Pernikahan Berselimut Dendam

Pernikahan Berselimut Dendam
Hampir saja


__ADS_3

Seperti yang di katakan tadi pagi, sore senja itu Erick sudah tiba di kediaman pak Indra untuk menjemput Alina yang saat ini malah terbenam di alam mimpi.


Erick tersenyum saat memasuki kamar itu, mengendap endap pria itu ikut naik di atas ranjang dan membaringkan tubuhnya di samping Alina yang meringkuk.


Dan diam diam pria itu melingkarkan tangannya di pinggang sang istri dan mencium bahunya, Karena masih saja tak terusik, akhirnya Erick mencium ceruk leher Alina.


Enghh.... suara lenguhan Alina saat merasakan geli, gadis itu mengelus lehernya.


Namun suara itu tak membuat Erick menghentikan kelakuannya malah makin tertantang dengan tubuh seksi istrinya.


Akhirnya Erik pindah posisi beralih di bagian depan Alina menyelipkan rambut Alina dan mencium keningnya.


Karena merasakan keanehan, akhirnya Alina membuka mata dengan perlahan, sontak Alina terperanjat dari tidurnya saat menatap wajah yang hanya berjarak beberapa centi dari wajah suaminya.


''Kakak....'' Menarik selimut yang sedikit berantakan.


Erick tersenyum kecil.


''Kenapa, apa kamu takut?'' Tanya Erick menyandarkan kepalanya di pangkuan Alina. menatap wajahnya dari arah bawah.


Bukan takut, tapi aku masih ragu dengan cinta kakak.


Alina menggeleng, ''Nggak enak, ini kan rumah Om Indra, nanti kalau ada yang ketuk gimana?'' Alina mengelus pipi kokoh Erick.


''Ya sudah, sekarang kita pulang.'' menarik pergelangan Alina. Tak ada kata kata lagi selain mengikuti suaminya.


Aku nggak tau kenapa aku sekarang jadi begitu ragu untuk menerima kakak kembali, meskipun cinta, tapi perlakuanmu tidak bisa hilang dalam ingatanku.


''Om, aku dan Alina pulang dulu.'' pamit Erick.


Bu Rasti hanya bisa menerima, begitu juga dengan Pak Indra yang tak bisa melarang Erick untuk membawa Alina.


''Baiklah, hati hati di jalan.''


Setelah melepas kedua insan itu, Bu Rasti sedikit resah, namun tetap meyakinkan hatinya kembali dan harapan terbaik yang terus di luncurkan untuk pasangan tersebut.


''Apa sudah ada kabar tentang penyelidikan anak buah papa?''


Pak Indra menggeleng, karena sampai saat ini memang belum ada secuil kabar tentang kasus pembunuhan itu.

__ADS_1


Setelah perjalanan hanya ada keheningan, kini Alina kembali menatap rumah mewah suaminya, di mana beberapa hari yang lalu ia harus melewati kepedihan dari laki laki yang masih ada di sampingnya.


Melihat Erick yang sudah turun, Alina ikut membuka pintu mobilnya dan turun, langkahnya semakin lunglai, kejadian malam itu masih teringat jelas di benaknya, dan Alina tidak ingin itu terulang lagi.


''Kak,'' suara Alina menghentikan Erick yang sudah tiba di depan pintu.


''Apa lagi?'' tanya Erick mendekati sang istri.


''Jika kakak marah padaku, jangan hukum aku seperti waktu itu,'' ucap Alina melas, bahkan kali ini Erick melupakan sejenak dendam untuk Alina, benci dengan keadaan, tapi Erick juga butuh bukti dengan perkara yang menyakitkan.


''Tidak, jika kamu melakukan kesalahan aku akan menjewer telinga kamu.''


Alina terkekeh saat Erick menggodanya, mengingatkan di masa kecil, di mana itulah yang sering di lakukan sang mama.


Keduanya masuk ke dalam, Alina menyusuri setiap sudut ruangan bagian bawah, tak ada yang berubah, hanya suasana yang beda, jika waktu itu ia masuk tanpa sebuah kasih sayang, saat ini Alina merasakan aura bahagia dengan perlakuan lembut suaminya.


''Dan mulai malam ini kita akan tidur bersama,'' ungkap Erick sebelum keduanya menuju kamarnya.


Erick membuka pintu kamarnya lebar lebar, menggandeng tangan Alina menghampiri lemari yang sudah di penuhi baju miliknya dan Alina.


