Pernikahan Berselimut Dendam

Pernikahan Berselimut Dendam
Ujian


__ADS_3

Berkali kali Alina merasa terusik dengan bunyi ponsel Erick yang berdering, Pria yang terlelap dalam tidurnya itu benar-benar mengabaikan benda pipihnya yang terus bergetar. Hingga terpaksa Alina membangunkannya.


''Kak, ada yang telepon.'' menepuk Pipi Erick, namun tak ada tanda-tanda Erick terbangun, pria itu malah membenamkan wajahnya di punggung Alina.


Siapa ya, apa ini dari keluarga Om Indra. Terka nya.


Saking penasaran, Akhirnya Alina melepaskan tangan Erick yang dari tadi memeluknya dan meraih ponsel yang ada di meja samping ranjang.


Sofi?


Alina terus menatap nama yang berkelip di sana tanpa ingin menerimanya, hati dan pikirannya berkelana terus menerka sosok seseorang yang ada di balik telepon.


Hati Alina kembali resah, wanita itu beranjak dari ranjangnya dan menghampiri box Erlin, membelai pipi bayi itu dengan lembut.


Keputusanku ini benar nggak sih, kalau aku tidak menerima kak Erick, bagaimana dengan Erlin, tapi kenapa aku merasa sakit saat ada perempuan yang menghubunginya.


Setelah puas menatap wajah mungil putrinya, Alina keluar dari kamarnya menghampiri Adi yang kini bersiap merapikan bajunya.


''Kapan abang berangkat?''


Alina duduk di samping Adi.


''Sekarang juga, kasihan Ibu, pasti dia sangat menghawatirkanku, lagi pula kan Erick sudah ada disini bersama kamu dan Erlin, pasti dia bisa menjaga kalian.''


Alina menyandarkan punggungnya menghela napas panjang.


''Tapi aku masih ragu bang, aku takut kak Erick seperti dulu.''


Adi tersenyum. ''Jangan takut, abang yakin kalau Erick sudah berubah.''


Di saat berbincang, tiba tiba saja Alina terkejut saat mendengar suara Erlin merengek dari kamarnya, segera wanita itu berlari menghampiri bayinya.


''Dedek kenapa, udah bangun ya?'' mengangkat tubuh Erlin dan membawanya ke tepi ranjang.


Erick yang sudah membuka matanya hanya diam masih memunggungi Alina.


Lagi lagi ponsel Erick kembali berdering, entah saat ini nama siapa yang pastinya Alina sudah tak ingin melihatnya.


''Kak, ada yang telepon.'' Dengan sigap Erick terbangun. Namun tak meraih ponselnya melainkan mengambil alih Erlin dan memeluk Alina.


Aku tau tidak gampang mengembilkan hati yang tersakiti, tapi aku akan mencoba.


Erick yang sempat mendengarkan obrolan Adi dan Alina itu hanya bisa mencerna setiap kata untuk memahami diri Alina lebih dalam lagi.


''Kenapa nggak di angkat sih kak, siapa tau penting.''


Erick malah diam menikmati pelukannya saat menyandarkan kepalanya di tubuh Alina.

__ADS_1


''Apa kamu percaya sama aku?'' Tanya Erick.


Alina menoleh menatap wajah Erick yang sedikit sayu. Mimik penyesalan masih saja meliputi wajah kokoh pria itu.


''Apa maksud kakak?''


Erick menunduk, nyalinya menciut, kali ini ia hanyalah sebutir debu saat berada di hadapan Alina.


''Aku sangat mencintai kamu, dan aku ingin kita bersama sampai tua, jangan pergi dariku.''


Apa kak Erick mendengar percakapanku dengan Bang Adi.


''Jika kakak benar-benar mencintaiku, aku ingin bukti.''


''Apa?'' Tanya Erick antusias.


''Aku ingin tinggal disini, aku ingin kakak meninggalkan kemewahan yang kakak punya, aku ingin kakak menafkahi aku dan Erlin sebagai pegawai biasa, dan aku ingin kakak jelaskan siapa Sofi.''


Erick mengangguk cepat, baginya apa yang di minta Alina adalah sesuatu yang sangat enteng baginya.


''Baiklah, mulai besok, aku akan mencari pekerjaan sebagai karyawan biasa. Dan aku pastikan kalian akan tetap hidup dengan layak.''


Maafkan aku kak, jika kamu masih berkuasa pasti kamu akan semena-mena lagi, aku hanya ingin menguji kesetiaanmu, apa kamu benar benar mencintaiku atau hanya bermain-main dengan hubungan ini.


''Sekarang jelaskan siapa Sofi?''


