
Dua jam berlalu, mobil yang di kemudikan Sigit menyusuri ruas jalan yang di tunjuk oleh Putra, dan akhirnya menuai hasil, mereka tiba di sebuah gedung besar yang ada di pertengahan semak belukar.
''Kamu yakin di sekap disini?'' tanya Pak Indra memastikan.
''Yakin, Om.''
Tapi kok sepi?''
Erick hanya bisa menerka dalam hati, namun tetap membuka pintu mobil, matanya menatap ke arah gedung itu, begitu pun dengan hatinya yang ingin masuk ke sana.
Jika Alina ada di sini, pasti penculik itu menjaganya dengan ketat, tapi ini sepi.
''Rick, lebih baik kita jalan lagi, kayaknya disini nggak ada orang, mungkin Alina di bawa ke tempat lain.'' ucap Pak Indra dari dalam mobil.
Erick kembali membuka pintu mobil, namun hatinya masih tak ingin meninggalkan tempat tersebut.
''Lebih baik Om dan yang lain jalan, biar aku lihat di dalam, nanti aku akan telepon Sigit.''
Tanpa pikir panjang, Sigit kembali menyalakan mesinnya, sedangkan Erick membuka gerbang yang sudah berkarat.
Putra di sekap di sini, terus Alina di mana.
Antara gundah dan ingin tau yang masih menggebu, Erick terus melangkah memasuki gedung yang sudah tua, bahkan tempat itu seperti sudah terbengkalai puluhan tahun, ragu, namun ada juga secuil keyakinan dan penasaran akan tempat itu.
''Nggak mungkin Alina disini," gumam Erick saat wajahnya hampir menabrak sarang laba laba.
Pria itu beralih menuju samping gedung yang juga sangat sepi, tak ada satu orang pun nampak di sana.
Namun setelah membalikkan tubuhnya, tiba tiba saja mata Erick di kejutkan dengan putung rokok yang masih berasap.
Erick segera memungut benda itu. ''Artinya memang ada orang di sini.''
Setelah merasa sangat yakin, Erick membuka pintu utama gedung itu, dengan waspada ia mulai menyusuri setiap ruangan yang ada di sana. Masih nampak sepi, tak ada suara apapun selain sepatunya yang berdentuman dengan lantai.
Karena merasa risih sendiri, Erick melepasnya dan melanjutkan langkahnya menuju tangga.
Dengan jalan yang mengendap endap, Erick terus memeriksa ruangan demi ruangan yang ada, namun tak ada satu pun tanda tanda orang di sana.
''Kalau disini nggak ada orang, tadi itu putung rokok siapa?'' bermonolog sendiri.
Sudah sepuluh ruangan lebih yang ia jelajahi, namun semua kosong tanpa penghuni, dan itu membuat Erick putus asa.
''Mungkin saja tadi milik orang yang lewat.''
Akhirnya Erick kembali menuruni anak tangga, akan tetapi, Langkahnya berhenti saat hatinya merasa gelisah, seperti ada sesuatu yang tertinggal dan itu membuatnya tak bisa meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1
''Kayaknya di atas masih ada beberapa ruangan, siapa tau ada tanda tanda lain.''
Dengan mantap Erick kembali menaiki anak tangga menuju ruangan yang belum ia pijak.
Selang beberapa langkah, Erick membulatkan matanya saat ada dua orang dari arah berlawanan, segera pria itu melonjak ke arah ruangan yang ada di sampingnya sebelum mereka melihatnya.
Siapa mereka, apa di sini memang ada penghuninya.
Erick hanya bisa menerka nerka atas apa yang di lihatnya.
Setelah suara dua pria itu menghilang dari pendengarannya, Erick kembali melanjutkan langkahnya, dan kali ini pria itu berlari kecil dengan mata yang terus aktif kesana kemari.
Sampai pada ujung gedung lantai dua, Erick menghela napas panjang seraya menatap pintu ruangan yang tertutup rapat.
Dengan sedikit putus asa, Erick mendekati pintu kamar tersebut dan memegang knop.
''Kok nggak bisa di buka?'' gumamnya, ternyata tak semudah yang lainnya, karena pintu itu terkunci.
Erick mencoba terus memutar knop berulang kali, namun mniil masih saja tak bisa.
''Halo... apakah ada orang di dalam?'' ucap Erick sedikit meninggikan suaranya. Tak hanya itu, Erick pun menempelkan telinganya tepat di pintu kayu itu.
''Tolong....'' samar samar suara minta tolong akhirnya menembus gendang telinganya.
