Pernikahan Berselimut Dendam

Pernikahan Berselimut Dendam
Keputusan final


__ADS_3

Dentuman sepatu dan lantai makin menggema ditelinga Erick, pria itu masih saja bergeming dan tak ingin mengubah posisinya yang bersandar si sofa. Jiwanya seakan mati dan tak ingin memikirkan apapun.


''Kakak,'' suara familiar beserta tangan yang memegang lengannya terasa jelas, itu wanita yang dicintainya, yang beberapa waktu lalu juga menyakitinya.


Tak ada jawaban dari Erick, rahangnya makin mengeras dan matanya kembali ber air.


''Kakak sakit, Aku pikir kakak ke kantor, tapi ternyata di rumah.'' ucap lagi Alina, saat Erick masih saja tak menggubris kedatangannya.


''Dari mana kamu?'' suara yang sedikit serak itu meluncur.


''Dari apotik, aku beli,___


''Jangan di lanjutkan!'' mengangkat satu tangannya.


Dengan mata yang masih berkaca Erick menatap wajah Alina dengan lekat.


''Aku memang bersalah, aku sudah pernah menyakiti kamu, tapi apa yang kamu lakukan di belakangku itu sangat menyakitkan.''


Alina mulai tersentak dengan omongan suaminya, sedikitpun ia tak mengerti maksud kata kata yang terlontar dari sudut bibir Erick.


''Ap,__ Lagi lagi ucapan Alina hanya mengambang.


''Jangan bicara apapun, cukup aku yang akan mengatakan sesuatu.''


Akhirnya Alina diam dengan seribu pertanyaan.


''Aku kecewa sama kamu, dengan bodohnya aku berpikir kalau kamu mencintai aku, tapi ternyata apa, kamu mau kembali padaku hanya untuk balas dendam.''


Alina menggeleng mengingat adu mulut dengan pak Bima yang terjadi di apotik tadi.


''Nggak kak, bukan itu maskud aku.''


''Lalu apa, aku dengar sendiri Al, dan aku tidak bisa terima ini, sekarang kamu menang, kamu sudah menghancurkan hatiku, kamu sudah membuatku mati rasa, jika dulu kamu merasakan hal yang sama, oke, sekarang aku juga.''


Erick terus mengusap air mata yang sesekali luruh, pria itu nampak lemah saat berhadapan dengan Alina.


Alina meraih tangan Erick dan menggenggamnya dengan erat.


''Kak, __ Alina benar benar tak punya kesempatan untuk bicara, Bahkan Erick kembali mengangkat satu tangannya untuk yang kedua kali.

__ADS_1


''Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. mungkin berpisah seperti keinginanmu lebih baik, dan Sigit akan mengurus semuanya.''


Erick beranjak dari duduknya, begitu juga dengan Alina yang memeluk tubuh Erick dari belakang menghentikan langkah pria itu.


''Aku nggak mau, aku nggak mau kita pisah, kak tolong dengerin penjelasan aku dulu.''


Erick menunduk mengendurkan pelukan Alina, Jika dulu ia terlalu emosi dan terus melayangkan tangannya, kini pria itu bicara sebagai seseorang yang tersakiti.


''Mungkin aku bukan laki laki yang baik untuk kamu, aku akan pergi dari sini, dan aku akan relakan kamu dengan laki laki lain yang lebih membahagiakan kamu.''


Alina semakin histeris, jika dulu perceraian yang ia inginkan, saat ini justru Alina tak ingin itu terjadi, Alina kembali memeluk Erick dari belakang, bibirnya mulai keluh dan tak bisa bicara apapun.


Namun lagi lagi Erick mencengkal tangan Alina yang melingkar diperutnya.


Erick kemali melangkah meninggalkan Alina yang kini bersimpuh di lantai, wanita itu hanya bisa menatap punggung Erick yang menyusuri tangga.


Apa lagi ini, bahkan kamu tidak mendengarkan ucapanku sampai akhir, aku tidak akan pergi, aku tidak mau bercerai dari kamu.


Seperti Alina yang tak henti hentinya meneteskan air mata, Erick yang ada di kamar pun begitu, ia merasa dipermainkan Alina, merasa kembali menjadi boneka seperti saat bersama Pak Bima.


Erick yang masih memakai setelah jas kantornya itu menghubungi Sigit yang ada diseberang sama.


