
Alina mengerjap ngerjapkan matanya saat sesuatu mengusiknya, meskipun masih berat terpaksa gadis itu harus terbangun, belum lagi tidurnya tak terlalu lelap gegara Kecoa yang masih melintas di ingatannya.
''Kakak.'' Nada terkejut. Alina mengangkat kepalanya dan duduk, ternyata kaki Erick yang sengaja menggoyang goyangkan tubuhnya.
''Ma... maaf, aku telat bangun ya,'' entah, Alina seperti orang ketakutan, tak seperti biasanya yang selalu menghadapi dengan ketegaran saat ini Alina benar benar terlihat lembut.
''Kamu lupa dengan tugas yang aku kasih kemarin?'' Ucap Erick melipat kedua tangannya.
''Tidak, aku akan lakukan sekarang.'' Mengeratkan pegangannya, mencoba berdiri dari duduknya.
Alina memegang kepalanya yang sedikit terasa abot, dengan sedikit paksaan ia keluar melewati Erick yang masih mematung di sana.
Kok kepalaku pusing ya, kayaknya kurang tidur nih.
Dengan jalan tertatih tatih, Alina menyusuri anak tangga menuju dapur.
''Bi, masak apa?'' tanya Alina gemetar menatap Bi Irah dari belakang.
''Non kenapa?'' Tanya Bi Irah melenceng, mematikan kompornya, menarik kursi untuk Alina duduk.
''Nggak kenapa napa bi, cuma kurang tidur saja,'' jawab Alina.
Bi Irah segera mengambilkan air putih untuknya.
''Minum dulu, Non!" suruh bi Irah.
Kasihan Non Alina, pasti semalam kedinginan.
Setelah meneguk satu gelas air putih, Alina menyandarkan kepalanya di dinding.
"Kalau non merasa kurang enak badan duduk saja, biar bibi yang melakukan pekerjaan."
Alina tersenyum getir.
''Bibi nggak dengar, derajat kita itu sama, jadi nggak perlu manja meskipun sakit, kita harus tetap kerja, bukan begitu peraturan seorang pembantu?''
Erick yang baru saja duduk di ruang makan masih bisa mendengar suara Alina dengan jelas, Ia merasa tersindir dengan ucapan yang baru saja meluncur dari sudut bibir Alina, kali ini hati Erick ikut merasakan sakit dengan keluhan Alina.
''Sini, biar aku yang masak.'' Mencoba berdiri menghampiri Bi Irah, namun belum juga memegang pisau, tiba tiba saja Bi Irah di kagetkan tubuh Alina yang terjatuh.
''Non Alina...'' Teriak Bi Irah panik, bahkan wanita paruh baya itu langsung menepuk nepuk pipi Alina.
''Non bangun!" mendengar suara itu, Erick segera berlari menuju dapur.
"Ada apa, Bi?" Tanya Erick.
__ADS_1
"Non Alina pingsan, Pak?" jawab Bi Irah di sela sela tangisnya.
Erick menatap wajah pucat Alina yang kini ada di pangkuan Bi Irah, tangannya terasa gemetar saat ingin menyentuh pipi Alina, hatinya bercampur aduk antara kebencian, kasihan, kasih sayang, cinta, dan iba, semua jadi satu mengaduk aduk organ tubuhnya.
"Pak tolong Non Alina!" suara Bi Irah memohon.
Dengan sigap Erick menggerakkan tangan dan hatinya mengangkat tubuh lemas Alina dan membawanya ke kamar, sedangkan Bi Irah ikut membuntuti tuannya dari belakang.
Setelah meletakkan tubuh Alina di atas ranjang, Erick mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Halo, Daren, kamu bisa ke sini, istriku sakit," ucapnya singkat.
Baiklah kawan, apa yang nggak buat kamu.
Setelah mendapat jawaban dari seberang telepon, Erick kembali menutup teleponnya dan beralih menuju sofa.
"Non, bangun!" Bi Irah masih sesenggukan seraya duduk memijat kaki Alina.
Ada rasa khawatir yang tumbuh di benak Erick, sepertinya dirinya saat ini sedang bergelut memperjuangkan perasaan yang menurutnya benar.
Lima belas menit berlalu, ponsel Erick kembali berdering, nama Daren berkelip di layar.
"Ada apa?" tanya Erick.
