
Jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, namun belum ada tanda tanpa mobil masuk ke dalam gerbang, dan itu membuat Alina merasa jenuh untuk menunggu.
''Bi, bisanya kalau kak Erick lembur itu pulang jam berapa ya?'' tanya Alina menghampiri pembantunya yang ada di belakang.
''Jam sembilan itu sudah paling malam, Non.'' jawab sang Bibi.
Sedikit khawatir, hatinya berdenyut, meskipun ia memaksakan hatinya untuk tidak lagi terbuka untuk Erick, namun sebuah ikatan sakral itu mewajibkannya untuk tetap setia pada sang suami.
Kak Erick ke mana ya, apa aku telepon pak Sigit saja, Dia pasti tau kemana Kak Erick pergi .
Alina berlari ke kamarnya untuk mengambil ponsel, masih enggan untuk bicara dengan suaminya gegara waktu itu, Alina segera melakukan panggilan dengan Sigit sang sekretaris.
''Halo pak, ini Aku Alina,'' sapa Alina lebih dulu setelah Sigit mengangkat teleponnya.
''Ada apa ya Al? tanya Sigit dari seberang sana.
''Pak, Kak Erick belum pulang, dia ke mana ya?'' tanya Alina ke inti dan tak mau basa basi.
''Tadi pak Erick bilang mau keluar, dan dia menyuruhku menyelesaikan pekerjaannya, jadi aku nggak tau dia ke mana.'' kata Sigit.
Seketika Alina mematikan sambungannya setelah mendengar jawaban Sigit yang mengecewakannya.
Sedangkan Sigit hanya bisa meggebrak meja, kali ini ia benar benar tak bisa mengikuti Erick yang bilang ingin bertemu Luna.
Bosan di dalam, Alina keluar rumahnya, di tatapnya gerbang yang masih tertutup rapat, wanita itu hanya bisa mondar mandir mengabsen lantai, dengan otak yang berkelana menerka nerka keberadaan suaminya.
Apa aku hubungi bang Putra saja.
Baru saja mencari kontak Putra, Alina mengurungkn niatnya untuk menghubungi pria itu, takut kesalah pahaman terjadi lagi.
Kak, meskipun berulang kali kamu menyakitiku, aku tetap tak bisa tidur jika belum tau keadaan kamu.
Akhirnya Alina memilih untuk duduk di kursi teras dengan mata yang masih menatap ke depan yang sedikit gelap.
Setengah jam sudah Alina berada di depan, berteman dengan angin dan kegelapan, kali ini Alina memilih untuk kembali masuk ke dalam.
Mendingan aku tunggu di kamar.
Baru saja ia menutup pintu, suara klakson terdengar dari depan.
__ADS_1
Ada senyum yang terbit dari sudut bibir Alina sebelum membuka pintu kembali.
Namun seketika senyum itu hilang saat melihat Luna yang turun dari mobil Erick.
Ternyata kak Erick pergi sama dia.
Alina melipat kedua tangannya seraya menatap Luna yang berlari kecil memutari mobil Erick.
''Kak Erick,'' cicitnya saat melihat Luna memapah Erick yang terlihat tak berdaya, karena merasa kerepotan, wanita itu terpaksa memanggil satpam yang masih berjaga.
Kak Erick mabuk, itu artinya mereka habis dari klub.
Alina hanya bisa mengikuti langkah Luna yang membawa Erick ke dalam.
Setelah sampai di kamarnya, Luna membaringkan tubuh Erick di atas ranjang.
''Aku pulang dulu ya, Rick,'' mengelus pipi Erick yang sudah tak sadarkan diri.
Tak langsung keluar, Luna menghampiri Alina yang mematung di samping ranjang.
''Kasihan sekali kamu, kamu tau nggak apa yang di lakukan Erick?'' merogoh ponsel dari tasnya.
"Lihat ini!" menunjukkan beberapa poto kemesraan keduanya saat di klub tadi.
Tak marah, Alina malah tertawa seraya bertepuk tangan memutari tubuh tegap Luna.
"Wah... wah... wah... bukannya kamu itu model terkenal," ucap Alina, menghentikan jalannya tepat di belakang Luna. "Tapi kenapa kelakuan kamu kayak wanita malam," lanjutnya.
