
Alina membuka matanya dengan perlahan, rasa perut dan kepalanya tak bersahabat dan membuat dirinya malas untuk bangun dari tidurnya.
Erick yang ada di sampingnya juga masih terlelap, nampaknya pria itu terlalu kelelahan dengan rutinitas hariannya.
''Kak bangun!" suara paraunya meluncur serta mengelus pipi Erick.
Segera pria itu membuka mata saat merasa terusik, di tatapnya wajah Alina dengan lekat.
"Jam berapa?"
Tak ada jawaban, Alina merasa tubuhnya kaku dan tak berekspresi tak seperti sebelumnya yang selau bersemangat mengawali harinya.
Erick menggeliat meregangkan ototnya, tanganya meraih ponsel yang ada dinakas.
Setelah menatap jam yang tertera, Erick kembali meletakkan gadgetnya.
''Kak kok aku ingin muntah ya?'' Alina terbangun dan menyibak selimut yang menutup tubuhnya.
''Apa mungkin masuk angin?'' Erick menempelkan punggung tangannya di kening Alina.
''Nggak panas,'' beralih ke tangan Alina dan perut rata istrinya yang tertutup piyama.
''Nggak lucu,'' menepis tangan suaminya yang mulai nakal.
''Kan aku bukan pelawak.'' membantu Alina turun dari ranjang.
Baru juga beberapa langkah, tiba tiba saja tubuh Alina makin lemas hingga ia terhuyung dan memilih untuk duduk ditepi ranjang.
''Kamu kenapa?'' Erick yang dari tadi memandanginya terkejut saat Alina memegang kepalanya.
''Kamu sakit?'' Tanya Erick lagi antusias.
Alina hanya menggeleng.
''Rasanya aku mau muntah, perutku mual.'' Keluh Alina memegang perutnya.
Bingung melanda, tak tau apa yang harus dilakukan, akhirnya Ia menarik selimut dan meletakkannya di bawah kaki Alina.
''Ini untuk apa?'' Disaat suasana genting masih aja Erick bercanda.
Alina menahan tawa melihat tingkah konyol suaminya.
''Muntahi saja, nggak apa apa.''
Alina menepuk jidatnya.
''Ngapain pakai selimut? Nanti kotor?''
Akhirnya Alina kembali mengambilnya dan meletakkannya di atas ranjang.
__ADS_1
Erick kembali berpikir keras mencari jalan lain yang cocok untuk tempat muntahan istrinya.
''Bentar,'' akhirnya otak jernih Erick normal setelah beberapa detik traveling.
Pria itu berlari kekamar mandi mengambil ember.
''Sekarang mun,___
Belum juga Erick selesai bicara, Alina sudah mengeluarkan cairan dari dalam perutnya, apa lagi sebelum tidur wanita itu sudah tak selera makan.
Erick memijat tengkuk leher Alina dari belakang, rasa khawatirnya semakin tinggi saat Alina tak berhenti juga.
Alina kenapa, apa dia sakit, tapi semalam dia baik baik saja.
''Sekarang kamu mendingan istirahat, aku panggilkan dokter.'' Dengan sigap Alina meraih tangan Erick dan mencegahnya untuk beranjak.
''Tidak usah kak, mungkin aku hanya capek saja.''
''Nggak bisa, kamu muntah, dan bagi aku ini bukan masalah sepele.''
''Tapi beneran kak, aku tidak apa apa, aku hanya butuh kamu, bukan dokter.''
Erick menyingkirkan ember dan merengkuh tubuh Alina, rasa penyesalan kembali hadir saat menatap wajah Alina yang sedikit pucat.
Aku terlalu bodoh untuk urusan cinta, bertahun tahun aku memendam cinta, tapi aku menyakitimu dengan seenaknya saja, jika itu yang kamu butuhkan, aku akan tetap ada disamping kamu.
Hati Erick merasa tersayat saat mendengar permintaan Alina, tak menyangka wanita itu sedikitpun tak ada dendam untuk dirinya yang sudah tega menyiksanya.
Alina mengangguk tanpa suara.
