
Dadaa....Alina melambaikan tangannya saat mobil yang di kemudikan suaminya berlalu dari depan restoran milik Anton, setelah mobil Erick menghilang dari penglihatannya, Alina tak masuk ke dalam melainkan kembali keluar dari gerbang dan berlari ke arah jalan yang tadi ia lewati.
Aku harus memastikan kalau apa yang aku lihat tadi itu benar.
Dengan hati yang mantap Alina terus berlari ke menelusuri aspal ke arah lampu merah. Dimana ia melihat seorang laki laki tua yang tak asing baginya.
Dengan napas yang ngos ngosan Alina berjongkok dengan mata yang terus memandang ke seluruh penjuru.
''Tadi kayaknya ada di sini,'' gumamnya kecil.
Setelah celingukan yang tak membuahkan hasil, Alina kembali berdiri dan menghembuskan napas kasar, sedikit putus asa karena tak mendapati orang yang di carinya, baru beberapa langkah berjalan Alina kembali menoleh saat ada kerumunan di seberang jalan.
Kayaknya ada kecelakaan, batinnya.
Bergegas Alina berlari mendekati orang orang yang berlalu lalang di sana.
''Permisi...'' ucap Alina membelah kerumunan itu.
Tiba tiba saja matanya terbelalak saat mendapati seseorang yang saat ini tergeletak di jalan.
''Pak Komar.'' Ucap Alina berjongkok menangkup kepala pria tua itu.
''Pak, tolong panggilkan Ambulan,'' pinta Alina mengiba, gadis itu terlihat khawatir dengan kondisi orang yang saat ini berada di pangkuannya, bahkan pria yang di sebut pak Komar itu tak sadarkan diri.
''Bapak harus selamat, bapak harus cerita ke aku dan om Indra kejadian waktu itu.'' bisik Alina di telinga pria itu.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Alina dan pak Komar tiba di rumah sakit dengan bantuan ambulan yang di panggil warga.
''Dok, tolong selamatkan pak Komar, saya mohon.'' Alina menangkupkan kedua tangannya di depan dokter yang baru saja datang.
''Berdoa saja, saya akan berusaha se maksimal mungkin, tapi semua ada di tangan Tuhan.''
Alina mengangguk lalu duduk di kursi depan ruangan itu, tak peduli dengan ponselnya yang beberapa kali berdering, yang pastinya saat ini Alina fokus dengan keselamatan pria tua itu.
Ya Tuhan, selamatkan pak Komar, hanya dia yang tau semuanya.
Alina merasa tak tenang dan mengintip di balik pintu kaca yang transparan, dengan wajahnya yang nampak resah Alina pun terus berdoa dalam hatinya.
Ceklek, hampir satu jam menunggu, kini pintu ruangan pak Komar terbuka lebar.
''Bagaimana keadaan Pak Komar, Dok?'' Tanya Alina buru buru saat dokter yang tadi masuk itu mematung di depannya.
__ADS_1
Terlihat sebuah senyuman dari sudut bibir dokter tersebut.
''Pak Komar baik baik saja, lukanya nggak sampai dalam. Jadi nggak terlalu serius, dia juga sudah boleh pulang.''
Setelah mendengar penjelasan dokter itu, Alina bernapas dengan lega dan tidak se khawatir tadi.
''Terima kasih, Dok.'' Ucap Alina, mencium punggung tangan pria itu.
Setelah punggung Dokter itu menghilang, Alina segera masuk ke dalam untuk menemui pria itu.
''Pak Komar.'' Dan ternyata pria itu pun sudah sadarkan diri.
''Kamu siapa?'' Tanya pria yang kini tergulai lemas di atas brankar.
Alina makin mendekat dan meraih tangan pria itu.
''Aku Alina pak, anaknya pak Johan,'' jawab Alina menggenggam tangan pak Komar.
Pria yang sudah rentan itu hanya bisa tersenyum tipis menatap Alina dari atas sampai bawah.
''Ka...kamu Alina,'' Pak Komar tergagap, bahkan bibirnya gemetar, entah apa yang di pikirkan sepertinya pak Komar merasa ada ketakutan yang menyelimutinya.
Alina mengangguk lagi, ''Iya, aku Alina, gadis kecil yang pernah bapak tolong, dan sekarang aku sudah dewasa,'' tak sungkan sungkan Alina memeluk tubuh ringkih pak Komar dari samping.
