
Malam berganti dengan pagi, sayup sayup Alina mendengar ocehan Erlin yang ada di sampingnya, namun kali ini ia tak mendapati Erick di tempat tidurnya.
Kak Erick di mana ya?
Terdengar suara aneh dan mencium bau masakan, dan itu dari arah dapur. Karena penasaran, Alina menggendong Erlin dan membawanya keluar.
Dengan langkah pelan mengendap-endap, Alina mendekati pria tampan tersebut. namun suara merdu Erlin membuat Alina ketahuan.
''Sudah bangun?'' celetuk Erick tanpa menoleh.
''Sudah, kakak lagi ngapain?'' tanya Alina.
Wanita itu mendeguskan hidungnya saat bau masakan makin menyeruak.
Erick mengangkat makanan yang sudah di tata rapi. Laki laki itu mencium anak dan istrinya bergantian.
''Kita makan yuk, aku sudah masak.''
O tidak, rasanya ini bagaikan mimpi di pagi hari, Alina masih tak percaya dengan apa yang di lakukan suaminya.
''Masak?''
Mengikuti langkah Erick menuju meja makan. Sedangkan Erlin hanya bisa tersenyum kecentilan dan terus menatap punggung papanya.
Heemmm....
''Aku terlambat bangun ya?''
''Enggak kok.''
Erick langsung menyuapi Alina yang nampak kesusahan, apa lagi tangan Erlin sangat terampil dan terus meraih sesuatu di dekatnya, termasuk rambut mamanya.
''Hari ini aku mau berangkat pagi, dan nggak mungkin aku nungguin kamu bangun, belum lagi nanti harus mandiin Erlin pasti kamu kerepotan, biar setiap pagi aku yang masak.''
''Kak, aku egois ya?'' Alina memegang punggung tangan Erick. Bisa bisanya wanita itu tiba tiba terisak mendengar ucapan Erick yang akan mencari pekerjaan.
''Sudah, jangan bicara apapun.''
Erick menarik tangannya dan beranjak mendekati Alina. Mengusap pipi istrinya yang sudah basah.
''Jangan bilang seperti itu, dan jangan singgung masalah kita, ini adalah kehidupan baru kita dan kalian adalah tanggung jawabku, bagaimanapun ke depannya, aku akan tinggal disini bersama kamu.''
Alina merasa terenyuh mendengar ucapan Erick, entah kali ini Alina sedikit bersalah melihat kesusahan suaminya, apa lagi semalam Erick terlambat tidur gara gara mengerjakan sebuah proposal yang akan di ajukan ke tempat kerjanya.
''Apa kakak yakin akan mencari pekerjaan hari ini?''
Alina mendongak menatap Erick yang masih mematung di belakangnya.
''Aku yakin, jika mereka tidak mau menerimaku kita bisa buka usaha sendiri di rumah.''
Ini benar benar bukan kehidupan ala dongeng, Erick nampak serius menjalani kehidupan barunya sebagai rakyat jelata, meskipun ia belum pernah menjalaninya, setidaknya demi anak dan istrinya Erick rela harus menawarkan diri di berbagai perusahaan.
•
__ADS_1
•
•
Di salah satu perusahaan ternama, Erick dengan lenggangnya masuk, wajah yang sangat familiar itu membuat semua karyawan menunduk, bahkan dari mereka terpana dengan penampilan baru Erick. meskipun hanya memakai kemeja putih, faktanya tak menyurutkan ketampanan ciri khas pria itu.
''Selamat pagi.'' seperti tamu yang lain, pria itu menghampiri resepsionis yang bertugas.
''Pagi Pak, ada yang bisa saya bantu?''
Erick masih membawa keraguan, namun ia harus percaya diri, jika dulu ia masuk ke sebuah kantor sebagai tamu yang terhormat, kini ia hanya sebagai orang yang ingin mengais rezeki.
''Katanya di sini ada lowongan pekerjaan, di bagian apa ya, Mbak?'' Tanya Erick.
Karena dari berita yang ia lihat di Sosmed kurang jelas.
''Di bagian karyawan pemasaran sama OB pak.'' Wanita itu pun sedikit tak enak saat mengucapkan, karena ia begitu mengenal pria tampan yang ada di depannya.
Nggak apa apa Erick, sebagai karyawan, yang terpenting kamu tidak mengandalkan harta kamu.
Erick hanya menguatkan dirinya sendiri mencoba untuk berdiri sendiri tanpa bantuan keluarganya.
