Pernikahan Berselimut Dendam

Pernikahan Berselimut Dendam
Salah mengerti


__ADS_3

Suasana apotik sangat ramai, Alina yang mengantri merasa capek, kakinya lentur dan memilih duduk, hingga beberapa menit, kini tinggal satu orang yang ada di hadapannya. Dan ada pria lagi yang baru datang di belakangnya.


Alina hanya melirik seseorang yang sedikit aneh, namun Alina tak mau menerka lebih jauh dan memilih untuk diam.


''Terima kasih.'' ucapan dari sang pembeli, Alina segera beranjak dari tempatnya menghampiri sang penjaga.


"Silakan, Bu!"


"Saya mau beli tespack dan Pil KB." Ucap Alina.


Tak ada pertanyaan lain, Alina menunggu penjaga apotik itu mengambil apa yang di minta.


Seperti yang lain pula, setelah membayar apa yang di beli, Alina segera memutar tubuhnya, namun tanpa sengaja wanita itu menabrak seseorang hingga barang yang dibelinya jatuh berserakan.


"Maaf," Alina menangkup kedua tangannya. Menyayangkan dengan tingkahnya yang sedikit buru-buru.


Baru saja ingin berjongkok mengambil barangnya, pria yang memakai kaca mata hitam dan topi hitam itu sudah mendahulinya, Akhirnya Alina memilih untuk diam.


Pria itu memegang pil kb yang baru saja dibeli Alina tanpa memasukkannya kekantong kresek.


"Maaf pak, itu punya saya," Ucap Alina, Wanita itu menunjuk sesuatu yang masih ada di tangan pria itu.


Tak dikembalikan, pria yang ada dihadapannya itu membuka topi dan kaca mata yang dipakainya.


"Paman," seru Alina saat menatap wajah yang tak asing baginya. Ternyata pak Bima yang dari tadi mengantri di belakangnya.


"Kenapa kamu beli ini? Untuk apa?" tanya Pak Bima dengan antusias. Pria itu mengangkat satu kaaplet pil tepat di depan Alina.


"Itu pun, __


Ucapan Alina terpotong saat pria tua itu tersenyum sinis.


"Aku tau sekarang, apa kamu ingin membalas perbuatan Erick? Apa kamu tidak ingin hamil anaknya? Ternyata kamu tidak tulus mencintai Erick. Kamu tidak sebaik yang Erick kira."


Alina melipat kedua tangannya, kini ia menengadah pak Bima untuk bicara panjang lebar mengenai dirinya, bodo amat yang di katakan pria itu, yang pastinya isi hatinya tetap untuk Erick.


"Terserah apa kata paman, yang pasti, aku dan kak Erick bisa bersama, dia sangat mencintai aku, dan aku yakin apa yang aku minta pasti akan dikabulkan, termasuk membawa paman pergi dari kota ini."


Pria itu berdecih, masih menyombongkan diri, meskipun dirinya sudah kalah satu nol, yang pastinya pantang untuk mengalah dari Alina yang menurutnya bau kencur.


"Erick memang sangat mencintaimu. Tapi aku tidak yakin," menatap penampilan Alina dari atas hingga bawah. "Kalau kamu mencintainya dengan tulus." lanjutnya lagi.


Alina merebut pil KB dari tangan Pak Bima.


"Cinta ataupun tidak, bukan urusan paman, lagi pula, Kak Erick sudah tidak membutuhkan paman, jadi paman nggak usah ikut campur urusan rumah tanggaku."


Pak Bima bertepuk tangan dan memutari tubuh Alina, masih memancing emosi wanita itu.

__ADS_1


"Apa jangan jangan ada sesuatu yang membuat kamu mau kembali sama Erick?"


Ni orang makin lama omongannya makin ngelantur terus, kalau aku tetap membela diri pasti nggak akan selesai.


Alina menatap lekat wajah pria itu.


"Kalau iya kenapa, Aku memang ingin balas dendam sama kak Erick, karena dia sudah menyakitiku. Aku memang ingin menjatuhkannya sejatuh jatuhnya, dan aku ingin kak Erick merasakan sakit seperti yang aku rasakan. Aku ingin dia tau bagaimana rasanya mencintai tanpa di cintai.''


Tiba-tiba saja jantung seseorang yang dari tadi mematung di ambang pintu itu berpacu dengan cepat, tak menyangka, membuntuti Alina malah memberikannya kenyataan pahit, karena tak kuasa untuk menerima, pria itu segera berlalu meninggalkan apotik.


