Pernikahan Berselimut Dendam

Pernikahan Berselimut Dendam
Dewa penolong


__ADS_3

''Apa yang mau kakak lakukan?'' Alina terkejut saat pintu kamarnya terbuka dengan kerasnya, mata Erick terlihat merah menyala, mendekati dirinya yang kini ada di ranjang, suara gebrakan pintu mengusik tidurnya yang baru beberapa menit menyelam.


''Kamu lihat kan, di luar mendung.'' ucapnya menunjuk ke arah jendela yang masih terbuka, Alina menatap mengikuti arah tangan Erick, langit yang begitu gelap, seakan ingin runtuh, angin sedikit lebat menyingkap tirai yang terpasang.


Alina mencengkeram baju yang di pakainya, sepertinya Erick tak melupakan kejadian dan apa yang masih melekat di diri Alina yang memang takut gelap dan petir.


''Sekarang adalah waktunya aku membalas apa yang sudah di lakukan papa kamu, dan kali ini aku tidak bisa mengampunimu, bukan gudang yang akan menjadi tempat tidurmu, tapi di luar.''


Deg, jantung Alina berdenyut nyeri, rasa takut mulai mengguncang tubuhnya dan membuat dadanya terasa sesak.


''Aku nggak mau, tolong, kakak ganti saja hukumannya.'' Pinta Alina, meraih tangan Erick dan menciumnya.


''Tidak bisa, keputusanku sudah bulat, sekarang kamu harus keluar.'' menyeret tangan Alina yang masih berpegangan erat pada sudut ranjang.


Aku nggak mau mendengar petir, aku takut, Tuhan tolong aku.


Namun perjuangannya sia sia, tenaga kecil Alina tak mampu mengimbangi tenaga Erick yang begitu kuat, hingga membuatnya terlepas.


''Kak, lebih baik tidur di gudang saja,'' saat menyusuri tangga pun Alina masih memohon, berharap Erick mengurungkan niatnya.


Tak ada jawaban, langkah Erick semakin lebar saat menyusuri ruang tamu. Mata dan hatinya gelap, kupingnya tuli dan tak peduli dengan rengekan Alina yang sangat memelas.


Ceklek, baru saja membuka pintu, hati Alina terasa perih saat kilat menguasai langit gelap, rintihan hujan mulai deras mengguyur buminya.


''Apa kakak yakin akan menyuruhku tidur di luar?'' Tanya Alina sekali lagi memastikan, kalau Erick tidak sedang khilaf.


''Yakin, dan nikmati malam ini bersama dinginnya air hujan dan petir.'' Mendorong tubuh Alina hingga tersungkur di lantai teras.


Alina menoleh ke kanan dan kiri, tak ada penjaga di sana, sepi, satpam pun sudah tak ada di tempat jaga, hanya suara gemericik air yang menghiasi sekeliling rumah mewah itu.


''Tapi aku takut, aku nggak bisa tidur di sini, apa lagi hujannya sangat deras, kak.'' Alina merangkak mendekati kaki Erick dan merangkulnya, masih berharap ada belas kasihan dari suaminya.


''Tapi sayang, aku nggak bisa mengabulkan permintaan kamu,'' timpalnya, menepis tangan Alina yang masih memeluk kakinya.


Karena sudah terlalu jengah untuk memohon yang tak pernah membuahkan hasil, Alina berdiri dari duduknya dan menatap wajah tampan Erick.


''Baiklah, jika ini yang kakak mau, aku ikhlas, dan aku pastikan, besok kakak tidak akan bisa melihatku lagi disini, dan kakak akan menyesal karena sudah menyakitiku.''


Dengan air mata masih berderai, Alina meluapkan apa yang ingin di ungkapkan, namun tak semudah membuat adonan, hati yang sudah sekeras batu itu malah tetawa lepas.


''Kalau kamu berani kabur dari sini, aku akan berbuat lebih dari ini,'' Ancamnya, sebelum kembali menutup pintu.


Alina hanya bisa memejamkan matanya. Hembusan angin semakin menyeruak, dinginnya malam mendominasi dengan air hujan membuatnya makin menggigil, belum lagi saat Alina mendengar hamparan petir, gadis itu makin gemetar.

__ADS_1


Gadis itu hanya bisa menatap langit hitam pekat dan menutup telinganya.


Ma, pa, Aku takut petir, aku nggak mau disini.


Berkali kali Alina menjerit saat suara keras masih menembus gendang telinganya, hatinya hancur berkeping keping, tubuhnya yang menggigil makin kaku, bibirnya membiru dan bergetar, sesekali ia meniup niup telapak tangannya dan mendekap tubuhnya di depan pintu.