Terhubung


Sigit yang mengira Erick akan bulan madu itu pun antusias melaksanakan perintah sang bos.


Sedangkan Alina yang masih dengan tangisnya itu bangkit dan berlari ke arah kamar Erick.


Aku harus menjelaskan semuanya, aku tidak ingin berpisah dengan kak Erick.


Alina berlari menaiki anak tangga, dan harapannya saat ini hanyalah satu, yaitu Erick mendengarkan penjelasannya.


"Kak buka pintunya, aku bisa jelaskan semuanya." Alina terus memutar knop dan menggedor gedor pintunya dengan keras.


Entah, sampai beberapa kali, Alina berteriak hingga kerongkongannya kering, suaranya hilang, namun tak ada sedikitpun sahutan ataupun tanggapan dari dalam, Erick terus memutar musik dan tak mempedulikan Alina yang mulai lemas dan kehabisan suara.


Matahari yang tadinya bersinar kini tiba tiba saja redup, menyaksikan perihnya hati Alina yang mulai putus asa, Karena tak ada hasil, akhirnya Alina kembali meninggalkan kamar Erick. Dengan langkah yang lunglai Alina keluar dai rumah. Tak peduli dengan tetesan air langit yang mulai turun, kini harapannya untuk bersatu dengan Erick sangatlah kecil.


Sesampainya di halaman, Alina menyusuri setiap sudut rumah Erick, masih sedikit berharap pria itu keluar menemuinya.

__ADS_1


Rintik air hujan makin deras, Alina masih mematung di sana dengan mata menatap ke arah jendela kamar Erick, namun semua sia- sia karena Erick tak mencegahnya.


Aku sangat mencintai kakak, dan aku harap kakak tau itu, jika kakak sudah siap untuk menerimaku, aku akan datang lagi, terima kasih sudah mencintaiku dengan tulus.


Erick yang membuka tirai jendela itu hanya bisa menatap nanar, hatinya masih sangat terluka, ucapan Alina di apotik masih menjadi hiasan otaknya saat ini.


Setelah punggung Alina menghilang, Erick kembali melempar barang barangnya dan menjambak rambutnya.


''Ternyata kamu sama seperti yang lain, ternyata kamu hanya ingin membalasku, dan sekarang kamu sukses Alina, kamu sudah menghancurkan hati dan cintaku, aku berjanji aku akan pergi jauh darimu, dan semoga kamu mendapatkan laki-laki yang lebih segala-galanya.''


Tak mau larut dalam kesedihan, Erick segera merapikan bajunya yang ada di lemari, bahkan pria itu tak meninggalkan jejak sedikitpun kenangan bersama Alina, photo yang beberapa hari terpajang itu kembali di ambilnya.


Hampir satu jam di dalam kamar, Kini Erick sudah siap dengan apa yang di bawanya, Pria itu nampak gagah dan memasang wajah tangguhnya, tak ingin terlihat lemah saat di depan Sigit yang sudah menunggunya.


''Bapak sudah siap?''


Namun pandangan Sigit ke belakang Erick. Ternyata tak ada siapapun disana.


''Apa bapak akan pergi sendiri?''


Hemmm, hanya itu jawaban Erick.


''Terus Alina dimana?''


Erick memasukkan tangannya di saku celananya.


''Aku akan pergi tanpa dia, dan aku akan meninggalkan semuanya, urus perceraianku sama dia, kasih separo hartaku untuk Alina, Aku ingin hidupnya terjamin, dan jaga dia sampai mendapatkan laki laki yang baik.''


Lagi lagi, satu bulir cairan bening menetes dipipi Erick.


Sigit masih bingung, namun ia tak bisa berbuat apa apa, bahkan tangannya gemetar mendengar keputusan Erick.


''Setelah ini kamu urus perusahaan dengan baik.'' Menepuk bahu Sigit yang maaih terpaku.


Ini bukan Erick yang tegas, ia bagaikan hilang arah dan tujuan hidup.


''Kapan bapak pulang?'' Tanya Sigit menghentikan langkah Erick yang hampir tiba di ambang pintu.


''Dua tahun lagi, aku akan pulang kesini dengan Erick yang berbeda.''

__ADS_1


Dam aku berharap bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik lagi.


Lanjutnya dalam hati.


__ADS_2