
Sebuah penyesalan terbesar, itulah yang sekarang meliputi diri Erick, Bahkan pria itu masih tak sanggup untuk mengungkapkan kata-kata di hadapan Alina, namun dengan dukungan pak Indra, Erick mencoba untuk memberanikan diri menemui Alina yang kini ada di rumah Omnya.
''Apa om yakin kalau Alina akan memaafkan aku?''
Pak Indra mengangguk, meskipun ia juga tak tau, yang pastinya memberi semangat untuk Erick yang utama.
Dengan langkah lebarnya Erick memasuki rumah mewah pak Indra. Dan setelah pintu terbuka Erick langsung mengedarkan pandangannya ke arah suara tawa yang ada di depan TV.
Tatapan yang tadinya tajam kini berubah menjadi nanar saat menatap Alina dari jauh, jangankan senyum, selama ini yang ia berikan hanya air mata kesedihan dan siksaan.
Pak Indra meraih tangan Erick dan mengajaknya masuk menghampiri Alina dan Diana yang dari tadi sibuk dengan ponsel masing-masing.
''Al,'' sapaan Pak Indra membuyarkan Alina yang sangat serius.
''Om, ___ ucapan Alina berhenti saat menatap pria di samping Om Indra.
''Aku ke kamar dulu,'' ucapnya seraya beranjak.
Ternyata kedatangan Erick memecahkan suasana hatinya menjadi redup.
''Aku mau bicara sama kamu.'' Lolos sudah satu kalimat dari sudut bibir Erick, pria itu meraih tangan Alina yang sudah melewati tubuh tegapnya.
Alina menitihkan air mata, rasanya belum bisa untuk melupakan apa yang di lakukan Erick selama menikah.
''Sudah tidak ada yang perlu di bicarakan, dan sepertinya berpisah itu lebih baik.'' ucap Alina bergetar menahan tangis.
Erick memutar tubuhnya lalu memeluk Alina dari belakang, ucapan Alina sangat menusuk ke dalam jantung hatinya.
''Aku minta maaf,'' mencium pundak Alina dari belakang.
Tak mau terlihat lemah, Alina menyeka air matanya.
''Untuk apa?''
Pak Indra dan Diana memilih untuk pergi dari tempat itu dan memberi waktu untuk keduanya menyelesaikan masalahnya.
''Maafkan aku untuk semua yang pernah aku lakukan padamu.''
Heh
Alina tersenyum getir lalu membalikkan tubuhnya hingga keduanya bersitatap.
__ADS_1
''Tidak semudah itu untuk mengembalikan luka yang sudah kakak berikan. Selama ini aku bertahan, karena aku pikir kakak lebih mencintai aku dari pada ego kakak, tapi apa, sedikitpun kakak tidak pernah mendengarkan ucapanku. Dan sekarang hati aku sudah tertutup, jadi aku tidak bisa kembali lagi.''
Erick menggeleng lalu kembali merengkuh tubuh Alina yang bergetar karena tangis.
''Al, aku mohon jangan pergi, kita bisa mulai dari awal, apapun yang kamu minta semua akan aku penuhi.''
Dengan mudahnya ucapan itu meluncur tanpa memikirkan hati Alina yang merasa di rendahkan.
Seketika Alina mendorong tubuh kekar Erick hingga tersentak kebelakang.
''Aku bukan barang yang bisa di ambil setelah dilempar, apa yang kakak lakukan selama ini membuat rasa cintaku hilang bersama dengan saat kakak menyakitiku, jadi maaf aku tidak akan kembali.''
Dengan Air mata yang masih bercucuran Alina meninggalkan Erick menuju kamarnya.
Namun tak menyerah begitu saja, nyatanya Erick tetap mengejar langkah Alina dan kembali memeluknya.
''Al,__
''Lepas!" bentak Alina saat tangannya sudah memegang knop. Bahkan Alina mencoba rengkuhan Erick yang begitu erat.
Tak ada pergerakan dari Erick, karena pria itu tetap melingkarkan tangannya di perut Alina dan tak peduli dengan pukulan yang terus mendarat di lengannya.
"Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kamu memaafkan aku." Ucap Erick pelan.
