
''Kenapa kamu nggak makan?'' Tanya Erick menatap makanan di depan Alina yang masih utuh.
''Nggak lapar.'' Jawab Alina ketus, bisa bisanya suaminya dengan santainya berada di garda terdepan saat Luna tiup pilin dan itu membuat hati Alina makin sakit, belum lagi potongan kue yang pertama di persembahkan untuknya. dan juga Melani yang terus memprovokasi Erick supaya tidak dekat dengannya.
''Terserah, jangan salahkan aku kalau kamu sakit.'' jawab Erick kembali beranjak.
Tega teganya kamu seperti ini, aku nggak tau kenapa cintaku sulit untuk pudar, padahal sudah jelas kamu tidak mencintaiku lagi.
''Aku mau pulang,'' ucap Alina saat Erick memunggunginya, gadis itu benar benar tak kuat jika harus menyaksikan suaminya dengan Luna.
Terpaksa Erick memutar kembali tubuhnya dan mendekati Alina.
''Kan acaranya belum selesai, nggak enak sama Luna.''
Bisa bisanya kamu memikirkan Luna yang jelas jelas bahagia, lalu bagaimana dengan perasaanku, apa kamu juga ingat itu.
Jedaaggg, Alina menendang kursi di depannya, dan lagi lagi kini ia menjadi pusat perhatian.
''Kamu pilih dia atau aku, kalau Luna memang lebih penting, aku akan pulang sendiri,'' Jari Alina menunjuk ke arah Luna, dan itupun tak luput dari pandangan tamu yang lain.
Erick yang merasa terkejut segera meraih tangan Alina dan membawanya pergi dari acara itu tanpa pamit.
''Kak pelan pelan!" dengan jalan terseyok seyok Alina mengikuti langkah besar Erick yang dengan sengaja menyeretnya keluar.
"Kamu ini apa papan sih, kamu belum puas sudah bikin malu, dan kamu ingin membuat aku lebih malu dengan sikap kekanak kanakan kamu, apa kamu nggak capek harus membuat aku marah setiap hari."
Erick terlihat murka, bahkan ia sempat memukul pintu mobil tamu yang ada di depannya.
"Kak," Alina menarik jas Erick hingga keduanya bersitatap.
"Kita menikah sudah hampir satu bulan, dan sedikitpun kamu nggak pernah memberiku kasih sayang dan kebahagiaan, aku sudah muak, aku lelah dan aku nggak kuat untuk menghadapi kamu, dari pada seperti ini lebih baik kita bercerai, lebih baik kita hidup masing masing tanpa ikatan." Dengan lancarnya Alina meloloskan isi hatinya.
Plaaakkkk.... sebuah tamparan mendarat dengan kerasnya, Erick yang tidak mengucapkan apapun langsung saja mencengkeram dagu Alina, sedangkan tangan yang satunya mengepal dan siap menghantam siapapun.
"Jangan pernah minta cerai dariku, karena sampai kapanpun kamu tidak akan aku lepaskan, dan jangan sekali kali kamu berani meminta kasih sayang, karena itu bukan untuk kamu." Jelasnya.
Alina hanya bisa diam dan mengelus pipinya yang memerah.
__ADS_1
Diana kamu dimana, tolong aku.
Erick merogoh saku celananya mengambil benda pipihnya dan menghubungi Sigit untuk menjemputnya.
Tak butuh waktu lama, mobil yang di nantinya kini sudah datang, dengan kasar Erick mendorong tubuh Alina hingga duduk di jok belakang.
Alina kenapa, kayaknya dia habis nangis, dan pipinya merah seperti kena tamparan, dan wajah pak Erick juga terlihat datar, apa mereka habis bertengkar.
Meskipun banyak tanda tanya dalam hati Sigit, pria itu tak bisa melakukan apapun selain memendam dalam hati.
''Pak, tadi pak Indra datang ke kantor, Beliau bilang katanya bapak dan Alina di undang makan malam di rumahnya.''
Hemmm..... hanya jawaban itu yang di berikan dengan mata yang tetap tertuju pada layar ponselnya.
Ini waktunya aku harus bilang ke Om Indra, aku nggak mau lagi berada di dekat Kak Erick.
''Sigit, kita ke kantor sebentar, ada sesuatu yang harus aku ambil,'' pintanya.
