Pernikahan Berselimut Dendam

Pernikahan Berselimut Dendam
Pagi baru


__ADS_3

Seperti ucapannya, setelah pulang dari acara, Alina benar-benar menyuruh Erick tidur di kamar lain, tak peduli dengan rengekan pria itu, yang pastinya Alina sudah kesal dengan kelakuannya yang seperti anak kecil.


Matahari belum menampakkan sinarnya, namun Alina sudah merasa terusik dengan kehadiran Erick yang sengaja menerobos masuk ke dalam kamarnya dan memeluknya dari belakang.


''Kenapa pindah?'' ucap Alina menyingkirkan tangan Erick yang mulai nakal menggerayangi perutnya.


''Nggak enak tidur sendirian, sudah dua tahun aku tidur di gudang, kenapa sekarang kamu tega menghukumku lagi,'' keluhnya.


Gudang, bukankah nama itu yang paling Alina benci, di mana ia pun pernah merasakan tidur di dalamnya berteman dengan kecoa dan kegelapan.


''Enak nggak tidur di gudang?'' Sindirnya.


Rasa kantuk Alina tiba-tiba saja menghilang setelah mendengarkan penuturan suaminya.


''Enggak enak, tapi aku tetap menjalaninya, karena aku pun pernah menyuruhmu tidur di gudang, dan aku ingin merasakan semuanya yang kamu rasakan dulu.''


Alina sedikit menyesal saat Erick mengingat masa lalu mereka yang kurang baik.


Alina mendengus denguskan hidungnya saat mencium sesuatu yang sedikit aneh. Wanita itu memutar tubuhnya hingga keduanya bersihadap.


''Tadi malam kakak minum?''


Erick membuka matanya yang sedikit menyipit lalu mengangguk. ''Hanya satu gelas, nggak enak sama yang lain.''


Alina manggut-manggut, karena selama acara berlangsung ia memilih untuk mendekam di ruangan bersama saudara perempuan Erick dari pada menemani suaminya yang sibuk membicarakan bisnisnya dengan para tamu.


''Kak, aku boleh kerja nggak?'' Ucap Alina penuh harap.


Erick menatap manik mata Alina dengan lekat.


''Berapa uang yang kamu butuhkan?'' tanya Erick.


Alina memutar bola matanya. ''Nggak banyak sih, hanya ingin kerja saja.''


''Baiklah,'' Erick bangun dan duduk di tepi ranjang, pria itu membuka laci dan mengambil sebuah dokumen dari sana.


''Sekarang kamu tanda tangan disini, anggap saja ini kontrak kerja kamu.'' menyodorkan map dan pulpen di depan Alina.


''Apa ini?'' Alina ikut terbangun karena penasaran.


Erick membantu membukanya dan membacakan poin poin yang harus di pahami Alina dengan baik.


Alina hanya mengerucutkan bibirnya setelah mencerna setiap kalimat yang di ucapkan Erick.


''Setuju nggak?'' Seraya mencium pipi Alina dengan lembut dan lama.


''Ini mah nggak di suruh pasti aku lakukan,'' ucap Alina protes.


Dalam tulisan itu tertera kalau Alina cukup menjaga Erlin dan menunggunya pulang dari kantor. dan Erick akan menyerahkan seluruh gajinya untuk Alina. Bukan hanya itu, Alina juga berhak meminta apapaun yang ia mau, kecuali bercerai darinya.


Istri mana yang nolak, di kasih rejeki yang sangat menggiyurkan, namun Alina masih enggan untuk menanda tanganinya.


''Kak.''

__ADS_1


Saat Alina meletakkan pulpen dari tangannya, Erick menarik ceruk leher Alina dan menyandarkan di dadanya.


''Kamu tenang saja, aku tidak akan mengulangi kesalahanku, cukup dua tahun aku tersiksa karena jauh dari kamu, dan sekarang aku tidak akan melakukan hal yang sama.''


''Aku nggak mau tanda tangan,'' Alina mengembalikan dokumen itu ke dalam laci.


''Kenapa?'' tanya Erick.


''Ya pokoknya nggak mau, apa harus ada perjanjian dulu kalau kakak mau memberikan nafkah untuk aku dan Erlin, enggak kan?''


Alina beranjak dan menatap lehernya di pantulan cermin, ternyata tanda merahnya sudah mendingan dari pada semalam.


''Enggak sih,'' kenakalan Erick kumat, tiba-tiba saja pria itu memeluk Alina dari belakang, dan memberi satu tanda spesial di leher bagian samping.


''Kak aku mau mandi.''


Erick mengendurkan tangannnya.