Aku sudah ada di depan, tapi aku di larang masuk sama penjaga.
"Apa apaan coba, mentang mentang sudah nikah, rumah dijaga dengan ketat," suara gerutu semakin dekat, itu suara sahabat nya sekaligus dokter yang di teleponnya.
Tanpa mengetuk pintu, Daren masuk ke kamar Alina menghampiri Erick yang saat ini hanya duduk dengan dua tangan saling terpaut.
"Istrimu sakit apa?" tanya nya.
"Periksa saja dulu, aku kan bukan dokter." Jawabnya.
Daren mendekati Alina dan terus menatap wajahnya dengan lekat, Erick yang juga menangkap tatapan itu segera memukul perut Daren hingga sang empu meringis kesakitan.
"Aku suruh kamu ke sini untuk memeriksanya, bukan memandangnya," bentak Erick tak terima.
"Habisnya cantik," ucapan itu membuat Erick kembali naik darah dan makin berapi api hingga menendang kaki Daren sampai terhuyung.
"Kerja yang benar, pantas nggak laku laku, punya mata jelalatan." celetuknya.
Biarin, yang penting kan happy.
Setelah memeriksa Alina selama beberapa menit, Daren menghela nafas panjang merapikan kembali peralatannya dan menghampiri Erick.
__ADS_1
''Bagaimana keadaannya?'' Tanya Erick menggeser duduknya, memberi ruang untuk Daren.
''Darahnya rendah, kayaknya dia juga terlalu capek, dia butuh istirahat, beri makanan bergizi, dan ini harus di konsumsi setiap hari satu kali, dan ingatkan dia banyak minum air putih.''
Menyodorkan obat penambah darah dan beberapa vitamin di depan Erick.
Erick diam dan membolak balikkan ponsel di tangannya.
''Apa dia bekerja?'' tanya Daren.
Erick menggeleng tanpa suara.
Namun tidak dengan Daren yang malah tertawa lepas sembari menepuk punggung Erick.
''Kenapa kamu tertawa, apa ada yang lucu?''
''Kalau olahraga ranjang jangan ngebut ngebut, kasihan kan Alina jadi sakit, sekali sehari apa nggak cukup?'' Benar benar jiwa mesum dari dulu itu masih melekat di diri Daren membuat Erick makin gedeg.
Seketika Erick menjambak rambut Daren hingga sang empu merintih kesakitan, matanya menatap Bi Irah yang masih ada di samping Alina.
''Sakit, Rick, apaan sih, bukannya terima kasih sudah di kasih saran, malah menyiksa.'' cicit Daren saat Erick melepas jambakannya.
''Makanya kalau ngomong jangan asal, kamu pikir aku apaan.''
''Iya iya, aku tau, kamu pasti sangat hati hati dan pelan pelan saat menjamahnya.'' ucapnya lagi memperagakan dengan tangannya.
''Sudah pulang ah, bikin ribet saja,'' nada mengusir.
Setelah punggung Daren menghilang, Erick mendekati Alina yang masih belum membuka mata.
''Bi, nanti kalau dia sudah sadar, bibi ambilkan makan, dan ini obatnya.'' Meletakkan beberapa obat dari sahabatnya di atas nakas.
''Iya, Den.''
Erick memutar tubuhnya, baru beberapa langkah, suara lemah Alina menghentikan langkahnya.
''Terima kasih, karena kakak sudah peduli padaku.'' Lirihnya.
Tak menoleh sedikitpun, Erick kembali melanjutkan langkahnya keluar.
Alina memeluk tubuh Bi Irah dan menumpahkan air matanya.
''Yang sabar ya, Non, maafkan bibi karena tidak bisa menolong Non semalam.'' Ucap Bi Irah merasa bersalah.
''Nggak apa apa, Bi, Kak Erick nggak salah kok, aku yang salah, karena aku sebagai istri sudah berani menamparnya. Itu adalah tidakan yang tidak baik.''
__ADS_1
Erick yang masih berada di depan pintu, kini kembali merasakan sakit di relung hatinya, namun tetap ia menepis perasaan itu demi egonya yang masih melekat.
Apa yang aku lakukan ini sudah benar, apa yang aku dapatkan jika Alina tersakiti, bagaimana aku menjalani kehidupanku nanti, bahkan aku sendiri tidak tau dengan jalan pikiranku.