Pernikahan Berselimut Dendam

Pernikahan Berselimut Dendam
Pahit


__ADS_3

Hoamm..... Alina terus menguap di balik selimut, bosan dengan hari harinya, meskipun sinar mentari sangat cerah, namun hatinya tetap redup dan tak ada semangat sedikitpun untuk keluar.


Tok.. tok.. tok.... suara ketukan pintu membuatnya mendengus.


Pasti Bi Irah ngantar makanan.


Dengan malas Alina terpaksa turun dari ranjangnya untuk membuka pintu.


Tak sesuai dengan terkaannya, ternyata bukan Bi Irah, melainkan sekretaris Sigit yang datang.


''Bapak ngapain kesini?'' Tanya Alina celingukan ke kiri dan kanan.


Tak menjawab Sigit menyodorkan paper bag yang dari tadi menggantung di tangannya.


''Silahkan Nona ganti baju, pak Erick sudah menunggu di kantor.''


''Ckckck... panggil saja Alina, nggak enak banget, Aku bukan majikan pak Sigit, anggap saja seperti dulu, sahabat.''


Ternyata Alina nggak pernah berubah, meskipun sekarang sudah hidup enak tetap rendah hati.


Sigit mengangguk dan tersenyum kecil.


Ada orang, tapi pak Sigit, nggak mungkin aku cerita keadaanku sama dia, bisa bisa Pak Sigit hilang pekerjaannya.


Setelah menerima tas itu Alina kembali masuk.


Alina membuka Paper bag yang di berikan Sigit padanya.


''Memangnya mau ke mana di suruh pakai baju mewah kayak gini,'' menjewer gaun warna peach di tangannya.


Tak mau Sigit menunggu lama, Alina segera mandi.


Sigit yang berada di bawah hanya bisa menilik jam yang melingkar di tangannya dan sesekali menoleh ke arah tangga.


Lama banget sih Alina, jangan jangan dia tidur lagi.


Karena kesabarannya habis, Sigit kembali menghampiri kamar Alina yang ada di lantai dua.


''Baru saja ingin mengetuk, pintu sudah terbuka duluan, akhirnya tangan Sigit mengambang.


''Bapak ngagetin saja,'' ucap Alina merapikan rambutnya.

__ADS_1


''Sudah cantik belum?'' tanya Alina basa basi saat Sigit menatapnya tanpa kedip.


''Pak Sigit,'' terpaksa Alina melambaikan tangannya saat tak ada pergerakan dari wajah pria yang ada di depannya tersebut.


Sigit mengangguk, ''Kita pergi sekarang.''


Kenapa dengan pak Sigit, apa aku terlihat aneh memakai baju ini.


''Memangnya kita mau kemana sih?'' Tanya Alina saat keduanya keluar dari rumah mewah Erick.


''Hari ini ulang tahunnya Luna yang ke dua puluh lima, dan dia ingin pak Erick ngajak kamu untuk datang ke sana.''


Aneh banget, bukankah dia suka kalau kak Erick sendiri, ngapain memintaku untuk ikut datang.


''Baiklah, aku akan ikut.'' Tak perlu komentar apapun, meski tak di anggap, namun status Alina adalah istri sah Erick yang memang berhak berada di samping suaminya dalam keadaan apapun dan di manapun.


''Tiga puluh menit Sigit melajukan mobilnya, kali ini mata indah Alina berkaca saat Sigit melewati restoran yang dulu menjadi tempatnya mencari nafkah, apa lagi Alina sempat melihat seseorang yang di kenalnya itu melintas di depan restoran. bagaikan ingin menggapai bulan itulah Alina sekarang yang memendam rindu pada Erna.


''Pak, apa aku boleh turun sebentar?'' pintanya memohon.


''Maaf Alina, sekarang kamu adalah istri pak Erick, jadi aku nggak bisa menuruti permintaan kamu tanpa persetujuan dia,'' jawabnya dengan tegas, meskipun merasa kasihan, Sigit tak bisa begitu saja memenuhi permintaan Alina.


Iya Alina, mana mungkin pak Sigit mau mengabulkan keinginan kamu, sedangkan kamu itu tidak bisa membayarnya seperti Erick.


Tin... tin.... Sigit membunyikan klakson mobilnya saat menatap Erick yang baru saja keluar dari kantornya.


