Pernikahan Berselimut Dendam

Pernikahan Berselimut Dendam
Mencari part 1


__ADS_3

''Pak, Non Alina tidak ada di luar.'' ucap Alex dengan bibir gemetar, bahkan yang lainnya hanya bisa menudnuk dengan menautkan kedua tangannya di belakang Alex.


"Apa?" Erick terkejut, Ia berlari turun memastikan apa yang di katakan anak buahnya tersebut. Tak menyangka dan tak pernah terlintas di otaknya akan berita pedas yang menyambutnya di saat membuka mata.


Sedangkan yang lain mengikuti langkah Erick. dari belakang.


Sial, dia benar benar kabur, batinnya.


"Kalian cari dia!" Titahnya, menendang pintu sekuat tenaga.


Tanpa menunggu waktu, para penjaga yang semalam di kasih libur itu segera pergi dengan mobil masing masing.


Tiba tiba saja Erick merasakan sakit di dadanya dan memilih untuk bersandar di sofa.


Selang beberapa menit berlalu dengan menanti kabar dari anak buah, Bi Irah menghampirinya dengan membawa koper.


"Bibi mau ke mana?" tanya Erick, menatap pembantu yang matanya sembab.


"Saya mau pulang, den, dan saya nggak bisa balik lagi."


"Kenapa, apa bayarannya kurang?"


Bi Irah menggeleng. "Tidak, bahkan uang dari Aden sudah berlebihan, hanya saja cucu saya tidak ingin saya kerja lagi." jawabnya.


"Baiklah," karena pikirannya yang sedikit kacau, Erick menyetujui permintaan Bi Irah begitu saja.


Maaf Den, bibi tidak bisa kerja lagi, karena sikap Aden yang keterlaluan ke non Alina.


Beberapa menit berlalu, ponsel yang ada di sakunya berdering.


''Halo, ada apa?''


Pak, kami menemukan mobil Putra ada di jalan XX.


''Mobil Putra?''


Setelah mendapat satu kabar, Erick mencari kontak Putra dan menghubunginya.


Namun nihil, nomor yang di hubungi di luar jangkauan, itulah kata sang operator cantik padanya.


Putra, apa dia yang sudah membawa Alina pergi.


Erick kembali mengecek cctv yang ada di depan, benar saja, sebelum lampu mati, Erick sudah mendapati sepupunya itu mematung di balik gerbang.


''Sudah jelas, semua ini ulah Putra, sampai aku menemukanmu, aku tidak akan memaafkanmu.''


Erick kembali menghubungi anak buahnya yang ada di seberang sana. ''Sekarang juga cari Putra!" Titahnya lagi melempar ponselnya hingga hancur berkeping keping.

__ADS_1


Dengan pikiran yang masih kacau balau, Erick menyambar jaket dan keluar, melajukan mobilnya dengan kecepatan yang tak seperti biasanya, geram dengan sepupunya tersebut.


Tiga puluh menit mobil Erick ada di depan rumah pak Bima.


Pria itu segera masuk tanpa mengetuk pintunya.


"Putra...." teriak Erick, menatap pintu kamar yang tertutup rapat.


Karena terusik, pak Bima dan juga Melani terpaksa keluar menemuinya.


"Erick, ada apa pagi pagi kesini?" Tanya Pak Bima menggoyang goyangkan lengan Erick.


Wajahnya yang kokoh semakin nampak kejam saat berbalut marah.


"Om, putra di mana?" Pak Bima menatap pintu kamar anaknya.


"Bi, panggil putra!"


"Tapi tuan, Den Putra nggak pulang dari semalam." Ucap Bibi dengan jelas.


"Om, Putra membawa pergi Alina, dia sudah lancang membawa kabur istriku," jelas Erick.


"Apa, Bang putra membawa kabur Alina?" Melani pun tak kalah terkejut.


Pak Bima menghela napas panjang.


"Ikut ke ruang kerja ku."


"Biarkan saja mereka, Putra nggak akan bisa hidup tanpa kemewahan, apa lagi dia nggak bisa kerja. Aku yakin, Putra nggak akan betah untuk tidak pulang, dan aku akan blokir semua fasilitas yang ia punya."


Keduanya saling berhadapan dan saling menerka dengan pikiran masing masing.


"Tapi bagaimana jika mereka tidak kembali?" ada rasa resah saat Erick mengatakan itu, hatinya mulai goyah dengan langkah balas dendam yang hampir seratus persen. Apa lagi yang ia tau kalau Putra juga mencintai Alina.


''Apa kamu takut kehilangan Alina?" Tanya pak Bima menyelidik.


