Pernikahan Berselimut Dendam

Pernikahan Berselimut Dendam
Rencana Alina


__ADS_3

''Selamat pagi, Al,'' sapa Erna yang sudah datang di restoran lebih dulu. Gadis itu nampak berbunga bunga menyambut pagi harinya.


''Pagi,'' jawab Alina singkat, tak ada semangat sedikitpun, padahal bekerja adalah sesuatu yang di dambanya, namun wanita itu seperti tak menatap masa depan yang cerah. Apa lagi sebelum berangkat Alina sudah capek memasak untuk suaminya.


''Kamu kenapa?'' Tanya Erna mengikuti langkah Alina ke ruangan ganti.


Apa aku harus cerita ke Erna, tapi nggak baik membuka aib suami, dan aku punya cara sendiri untuk membuat Kak Erick menyesali perbuatannya, bahkan di saat itu dia akan menangis karena apa yang di harapkan tidak terwujud.


''Aku nggak apa apa kok,'' cuma capek saja. Kilahnya.


Dengan tekadnya sebuah rencana sudah di susun untuk membalas perbuatan Erick kemarin, kali ini Alina tak main main dan tidak akan melibatkan siapapun masalah rumah tangganya.


Setelah Alina mengganti bajunya dengan seragam, wanita itu beralih menuju dapur, seperti waktu sebelum menikah, saat ini ia berkerumun dengan para Waitres yang lain.


''Pagi nona cantik.'' Goda Anton, si bos yang entah dari kapan datangnya, yang pastinya pria itu tiba tiba muncul begitu saja. Seperti jaelangkung saja.


''Pagi, Pak,'' jawab yang lain serempak selain Alina.


Aneh, itulah Alina, seperti tak peduli dengan sekitar dan memilih menyibukkan tangannya dengan hal yang lain.


''Kamu yakin nggak kenapa napa?'' Erna kembali memastikan.


Sedangkan Anton hanya menyungutkan kepalanya ke arah Alina. ''Kenapa dia?'' tanya Anton pada yang lain.


Lusi yang juga ada di sana hanya mengangkat kedua bahunya, malas jika harus ikut campur urusan Alina yang menurutnya tak penting.


Terpaksa Alina menghentikan aktivitasnya dan menoleh menatap arah Erna yang berseri seri.


''Lihatlah, aku tersenyum.'' menarik sudut bibirnya dengan paksa.


Tapi aku tau kalau kamu menyembunyikan sesuatu, Al, kita berteman sudah lama, nggak mungkin aku lupa dengan diamnya kamu.


''Yang rajin kerjanya, jangan ngrumpi yang nggak penting,'' cetus Anton saat melewati Alina dan Erna yang lagi ngobrol.


Setelah punggung Anton berlalu dan menghilang, Alina kembali melanjutkan apa yang ingin di tanyakan pada Erna.


''Er, gimana, apa bang Putra sudah nembak kamu?'' tanya Alina berbisik menyenggol lengan Erna yang sibuk dengan seledri di tangannya.


Gadis itu tersenyum simpul, masih malu untuk bercerita dengan Alina, pasalnya ini adalah pengalaman pertama bagi Erna menerima laki laki dalam kehidupannya.

__ADS_1


''Em... jawab nggak ya?'' melirik ke arah Alina yang memang menanti jawabannya.


''Harus jawab,'' masih mode pelan, takut yang lain ikut kepo.


''Kemarin bang Putra main ke rumah, dan dia langsung bilang ke ibu, dan aku salut sama dia yang sudah berani meminta ku didepan Ibuku sendiri, dan nanyi setwlah pulang kerja, bang Putra mau ngenalin aku ke ayahnya.''


''Kali ini bukan senyum paksa, Alina ikut bahagia mendengar kabar dari Erna.


Semoga bukan hanya bang Putra yang nerima kamu, tapi paman Bima yang angkuh itu juga.


''Selamat ya, Er, aku yakin bang Putra itu laki laki yang baik, dan dia pasti tidak akan mengecewakanmu.'' Keduanya saling berpelukan.


Meskipun aku menderita dengan kelakuan kak Erick, setidaknya aku masih bisa menyaksikan sahabatku bahagia. lirih hati Alina.