''Baik, Pak.'' jawab Sigit melajukan mobilnya ke arah kantor.
Setibanya, Erick langsung turun setelah memberi pesan Sigit untuk menjaga Alina yang ada di mobil.
''Pak, bantu aku!" Alina kembali terisak.
Sigit terkejut dan menoleh menatap pipi Alina yang sudah di banjiri air mata, belum lagi mata Alina sembab dan wajahnya terlihat kacau.
"Sebenarnya ada apa sama kamu dan pak Erick, kenapa kamu nangis?" Tanya Sigit antusias.
"Pak, aku nggak mau pulang, aku ingin pergi dari kak Erick, tolong aku," ucap lagi Alina memohon dan menggenggam tangan Sigit.
Deg, Sigit tak menyangka dengan apa yang di katakan Alina.
Bukankah mereka saling mencintai? Dan bukankah pernikahan itu terjadi karena sebuah cinta yang di temukan? Kenapa harus ada drama ketika sudah bersama.
"Tapi aku nggak bisa, Al, aku ini hanya sekretaris, dan apa jadinya jika aku ikut campur urusan pribadi kalian, pak Erick nggak mungkin memaafkan aku jika sampai terlibat masalah kamu dan dia, dan kamu jangan gegabah dalam mengambil keputusan."
Percuma, Sigit pun tak bisa berbuat apa apa untuk menolong wanita di belakangnya.
__ADS_1
"Tapi kamu tenang, nggak mungkin Pak Erick membenci kamu jika tidak ada sesuatu yang ganjil, aku akan cari tau semuanya, kamu sabar ya, semoga saja ada orang yang bisa membantu."
Alina mengangguk mengerti, berharap Sigit bisa menepati apa yang di ucapkannya.
"Terima kasih, pak, aku tunggu."
"Usap air mata kamu, jangan sampai Pak Erick curiga kalau kamu sudah bercerita masalah kalian. Dan jangan cerita sama siapapun dulu sebelum semuanya jelas." Pinta Sigit lagi.
Sigit mengambilkan tisu dan membatu Alina mengelap air matanya.
Kasihan kamu Al, harus merasakan sakit dalam pernikahan, tapi aku janji akan secepatnya mencari cara apa yang membuat Pak Erick seperti ini. lirih hatinya.
"Kita ke mana lagi, Pak?" Tanya Sigit saat Erick kembali duduk.
"Langsung pulang, nanti malam kamu nggak usah datang, biar aku yang nyetir sendiri."
Padahal aku sudah buat rencana untuk nanti malam, tapi pak Erick melarangku untuk ikut, sial, kalau begini caranya aku nggak bisa cari tau.
"Kamu mikir apa?" Cetus Erick saat menatap Sigit yang terlihat bengong.
"Ti... tidak, pak," jawab sedikit gugup, otaknya masih melayang memikirkan nasib wanita yang ada di belakangnya tersebut.
Sesampainya di halaman, Alina segera turun, setelah mobil yang di kendarai Sigit menghilang, ia memilih masuk dan masih mencerna kata kata sekretaris itu.
Masih belum puas, Erick menarik lengan Alina dan menghempaskan tubuhnya di atas sofa.
"Bi, mulai hari ini, biarkan dia yang mengerjakan pekerjaan rumah ini," teriak Erick.
"Baik, Den," jawab Bi Irah ragu, merasa nggak enak sama Alina.
Ini sudah nggak bisa di biarkan, aku harus secepatnya bilang ke pak Indra dengan kelakuan den Erick.
Setelah Erick meninggalkan Alina di sofa sendirian, wanita itu berlari ke dapur menghampiri Bi Irah dan memeluknya.
"Non yang kuat," Bi Irah mengelus punggung Alina yang bergetar, rasanya tak tega melihat Alina yang setiap hari harus menangis karena sikap Erick yang tak pernah lembut.
Mungkin Bi Irah bisa membantuku untuk mengirim surat Ke Erna, dia kan setiap hari belanja.
__ADS_1
Akhirnya Alina berbisik di telinga Bi Irah yang membuat sang empu manggut manggut lalu tersenyum.
"Sekarang Non ke kamar saja, biar bibi yang masak, kalau Non ingin menjalankan perintah Pak Erick, besok saja.''