
Semenjak pulang dari rumah sakit, wajah Alina berubah drastis, senyumnya seketika menghilang, bahkan sesekali Alina tak menyahut jika di ajak bicara suaminya.
Sebenarnya apa yang dibicarakan paman Bima tadi, apa paman Bima masih tidak menerima kehadiran Alina di hidupku?
Erick sedikit menyesal sudah mengizinkan Alina untuk bicara berdua di ruangan pamannya. Tak menyangka itu bisa mengubah wajah Alina menjadi suram.
Erick merangkul Alina dan menyandarkan kepalanya di pundaknya. Memberikan tempat yang nyaman untuk sang istri.
''Jangan pikirkan orang lain, jika bersamaku cukup membuat kau bahagia.''
Alina mendongak menatap wajah suaminya, bagaimana bisa Erick menebak isi hatinya yang memang gundah.
Wanita itu menghela napas, memainkan kancing baju suaminya dan sedikit menariknya hingga wajah keduanya tak ada jarak.
''Aku sih nggak masalah kak, mau sebesar apapun kebencian paman, aku nggak peduli, tapi kasihan Erna.''
''Erna?''
Alina mengangguk, mengingat semua ucapan Pak Bima yang mengatakan padanya, kalau pria itu tidak akan pernah menerima Erna sebagai menantunya sampai kapanpun.
''Ternyata pernikahan Putra dan Erna belum mendapatkan restu dari paman Bima.'' Imbuhnya lagi.
''Apa tadi itu yang kamu bicarakan dengan paman?
''He'em... dan sepertinya hanya kakak yang bisa meluluhkan hati paman untuk menerima Erna.''
Dan hanya kamu juga yang bisa menaklukkan hatiku.
''Ada upah nggak untuk ini? Erick menengadahkan tangannya ke arah Alina.
Alina diam masih mikir-mikir jawaban yang tepat untuk suaminya.
''Ada, besok aku akan masak untuk kakak yang spesial.''
''Aku maunya bukan yang seperti itu.''
''Terus?''
''Upahnya yang bisa mengeluarkan keringat.''
Seketika Alina memukul lengan kekar Erick, entah apa yang di maksud Alina tak mau melanjutkannya lagi.
Kena kau.
Erick membaringkan tubuh Alina lalu meletakkan kepala wanita itu di lengannya sebagai bantal.
Beberapa kali Alina menguap saat Erick terus mengelus jidatnya, bagaikan anak kecil, Alina nampak nyaman dan mulai menyipitkan matanya.
''Baru saja ingin memejamkan matanya, suara ketukan pintu mengejutkan Alina.
''Siapa?'' teriak Erick.
''Saya pak,'' itu suara Zila, baby suster barunya.
''Biar aku yang buka.''
Dengan perlahan Erick menarik lengannya lalu menutupi tubuh Alina dengan selimut.
__ADS_1
Erick kembali merapikan rambutnya sebelum membuka pintunya.
''Anak papa, kenapa dia Mbak?'' Tanya Erick, mengambil alih Erlin yang nampak cemberut.
''Maaf pak, dari tadi dia memanggil mama.''
Ucap Zila membungkuk ramah.
''Ya sudah, biar malam ini dia tidur disini saja.''
Erick kembali menutup pintunya dan membawa Erlin ke atas ranjang.
Alina yang hampir saja tenggelam ke alam baka itu kembali membuka matanya saat merasa terusik, apa lagi seperti biasa, Erlin selalu naik di atas perutnya.
''Kangen mama ya?''
Tak menjawab, bocah itu malah memejamkan matanya.
''Ternyata dia mau tidur disini.'' ucap Erick mencium kening Erlin dan Alina bergantian. Lalu meraih ponselnya di nakas.
Selang beberapa waktu, Erick menoleh ke arah Alina yang kini sudah terlelap, bahkan kedua perempuan itu bernapas dengan teratur di sana.
Demi kamu aku akan bicara sama paman, dan semoga dia mau menerima kamu dan Erna.
''Mimpi yang indah,'' kembali mencium pipi Alina dengan lembut.
Sebelum pergi, Erick meminta seluruh pembantu untuk menjaga dua bidadarinya yang kini sama sama terlelap. Biarlah di bilang lebay, bodo amat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
''Erick.''