Sontak Erick terkejut dan memilih untuk melepaskannya, membiarkan Alina untuk masuk ke dalam.
Setelah menutup pintu, Alina menyandarkan tubuhnya dan merosot, luka yang di berikan Erick memang masih membekas. Apa lagi saat Erick menyuruhnya untuk tidur diluar. Itu seperti bayangan yang selalu menghantuinya sampai saat ini.
Dulu kemana belas kasihan kakak, sampai kakak tega menghancurkan hatiku hingga berkeping keping, dan maaf sekarang aku belum bisa memaafkan kakak, dan aku akan memilih untuk hidup sendiri.
Tak mau larut dalam kesedihan, Alina memilih untuk berbaring di ranjang memejamkan matanya, menghilangkan sejenak masalah yang ada, sedangkan Erick kembali menghampiri Pak Indra dan tante Rasti yang ada di ruang makan.
''Mungkin Alina butuh waktu, kamu yang sabar. Seperti dia saat menghadapi emosi kamu.''
Tente Rasti menepuk bahu Erick, bagaimanapun juga keluarga Pak indra ingin Erick dan Alina bersatu, namun mereka tak ada hak untuk memaksakan kehendak Alina.
''Tapi bagaimana jika Alina serius dengan ucapannya Tante, aku nggak mau menceraikannya.''
Semenjak mendengar permintaan Alina, Erick merasa gelisah, takut akan terpisah lagi dengan istrinya.
''Alina itu sebagai istri yang tersakiti, Rick, sesama perempuan Tante tau rasanya itu, dan sekarang dia butuh kasih sayang dari kamu, untuk saat ini biarlah dia tenang dulu, nanti bicarakan lagi saat keadaannya sudah stabil.''
__ADS_1
Nyatanya mendapatkan maaf dari Alina tak semudah yang Erick kira, kini ia harus berjuang penuh untuk mendapatkan kembali wanita itu disisinya.
''Permisi,'' suara berat menyapa dari depan.
Erick segera beranjak menemui siapa yang datang.
''Ada apa?'' tanya Erick.
''Pak Bima sudah saya bawa ke tempat yang paling aman, sekarang apa yang harus saya lakukan, Pak?''
Erick diam, namun dalam hatinya sudah berencana apa yang akan di berikan pada orang yang sudah menghancurkan kehidupannya diam-diam.
''Bawa dia ke luar negeri, cabut semua apa yang dia miliki, biarkan Putra dan Melani menjadi urusanku.''
''Baik, Pak.'' tanpa aba aba Sigit berlalu meninggalkan Erick, namun langkah Sigit harus berhenti di tengah jalan saat seorang gadis menghadangnya.
''Tugasku belum selesai, jadi kamu jangan ganggu aku kalau tidak mau aku kurung di kamar hotel,'' bisik Sigit dengan senyum seringai.
Gadis itu menelan ludahnya dengan susah payah, tak percaya Sigit akan bicara seperti itu di hadapannya.
''Kalau begitu aku permisi dulu,'' menyingkir dari hadapan Sigit, namun tak mudah untuk menghindar begitu saja, kini Sigit menarik baju gadis itu hingga terhuyung ke dalam pelukannya.
Lain kali jangan di ulangi kalau nggak mau jalan kamu merangkak.''
Mesum. Diana hanya bisa mengucap dalam hati.
Segera Gadis itu menepis tangan Sigit dan berlari.
Bug, karena meleng tiba tiba saja Diana menabrak benda keras di depannya.
Awwww.... rintih Diana memegang jidatnya yang sedikit ngilu.
''Kamu kenapa sih? kayak di kejar maling saja. Heran dengan sepupunya yang tak memperhatikan jalan.
''Ini bukan maling kak, Tapi mafia.'' Teriaknya.
Dan Sigit yang belum berlalu masih bisa mendengar ucapan Diana dengan jelas.
''Mafia cap bintang tujuh.'' cetus Erick meninggalkan Diana yang masih merutuki dua pria itu.
Punya kakak dan calon suami sama saja. Awas akan aku akan balas nanti.
__ADS_1
Sebelum meninggalkan rumah pak Indra, Erick kembali menatap pintu kamar Alina yang masih ah tertutup rapat, berharap agar wanita itu mau bermurah hati memafkannya.