
"Jangan pulang dulu sebelum aku ke sini."
Pesan Erick untuk Alina sebelum turun dari mobilnya, Alina kembali terbawa suasana dengan tatapan Erick kali ini, jantungnya kembali berdegup dengan kencang saat pria itu semakin mendekatkan wajahnya dan mencium bibirnya dengan kilat. Pemanasan supaya lebih terbiasa.
Tidak, Alina tak menyangka akan mendapatkan hadiah yang mesra di pagi hari.
"Aku masuk ya." pamit Alina.
Tak ada jawaban apapun karena Erick sedikit dan rela melepas Alina.
seperti yang di katakan tadi, saat ini Alina benar benar datang ke restoran Anton untuk menawarkan diri sebagai pelayan lagi, entah di terima ataupun tidak, yang pastinya tempat itu adalah satu satunya tujuan Alina.
"Ambil ponsel ini!" menyodorkan ponsel yang sekelas dengan miliknya saat Alina masih mematung di samping mobilnya.
Spontan gadis itu meraih benda pipih itu dari tangan Erick.
''Nggak usah, Kak, nanti aku bisa beli sendiri, '' tolak Alina mengembalikan ponsel ke tangan Erick.
''Kamu mau membuatku marah?'' tegasnya, mengancam dengan mata yang sedikit tajam.
Kali ini Alina tak mau membuat masalah dan menerima ponsel tersebut.
Tak langsung jalan, Erick pun menyaksikan punggung Alina hingga sampai di balik pintu.
Setelah Alina menghilang dari pandangannya, Erick mengambil ponselnya untuk menghubungi Sigit.
Halo pak, ada apa?'' tanya Sigit dari seberang sana.
''Halo Sigit, nanti kamu antar beberapa baju, karena mulai hari ini aku akan tinggal di kontrakan Alina.'' ucap Erick singkat dan jelas.
Pria yang ada di seberang sana jadi mengernyitkan dahinya, antara percaya dan tidak mendengar ucapan bosnya.
Apa pak Erick mau beralih profesi menjadi juragan kontrakan, terka Sigit dalam hati.
Tak menunggu jawaban dari Sigit, Erick mematikan teleponnya kembali, berharap Sigit lekas melaksanakan tugasnya dan tak perlu tanya.
Sedangkan di dalam restoran, Alina yang baru datang langsung menuju dapur sebelum bertemu dengan pak Anton. Rindu dengan suasana damai yang terus menghiasi tempatnya beberapa bulan lalu.
''Pagi semua,'' sapa Alina dengan wajah cerianya. Gadis itu menatap satu persatu sahabat lamanya.
''Alina.....'' Seru juga yang lain selain Lusi dan Erna. Sama seperti Alina, mereka pun nampak bahagia.
"Apa berita waktu itu?'' Ucap salah satu sahabat Alina yang terpotong. Seperti ada keraguan untuk melanjutkan bahasan kejadian yang sempat viral di media.
__ADS_1
"Benar, dan itu hanya salah paham saja,'' tukas Alina tak mau memperpanjang masalah yang sudah berlalu. Padahal ia pun sedikit malu sudah menjadi sorotan publik.
Erna diam, bahkan gadis itu sibuk dengan aktivitasnya dan tak peduli dengan yang lain, yang masih penasaran dengan kedatangan Alina.
"Kamu mau ngapain ke sini?" timpal lagi yang lain.
"Aku mau kerja lagi disini," ucap Alina antusias, seperti niatnya dari rumah tadi.
"Bukankah suami kamu kaya raya, atau sekarang kamu sudah pindah ke lain hati sampai kamu rela bekerja lagi di sini," celetuk Erna tanpa menghadap, sedikit tak masuk akal, namun itulah yang meluncur.
"Maksud kamu apa?" tanya Alina mendengar suara Erna yang sedikit agak menjauh. Bingung dengan ucapan sahabatnya yang sedikit menusuk hati.
Lusi hanya bisa tersenyum sinis saat melihat wajah datar Erna.
"Maksud aku, kamu kan sudah pernah kabur sama Bang putra, itu artinya kamu lari dari suami kamu, apa kamu dan Bang Putra memang ada hubungan yang serius, atau hanya mencari sensasi saja supaya bisa tenar." ucap Erna menjelaskan apa yang sudah bergejolak dalam hatinya beberapa hari ini.