''Seperti yang bapak lihat, aku baik, bahkan aku lebih mandiri setelah papa dan mama meninggal,'' Jawabnya.
Pak Komar hanya diam, karena pria itu sebenarnya memang tau apa yang terjadi setelah dirinya pergi, hanya saja Ia tak ingin lagi ikut campur dengan keluarga Pak Johan demi melindungi istrinya.
''Bapak kenapa?'' Tanya Alina saat pak Komar memalingkan wajahnya, sepertinya pria itu menyembunyikan sesuatu darinya.
Pak Komar tersenyum, ''Bapak nggak apa apa, sekarang bapak mau pulang,'' mencoba mengangkat kepalanya yang sedikit pusing,
''Biar aku antar,'' Alina meraih tangan Pak Komar dan menuntunnya.
Tak ada penolakan dari pak Komar, karena pria itu masih kesulitan untuk jalan, apa lagi harus melewati jalan yang penuh dengan keramaian, pasti tidak akan mampu, setelah membayar administrasi, Alina langsung mencari taksi untuk pak Komar dan dirinya.
Hampir setengah jam menerobos jalanan, kini Pak Komar menyetop taksi yang di tumpanginya, sedangkan Alina hanya menatap ke arah luar di mana itu perkampungan yang sedikit kumuh.
''Bapak tinggal di sini?'' Tanya Alina sebelum keduanya turun.
Pak Komar mengangguk lalu membuka pintu mobil.
__ADS_1
Kasihan sekali pak Komar harus tinggal di tempat seperti ini.
Tanpa bicara sedikitpun, Alina menggandeng Pak Komar ke sebuah rumah yang sangat sederhana dan sedikit lapuk.
''Ini rumah bapak, Non,'' membuka pintu depan.
Alina diam dan mengikuti langkah pak Komar menuju ruang tamu.
''Maaf, jelek.''
''Nggak apa apa, Pak, apa bapak tinggal sendiri disini?''
Lagi lagi pria itu hanya menjawab dengan anggukan.
''Istri bapak sudah meninggal setahun yang lalu, ini lah nasib tak punya anak, Non.'' Sedikit mengejutkan dengan hidupnya yang tak beruntung.
''Dari kapan bapak pindah ke sini?'' Tanya Alina mulai menyelidik.
''Dari kejadian itu,'' mengingatkan kejadian lima belas tahun yang lalu, dan Alina langsung meringsuk duduknya, hingga keduanya saling bersejajar.
''Apa bapak tau, siapa sebenarnya yang membunuh papa Tirta?'' Tanya Alina sedikit berbisik, meskipun tak ada orang, setidaknya berjaga jaga demi keamanan.
Aku bilang ke non Alina nggak ya, kejadian itu sudah lama, harusnya sudah tak perlu di ungkit lagi.
''Maaf, Non, bapak tidak tau pasti, tapi ada kemungkinan dia adalah keluarga dari pak Tirta sendiri.'' jawab pak Komar ragu, karena pria itu memang tak melihat dengan jelas wajah yang tertutup topeng.
''Bapak yakin?''
Pak Komar mengangguk pelan.
''Dari mana bapak tau, ini masalah serius, jangan sampai bapak salah tuduh.''
''Tapi bapak yakin, Non, karena setelah membunuh pak Tirta, orang itu sempat mengeluarkan suara yang memang tak asing di telinga bapak, dan juga dari postur tubuhnya dia itu ada kemiripan dengan pak Tirta, belum lagi, ini,'' Pak Komar mengambil sebuah sapu tangan yang ada di laci dan menyerahkannya ke Alina.
''Itu milik pembunuh pak Tirta yang sempat bapak tarik dari saku celananya.''
Alina membuka bungkus kain itu dengan perlahan dan menjewernya hingga lebar.
''Paman Bima,'' seru Alina saat membaca tulisan kecil yang tertera di pojok sapu tangan di depannya.
''Jadi paman Bima yang membunuh papa Tirta?''
__ADS_1
Antara percaya dan tidak, Alina hanya bisa termangu dengan sebuah fakta baru.
Itu artinya dugaanku benar, kalau tangan itu adalah tangan paman Bima, aku harus secepatnya bilang ke kak Erick, siapa pembunuh papanya.