina saat menghampiri Pak Bima yang masih di atas brankar, namun kali ini Pak Bima nampak lebih bugar dan berseri.


"Ada sesuatu yang ingin Paman bicarakan dengan Alina." menatap Alina yang sedikit menunduk.

__ADS_1


Erick beralih menyapa sekretaris pak Bima dan pengacara yang memang Ia kenal.


"Paman mau bicara apa?" Alina melepas genggaman tangan Erick dan lebih mendekat lagi.


"Bacakan!" menyungutkan kepalanya kearah pengacara.


Dengan lugasnya pengacara itu menyambung kata demi kata hingga berbentuk kalimat, tak ada yang tertinggal sedikitpun saat menyampaikan. Dan kali ini Alina tersenyum renyah mendengarkan rangkaian isi tulisan yang di bacakan sang pengacara.


''Al, Paman minta maaf dengan semua yang sudah Paman lakukan ke kamu.''


Alina berhamburan memeluk pak Bima dan menangis sesenggukan.


Akhirnya paman Bima sadar juga, jika dia sudah menerima kehadiranku dan Erlin, itu artinya paman juga sudah menerima Erna juga.


''Mulai sekarang, kamu adalah menantu tertua keluarga Dewantoro, dan itu artinya Erlin adalah cucu keluarga Dewantoro yang pertama.''


Alina merasa terharu, semua perjuangannya tidak sia sia, selama bertahun tahun, kini Alina menikmati hasil yang sangat manis.


''Itu artinya Paman juga sudah siap menimang cucu dari Erna dan Putra.''


Wajah pak Bima berubah datar, matanya menyala saat menatap Erna yang ada di sofa bersama Putra.


Alina sedikit ketar ketir melihat perubahan Pak Bima, namun Alina masih berharap ada keajaiban di hati pak Bima.


''Berapapun cucu yang diberikan Erna, Paman siap, dan paman sudah merestui mereka.''


Alina kembali sesenggukan lalu menghampiri Erna yang sudah beranjak dari duduknya, keduanya berpelukan di hadapan seluruh keluarga yang hadir di sana.


Erick dan Putra ikut menitihkan air mata haru melihat istrinya itu nampak bahagia.


Tak ada momen yang paling indah selain pagi ini, itulah bagi Erna, wanita itu terus menumpahkan air mata bahagianya.


''Papa.'' Dengan langkah pelan Erna mendekati pak Bima dan mencium tangannya.


''Terima kasih Pa, karena Papa sudah menerimaku, aku janji akan menjadi menantu yang baik buat papa.''


Pak Bima menepuk punggung Erna yang bergetar.


''Setelah pulang nanti, papa akan tinggal bersama kamu dan Putra.''


Lagi lagi hadiah dua kali lipat Erna terima, karena bisa merawat pak Bima dan Ibunya sekaligus.


''Papa cepat sembuh, supaya bisa cepat pulang.''


karena hanya itulah harapan satu satunya Erna saat ini.

__ADS_1


Erick merangkul istrinya dan mencium pelipisnya, rasanya anugerah terindah dalam hidupnya adalah bertemu dengan Alina dan putrinya.


Bidadari pembawa kebahagiaan.


__ADS_2