Erick langsung menggeleng, meskipun hatinya ingin mengangguk.


"Balas dendamku belum cukup, dan aku tidak bisa membiarkan Alina berkeliaran begitu saja."


"Cari lewat media." Tak hutuh waktu lama, kali ini Erick mengikuti apa yang di katakan pak Bima.


Hanya hitungan detik, wajah Putra dan Alina sudah terpampang di seluruh jagad raya, mereka berdua menjadi sorotan seluruh mata.


Begitu juga dengan Keluarga pak Indra.


Diana yang baru saja membuka mata berlari mencari Bu Rasti dan terisak di pelukannya.

__ADS_1


"Ma, kemana Kak Alina, aku takut terjadi sesuatu sama dia," ucap Diana di sela sela tangisnya. Sedangkan Pak Indra masih menatap layar ponselnya, antara terkejut dan heran dengan perginya Alina dan Putra.


"Tenanglah, Di, pasti papa akan membantu mencari mereka, kamu jangan khawatir, Alina pasti baik baik saja." Bu Rasti hanya bisa menenangkan.


"Sekarang papa akan pergi ke kantor Erick, kalian tunggu di rumah."


Bukan hanya pak Indra yang mau menemui Erick, di pagi yang masih sedikit mendung, Sigit pun bersiap, sampai sampai lupa dengan dirinya yang masih memakai piyama, untung pria itu segera ingat dan ganti baju, kalau tidak, mungkin pagi itu akan menjadi harinya yang paling berkesan di mata karyawan.


Putra membawa Alina pergi, semoga mereka baik baik saja, aku yakin putra bisa menjaga Alina dengan baik.


"Papa...." di saat genting gentingnya masih saja bibir itu selomot, Sigit memanggil Pak Indra dengan sebutan papa di saat keduanya tak sengaja bertemu di depan kantor Erick.


"Maksudku Om, maaf,'' meralat kembali ucapan absurdnya pada calon mertua.


Pak Indra tersenyum kecil menepuk bahu lebar Sigit.


"Terserah, mau panggil apa saja yang penting kamu merasa nyaman, sekarang kita masuk."


Lampu hijau menyala terang nih, tapi untuk sekarang fokus sama Alina dulu.


Keduanya masuk dengan bersamaan menuju ruangan Erick.


"Masuk!" sahut Erick saat pintu itu di ketuk dari luar.


"Maaf pak, Saya terlambat," ucap Sigit menundukkan kepalanya, harusnya bukan terlambat, tapi karena kejadian yang mengejutkan, Erick yang datang lebih awal, bahkan para karyawan pun belum lengkap dan baru sebagian.


Sedangkan Pak Indra menatap pak Bima yang sudah ada di ruangan tersebut.


Aku harus bicara sama Bima, ini tidak bisa berlarut.


"Bagaimana kejadiannya sampai Alina bisa kabur sama Putra?" Tanya Pak Indra mendekati Erick yang terlihat suram.


Tidak mungkin aku mengatakan sama Om indra kejadian yang sebenarnya, pasti dia menyalahkan aku karena sudah menyuruh Alina tidur di luar.


"Kejadian apa, semua sudah jelas, Putra membawa kabur Alina," serobot Pak Bima yang merasa tak terima dengan pertanyaan dari pada Indra, seolah olah menekankan Erick untuk membuka apa yang berlalu.


"Tidak mungkin kan, kalau Putra membawa kabur Alina tanpa sebab, dan kamu," Pak Indra menunjuk wajah pak Bima dengan jari telunjuknya.


"Jangan coba coba meracuni pikiran Erick, dia itu sama sama keponakan kita, harusnya kamu sebagai orang tua menyadarkan apa yang di lakukannya itu salah, bukan mendukungnya.''


Pak Bima yang merasa tersangkut itu pun beranjak.


"Kenapa, bukankah dulu kamu tidak peduli dengannya, kenapa sekarang kamu malah menyalahkan aku, aku yang membesarkannya, dan kamu tidak usah ikut campur.''


Kini Sigit dan Erick hanya menjadi penonton saat pak Indra dan Pak Bima saling berdebat.


''Bukan tidak peduli, tapi kamu yang merebutnya, dan ingat, aku akan membuka kembali kasus kak Tirta.''

__ADS_1


Erick menatap pak Indra dan pak Bima bergantian, masih tak mengerti dengan pembicaraan mereka yang di luar pikirannya saat ini.


'Bakalan ada perang badar yang baru saja di mulai, kira kira yang menang Papa indra atau pak Bima ya, ah....aku akan dukung papa Indra saja, dia kan calon mertuaku.' Batin Sigit.


__ADS_2