Pernikahan Berselimut Dendam

Pernikahan Berselimut Dendam
Mengintip


__ADS_3

Tak seperti tadi yang gelisah, kini anak dan menantu pak Bima sedikit lega melihat papanya melewati masa kritisnya.


Putra dan Melani serta Anton dan Erick sudah bisa menemui Pak Bima, dan di luar ruangan itu tinggal Alina dan Sigit serta Erna.


Dua tahun berpisah Alina tak menyangka bisa berkumpul kembali dengan sahabatnya, namun ada yang menjanggal dengan diri Erna yang masih belum ada perubahan, jika waktu acara malam itu masih tak sempat bicara panjang lebar dengan Erna, kini Alina yakin bisa mencurahkan isi hati masing-masing.


"Kita ke taman yuk!" Alina mencairkan suasana yang hening.


"Mbak, ajak Erlin pulang saja, kasihan dia."


Alina mencium putrinya yang ada di gendongan baby Sister Zila yang baru saja datang di antar supir rumah.


Sigit ikut pamit karena sudah terlalu lama di sana.


Kini Alina mengajak Erna duduk di gazebo taman rumah sakit, berharap bisa mengorek isi hati Erna yang nampak gelisah.


"Apa kamu belum mendapat restu dari paman Bima?" celetuk Alina.


Karena Erna belum ada tanda-tanda hamil atau punya anak.


Erna menggeleng, selama dua tahun menikah, Erna sama sekali tak di izinkan untuk datang ke rumah, apa lagi menyentuh mertuanya.


"Kamu yang sabar."


Alina merangkul pundak Erna, menguatkan untuk bisa berdiri tegak walaupun ****** beliung menerpanya.


"Aku juga minta maaf, karena pil punyaku kamu pisah sama kak Erick."


Alina tertawa keras, tak peduli dengan para suster yang menatapnya aneh.


"Perpisahanku dan kak Erick bukan karena kamu, tapi karena kak Erick itu sangat egois, jadi jangan merasa bersalah.


Dengan santainya Alina menanggapi masalahnya, karena semua itu setimpal dengan kebahagiaannya saat ini, itu menurutnya.


"Nanti aku akan bantu kamu bicara sama Paman Bima."


Meskipun pak Bima sangat membencinya, tapi Alina sangat prihatin melihat keadaan Erna saat ini yang belum mendapat restu dari pria itu.


Keduanya mulai basa basi mengisi waktunya untuk menunggu suami masing-masing.


Alina menceritakan perjalanannya selama dua tahun tanpa Erick, sungguh miris, meskipun Erna juga menyedihkan, perjalanan Alina dalam meraih kebahagiaan pun tak kalah memilukan juga.


"Kita sahabat selamanya," Alina memeluk Erat Erna, keduanya melepas rindu setelah sekian lama berpisah.


Mereka hanya seorang wanita yang lemah. Tapi faktanya mereka bisa melewati rintangan yang begitu rumit dan sulit, bagaimana bisa aku laki laki yang terlihat tangguh hanya bisa menghindar.


Erick yang ada di balik tembok itu merogoh ponselnya yang ada di saku celana lalu mengetik sesuatu.


Aku mencintaimu sampai akhir hayat memisahkan kita.

__ADS_1


Alina yang membacanya hanya celingukan mencari sosok yang membuatnya terharu dan berbunga, bagaimana bisa Erick memberi kejutan ucapan itu di saat dirinya dan Erna sedang curhat.


''Kenapa, Al?'' tanya Erna, bingung dengan Alina yang terus menatap ke sembarang arah.


''Ada yang mengintip, mungkin maling.'' Ucap Alina sedikit meninggikan suaranya berharap suaminya itu muncul, namun tidak semudah otu, nyatanya Alina kembali menatap layar ponselnya saat benda pipihnya kembali berdering.


Maling kehormatan kamu, hingga lahir bukti cinta kita.


Alina makin tertegun, entah suaminya itu laki-laki macam apa, yang pastinya Alina makin geregetan dan ingin menjambak rambut suaminya.


''Erna, mendingan kita pergi cari penguntitnya.''


Erna yang masih duduk itu menarik tangan Alina.


''Biarin, cari bukti pengintip itu sangat mudah, nanti jika di antara keluarga kita ada yang bintitan, itulah yang menguntit kita.