Erick terus menajamkan pendengarannya ke arah sumber suara.
Setelah menoleh ke kiri dan ke kanan yang ternyata sepi, Erick mencoba untuk mendobrak pintu di hadapannya.
Dengan beberapa kali tendangan lengan dan kakinya, akhirnya Erick berhasil membuka paksa pintu tersebut.
''Alina...'' sapa Erick saat menatap wajah layu istrinya, mata gadis itu nampak sembab, rambutnya acak acakan dengan tangan dan kaki yang terikat.
Dengan malas Alina mendongakkan kepalanya menatap Erick yang masih mematung beberapa meter darinya.
Tak ada jawaban, wajah yang tadinya sendu itu berubah pias, bahkan sorot matanya menunjukkan kebencian untuk pria yang baru datang.
''Ngapain kamu ke sini, apa kamu mau membunuhku sekarang?'' cetus Alina tanpa basa basi.
Erick diam, hatinya merasa sakit mendengar ucapan Alina yang di luar niatnya.
''Aku ingin membantumu bebas,'' ucap Erick meyakinkan, pria itu mulai melangkah menghampiri Alina.
"Jangan mendekat, aku nggak mau kakak menyentuhku!"
Erick menghentikan tangannya yang hampir saja memegang tali yang mengikat tangan Alina, pria itu berjongkok dan mendekatkan wajahnya di wajah sang istri.
__ADS_1
"Aku tidak akan menyentuhmu, aku hanya akan melepaskan ikatan di tanganmu," Jelasnya.
Jika kak Erick yang menculikku, kenapa ia malah membantuku bebas, permainan macam apa ini.
Kali ini Alina memilih diam saat Erick mulai melepas tali di kakinya, meskipun dalam hatinya banyak tanda tanya, setidaknya untuk saat ini gadis itu bisa terbebas dari belenggu para preman yang menculiknya.
Ada rasa ngilu dalam hati Erick saat menatap kaki Alina yang memerah, bahkan ada sebagian yang lecet akibat ikatan yang terlalu kencang. Namun itu urusan belakangan, setelah terlepas Erick beralih melepas tali yang ada di tangan Alina.
Sebenarnya siapa yang menculikya, kenapa mereka mengikat Alina sampai terluka seperti ini.
Terenyuh, Erick memejamkan matanya, tak kuasa untuk melihat tangan Alina yang terluka. Meskipun itu tangan Alina, namun ia juga merasakan nyeri yang begitu dalam, bahkan lebih menyakitkan dari luka goresan yang nampak.
"Kakak kenapa?'' tanya Alina saat Erick tak bergerak sama sekali, bahkan air matanya hampir saja luruh, namun Erick masih bisa menahannya.
''Tidak apa apa, kita pergi dari sini sebelum para preman itu datang."
Aaaww.... Alina memekik dan meringis saat tak sengaja Erick meraih pergelangan tangannya.
Perlahan pria itu melepas dan meniup niup luka yang sedikit membengkak.
''Kalau begitu ikuti aku,'' meraih kemeja Alina dan mengikat di pucuk kemejanya.
Aku jadi bingung sekarang, terkadang kamu baik tapi juga menyakiti.
Bukan saatnya untuk membawa masalah pribadinya, yang terpenting bagi Alina saat ini dirinya mengikuti apa yang di katakan Erick untuk keluar.
Baru saja melangkah dari pintu, sosok dua preman datang, dengan lenggangnya kedua preman itu menghampiri Alina dan Erick.
''Kak, aku takut,'' mencengkeram baju Erick.
''Jangan takut, pegangan terus, jangan sampai lepas!" dengan lolosnya kata itu terucap.
"Kalian mau kemana?" tanya preman itu dengan berkacak pinggang.
"Lebih baik kalian menyingkir!" Sahut Erick, menunjuk preman di hadapannya secara bergantian.
''Tuan Erick yang menyingkir, kami tidak ada urusan dengan tuan.'' Sergahnya.
Apa maksud mereka, bahkan mereka mengenaliku.
''Siapa yang menyuruh kalian?'' tanya Erick penasaran.
''Maaf tuan, kami tidak bisa mengatakan, tapi lebih baik tuan pergi dari sini.''
"Tidak!" dengan spontan Erick melayangkan tinju di perut preman itu. Karena salah satu tak terima, akhirnya Pria itu mendekati Erick.
__ADS_1
"Karena Tuan sudah ikut campur terpaksa kami melawan." Ucapnya lagi dengan lantang.
"Kakak........'' Bug, suara pukulan tangan dengan kuatnya nenghempas punggung.