Suasana Restoran makin ramai, dengan kesibukannya Alina mencoba melupakan masalah yang membelitnya saat ini, tak mau terlalu larut dan tak mau memikirkan Erick, baginya saat ini ia terus menatap masa depan yang ada di depan mata.


"Alina, kamu di panggil om Indra di depan,'' panggil Anton.


Om Indra, ngapain dia cari aku.


Alina melepas celemek yang di pakainya lalu keluar untuk menemui tamu yang menurutnya penting.


Pak Indra mengangguk. ''Duduklah!"


Sedikit penasaran sih, dengan kedatangan Pak Indra, namun Alina tak mau menerka dulu.


''Al, om mau bicara sama kamu,'' Pak Indra menarik kursinya lebih dekat dengan Alina.


''Apa, Om?''


"Apa kamu tau kejadian yang menimpa papanya Erick lima belas tahun yang lalu?''


Alina mengangguk tanpa suara.


''Waktu itu keluarga kamu kan datang ke rumah Erick, dan katanya ada supir kamu yang hilang setelah itu.''


Alina kembali mengangguk, meskipun sudah sangat lama, Alina masih ingat dengan supirnya yang bernama pak Komar.


''Dia tinggal di mana?'' tanya Pak Indra antusias.

__ADS_1


Alina menggeleng, jangka waktu yang sangat lama itu hanya mengingatkannya separo separo dari kejadian itu. Meskipun Alina lihat saat perut pak Tirta di tusuk, Alina belum berani bilang ke pak Indra untuk saat ini.


''Memangnya kenapa, Om?''


''Kayaknya hanya dia yang tau siapa pembunuh Kak Tirta."


Alina terpaku, ingin sekali ia mengatakan ciri khas tangan itu, namun ia masih takut akan salah paham sebelum benar benar ada bukti lainnya yang lebih kuat.


''Maaf ya Om, aku belum bisa bantu.''


Pak Indra mengangguk tanpa suara.


Benar juga apa kata Om Indra, waktu itu kan Pak Komar sempat meninju perut orang itu, hanya saja topengnya tidak berhasil di buka.


Itu artinya pembunuh papa Tirta belum tertangkap, dan orang itu masih berkeliaran di luaran, tapi siapa, jika Paman Bima pelakunya, tapi kenapa dia rela membesarkan Kak Erick, bahkan paman Bima yang menjadikan kak Erick orang yang sukses. lirih hati Alina.


Ruwet bin mumet, bikin kepala pusing, itulah masalah pembunuhan yang sudah lama itu, ingin di mulai dari mana Alina pun masih bingung.


¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤


Selamat pagi kak, ini aku sudah buatkan sarapan, maaf ya tidak bisa menemani kakak makan, karena aku sudah terlambat, dan maaf untuk urusan kemarin, aku sudah lancang berdekatan dengan pria lain.


Sepucuk surat yang ada meja makan itu sudah di baca oleh Erick secara terperinci dan mencerna isinya.


Pria itu tersenyum sinis saat ada kecupan bibir yang menempel di bawah tulisannya.


''Apa maksud dari semua ini, ternyata dia mengakui kalau dia salah.''


Erick yang sangat padat dengan jadwalnya pun tak menyentuh makanan sedikitpun, bahkan pria itu merobek surat dari Alina.


Kamu pikir dengan cara seperti ini aku bisa luluh, tidak, sampai kapanpun kamu akan tetap membayar apa yang sudah di lakukan papa kamu.


''Bapak sudah siap?'' Tanya Sigit yang baru saja datang.


Sigit sang sekretaris segera meraih tas dari tangan Erick dan membawanya ke mobil.


''Sigit, nanti kalau pulang kamu nggak usah antar, aku mau ketemu Luna, biar aku pakai mobil kantor saja.''


''Baik, pak,'' membukakan pintu mobil untuk Erick.

__ADS_1


Ngapain mau ketemu Luna, aku harus mengikuti pak Erick, aku takut Luna akan berbuat macam macan yang akan menghancurkan rumah tangga pak Erick dan Alina.


__ADS_2