Setelah Erick menghilang dari kamarnya, Alina yang kembali berbaring itu mulai berkelana dengan otaknya.
Kapan terakhir aku pms ya, kenapa aku jadi lupa gini.
Semenjak menikah dengan Erick, Alina tidak pernah memperhatikan dirinya, Bahkan sedikitpun Alina tak mengingat kapan ia kedatangan tamu bulanan.
''Apa jangan jangan aku hamil,'' gumamnya lagi.
Akhirnya Alina membuka internet dan mencari tau tanda tanda orang yang sedang mengandung, dan ternyata kebanyakan yang tertera di sana itu seperti yang ia alami saat ini.
Alina menitihkan air mata, meskipun belum tentu, yang pastinya hatinya sudah merasa bahagia seraya meraba perutnya yang masih rata.
''Jika benar aku hamil, aku pasti akan menjadi orang yang paling bahagia di dunia ini. Aku akan kasih kejutan ke kak Erick, Aku akan beri tau dia setelah aku tes nanti.''
Alina kembali menyeka air matanya saat suara pintu terbuka, ternyata suaminya datang membawa minuman dan makanan
''Kakak bawa apa?'' Penasaran.
''Bubur,'' jawabnya meletakkan nampan diatas meja.
__ADS_1
''Aku nggak sakit, kenapa harus makan bubur?''
''Apa bubur makanan hanya untuk orang sakit, bukan kah dari kecil kamu suka bubur?''
Alina tertawa, lagi lagi kenangan itu kembali melintas di diri Alina.
''Aku suapi kamu ya.''
Alina mengangguk dan menyandarkan punggungnya, meskipun dirinya masih sedikit lemas, setidaknya apa yang dibawa suaminya sedikit menggugah selera di saat perutnya kosong.
''Kak, nanti boleh nggak aku keluar.''
''Kemana?'' tanya Erick.
''Kakak nggak perlu tau, kalau kakak nggak percaya aku bawa supir deh.''
''Apa nggak sebaiknya sama aku saja.''
Alina menggeleng karena niatnya ingin memberi kejutan, dan jika Erick ikut itu artinya semuanya menjadi kacau.
''Baiklah, hati hati.''
Setelah satu mangkuk bubur dan segelas air putih itu kandas, Alina segera bersiap karena ia tak ingin mengulur waktu, baginya mengetahui kondisi dirinya itu lebih cepat lebih baik dan Alina tak mau salah paham dengan kedaannya saat ini.
Meninggalkan Alina yang masih betah dengan ponselnya, Erick pun bersiap untuk kembali bergelut dengan pekerjaannya, kecupan bertubi tubi mendarat di pipi dan kening Alina saat pria itu sudah rapi.
''Nanti kalau kamu butuh sesuatu telepon aku ya?'' menempelkan keningnya dikening Alina.
''Siap, Bos.'' mengangkat tangannya di atas kepala tanda hormat.
Melihat manjanya Alina, Erick yang sudah berada di belakang pintu kembali menghampiri wanita itu.
''Kalau seperti ini aku malah nggak jadi pergi nih.''
Akhirnya Alina meraih tengkuk leher Erick dan memberikan sesuatu yang spesial, dan berharap itu akan menjadi penyemangat untuk Erick.
''Maaf ya, hari ini aku tidak bisa menjadi asisten kakak.''
''Nggak papa, yang penting kamu istirahat, dan nanti jika butuh sesuatu panggil pembantu, dan kalau keluar bawa supir.''
Alina mengangguk melepas kepergian suaminya.
''Kalau aku benar benar hamil, pasti kak Erick bahagia.''
Baru saja meletakkan ponselnya di nakas, Alina kembali mengambilnya saat ada bunyi notif.
Erna.
Alina membuka pesan yang dikirim Erna, dengan perlahan wanita itu membaca isi pesan tersebut.
__ADS_1
Kenapa bisa kebetulan sih, aku kan juga mau ke apotik, tapi kenapa dia nitip ini.
Alina membalas pesan Chat itu dan menerima pesanan Erna untuk membelikan sesuatu.