''Baiklah Mbak, ini surat lamaran saya, mohon di lihat terlebih dahulu.''
Menyodorkan berkas yang di bawa.
Ini kan Pak Erick Dewantoro, pemilik PT Distro yang terkenal itu, kenapa dia melamar ingin jadi karyawan.
''Iya Pak, Maaf.'' Gugup.
Akhirnya wanita itu meneliti surat dari Erick dan tak lupa langsung melapor ke atasan.
"Silakan bapak tunggu sebentar!"
Erick langsung berjalan ke sebuah ruangan menunggu kedatangan sang Bos.
"Apa?! Pak Cahyo, Ceo perusahaan itu terkejut saat mendengar ucapan pegawainya dari balik telepon.
Pria yang sudah setengah baya itu menutup teleponnya dan beranjak dari kursi kebesarannya keluar ruangan.
"Selamat pagi Pak Erick, selamat datang di perusahaan saya." Seorang pria datang dan membungkuk ramah di hadapan Erick.
Erick yang merasa bingung hanya bisa mengerutkan alisnya.
"Pagi pak," Erick menegakkan tubuh pria itu.
Pria itu melihat penampilan Erick yang hanya memakai kemeja.
"Kenapa pak, apa ada yang aneh?'' Tanya Erick menyelidik.
"Tidak pak, apa langsung bisa kita mulai acara meetingnya?"
"Meeting?" Erick makin bingung saja dengan ucapan Pak Cahyo yang menurutnya makin ngelantur.
__ADS_1
''Iya, bukankah hari ini kita ada meeting?''
Sekretaris pak Cahyo kembali membuka ponselnya dan menunjukkan di depan Erick, kalau di jam itu perusahannya memang akan ada rapat penting yang akan membahas tentang kerja sama dengan PT Distro milik Erick.
''Tapi maaf pak, saya ke sini bukan mau meeting, tapi mau melamar pekerjaan sebagai karyawan disini.''
Seketika pak Cahyo tertawa lepas dan sesekali menepuk lengan Erick.
''Jangan bercanda pak?''
''Saya serius pak.'' Erick meyakinkan pria itu kembali mengambil dokumennya dan menyerahkan ke pak Cahyo.
Dengan cermat pak Cahyo membaca isi lembar demi lembar, dan sesekali pria itu melirik ke arah Erick yang masih mematung di depannya.
''Selamat pagi.'' sapa tamu dari ambang pintu membuyarkan suasana yang sempat hening.
Erick maupun Pak Cahyo menatap tamu yang datang.
''Kak Erick.''
"Sigit.'' Erick tak kalah terkejut, ternyata sekretaris sekaligus sepupu iparnya yang datang.
Kini bukan lagi Erick, pak Cahyo pun di bikin pusing tujuh keliling dengan kedatangan Sigit yang nampak kaget.
"Kak Erick ngapain disini?" Tanya Sigit mendekati Erick yang terlihat cemas.
Tak ada yang menjawab, Sigit melirik lembaran kertas yang ada di tangan Pak Cahyo.
Pagi ini begitu tak bersahabat dengan Erick, rasanya pria itu putus asa dan ingin lari ke rumah lalu naik ke atas ranjang bersama istrinya, ternyata sangat sulit mengubah statusnya.
"Kakak melamar kerja?"
Erick hanya mengelus tengkuk lehernya.
"Perusahaan butuh kakak, tapi kenapa kakak harus melamar kerja di tempat lain?"
Sigit nampak emosi dan melempar map itu di atas meja, kini tak peduli dengan Erick, yang pastinya Sigit tak terima dengan apa yang di lakukan Erick.
''Tapi aku tidak bisa kembali.'' Kekeh.
Sigit terus berdecak dan berkacak pinggang, di ruangan itu tak ada lagi bos perusahaan dan karyawan yang ada hanya sesama manusia yang saling berdebat.
"Sekarang jelaskan! kenapa kakak tidak bisa kembali?"
Cinta, karena aku sangat mencintai Alina, dan apapun yang terjadi aku sudah berjanji padanya, kalau aku akan memenuhi apapun yang ia inginkan.
Nyatanya Erick hanya mengucap dalam hati.
"Semua sudah jelas, aku tidak bisa kembali ke perusahaan."
Seketika Sigit memeluk Erick di depan umum, hatinya merasa berdenyut melihat Erick yang nampak serius dengan perjuangan barunya.
"Semangat!" Ucap Sigit menepuk bahu Erick.
__ADS_1