Mata Erick membulat sempurna mendengar ucapan Erna, pria itu mengedipkan matanya seketika.


Alina tersenyum dan menanti chat selanjutnya.


Awwww.....


Tiba tiba suara rintihan membuat Alina dan Erna menoleh, kedua wanita itu langsung beranjak dan melangkah mencari arah sumber suara.


''Kakak ngapain disini?''


Erick terus mengelus matanya yang tak sengaja terbentur kepala Putra.


''Kakak ngapain?'' mode berbisik.


Baru saja ingin buka mulut, Erna dan Alina sudah ada di samping Erick dan Putra.


''Kalian ngapain di sini, kakak, kamu juga ngapain disini, bukankah kakak menemani paman Bima?'' tanya Alina menyelidik.


Erick menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sedangkan Putra hanya mengangkat kedua bahunya, tak mengerti dengan pertanyaan Alina.


''Aku cari kamu,'' ucap Erick, menaikkan kedua alisnya dengan cepat.


Alasan.


Alina menatap suaminya dengan sinis, sudah tau pasti dari wajah Erick, pria itu hanya membual saja.


''Yakin, kakak nggak bohong? Lalu itu mata kenapa?'' menyungutkan kepalanya ke arah mata Erick yang sedikit memerah.


Erick mengusap matanya yang masih sedikit nyeri karena Putra.


''Kita ke sana, Mas,'' Erna menunjuk ruangan Pak Bima.


''Tadi di tonjok Putra.''

__ADS_1


Suami Erna yang belum terlalu jauh itu kembali memutar tubuhnya mendengar ucapan Erick, karena tak terima Putra langsung saja mengelak.


''Nggak kok, tadi,__


Ucapan Putra mengambang saat Erick dengan sengaja menginjak kakinya hingga membuat sang empu meringis.


Benar benar aneh, dasar penguntit.


''Ayo mas, kita pergi, aku lapar.'' Erna kembali menarik tangan Putra setelah Alina mengedipkan mata memberi kode.


Dengan jalan tertatih tatih terpaksa Putra mengikuti istrinya.


Alina kembali berkacak pinggang saat Erick masih pura pura sibuk dengan ponselnya.


''Perasaan tadi ada yang mengintip aku lo kak.'' Nada menyindir seraya meniup ujung kukunya.


''Siapa, mana orangnya?'' Mengedarkan pandangannya ke arah taman.


Nih orang benar benar buat aku sebel ya.


Alina terus menatap wajah Erick yang pura-pura bodoh dengan apa yang sudah di lakukannya.


''Ini orangnya.'' mencubit kedua pipi Erick.


''Sakit lo, Ma, nanti kalau pipi aku kendor gumana? hilang dong tampannya.''


Alina mendesis. ''Sejak kapan sih kak kamu jadi narsis kayak gini. Bikin marah saja.''


''Kalau marah tambah cantik, kenapa aku baru sadar sekarang, kalau kamu malah makin gemesin ya.''


''Karena kamu itu mementingkan egois kamu, meninggikan amarah kamu sampai lupa daratan dan lautan.'' Timpal Alina.


Ah, Alina jadi ngelantur gegara sikap suaminya, entah, semenjak pertemuannya dengan Erick, pria itu selalu saja membuat hati Alina dag dig dug, termasuk saat berdua di dalam kamar.


''Ya sudah, tak kita pulang,'' tanpa minta izin, Erick melingkarkan tangannya di pinggang Alina.


''Kak,'' Alina menghentikan langkah Erick.


''Aku mau bertemu paman.''


Erick mengangguk dan balik arah, menuju kamar pak Bima.


Dengan perasaan yang sedikit ragu, Alina berharap bisa bertatap muka dengan pria itu, meski Alina tau kalau pak Bima masih sangat membencinya, setidaknya Alina akan mencoba menyambung kekeluargaan.


''Kamu yakin?''


Alina mengangguk dan tersenyum. Menyembunyikan kecemasan yang melandanya.


Semoga paman Bima sudah berubah, dan semoga dia mau menerimaku sebagai istri Kak Erick, karena bagaimanapun juga dia adalah paman dari suamiku, dan aku tidak patut membencinya karena sudah memfitnah papa.

__ADS_1


__ADS_2