Dengan sigap Alina menggeser duduknya memberi tempat untuk suaminya.


"Jalan sekarang!" titahnya.


Kali ini tak ada percakapan, Alina memilih diam dan menatap luar jendela, sedangkan Sigit sibuk dengan setirnya, Erick memainkan ponsel di tangannya yang berkali kali berdering, sesekali melirik ke arah Alina yang nampak merengut.


Mereka kenapa, kok pada diam, apa mereka punya masalah, atau pada sakit gigi.


Tak mau terkena masalah, Sigit memilih untuk bungkam.


"Sigit, kamu balik ke kantor saja, nanti kalau sudah selesai, aku akan hubungi kamu."


"Baik pak." jawab Sigit.


Alina dan Erick turun dari mobil, sedangkan Sigit langsung memutar balik mobilnya menuju kantor.

__ADS_1


''Ingat, disini hanya orang orang penting, kamu jangan bikin malu,'' bisik Erick seraya merapikan jas serta dasinya.


Alina hanya mengangguk, tak mau membuat Erick emosi.


''Erick, kamu sudah datang,'' penyambutan dari sang tuan rumah dengan ramah, siapa lagi kalau bukan Luna yang kini memeluk Erick yang baru saja tiba dengan erat.


Alina yang berada di samping Erick merasa geram dan mencengkal lalu mendorong tubuh Luna ke belakang hingga terhuyung.


''Kamu tau kan dia itu suamiku, ngapain kamu peluk peluk?'' seru Alina dengan lantang.


Semua tamu yang ada di dalam ikut menoleh menatap mereka bertiga dan berbisik.


''Rick, aku minta maaf, aku nggak tau kalau istri kamu pencemburu.'' Luna mengusap air matanya yang luruh.


''Lun, maafkan Alina ya, nanti biar aku yang bicara sama dia.''


Erick kembali menarik tangan Alina dan membawanya ke samping rumah Luna.


''Kamu itu apa apaan sih, bukankah tadi aku bilang, jangan buat malu,'' Bentak Erick.


''Kakak bilang aku yang bikin malu,'' Alina menunjuk dadanya, ''Luna yang bikin malu, sudah berani memeluk suami orang di depan istrinya, dan aku hanya mempertahankan hubungan kita, andai saja itu ada di posisi orang lain, mereka pun sama sepertiku.'' Jelasnya sedikit di liputi amarah, bukan cuma Luna, tapi juga Erick yang terlihat menerima pelukan itu.


''Tapi kamu lihat kan, orang orang melihat kamu seperti apa, kamu itu aneh, Luna hanya memelukku, dan itu sudah biasa bagi kami seorang sahabat, hari ini Luna ulang tahun, dan itu hanya sebatas memberikan selamat.''


Tapi itu tidak biasa bagiku kak, jika dulu kakak terbiasa, itu karena kakak belum punya aku, kita belum menikah, tapi sekarang beda, kakak adalah suami aku, dan wajar kan aku cemburu.


Alina menghela nafas panjang. ''Oke, aku minta maaf, aku tadi hanya reflek saja melihat kakak ada pelukan wanita lain. Aku menyesal sudah membuat kakak malu.''


Erick kembali mendekati wajah Alina.


''Kalau kamu benar benar menyesal, minta maaflah sama Luna.'' Titahnya berbisik.


Ingin sekali Alina membantah, namun apa gunanya, pasti perdebatan semacam itu tidak akan pernah bertepi, mungkin mengalah akan lebih baik.


''Baiklah, aku akan minta maaf sama Luna,'' lirihnya.


Alina kembali mengikuti langkah Erick masuk ke dalam dan menghampiri Luna yang ada di antara para tamu yang lain.


''Rick, maaf ya.''


''Nggak apa apa, lagian Alina yang salah, Bukan kamu.''

__ADS_1


''Lun, aku minta maaf, lain kali aku tidak akan mengulanginya lagi,'' ucapnya singkat padat dan jelas.


Hari ini dan di detik ini akan menjadi sejarah hidup aku yang paling pahit, di mana aku pernah di permalukan suamiku di depan orang orang, bahkan sedikitpun dia tidak peduli dengan perasaan dan hatiku.


__ADS_2