Pernikahan Berselimut Dendam

Pernikahan Berselimut Dendam
Konyol


__ADS_3

''Kenapa ketemunya di cafe lagi sih, kenapa nggak di hotel saja,'' protes Diana saat menarik kursi untuk duduk.


Dalam sehari Ia harus bertemu dengan sekretaris hello kitty sampai dua kali karena masalah Alina yang memang sangat serius.


Ada senyum seringai yang terbit dari sudut bibir Sigit, pria itu pindah duduk di samping Diana dan mencondongkan kepalanya ke arah wajah gadis itu.


''Kalau di hotel kita pesan kamar sekalian, biar bisa tidur bareng,'' bisiknya, spontan Diana menampar pipi Sigit.


Awwww....Sigit meringis, mengelus pipinya yang kini memerah karena ulah tangan Diana.


''Jangan berani berani mesum ya, kalau nggak mau burungmu aku potong,'' balas berbisik seraya memperagakan menggunting dengan tangannya.


Tantangan.


Sigit menarik ceruk leher Diana hingga wajah keduanya hanya berjarak beberapa centi.


''Siapa yang meminta ke hotel, masih mau bilang aku mesum.''


Aku kan cuma bercanda, kenapa dia serius.


Nyatanya Diana hanya bisa ngedumel dalam hati, takut kalau masalahnya akan menjadi panjang dan lupa tujuan.


''Maaf, pak, lain kali aku janji nggak akan ngelawak lagi.


Lucu juga dia, apa lagi saat bibirnya manyun gitu, ingin aku gigit.


Jiwa mesum Sigit mulai tumbuh semenjak mengenal Diana, dan itu tak dapat di pungkirinya, namun tetap sekretaris itu harus profesional dan bisa membedakan antara pekerjaan dan pribadi.


''Kamu mau bilang apa?'' Tanya Sigit mulai serius, meletakkan latte yang baru datang di depan Diana.


''Kata kak Alina, kak Erick benci padanya karena ingin balas dendam dengan apa yang pernah di lakukan orang tuanya ke orang tua kak Erick dulu.'' jelas Diana.


''Apa?'' Sigit yang baru saja menyeruput kopi hitam miliknya kembali menyemburkannya.


''Kamu yakin?'' Tanya nya lagi memastikan.


Diana mengangguk. ''Itu yang di katakan Kak Alina.''


Masalah apa ya, kalau kayak gini aku harus minta bantuan keluarga pak Erick, pasti mereka juga tau masalah antara orang tua Alina dan orang tua Pak Erick.


Sigit manggut manggut dengan mengangkat jari telunjuknya.


''Aku tau siapa orang yang bisa membantu kita.''


''Papa mertua.'' Seru Sigit dengan lantang.


Papa mertua, itu berarti Pak Sigit sudah punya calon istri, atau jangan jangan dia sudah menikah secara diam diam.


Diana mengerutkan alisnya menatap wajah Sigit yang tersenyum sendiri.

__ADS_1


''Siapa papa mertua bapak?''


''Ya papa kamu lah.'' kelakarnya.


Whaaatt.... Diana terkejut mendengar ucapan Sigit yang sudah berani beraninya menyebut pak Indra sebagai papa mertua.


''Memangnya kenapa?'' Tanya Sigit saat melihat ekspresi wajah Diana yang datar.


Diana hanya bisa menggeleng pelan, meskipun otaknya terus berkelana, entahlah, kali ini hatinya merasa berdebar debar dengan ucapan Sigit yang masih perlu di jelaskan.


Kenapa aku suka dia menyebut papa sebagai mertuanya, ah apaan sih, nggak Diana, dia itu laki laki yang sudah dewasa, karirnya mapan, tampan, mana mau dia sama kamu yang urakan.


Diana kembali menepis perasaannya.


''Ya sudah, kita ke rumah kamu, Om Indra ada kan?''


''Ada,'' seperti terkena hipnotis jiwa ugal ugalan Diana langsung saja lenyap setelah mendengar ucapan Sigit.


Bahkan sedikitpun Diana tak protes saat Sigit menggenggam tangannya menuju mobil.


''Nanti biar aku yang antar mobil kamu,'' ucapnya saat memasang seat belt untuk Diana.


Tak ada pembicaraan apapun dalam perjalanan, Diana yang tadinya terus mengeluarkan candaan, kini makin gerogi saja, bulu halusnya merinding dan mulutnya terkunci, bingung dengan dirinya sendiri.


