Pernikahan Berselimut Dendam

Pernikahan Berselimut Dendam
Sakit


__ADS_3

Berkali-kali ponsel milik Erick berdering, dan bertubi-tubi juga Alian terus membujuk dan mengingatkan suaminya untuk segera mengangkatnya sampai wanita itu merasa lelah.


Nama Putra terus berkelip di layar, dan sesekali nama Melani, namun sedikitpun Erick tak mau menyentuhnya, apa lagi mengangkatnya.


''Sigit, ajak dede kesini! Aku mau pulang.'' ucap Alina dengan nada datar.


Sigit langsung membawa Erlin menghampiri Alina yang ada di samping Erick.


Wanita itu beranjak dari duduknya meninggalkan Erick yang masih berkelana dengan otaknya.


Ke kantor ingin memberi semangat, namun Erick malah membuatnya gedeg saja.


Sebelum Alina keluar ruangan Erick, Alina kembali mendekati suaminya.


''Kak, jika kakak membenci paman Bima dengan keburukannya, setidaknya kakak juga harus ingat kebaikannya, Dia sangat menyayangi kakak melebihi anaknya sendiri, jadi aku harap kakak pikirkan baik baik sebelum semuanya terlambat.''


Dia baik karena sudah membunuh papa, jika papa masih hidup nggak mungkin dia merawatku.


Erick hanya bicara dalam hati, tak mau membuat Alina makin marah dengan dirinya. Bisa bisa nanti malam tidur sendirian lagi.


Setelah berada di luar ruangan suaminya. Alina menghentikan langkahnya dan menatap Sigit yang malah di belakangnya.


"Sigit, tolong kasih tau kak Erick, kalau setiap manusia itu pasti punya kesalahan, akan tetapi mereka juga berhak mendapatkan maaf." tutur Alina.


Kenapa tadi nggak bilang sendiri.


Karena bagimanapun juga api tak bisa di lawan dengan api dan hanya bisa di padamkan dengan air.


Sigit hanya bisa manggut manggut. Meskipun dirinya sendiri belum tentu bisa selembut Alina, setidaknya pria itu bisa meresapi setiap kata dari Alina yang benar adanya.


''Aku mau pulang, jaga kak Erick dengan baik!"


Sigit mengangguk lalu mengantarkan Alina sampai ke depan.


Setelah mobil yang di tumpangi Alina menghilang ke jalan raya, Sigit kembali masuk ke ruangan Erick.


Karena saking penasarannya Alina langsung menghubungi Melani. Memastikan apa yang sebenarnya terjadi.


Selang beberapa menit berbicara dengan Melani lewat sambungan telepon, Alina menitihkan air mata mendengar kabar yang di berikan sepupu iparnya itu.


"Pak, putar balik ke kantor kak Erick!" Titahnya.


Setibanya di depan gedung pencakar langit milik suaminya untuk yang kedua kali, Alina dengan wajah cemasnya masuk, dengan langkah yang sedikit buru-buru Alina terus menerobos para karyawan yang melintas untuk cepat sampai ke ruangan suaminya.


Dengan napas ngos ngosan, wanita itu membuka kembali pintu ruangan suaminya, Erlin yang ada di gendongannya hanya bisa diam menatap Alina yang kini nampak kelelahan.

__ADS_1


"Ada apa, Sayang?" Erick ikut heran melihat istrinya yang ada di ambang pintu. Namun pria itu maiab duduk di kursi kebesarannya.


"Kak, paman Bima di rawat di rumah sakit, kita harus jenguk ke sana."


Alina memegang lengan suaminya yang kini hampir membuka laptop didepannya.


Melihat sang istri yang nampak khawatir, Erick mengambil alih Erlin dari tangan Alina.


"Paman itu sangat membenci kamu, bahkan dia pernah memfitnah papa Johan, tapi kenapa kamu masih peduli dengan dia?"


Alina berdecak. Mau sampai kapan suaminya itu tidak berpikir dengan akal sehat dan tak mengandalkan emosi dan egois terus menerus.


"Kak, sebuah kejahatan yang sudah di lakukan, itu urusan orang yang menjalankan, dan jika kita membalasnya, itu artinya kita sama sama penjahat. Jadi jangan pikirkan masa lalu jika mau berbuat baik." Ucap Alina dengan lembut, berharap Erick bisa memahami isi hatinya.


Kali ini Erick benar-benar kalah dengan Alina, ucapannya memang lembut, namun intinya adalah penjelasan yang sangat tegas dan menekankan Erick untuk sadar.