"Ak,_
Alina..." tiba tiba suara familiar memanggil namanya, Alina menghentikan ucapannya dan menoleh ke arah Pintu dapur.
"Pak Anton..."
Tak mau melayani Erna yang sedikit ketus, Alina menghampiri Pak Anton.
Alina mengangguk dan tersenyum.
Ternyata bang Putra sudah bilang ke pak Anton.
Alina mengikuti Anton yang melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya.
"Silakan duduk!" titah Anton menarik kursi untuk Alina.
''Kenapa kamu kerja lagi?'' tanya Anton basa basi.
''Pengin saja, pak, biar nggak gabut,'' jawab Alina.
Keduanya saling bercengkerama meskipun bahasan yang tak penting setidaknya kehadiran Aluia pun mengobati kerinduan Anton.
''Sekarang juga kamu bisa kerja di sini, dan kamu pilih tempat yang kamu suka.''
Alina terbelalak terkejut, apa ini, Alina makin canggung mendengar ucapan Anton, tak biasanya ia bersikap seperti seorang teman, bahkan dengan renyahnya Anton terus bercanda.
''Tidak usah pak, saya akan menjadi pelayanan seperti dulu saja, itu lebih nyaman.''
__ADS_1
''Terserah, Kalau kamu ingin posisi yang lebih tinggi, bilang saja.''
Alina mengangguk, meski secuil pun tak menginginkan jabatan seperti yang di katakan Anton.
Setelah mendapat izin untuk kembali bekerja, Alina keluar dari ruangan Anton, kali ini masih ada yang menjanggal di hatinya yaitu sikap Erna.
Dengan langkah lebarnya Alina menghampiri Erna yang saat ini sendiri.
"Er, aku mau bicara."
Alina menarik tangan Erna untuk menghadap ke arahnya.
"Tidak ada yang perlu di bicarakan, semua sudah jelas."
Bahkan sedikitpun Alina tak paham dengan apa yang di katakan Erna saat ini.
''Er, kamu kenapa sih, apa aku punya salah sama kamu?" tanya Alina memastikan, gadis itu mencoba untuk mencari tau isi hati sahabatnya.
Erna melengos dan melipat kedua tangannya, jika dulu Alina adalah sahabat yang paling dekat, kini gadis itu bagaikan musuh dalam selimut.
"Al, kita berteman sudah lama, tapi kenapa kamu tega sama aku," tiba tiba saja Era menitihkan air mata di depan Alina.
"Tega apa, aku nggak ngerti?" Alina makin bingung dengan pernyataan Erna yang menurutnya hanya setengah setengah.
Erna tak menjawab malah makin sesenggukan. Akhirnya Alina meraih tubuh Erna dan membawa ke pelukannya.
"Er, kita sahabatan sudah lama, kalau ada masalah cerita ke aku," keduanya saling berpelukan, meskipun sedikit ada rasa benci tak di pungkiri jika Erna juga kangen dengan Alina.
''Ada hubungan apa kamu sama bang Putra?" Erna menatap manik mata Alina dengan lekat.
"Jadi dari kemarin kamu cemburu karena aku datang sama bang Putra?"
Alina kembali tersenyum, menarik Erna hingga keduanya duduk bersejajar.
Tanpa pikir pikir lagi Alina menceritakan kejadian malam itu, di mana ia harus terpaksa pergi dengan Putra, dan sampai pada akhirnya Alina kembali di tengah tengah mereka hingga sekarang terlihat begitu akrab dengan pria itu.
"Jadi kamu nggak ada hubungan apa apa dengan bang Putra?" dada yang sempat terjerat sesak kini kembali lega.
Alina menggeleng. "Karena aku sudah punya suami, aku sangat mencintai kak Erick, dan sekarang aku akan berjuang untuk mempertahankan rumah tanggaku.
"Aku akan bantu kamu. "
Keduanya kembali berpelukan.
__ADS_1
Bang Putra memang baik Er, dan mungkin kamu adalah gadis yang tepat untuk dia, aku akan bantu kamu untuk mendapatkannya.