"Tapi itu dulu, dan sekarang aku sangat mencintainya, dan aku tidak akan membiarkan Kan Erick termakan omongan paman."


Setelah puas dengan ucapannya, Alina pergi meninggalkan pak Bima yang tersenyum renyah.


sekarang tamat riwayatmu Alina, aku yakin Erick mendengarkan semua ucapan kamu.


Alina yang hampir saja membuka pintu mobilnya itu menoleh menatap mobil yang baru saja keluar dari gerbang.


''Itu kayak mobil kak Erick, tapi dia kan sudah ke kantor, apa aku hanya salah lihat, atau mungkin mobilnya yang memang sama.'' Gumamnya.


''Pak,'' Alina memasukkan apa yang beli itu kedalam tas.


''Iya, Non.''


''Apa tadi bapak lihat kak Erick kesini?'' Tanya Alina.


''Ti---- tidak Non, saya tidak lihat apa apa.'' Nada takut.


Alina manggut manggut mengerti meskipun hatinya sedikit menjanggal.





Ternyata aku salah, aku mengira kamu begitu tulus padaku, tapi ternyata kamu juga dendam padaku.


Erick memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, tangannya terus memukul setir dan sesekali membenturkan kepalanya, seketika hatinya hancur berkeping keping setelah mendengarkan ucapan Alina, tak menyangka di balik kebersamaan yang sangat romantis, Alina memendam sebuah niat yang terselubung darinya, itu pikirnya.


Aku memang pernah menyakitimu, tapi tak seharusnya kamu seperti ini, bahkan kamu mengatakan itu semua di depanku. Dan ternyata kamu juga tidak mau mengandung anakku.


Karena dirinya merasa tak bisa berpikir jernih, Erick memutuskan untuk pulang dan mengabaikan meeting hari ini yang memang sangat penting.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


''Kamu kok cepet banget?'' tanya Erna saat mendapati sahabatnya sudah mematung di depan apartemennya.

__ADS_1


Alina menyodorkan barang pesanan Erna.


''Aku memang mau ke apotik, dan aku juga mau nanya kenapa kamu pakai ginian?''


Erna mendaratkan tangannya di bibir Alina.


''Jangan keras keras, nanti Bang Putra dengar.''


Alina menatap ke dalam dimana Putra sedang sibuk dengan laptopnya di ruang tamu.


''Aku belum siap punya anak. Aku mau nunggu restu dari papa Bima dulu.''


Erna menunduk, meskipun sudah menjadi istri Putra, wanita itu tetap ingin sebuah restu dari mertua.


Alina mengingat kejadian di Apotik saat ia harus berdebat dengan pria tua itu.


''Untuk urusan ini, aku minta maaf, karena aku nggak bisa bantu apa apa.''


Erna mengerti dengan posisi Alina, dan ia pun tak mau terus meminta bantuan sahabatnya.


Masih di ambang pintu, keduanya bercakap, saling mengutarakan suka hati masing masing, tak ubahnya pengantin baru pada umumnya, wajah Erna nampak berseri dan berbinar, begitu juga dengan Alina yang sudah tak sabar dengan hasil tes yang akan dicobanya nanti.


''Kita masuk dulu yuk! Nggak enak ngomong disini.''


Akhirnya Alina mengikuti langkah Erna yang menghampiri Putra.


"Sibuk, Bang?" Tanya Alina.


"Iya, tadi kak Erick meminta untuk mengerjakan beberapa proposal sebelum aku masuk kerja."


Alina manggut manggut. Ternyata Erick sudah menepati janjinya yang akan membantu Putra untuk bekerja.


"Kamu dari mana, kok sendirian?"


Alina tersenyum tipis, "Kak Erick ada meeting, dia nggak bisa menemin aku."


Di ruang tamu itu suasana semakin ramai saat Alina dan Erna bercanda, keduanya tak mempedulikan Putra yang merasa terganggu, namun Putra pun menyadari keadaan keduanya yang butuh refresing setelah mengurus suami masing masing.


Tertawa lepas selama beberapa menit nyatanya dan menyurutkan hati Alina yang merasa gundah, kendati sesekali wanita itu menepis perasaan yang menyelimutinya. Masih saja gelisah.


"Er, aku pulang dulu ya," pamit Alina.


Putra yang masih berhadapan dengan laptopnya terpaksa menoleh.


"Kok cepet?"


"Nggak apa apa Bang, takutnya kak Erick marah."

__ADS_1


Kok perasaanku nggak enak ya, apa terjadi sesuatu dengan kak Erick. Semoga semua baik-baik saja.


__ADS_2