
Alina mengerjap ngerjapkan matanya saat sinar mentari menyeruak dari sela sela tirai, gadis itu menggeliat lalu menoleh menatap wajah Erick yang masih memejamkan matanya.
Ada senyum kecil yang terukir mengingat sang suami yang benar benar tak bisa tidur sampai jam satu pagi gara gara minum kopi buatannya.
''Kenapa kamu nggak bilang kalau minum kopi nggak bisa tidur sih,'' gumamnya, menyunggar rambut Erick yang menutupi keningnya.
Setelah puas memandang suaminya, Alina memindahkan tangan Erick yang semalaman penuh merengkuhnya.
''Aku bangunin nggak ya?'' Alina kembali menoleh, namun hatinya tak tega untuk mengusik Erick yang sepertinya masih menikmati dunia mimpinya.
''Aku masak duku deh, nanti saja banguninnya.'' Dengan perlahan Alina segera turun dari ranjangnya untuk ke kamar mandi, membersihkan diri sebelum bergulat dengan peralatan dapur.
''Masak apa ya?'' Alina membuka lemari pendingin, tak banyak yang di beli, tak enak dengan Putra yang sudah bersusah payah membantunya, Akhirnya Alina mengambil telur, pasrah mau nggak mau yang penting perutnya terisi.
Merasa sedikit tak nyaman dengan kamar yang di tempati, Erick menepuk nepuk sampingnya, matanya langsung terbuka saat merasa tak menemukan sesuatu di sana.
''Alina...'' panggil Erick sedikit meninggikan suaranya, mata yang masih berat itu membuatnya enggan untuk bangun. Tapi bagaimana lagi, pekerjaan menuntutnya untuk segera menghadapi dunia nyata.
''Al,'' Panggil Erick lagi seraya membuka pintu kamarnya, tak ada jawaban, namun suara minyak meletup letup membuatnya yakin kalau istrinya ada di dapur, dengan langkah pelan Erick menuju dapur dan mematung di samping pintu menyaksikan istrinya yang saat ini sudah sibuk menyiapkan telur ceplok.
''Kenapa hanya telur?'' Tanya Erick tiba tiba saja mengejutkan Alina yang dari tadi sibuk dan tak sadar dengan kehadirannya.
''Kalau pingin makan yang enak di rumah kakak sendiri, kalau disini adanya memang cuma telor, itupun dari bang Putra.'' Celetuknya.
Tiba tiba saja wajah yang tadinya santai dan sumeh itu berubah menjadi datar saat nama sepupunya di sebut.
Spontan Erick meninggalkan Alina dan kembali ke kamarnya.
Setelah menyajikan masakan di meja makan, Alina masuk ke kamarnya menghampiri Erick yang duduk di tepi ranjang.
''Kenapa, kakak marah?'' tanya Alina.
''Nggak, kayaknya Putra sangat penting bagi kamu.'' Ucapnya datar.
Alina tersenyum renyah, meskipun Erick adalah orang yang di cintai, Alina pun tak melupakan perjuangan Putra yang sudah menyelamatkan dari ketakutan malam itu.
''Dia sangat penting.''
__ADS_1
Seketika Erick menoleh hingga keduanya saling tatap.
''Dia yang melindungi ku malam itu, dia yang bersedia memberikan bahunya untukku bersandar di saat aku rapuh, meskipun dia cuma sahabat, aku sangat menghargai pengorbanannya yang harus rela pergi dari rumah dan kemewahan hanya untuk aku.''
Ucapan Alina kali ini memang bagaikan tusukan yang bertubi tubi untuk Erick, mulut pria itu terkunci dan tak bisa bilang apa apa, karena semua yang di katakan Alina itu memang benar adanya.
''Apa kamu mencintainya?'' setelah hening sejenak tiba tiba saja kata itu meluncur dari sudut bibirnya.
''Tidak, dia sudah aku anggap sebagai kakak aku.''
Kali ini Erick sedikit lega melepas beban yang baru saja hinggap di tubuhnya.
''Maafkan aku sudah menyakiti kamu,'' entah itu yang ke berapa kali, Erick terus ingin mengulangnya di depan alina.