''Perasaan ini bukan baju aku?'' menyibak gantungan baju yang memang pertama kali ia lihat.


Tak menggubris dengan baju mewah, Alina malah memeluk tubuh kekar Erick membenamkan wajahnya di dada pria itu.


''Hai, kamu kenapa?'' Erick mengembalikan baju yang baru saja di ambilnya dan membawa Alina ke ranjang.


''Aku bahagia, aku sangat mencintai Kakak, dan aku ingin kakak juga sepertiku, jangan sakiti aku lagi, tetaplah menjadi pelindungku seperti dulu.'' pintanya dengan jelas.


Tapi aku tidak bisa, selama aku belum mendapatkan bukti aku akan tetap dengan dendam aku.


Erick mengelus pucuk rambut Alina dan mencium keningnya.


''Kamu tenang saja, aku akan berusaha menjadi yang kamu mau,'' lain di kata lain di hati, karena sejatinya Erick memang belum bisa melupakan rasa sakit waktu kecil, amarahnya semakin menggebu dan tak mengenal cinta.


Entah, kali ini rasanya ego Alina makin kalah dengan rasa kasihan terhadap pria yang ada di depannya.


''Kak, aku ke kamar mandi dulu,'' pamit Alina melepas genggaman tangan suaminya.


Setibanya, Alina mematung di depan cermin dan menatap wajahnya.

__ADS_1


''Apa aku harus mengalah, kasihan kak Erick, dia suamiku, meskipun dia pernah menyakitiku, tapi aku sudah memberinya kesempatan kedua, dan lambat laun aku pasti akan kehilangan mahkotaku, dan malam ini aku siap untuk menjadi istrinya lahir batin, aku akan menyerahkan tubuhku untuk dia seorang.''


Setelah bermonolog, Alina mengguyur seluruh tubuhnya di bawah dower, saat ini pikirannya sudah matang dan ingin melakukan kewajibannya terhadap sang suami yang sudah menunggunya.


Selang beberapa menit berlalu, dengan memakai jubah mandi Alina keluar, menatap Erick yang membaringkan tubuhnya, mata terpejam dengan kaki yang masih ungkang ungkang di bawah.


Dengan jalan perlahan Alina mendekati Erick dan memeluknya dari samping.


Tak ada respons, entah Erick sadar atau tidak dengan kehadirannya, yang pastinya Alina berusaha membangunkannya.


''Kak,'' bisiknya tepat di telinga Erick.


Dengan mata yang masih menyipit, Erick memiringkan tubuhnya menatap Alina dengan rambut yang masih sedikit basah.


''Kamu habis mandi?'' membelai helai demi helai rambut yang terurai.


Alina mengangguk malu malu, ini pertama kalinya ia harus memberanikan diri untuk lebih terbiasa di depan Erick.


''Itu artinya kamu sudah siap melayaniku.''


Alina kembali mengangguk tanpa suara. Jantungnya berdegup dengan kencnag mendominasi antara gugup dan sedikit takut akan sesuatu yang belum pernah di alaminya.


Tanpa pikir panjang, Erick memegang dagu Alina dengan satu jarinya, mendongakkan hingga keduanya saling tatap.


Selamat tinggal perawan, semoga dengan ini kak Erick akan lebih mencintaiku, dan kami akan hidup bahagia.


Karena sudah mendapat lampu hijau, Erick mendaratkan sebuah ciuman lembut untuk Alina, pria itu terlihat semangat dan antusias untuk terus menyatukan bibirnya.


Sedangkan Alina hanya bisa diam menerima perlakuan suaminya, mengikhlaskan dirinya menjadi separuh dari bagian Erick.


Baru saja Erick membuka bajunya, ponsel yang ada di nakas itu tiba tiba saja berdering.


Terpaksa Erick menjeda aksinya dan menatap benda pipih itu.


''Angkat dulu kak, siapa tau penting,'' ucap Alina kembali menutup dadanya yang sempat terekspos.


Erick mendengus kesal, ''Nggak usah biarin saja.'' kembali mendekatkan wajahnya di wajah Alina, namun kali ini Alina menghalanginya dengan telapak tangannya.


''Tapi berisik,'' keluh Alina yang memang risih dengan nada dering ponsel itu, terpaksa Erick mengurungkan niatnya untuk mengangkat teleponnya.

__ADS_1


__ADS_2