Pernikahan Berselimut Dendam

Pernikahan Berselimut Dendam
Tipuan


__ADS_3

''Sayang, aku pulang.''


Dengan wajah yang begitu lelah Erick menyandarkan punggungnya di kursi ruang tamu, ia juga memejamkan matanya yang terasa sangat ngantuk. Bukan lelah karena bekerja melainkan berdebat dengan Pak Cahyo yang tidak mau menerimanya sebagai karyawan, akhirnya Erick memutuskan untuk pulang dan beristirahat.


Suasana rumah sangat sepi, bahkan suara sahutan yang di nanti pun tak ada.


''Sayang,'' Akhirnya Erick kembali membuka suara, bahkan sedikit meninggikannya.


''Dedek,'' karena tak ada jawaban dari sang istri, kini beralih memanggil putri kecilnya.


Masih sama, hanya keheningan yang ia dapat.


Mereka kemana?


Akhirnya Erick membuka matanya dan mengalihkan pandangannya ke arah kamar yang sedikit terbuka.


Hati Erick mulai waswas saat tak ada tanda tanda seseorang di dalam rumah itu.


Erick melepas sepatunya dan memakai sendal jepitnya, dengan langkah lebarnya pria itu masuk ke dalam kamarnya.


Kok nggak ada, apa Alina belanja?


Menerka-nerka, seperti waktu kemarin Alina sempat keluar rumah. Akhirnya Erick kembali keluar.


Tak ada siapapun, hati Erick semakin panik dan gundah.


Erick mengambil ponselnya dan menghubungi Alina.


Namun nihil, ponsel Alina tak bisa dihubungi.


Erick makin frustrasi dan memilih untuk duduk.


''Sayang, Dede, kalian di mana?'' Erick menjambak rambutnya, hanya dengan seperti itu aja otaknya sudah buntu dan tak bisa berpikir jernih.


Erick kembali menghempaskan tubuhnya di kursi mencoba merealisasikan dirinya untuk tenang.


''Tenang Rick, Istri dan anakmu tidak mungkin pergi meninggalkanmu.'' Gumamnya.


Erick kembali masuk ke kamar, semangatnya langsung anjlok saat ia melihat lipatan kertas di meja samping ranjang.


Dada Erick merasa sesak, surat yang berapa hari lalu ia baca pun masih melintasi otaknya dan kini ia harus menerima surat kembali dari sang istri.


Dengan jari jari yang gemetar Erick membuka lipatan surat tersebut. Dengan keringat yang bercucuran Erick membaca tulisan yang tertera.


Jika kamu ingin melihat istri dan anakmu masih hidup ikuti petunjuk tulisan ini.


Seketika kertas yang ada di tangannya itu gugur. Jantung Erick seakan berhenti berdetak, dadanya semakin sesak, tubuh dan jiwanya mati seketika.


Apa maksud dari semua ini.

__ADS_1


Erick kembali mengambil kertas dari lantai dan mulai membacanya dengan lekat.


''Aku harus mengikuti petunjuk ini, aku nggak mau kehilangan Istri dan putriku.''


Tanpa menutup pintu rumahnya, Erick mulai melawan terik matahari yang menerpa. Dengan hati yang khawatir Erick terus mengikuti arah yang di sarankan di kertas itu.


Jika terjadi sesuatu dengan istri dan anakku ini semua adalah salahku.


Terpaksa Erick harus naik ojek, karena tak mungkin ia menaiki motornya dalam keadaan yang tidak baik.


Erick menunjukkan jalan yang di tuju, pria itu juga terus mengedarkan pandangannya ke arah kiri dan kanan berharap menemukan istrinya secepat mungkin.


Semakin lama motor yang di tumpanginya menerobos jalanan. Semakin jauh pula jarak yang di tempuh, hingga arah jalan itu semakin familiar dimata Erick.


''Apa aku salah jalan?'' Gumamnya kembali menatap lekat kertas yang masih di bawanya.


Tiba tiba motor yang di tumpanginya berhenti saat Erick tak menunjukkan jalannya, pria itu malah turun dan membayarnya.


''Sudah sampai, Pak?'' tanya kang Ojek.


Erick hanya mengangguk tanpa suara.


Ini kan jalan ke rumah.


Erick terus menatap kanan kiri jalan lalu berlari kecil masih mengikuti arahan yang tertera.


