
''Kenapa kamu bilang kalau ayah Alina pembunuh kak Tirta? apa kamu yakin bukti yang kamu berikan untuk Erick sudah kuat? kalau dari dulu kamu tau kenapa tidak langsung kamu utarakan biar semuanya jelas.'' Tanya Pak Indra yang saat ini baru saja masuk di ruangan kerja Pak Bima.
Pria itu sengaja bertemu dengan pak Bima secara diam diam dan tidak di ketahui sang keponakan untuk membicarakan masalah yang dulu pernah di sematkan.
''Terus mau kamu apa?'' Pak Bima balik tanya, seolah olah menantang pak Indra untuk menjelaskan maksud dari omongannya.
''Aku mau sebuah fakta yang jelas, yang akan memenangkan sebuah kebenaran, karena aku yakin bukan pak Johan pembunuh kak Tirta, dan aku akan buktikan kalau di balik pembunuhan itu ada orang dalam yang terlibat.''
Seketika Pak Bima terbelalak dan mengepalkan tangannya.
''Apa maksud kamu, jadi kamu mencurigai keluarga kami yang membunuh kak Tirta?''
Pak Indra bertepuk tangan dan tersenyum tipis. Dengan sebuah pancingan kecil saja sudah sedikit membuka bukti, meksipun belum sepenuhnya, setidaknya sedikit demi sedikit mulai terkuak.
''Aku tidak menuduh keluarga kamu, aku hanya bilang orang dalam, tapi kenapa kamu sewot seperti itu, bukankah keluarga kak Tirta banyak, ada juga beberapa supir dan pengawal yang bekerja, apa jangan jangan,_
Ceklek, Pak Indra menggantungkan ucapannya saat pintu ruangan itu tiba tiba aja terbuka.
''Om Indra ada di sini,'' ternyata Erick yang datang. Dengan jalan gontainya pria tampan itu mendekati kedua pamannya.
''Rick, sekarang ikut Om, ada hal penting yang ingin Om bicarakan sama kamu.'' Ajaknya, menarik tangan Erick dan kembali membawanya keluar. Tak mempedulikan pak Bima yang teriak teriak memanggil keduanya.
''Sebenarnya ada apa, Om?'' Tanya Erick saat keduanya sudah berada di mobil.
''Rick, om nggak yakin kalau Pak Johan pembunuh ayah kamu, dan Om mencurigai ada orang yang memang sengaja memfitnah Papanya Alina demi kepentingannya sendiri.''
''Kenapa Om bicara seperti itu, bukankah bukti kemarin sudah akurat, kenapa harus di bahas lagi.'' Ucap Erick sedikit meninggikan suaranya, masih tak mengerti dengan Pak Indra yang masih kekeh dengan pendiriannya.
''Karena Om masih nggak yakin dengan Bima, itu bukan bukti saat pembunuhan, itu hanya bukti saat mereka berdebat, semua orang bisa saja bertengkar masalah bisnis, tapi bukan berarti langsung membunuh,'' bantah Pak indra tak mau kalah.
''Baiklah, jika sampai Om Johan tidak terbukti bersalah, aku janji akan minta maaf sama Alina karena sudah menyakitinya, tapi jika memang benar adanya Om Johan pembunuh papa, jangan salahkan aku untuk terus balas dendam.''
''Om pegang janji kamu.''
__ADS_1
Setelah puas dengan debatnya, pak Indra melajukan mobilnya menuju rumahnya, mungkin mengamankan Erick di kediamannya akan lebih aman dan tidak lagi terpengaruh Pak Bina. itulah menurut pak Indra.
''Erick...'' sapa Bu Rasti saat pria itu masuk ke dalam rumah pak Indra, wajahnya terlihat lesu, semua semangatnya menghilang, jangankan untuk melakukan aktivitas, untuk makan saja Erick terkadang malas, pikirannya terus melayang mencari keberadaan Alina.
''Kamu baik baik saja kan?'' Tanya Bu Rasti membawa Erick duduk di sofa, wanita paruh baya itu membantu Erick membuka jas dan memberikan minum.
''Peluk tante, lupakan semua masalah kamu, jangan di pendam, anggap saja Tante ini kak Hani.''