Sigit yang menangkap diamnya Diana pun makin menerka dengan apa yang di pikirkan gadis itu.


''Kamu masih memikirkan ucapanku tadi?'' tanya Sigit tiba tiba setelah beberapa menit menerobos jalanan.


''Aku cuma bercanda, jangan di buat serius.''


Huh..... Diana bernapas lega, namun hatinya kembali mendelik, merasa lebih suka dengan ungkapan Sigit yang pertama kali, Ah.... dirinya kini berlawanan, lain di kata lain di hati.


''Pak, bisa nggak nyalain musiknya, hening banget,'' pinta Diana basa basi, mengalihkan suasana.


Segera Sigit menuruti permintaan Diana, dan ini pertama kalinya Sigit harus menyetir dengan diiringi musik yang ia pun tak tau, dan tak pernah dengar.


Tiga puluh menit lamanya, kini mobil itu sudah mendarat dengan tenangnya di depan rumah Diana.


''Bapak sudah tau rumah aku?'' Tanya nya sedikit heran, karena yang Diana tau Sigit belum pernah datang.


Sigit mengangguk. ''Ya tahu lah, masa rumah calon mertua sendiri nggak tau sih.''


Kembali dengan ucapan absurdnya, Sigit terus membuat hati Diana bersorak ria.


''Masuk yuk!" kali ini Diana tak mau gede rasa dan melayang, takut tiba tiba saja terjatuh dan sakit.


"Pa, ma, Diana pulang," Diana menghampiri orang tua dan kakaknya yang ada di ruang keluarga.


"Bersama Sigit." Sahut Pak Indra, yang langsung mendekati sekretaris Sigit yang masih mematung di ruang tamu.

__ADS_1


Bu Rasti diam, seolah olah mengantongi perasaan yang tak kalah gembiranya.


"Kalian habis dari mana?" Tanya Bu Rasti menatap Diana dan Sigit bergantian.


"Dari cafe tante," Sigit yang menjawab saat menghampiri dan mencium punggung tangan wanita paruh baya tersebut.


"Ya sudah, mendingan kalian ngobrol saja, tante akan buatkan makan untuk kalian."


Dengan antusiasnya Bu Rasti mengumpulkan pembantu untuk memasak.


Berapa kali datang, Sigit merasa di hormati dan di hargai keluarga pak Indra, dan itu suatu kebanggaan tersendiri baginya.


Ini mereka kenapa sih, akrab banget sama Pak Sigit, apa dulu sebelum aku pulang pak Sigit memang sering ke sini.


"Diana, sini!" Pak Indra melambaikan tangannya ke arah putrinya yang masih bingung dengan keadaan.


Sedangkan Romi hanya bisa tersenyum, merasa geli sendiri.


"Wah cocok tu," suara Erick membuat Diana dan Sigit serta pak Indra menoleh ke arahnya, padahal mata Romi tak lepas dari TV.


"Langsung bawa ke KUA saja, dari pada nanti di ambil orang, kan sayang," lanjutnya lagi.


"Bang Romi ngomongin siapa, sinetron?" tanya Diana dari kejauhan.


"Bukan, kisah nyata yang masih malu malu kucing. Kira kira gimana ya, dia saat ngungkapin perasaannya?"


Sigit menunduk menatap tangannya yang saling terpaut. Ia merasa tersindir dengan ucapan Romi yang usianya terpaut dua tahun darinya.


"Sudah, jangan di tanggapi, Romi mah kurang kerjaan, jadinya ngoceh kayak burung beo." Timpal pak Indra dan fokus dengan tujuan mereka datang, padahal hatinya ikut cekikikan melihat wajah Sigit yang sudah bersemu karena malu.


"Pa, aku mau tanya?"


"Tentang hubungan kalian?"


Lagi lagi pak indra ketularan konyol putra pertamanya.


"Bukan, ini masalah Kak Erick dan kak Alina."


"Kenapa dengan mereka?"


Diana menatap Sigit yang mengangguk kecil,


"Pa, sebenarnya Kak Erick itu menikahi Kak Alina karena ingin balas dendam."


"Kamu serius?" tak seperti tadi, kali ini wajah pak Indra terlihat gundah.


"Dan kak Alina itu menderita karena kelakuan kak Erick yang semena mena padanya, apa papa tau masalah orang tua mereka?"


Pak Indra menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.

__ADS_1


Setau aku mereka bersahabat, apa ini ada hubungannya dengan pembunuhan kak Tirta, aku harus turun tangan sendiri.


__ADS_2