"Silakan duduk, Kak!" Putra mengambilkan kursi untuk sang sepupu.
"Kok malam-malam begini kamu kesini, ada apa?" Pak Bima masih nampak menahan napas yang sedikit sesak.
"Put, lebih baik kamu pulang, kasihan Erna."
Senyum pak Bima mengahilang saat Erick mengucapkan nama perempuan yang sangat di benci.
"Baik, Kak."
Setelah pamit, Putra langsung keluar ruangan, selain meninggalkan Erna sendirian di apartemen, Putra juga belum pulang sama sekali semenjak Pak Bima di rawat.
"Paman, aku datang kesini bukan sebagai anak paman. Tapi sebagai suami Alina."
"Aku tau apa yang akan kamu bicarakan." Celetuk pak Bima, pria itu tak berubah, wajahnya datar saat membicarakan Alina.
Kini Erick tak peduli lagi, mau se marah apapun, istrinya juga berhak di perjuangkan.
"Paman, apa alasan paman tidak menerima Erna? Apa karena dia miskin, apa karena dia itu tidak berpendidikan tinggi seperti Luna, apa dia bukan menantu idaman?" Tanya Erick bertubi tubi.
''Cukup! itu bukan urusan kamu.''
Erick tersenyum dan menggenggam tangan Pak Bima, jika dulu ia langsung emosi saat menghadapi masalah, kini Erick bisa lebih sabar dan tak gegabah.
"Semua urusan Alina adalah urusanku, termasuk Erna dan Putra, karena bagaimanapun juga mereka adalah saudaraku." Ungkapnya.
__ADS_1
Pak Bima diam, pria itu mencerna setiap ucapan yang diluncurkan Erick.
''Paman, jika bukan karena Alina, mungkin sampai saat ini aku belum bisa memaafkan paman, dan jika bukan karena dia, aku pasti tidak akan seperti ini, jadi aku mohon jangan benci istriku.''
Erick menunduk menatap lantai, hatinya merasa tersentil saat mengingat semua perbuatannya di masa lalu.
Di saat suasana hening, tiba tiba saja ponsel Erick berbunyi.
Dengan ulasan senyum Erick menggeser lencana warna hijau tanda menerima panggilan.
Halo, kak, kakak di mana? tanya Alina dengan suara pelan.
''Aku ada di rumah sakit, sebentar lagi aku pulang. Memangnya kenapa?''
Alina yang masih ada di kamar menatap jam dari layar ponselnya.
Kak, aku ingin makan Somay, kira kira masih ada nggak ya?
Erick mengernyit, selama ini ia tak pernah beli begituan, apa lagi sudah larut.
''Kurang tau ya, nanti aku tanyakan Melani dulu.''
Kak, kalau ada, belikan ya, aku ingin kakak sendiri yang membawanya, jangan suruh orang lain.
Erick tertawa saat melangkahkan kakinya mendekati Melani dan Anton.
''Ada ada saja, bilang saja kalau kamu kangen sama aku, pakai alasan somay.''
Dari seberang sana terdengar gelak tawa Alina yang menggema, namun itu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Erick.
Setelah sambungannya teputus, Erick memasukkan kembali ponselnya ke saku celana.
''Mel, kamu tau nggak penjual somay yang masih buka?''
Melani langsung tersenyum renyah.
"Di restoran ada, Kak, masih buka kok, biar pelayan yang antar ke rumah."
Erick menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
"Masalahnya Alina maunya aku yang bawa pulang, bukan pelayan atau orang lain."
Melani dan Anton saling pandang.
"Kok bisa?'' tanya keduanya serempak.
"Memang apa bedanya tangan kakak dan orang lain? Kan yang buat juga orang lain."
Melani merasakan keanehan dengan permintaan Alina yang dibatas kewajaran.
Erick hanya mengangkat kedua bahunya. Karena ia pun sendiri tak tau. Yang terpenting saat ini ia akan segera pulang dan membawakan sesuatu yang di minta Alina.
Erick menghampiri pak Bima.
"Paman aku pulang dulu ya, takutnya Erlin rewel."
Pak Bima hanya mengangguk dan menatap punggung Erick berlalu.
__ADS_1
Erlin, apa itu nama anak Erick?