Erick menceritakan tentang wanita itu tanpa kebohongan sedikitpun. Bahkan dengan detail nya Erick menceritakan perjalanan rantauan yang ia lakukan selama dua tahun.


Panjang umur, saat di bicarakan nama Sofo kembali muncul di layar ponsel yang di pegang Erick. Tak langsung mengangkat, Erick menyodorkan benda pipihnya di depan Alina.


''Mendingan kamu yang angkat dan bilang yang sebenarnya biar dia tidak menghubungiku lagi.''


Akhirnya Alina menggeser lencana hijau tanda menerima.


Erick mengambil Erlin dari pangkuan Alina dan membaringkan di atas ranjang, pria itu mendekap tubuh mungil Erlin dengan erat.


''Halo, ini siapa?'' Tanya Alina mengawali pembicaraan.


Kamu yang siapa, bukankah ini nomor mas Erick.


Tiba tiba saja suara Sofi terdengar sangat ketus.


''Aku istrinya kak Erick.'' Jawab Alina santai.


Istri, kapan mas Erick punya Istri.


Erick yang masih mendengar suara Sofi dari sebrang sana itu merebut ponsel dari tangan Alina.

__ADS_1


''Sebelum aku ke luar negeri, aku memang sudah menikah, jadi mulai sekarang jangan hubungi aku lagi.'' Ucap Erick dengan tegas.


Tanpa menunggu jawaban, Erick memutuskan sambungannya.


Alina tersenyum renyah, setidaknya apa yang menjanggal sudah terungkap langsung dari bibir suaminya.


Erick menarik ceruk leher Alina dan mendekatkan wajahnya. Sedangkan Alina memilih untuk memejamkan matanya saat merasakan hembusan napas suaminya.


''Al,'' tiba tiba suara bang Adi membuyarkan suasana, Erick segera melepaskan tubuh Alina dan kembali memeluk putrinya.


''I----iya bang, ada apa?'' Alina merapikan rambutnya yang sempat berantakan lalu menghampiri Adi yang ada di depan pintu.


Pria itu tersenyum kecil, karena Adi pun sempat melihat adegan yang dikit tak senonoh.


''Lain kali jangan lupa tutup pintu, ini bukan rumah gendongan seperti rumah suami kamu, jadi sewaktu waktu bisa saja orang lain masuk.'' Jelas Adi.


Wajah Alina seketika bersemu karena malu.


''Iya, Bang.'' menganggukkan kepalanya.


''Abang mau pamit, kamu jaga diri ya, kalau ada apa apa telepon abang.''


Erick yang ada di ranjang ikut beranjak, berlari kecil menghampiri bang Adi, tak lupa menggendong Erlin.


''Kenapa abang nggak tinggal disini saja?'' Tanya Erick.


Adi kembali tersenyum, ''Takut ganggu kalian,'' ucapnya berbisik.


Erick hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sama seperti Alina, pria itu pun malu setelah ketahuan dengan tingkahnya.


''Terima kasih ya, Bang, karena abang sudah menjaga anak dan istriku,'' ucap Erick merangkul pundak lebar Adi.


Begitu juga dengan Alina yang berhamburan memeluk abangnya, baginya Bang Adi adalah sosok pahlawan selama dirinya dalam masa sulit.


''Sudah kewajibanku menjaga mereka, tapi sekarang dan selamanya adalah kewajiban kamu, jangan megulangi kesalahan yang sama, karena aku nggak yakin Alina bisa menerimamu lagi.''


Erick menganggukkan kepalanya, mengerti maksud dari kata-kata Adi.


Keduanya mengantarkan Adi hingga ke halaman depan, kali ini Alina dan Erick hanya bisa berdoa keselamatan Adi di jalan, karena Erick sedikitpun tak membawa uang, belum lagi ia harus memulai hidupnya dari 0.


''Sayang, hari ini juga aku akan cari pekerjaan, siapa tau langsung dapat.''


Erick mulai sibuk dengan gadget di tangannya, pria itu nampak serius mencari lowongan.


''Semangat papa!" ucap Alina menirukan gaya anak kecil seraya mengangkat tangan Erlin.


Kali ini Itulah gangguan terbesar Erick saat konsentrasi, nyatanya Erick kembali meninggalkan ponselnya dan menghampiri Alina dan Erlin.

__ADS_1


"Semangat dong, kan papa juga ingin beliin mainan dan baju baru untuk Erlin dan mama."


Semoga kami tak terpisahkan lagi, semoga kak Erick benar benar tulus dan cepat mendapatkan pekerjaan.


__ADS_2