Hingga beberapa menit tibalah pria itu di depan gerbang rumahnya.


Dengan perlahan Erick membuka gerbang rumahnya, dan dengan kaki yang lentur ia mulai masuk.


Tak ada yang mencurigakan di sana, keadaan juga sepi tak ada siapapun yang melintas termasuk penjaga rumahnya.


Dengan pelan Erick membuka pintu utama, tak ada yang berubah, bahkan semua masih sama seperti saat ia meninggalkan rumah itu.


''Sayang, Dedek, apa kalian di sini?''


Erick terus menyusuri setiap sudut ruangan di bagian bawah, namun saat pria itu sampai di ruang keluarga, tiba tiba saja suara tepuk tangan menggema di balik tangga, tak hanya di sana, ada juga yang dari dapur, dan di ambang pintu depan.


Betapa kagetnya Erick saat menatap keluarga Pak Indra di sana serta Melani dan Putra bersama pasangan masing masing.


''Ada apa ini?'' Erick menatap satu persatu wajah-wajah yang di penuhi dengan senyuman di saat dirinya sedang gelisah memikirkan istri dan anaknya.


Karena tak ada yang menjawab, Erick mendekati Sigit, pria yang beberapa jam lalu ada di perusahaan milik pak Cahyo bersamanya.


''Sekarang kamu cerita sebenarnya ada apa? di mana istri dan putriku?''


Erick menarik jas Sigit meminta jawaban dari pria itu.


Sigit hanya mengangkat kedua bahunya, pria itu pun nampak linglung dengan pertanyaan Erick.

__ADS_1


Erick beralih menghampiri Om Indra yang nampak santai, pria itu terlihat pura pura cuek dengan semuanya.


''Pasti Om tau dimana istri dan anakku?'' Tak menjawab, Om Indra malah menerima telepon yang baru saja berdering.


''Rom,'' giliran ke arah Romi yang mematung di samping Sita.


''Pasti kamu tau di mana mereka?''


Romi pun hanya menggeleng tanpa suara.


Tak ada lelah bagi Erick untuk bertanya, setelah semuanya tak menjawab, Erick mendekati Bu Rasti, satu satunya orang yang belum ia tanya.


''Pasti tante tau di mana istri dan anakku?''


Tante Rasti mengulas senyum dan menunjuk lantai atas.


Di kamar.


Akhirnya Erick bisa bernapas dengan lega dan memeras kertas di tangannya.


Dengan antusias, Erick menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Tanpa permisi pria itu membuka pintu kamarnya, ditatapnya wajah ayu Alina, wanita yang berada di depan meja rias, sedangkan putri kecilnya terlelap di atas ranjang empuk miliknya.


Air mata Erick kembali tumpah, apa yang di takutkan tak terjadi, dan kini ia bisa melihat istri dan anaknya baik-baik saja.


''Apa kakak takut kehilangan aku?''


Erick merengkuh tubuh Alina, mendekapnya dengan erat dan tak memberi ruang untuk Alina bergerak.


''Bukan hanya takut, tapi jika kamu hilang itu artinya kamu membunuhku dengan perlahan.'' Ungkapanya.


''Kenapa kamu ada di rumah ini?'' Tanya Erick.


''Apa kamu takut hidup susah?''


Alina tersenyum. ''Bukan aku takut hidup susah, tapi aku nggak mau egois, kakak adalah suami aku, dan aku ingin yang terbaik untuk anak kita, mulai sekarang aku mau tinggal di rumah ini lagi bersama kakak dan anak kita.''


Erick menendang pintu dengan kakinya hingga tertutup rapat, lalu mengangkat tubuh Alina dan membawanya di atas ranjang di samping putrinya.


Baru saja mendaratkan sebuah ciuman beberapa detik, Pintu kembali di ketuk dari luar. dan itu mampu membuat Alina mendorong tubuh kekar Erick.


''Aku mau buka pintunya,'' Alina merapikan rambutnya yang berantakan gara-gara kenakalan suaminya.


Erick kembali menarik tubuh Alina hingga jatuh ke pangkuannya. ''Nggak usah, pintunya sudah terkunci.''


Erick merogoh ponselnya.


''Sigit, acaranya nanti malam saja, sekarang aku nggak bisa.''

__ADS_1


Dengan tidak sopannya Erick mengatakan itu lewat sambungan telepon.


__ADS_2