Alina beralih mematung di depan Luna yang terlihat mulai emosi.
"Apa kamu nggak malu pamer kemesraan dengan suami orang, lagi pula itu kan cuma pelukan dan ciuman, dan aku yakin Kak Erick tidak akan menghianati aku," ucap Alina dengan tegas.
"Oh... begitu ya," timpal Luna yang sepertinya tak mau kalah. "Kamu pikir Erick beneran cinta sama kamu, ternyata kamu itu benar benar bodoh, sudah tertipu dengan Erick. Dia menikahi kamu hanya untuk balas dendam, ingat itu!" menunjuk wajah Alina dengan jari telunjuknya.
Ternyata Luna sudah tau rencana kak Erick dari awal, itu artinya perkara ini memang sudah tak rahasia lagi.
"Kita buktikan saja, apa kamu yang lebih benar atau aku," Alina semakin menantang, meskipun nyalinya sedikit menciut dengan penyataan Luna, namun setidaknya ia tetap tak terlihat lemah di depan Luna.
"Baiklah, siapa yang menang, dia yang akan mendapatkan Erick," ucap terakhir Luna sebelum meninggalkan Alina.
__ADS_1
Aku harus sabar, aku tau pasti ini akan menyakitkan, tapi demi membuat kak Erick menderita, aku rela bertahan dalam pernikahan ini.
Dengan langkah pelan Alina mendekati Erick yang tenang di alam mimpinya.
"Karena kakak hidup aku hancur, semua mimpiku untuk menjalin rumah tangga sudah lenyap, dan sebentar lagi aku pastikan kakak akan menangis dan bersujud di depanku." gumamnya.
Alina segara melepas sepatu serta dasi dan jas yang di pakai suaminya. Setelah selesai Alina ikut membaringkan tubuhnya di samping Erick dan menyunggar rambut Erick yang menutupi jidatnya.
"Selamat tidur kak Erick, semoga mimpi indah. bisiknya di telinga Erick lalu mencium kening pria itu sebagai pengantar tidur.
Baru beberapa detik memejamkan mata, Alina kembali terbelalak saat mendengar rancauan suaminya.
"Air...." ucap Erick dengan mata terpejam.
Spontan Alina kembali turun dari ranjang dan mengambil segelas air putih yang tersedia di meja kamarnya.
Dengan cepat wanita itu mengangkat kepala Erick dan membantunya untuk minum.
"Kak, lain kali kamu nggak boleh mabuk lagi, aku khawatir sama kamu," ucap Alina pelan. namun masih bisa di dengar dengan jelas oleh Erick yang mulai sadar.
"Itu bukan urusan kamu," jawab Erick mencoba bangun dan menyandarkan kepalanya di sandaran ranjang.
"Tapi aku istri kamu, dan aku nggak bisa membiarkan kamu seperti ini," Alina memeluk tubuh kekar Erick dan membenamkan wajahnya tepat di dada bidang suaminya.
Sedangkan Erick hanya bisa menatap ke bawah rambut Alina yang mengenai lehernya.
Kenapa Alina bersikap seperti ini, apa dia nggak sakit hati padaku, aku sudah mengambil hakku dengan paksa, tapi dia masih saja bersikap lembut.
Setelah bermonolog dalam hati, Erick memegang dagu Alina dan mendongakkan kepalanya.
''Kamu istriku kan?'' Alina hanya mengangguk.
''Itu artinya kamu siap melayaniku.''
Alina mengangguk lagi, dan tiba tiba saja Alina mencium bibir Erick lebih dulu.
Heran, namun Erick malah membalas ciuman itu hingga keduanya sama sama menuntut lebih.
Aku sudah terlalu kotor untuk menghindar darimu, dan dengan cara seperti ini aku juga bisa balas dendam ke kamu, sampai kapan kamu bisa bertahan dengan ini semua, dan di saat hati kamu sudah mencintaiku siap siap lah, kak, karena di saat itu aku akan pergi dari kamu, dan ini akan menjadi sejarah terburuk dalam hidup kamu karena sudah menyakitiku.
__ADS_1
Akhirnya Alina kembali menyerahkan tubuhnya untuk Erick, dan malam itu menjadi pergulatan kedua antara Alina dan Erick.