"Peluk aku!" Erick merentangkan tangannya lebar-lebar.


Terpaksa Alina mau menuruti keinginan suaminya.


Aku sangat merindukanmu, Dan aku tidak akan melepaskanmu lagi, sebesar apapun badai yang menerpa, aku akan mempertahankan kamu dan anak kita.


''Sekarang mandi lah, aku mau urus keperluan lain.''


Baru saja keduanya kenikmati kehangatan, suara rengekan Erlin mencairkan suasana yang hening.


Erick mendekati putrinya dan membawanya keluar dari kamarnya.


''Bi....''


Erick mencari Bi Minah yang sudah mulai bergulat di dapur.


''Saya pak, nona muda sudah bangun.''


''Bi, bisa tolong carikan baby sister untuk Erlin, aku nggak mau Alina kelelahan mengurusnya sendiri.''


Kalau ngurus bapaknya juga, ya pastilah kelelahan.


''Baik pak, nanti saya akan menghubungi pihak yayasan.''


Erick mengangguk meninggalkan Bi Minah dan keluar membawa Erlin menikmati udara pagi, pria itu memilih taman samping rumah untuk bermain main dengan putrinya.


Melihat bunga yang warna warni bocah cilik itu merosot dari gendongan papanya.


''Dedek mau kemana sih?''


Erick terkejut saat putrinya tak mau di gendong dan memilih duduk di atas rumput hias, dan tiba tiba saja Erick kembali di kagetkan dengan Erlin yang mencoba berdiri.


''Dedek mau jalan?''


Erick berjongkok di depan Erlin.

__ADS_1


Tak menjawab, bocah itu malah memamerkan giginya yang kini mulai di tumbuhi dua gigi.


''Come om Baby.'' Erick terus mundur memancing Erlin yang sudah mulai menggerak gerakkan kakinya, Erick juga terus menggantung boneka yang tadi di bawanya berharap Erlin antusias untuk meraih boneka itu.


Dan


Berhasil, Erlin maju satu langkah, meskipun nampak susah payah, namun bocah itu masih bertahan berdiri dan tak jatuh.


''Good.'' mengangkat kedua jempolnya. Erick terus memberi semangat Erlin yang mulai kelelahan.


''Nanti kita renang yuk!'' Erick kembali menunjuk kolam yang ada di belakang rumah.


Kini Erlin tak lagi antusias untuk mengambil boneka miliknya, namun bocah itu melengos dan mulai melangkah menuju tempat yang di tunjuk sang papa.


''Wah, pintarnya anak papa,'' Erick terus menuntun tangan mungil Erlin, hatinya merasa tersentuh melihat putrinya yang makin pintar saja. Dan itu tanpa campur tangannya.


''Sudah ya sayang, renangnya nanti saja, tunggu mama.'' Erick kembali mengangkat tubuh Erlin, namun bocah itu malah menjerit dan terus mencengkal tangan Erick.


''Hei, tunggu mama dulu,'' mencium pipi gembul Erlin.


''Dedeknya kenapa, Pak?'' Bi Minah yang mendengar tangisan Erlin langsung saja menghampiri Erick.


''Ini Bi, dia mau renang.''


Bi Minah hanya terkekeh melihat Erick, masa iya anak bayi mau renang, bapaknya kali yang mau nyebur.


Erick kembali membawanya masuk ke dalam rumah, meskipun suara cemperengnya masih menghiasi telinganya, Erick tak peduli, baginya itu lagu syahdu dari putrinya.


''Erlin kenapa, Kak?'' Alina yang baru saja turun ikut kaget dan mengambil alih putrrinya dari gendongan suaminya.


''Dia mau renang, takutnya nanti kedinginan.''


Alina mengusap air mata Erlin dan kembali menciumnya.


''Papa nakal ya, nanti dedek renang nya sama mama ya.''


Masih nggak mau diam, akhirnya Alina cari cara lain.


''Sekarang mama gigit papa?''


Tiba tiba saja Erlin menghentikan tangisannya dan mengangguk.


Erick yang ada di belakang Alina hanya mengerutkan alisnya lalu mengulurkan tangannya.


Alina menggigit tangan Erick yang tertutup piyama tidurnya.


''Lain kali kalau mau gigit jangan tangan.'' bisik Erick dengan akal bulusnya.


''Terus yang mana?'' tanya Alina menatap Erick yang da di sampingnya.


''Yang ini.'' menunjuk bibirnya.


''Itu maunya kamu saja.'' Mencubit perut sispek Erick hingga sang empu meringis.

__ADS_1


__ADS_2