"Mau sampai kapan kakak seperti ini, egois dan maunya menang sendiri. Ayolah kak, apapun yang kakak minta, pasti akan aku kabulkan.


Tak ada jalan lain selain itu, itulah pikir Alina yang tak memikirkan konsekuensinya.


Seketika egois Erick semua rontok, dan kini yang ada hanya tunduk dan patuh setelah mendengarkan ucapan Alina.


"Baiklah," masih sok datar. Padahal hatinya sudah cekikikan.


Sigit hanya bisa berdehem dan mengangguk. Karena menurutnya, menertawakan Erick adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di salah satu rumah sakit terbesar di tengah kota, kini Alina dan Sigit serta Alina tiba, dengan perasaan yang sedikit cemas, Alina terus mengikuti langkah suaminya, sedangkan Erlin yang berada di gendongan Erick malah terlelap.


''Kak Erick,'' Akhirnya suara Melani memberi petunjuk ketiganya ruangan Pak Bima setelah beberapa menit menyusuri lorong.


''Melani, semua baik-baik saja kan?''


Melani berhamburan memeluk Alina dan menangis sesenggukan.


''Bagaimana keadaan paman?'' tanya Erick.


Putra yang nampak gelisah itu memilih untuk duduk menemani Erna.


''Tadi papa sempat kritis, dan semoga saja dia cepat melewatinya,'' jawab Anton yang mematung di belakang Melani.


Setelah melepaskan Melani, Alina beralih menghampiri sahabatnya yang juga terisak.


''Aku yakin, pasti Paman akan baik-baik saja.''

__ADS_1


Alina mencoba menenangkan Erna.''


''Semoga.''


Erick mendekati pintu kaca transparan, hatinya terasa berdenyut saat menatap tubuh lemah pak Bima yang ada di atas brankar itu dari luar.


Kini kenangan pahit, manis, tawa, tangis, itu kembali melintasi otak Erick, di mana pak Bima selalu ada untuknya di waktu lampau.


Dan tiba tiba saja satu buliran air bening luruh membasahi pipi Erick.


''Kak,'' Alina menepuk bahu Erick dari belakang.


''Lihatlah paman! Dia pasti sangat merindukan kakak, temui dia, dan aku yakin kehadiran kakak adalah penyemangat bagi paman untuk cepat sembuh.''


Tanpa basa basi Erick menyerahkan Erlin ke Sigit dan menemui salah satu dokter yang menangani pak Bima. Selang Beberapa menit Erick kembali memakai baju berwarna hijau.


"Semangat." Ucap Alina mengangkat tangannya.


"Ini juga penyemangat," di saat suasana lagi mencekam, masih saja Erick membuat lawakan dengan mencium hidung Alina. Dan itu sukses membuat semuanya geleng geleng.


Dengan langkah pelan Erick mendekati pak Bima yang masih belum sadarkan diri, tak ada suara apapun selain monitor, dan itu membuat Erick merasa takut.


Mata Erick kembali berkaca saat menyentuh tangan Pak Bima yang sangat dingin, tak menyangka pria yang tadi pagi berada di kantornya itu kini terkapar.


''Paman, aku sudah datang, bangunlah!" ucap Erick mengawali pembicaraan, entah apa yang di rasakan, yang pastinya saat ini Erick merasa menyesal sudah mengabaikan Pak Bima yang ingin bertemu dengannya.


Tak ada pergerakan sama sekali, namun air mata pak Bima menetes membasahi pelipisnya.


''Aku yakin Paman bisa mendengarkan suaraku, dan aku yakin Paman tidak akan meninggalkan aku,'' bisik Erick lagi, berharap pria tua itu membuka matanya.


Hening sejenak, Erick menatap wajah pak Bima yang terlihat pucat.


''Jika paman benar benar ingin bertemu denganku, bangunlah sebelum aku pergi, karena jika aku pergi aku tidak mau kembali.'' Ancamnya.


Erick melepaskan tangan Pak Bima dan mulai melangkah mundur.


Sampai pada akhirnya pria itu tiba tepat di belakang pintu, namun Erick bisa mengulas senyum saat melihat jari jari Pak Bima mulai bergerak.


Itu artinya paman benar benar menyayangiku.


Erick berlari kecil mendekati Pak Bima dan memeluknya.


"Aku sudah datang, sekarang paman bisa memelukku sepuasnya."


Perlahan Pak Bima membuka matanya dan mengangkat tangannya merengkuh punggung Erick.

__ADS_1


__ADS_2