''Lupakan saja, sekarang kita makan, aku mau cari kerja.''
Erick menarik tubuh Alina hingga wanita itu jatuh ke dalam pangkuannya.
''Kakak....'' jerit Alina memukul tangan Erick, tapi itu semua sia sia dan tak membuat Erick melepasnya.
''Kamu nggak usah kerja, kita pulang, apa kamu nggak percaya sama aku, aku punya segalanya, dan aku bisa membelikanmu apa saja.'' Ungkapnya.
Alina menangkup kedua rahang kokoh suaminya, ingin sekali mengungkapkan perasaannya selama ini, namun itu semua di urungkannya.
''Bukan aku tak menghargai kakak, tapi aku tidak bisa terus begini, biarkan aku kerja lagi,'' Kini Alina yang memohon kelapangan Erick, meminta Erick untuk sekali kali mengerti dirinya.
Akhirnya Erick mengangguk, entah apa yang di pikirkan, yang pastinya kali ini bukan saatnya saling memenangkan ego.
''Sekarang kita makan, kakak juga harus kerja kan, menarik tangan Erick dan membawanya ke ruang makan.
Baru saja beberapa suap, terdengar bunyi ketukan pintu.
Alina segera menggerakkan tubuhnya untuk membuka pintunya.
''Bang Putra,'' seru Alina lantang.
Erick yang ada di ruang makan ikut beranjak, ingin melihat wajah seseorang yang di sebut Alina.
__ADS_1
''Apa semalam kak Erick tidur di sini?'' tanya Putra. Jelas dari mobil yang terparkir itu sangat familiar di matanya.
Alina mengangguk tanpa suara.
''Kenapa, aku suaminya?'' tanpa aba aba suara berat itu menyahut dari belakang Alina.
''Tidak apa apa, dan aku tau kalau kakak suami Alina, aku kan hanya nanya,'' jawab Putra.
Putra menatap Erick, begitu juga sebaliknya, Alina yang ada di tengah tengah hanya bisa menatap keduanya bergantian.
''Sekarang bang Putra masuk, kita makan sama sama.'' Ajaknya.
Erick menatap Putra sinis, namun ia tak bisa berbuat apa apa selain menerima tamu yang tak di undang itu.
''Al, ada lowongan kerja di cafe, mungkin kamu bisa coba.''
''Nggak, dia nggak boleh kerja di cafe, mendingan ikut aku ke kantor.'' Dengan cepat Erick menyahut, ia pun tak mau kalah dari Putra.
''Tapi Kak, ini sangat cocok untuk Alina.'' Bantah Putra masih tak mau kalah.
''Aku bilang nggak ya nggak, aku bisa memberinya pekerjaan yang lebih baik dari itu.''
Ruang makan itu terasa makin panas, bahkan perut Alina sudah kenyang dengan ucapan ucapan kedua pria itu.
''Stooop....'' Akhirnya suara cempreng Alina menghentikan perdebatan kecil itu, memecahkan suasana yang sempat mencengkam.
Kini kedua pria itu menatap Alina dengan lekat.
''Kakak, bang Putra, kalian nggak usah repot repot nyariin kerjaan, karena aku bisa cari sendiri dan nggak perlu bantuan kalian.'' Tegas Alina dengan jelas.
Tak mau membuat suasana makin keruh, Alina mengambilkan nasi untuk Erick, baru ingin mengambilkan untuk Putra juga, tangannya sudah di tarik ke belakang hingga membuat Alina tak bisa bergerak.
''Abang bisa ambil sendiri kan?'' ucap Alina ke arah wajah Putra yang masih nampak cemberut.
''Bisa, aku kan bukan anak kecil yang harus di ladeni." Jawab Putra.
Iri bilang bos.
__ADS_1
''Kalian itu sudah dewasa, jangan berdebat terus, nanti aku akan ke restoran pak Anton, siapa tau dia masih mau nerima aku,'' jelasnya lagi di sela sela makannya.
Untuk saat ini mengalah lebih baik, dari pada Alina memilih Putra.