''Itu kan Alina, hujan hujan begini, ngapain dia di luar,'' gumam seseorang yang melihat Alina dari luar gerbang.


Tanpa payung dan tanpa pelindung, seorang pria terpaksa harus mengendap endap mendekati gerbang.


Aku harus menolongnya, kasihan Alina.


Dari kejauhan masih nampak wajah Alina yang ketakutan dan kedinginan.


Sedangkan Di dalam rumah, Erick hanya bisa memberi aba aba kepada seluruh pelayan rumahnya untuk tidak keluar.


"Matikan lampu!" Titahnya.


Terpaksa John memetik saklar lampu teras hingga gelap gulita.


Jika menyakitiku membuat kamu lega, aku ikhlas, tapi, sekali aku bisa lepas, aku tidak akan kembali sama kamu.


"Sial, kenapa lampunya mati semua, kalau kayak gini kan susah." gerutu priia yang sedang mencari jalan masuk.


Terpaksa pria itu menaiki gerbang untuk bisa ke dalam, karena tak ada jalan lain selain itu.


Hii...hi.... Suara itu makin dekat, dan itu membuat pria yang baru saja datang tersenyum kecil.


Di dekapnya tubuh Alina dengan erat.


"Siap,_ Ucapan Alina terpotong saat sebuah tangan membekap mulutnya.


"Diam, aku akan menolongmu." Bisiknya.


Alina yang merasa itu dewa penolongnya segera merengkuh tubuh pria itu.


"Tolong aku, bawa aku pergi sejauh mungkin, aku tidak ingin bertemu kak Erick, aku ingin sendiri." Pintanya.


"Baiklah, kita akan pergi meninggalkan kota, apa kamu siap hidup seadanya?"


Alina mengangguk. "Aku mau, asalkan aku tidak tersakiti." Ujarnya lagi.


"Sekarang ikut aku!" Ajaknya, pria itu memakaikan jaketnya ditubuh Alina, meskipun basah, setidaknya sedikit menghangatkan tubuh Alina.

__ADS_1


"Kamu siapa?" tanya Alina, karena dari tadi hanya berbisik dan kurang jelas.


"Aku Putra, aku akan membawamu jauh dari kak Erick."


"Terima kasih, ya bang, kamu dewa penolongku."


Segera Putra membantu Alina untuk memanjat gerbang lalu dirinya, meskipun hujan masih belum reda, tak menyurutkan Alina dan Putra untuk menerjanganya.


"Bang, kita mau ke mana?" Tanya Alina saat Putra membuka kan pintu mobil untuknya.


Masih belum menjawab, dan masih mikir mikir, sudah berani membawa Alina pergi, itu artinya Putra pun siap untuk menghadapi Erick, sepupunya.


"Kamu tenang saja, yang terpenting Kak Erick tidak akan bisa menemukan kita," Putra melempar ponselnya hingga remuk.


"Sekarang tenanglah, jangan pikirkan apapun."


Alina mengangguk.


Segera Putra mengemudikan mobilnya hingga beberapa kilo meter.


Ssssttt.... Tiba tiba saja Putra menghentikan mobilnya mendadak di depan tukang ojol yang melintas.


Segera ia turun dan mendekati pria yang masih nangkring di atas sepeda motor yang ada di belakangnya.


"Antar saya ke terminal!" Pintanya.


"Tapi ini sudah malam, Pak, saya mau pulang." Bantahnya.


"Saya akan bayar sepuluh kali lipat."


Karena saking senangnya mendengar uang yang jarang jarang di dapatkannya, kang Ojol itu mengangguk.


Putra kembali membukakan pintu mobil untuk Alina keluar.


"Kamu bisa panggil teman satu lagi?"


"Ini masih hujan, pak, mungkin pada nggak mau."


"Bilang saja aku akan bayar sepuluh kali lipat,"


Putra masih kekeh, dengan meningkatkan kewaspadaannya Putra terus saja mengedarkan pandangannya, takut jika tiba tiba ada Erick datang.


"Baiklah," terpaksa ojol itu memanggil sahabatnya yang ternyata masih ada di luar.

__ADS_1


Dan mungkin nasib baik memang berpihak pada Putra, selang lima belas menit, kini Alina sudah duduk di jok belakang tukang ojek, begitu pun dirinya.


Selamat tinggal kak Erick, aku akan pergi dengan kehidupan baru lagi tanpa kamu.


__ADS_2