Seketika Erick meneteskan air mata merengkuh erat tubuh Bu Rasti, mencari sebuah kenyamanan yang selama ini tak pernah ia rasakan, melepaskan segala yang mengendap di dada, masalah yang tak pernah pudar dari hidupnya, dan mencari kasih sayang seorang Ibu.
Bu Rasti ikut meluruhkan cairan bening dan menepuk punggung Erick yang bergetar, sedikit menyesal karena selama ini tak begitu mempedulikan Erick yang terus di rundung perkara.
''Tinggal lah disini untuk sementara waktu, anggap saja ini rumah kamu, Om akan bantu menyelesaikan masalah kamu, dan om akan cari tau yang sebenarnya.''
Meskipun terlihat sangat gagah dan kuat, nyatanya Erick begitu lemah saat tertimpa masalah yang menyangkut kepribadiannya. Ingin rasanya membenci, namun hati kecilnya masih ada cinta yang bersemayam di sana, bingung, langkah apa lagi yang harus di ambil. Dan kali ini Erick benar benar pasrah dengan apa yang di lakukan Pak Indra.
''Permisi...'' suara berat yang familiar itu membuat Erick menyeka air matanya dan kembali menampakkan wajah garangnya.
''Masuk saja, cari siapa? Erick atau Diana?'' Goda pak Indra yang duduk di sebelah Erick.
Sigit memutar bola matanya, bagaimana bisa pak Indra bicara seperti itu di hadapan Erick, bakalan ada masalah baru, itu menurutnya.
''Dua duanya, Pak.''
Erick mengernyit dengan pernyataan Sigit di depannya, baru kali ini Ia mendengar sekretarisnya membual.
''Ada apa?'' tanya Sigit datar.
''Ada proposal yang perlu bapak tanda tangani,'' menyodorkan beberapa dokumen di depannya.
Seperti biasa, Erick membaca terlebih dahulu sebelum bertindak, sedangkan Sigit memilih berdiri di belakang Erick, namun pandangannya menatap ke arah kamar yang bergambar Hello kitty, dan meyakini itu kamar Diana.
''Apa dia mulai menjadi penggemar hello kitty?'' gumamnya.
__ADS_1
''Apa kamu bilang?'' tanya Pak Indra yang sedikit samar samar masih bisa mendengarkan ucapan Sigit.
''Ti... tidak apa apa pak.''
Pak Indra kembali manggut manggut.
''Duduk saja, Git, anggap saja ini di rumah sendiri, bukan kantor.''
Sigit segera mendaratkan tubuhnya di depan Erick, baru juga berapa detik, orang yang di cari nampak keluar dari kamarnya.
Siapa lagi kalau bukan Gadis yang beberapa hari ini mulai membuka pintu hatinya dengan sikapnya yang sedikit urakan.
''Pak Sigit,'' sapa suara khas wanita yang baru saja datang.
''Kenapa hanya pak Sigit yang di sapa, ini ada Kak Erick juga.'' Sahut Bu Rasti.
Dengan jalan yang sedikit ragu, Diana mendekati Erick dan bersimpuh di depannya.
''Kak, aku minta maaf, semua ini bukan salah kak Alina, tapi salahku, aku yang memintanya untuk cerita,'' ucapnya menunduk menatap kaki Erick yang menapaki lantai.
''Sudahlah, Di, bukan salah kamu juga, mungkin aku yang terlalu arogan, duduk sini!" menepuk tempat disisinya yang masih kosong.
Di tengah tengah sibuknya mengerjakan map yang menumpuk tiba tiba saja ponsel Erick berdering.
''Halo, ada kabar apa?'' tanya Erick pada orang yang ada di balik telepon.
Kami mendapat kabar kalau Putra dan Alina naik bus menuju kota A, pak, jawab dari balik benda pipinya.
''Baiklah cari mereka sampai ketemu dan jangan biarkan lolos, aku nggak mau kalian gagal.''
Setelah memutuskan sambungannya, Erick kembali fokus dengan kertas di depannya, sedangkan yang lainnya hanya bisa saling pandang, belum tepat bagi pak Indra untuk kembali menyela.
Di manapun Alina dan Putra berada, semoga mereka terlindung dari bahaya.
__ADS_1