
Dua bulan semenjak pertemuannya dengan Erick mengubah segalanya. Kebersamaan yang tak terduga, bukan hanya berkumpul bersama keluarga pak Bima, namun kali ini Erick juga mengundang keluarga Om Indra untuk datang ke rumahnya.
Semua hanya bisa bergelak tawa melihat Erlin yang terus menari, dengan jalan sempoyongan bocah itu menciptakan tawa bagi mereka yang sudah tua.
''Ini kapan nambah lagi, Rick? Biar Erlin ada temannya main.'' tanya Tante Rasti menggoda.
Alina hanya menundukkan kepalanya malu, sedangkan dengan rasa percaya dirinya Erick malah tertawa keras.
''Baru produksi tante, doakan saja cepat jadi.''
Alina membulatkan matanya, wajahnya merah merona mendengar ucapan suaminya di depan seluruh keluarga.
''Nggak usah malu malu gitu.'' Tante Rasti menyenggol lengan Alina yang duduk di sampingnya. ''Tante sama Om Indra dulu juga gitu. iya kan, Pa?'' Sedikit meninggikan suaranya saat menyangkut sang suami.
Pak Indra yang sedang bicara dengan Pak Bima terpaksa menoleh.
''Iya.'' Jawabnya, padahal Pak Indra tak tau apa yang di maksud.
''Iya apanya, Pa?''
Pak Indra tercengang, bingung dengan pertanyaan Romi.
''Makanan kan?''
Semua kembali bergelak tawa mendengar ucapan Pak Indra yang ngawur saja.
''Iya makan malam di atas ranjang.'' Celetuk Diana.
Sigit yang ada di sampingnya seketika membekap mulut Istrinya yang ikut ikutan melantur.
''Bisa nggak sih lain kali nggak bahas ini lagi?'' kali ini giliran Putra yang sewot.
''Lo kenapa kamu marah, kalau kamu mau praktik tinggal cari kamar saja.'' sahut Erick dengan nada mesumnya.
Anton dan Melani hanya diam menjadi pendengar setia.
''Masalahnya aku lagi liburan kak.'' Putra tak kalah konyol.
Erna ikut tersipu.
''Maksud kamu?'' tanya Romi Dan Sigit serempak.
''Libur seminggu, masa kalian nggak paham juga.''
''O....'' Sigit dan Romi saling menatap dan manggut manggut, karena bagaimanapun juga sebagai seorang suami keduanya juga pernah merasakan itu.
''Pembahasan yang nggak berfaedah.'' Celetuk Alina, meninggalkan semuanya. Kupingnya merasa risih dengan apa yang di perbincangkan di ruangan itu.
Kini semua hanya bisa tertawa menunjukkan kebahagiaan masing masing.
Selang beberapa menit berlalu, semua menikmati makan malamnya. Hanya tinggal Alina yang belum keluar dari kamar.
''Kok kamu nggak susul Alina sih, Rick, apa jangan-jangan dia ketiduran?'' Tante Rasti mendongak menatap ke arah lantai dua.
Erick hanya mengangjat kedua bahunya, karena beberapa hari ini Erick pun jarang sekali makan bersama. Dan Alina memilih untuk makan camilan dari pada makanan berat.
Akhirnya Erick beranjak dari duduknya menuju kamarnya.
__ADS_1
''Sayang, kamu nggak kenapa napa kan?'' tanya Erick seraya menghampiri Alina yang duduk di tepi ranjang.
Alina menggeleng, namun wajahnya sedikit pucat dan tenaganya lemas.
''Kak, kayaknya aku mau muntah.'' Ucapnya.
Alina menahan perutnya yang persis mesin penggiling.
Erick mengingat sebelum mereka berpisah dua tahun lalu.
''Dulu kamu juga seperti ini lo, apa kamu sakit?''
Alina teringat dimana setelah itu dia pergi ke apotik untuk membeli tespack.
Dengan sigap Alina memeluk Erick dengan erat.
Apa jangan jangan aku hamil lagi?Batinnya.
Alina menatap wajah Erick yang nampak sedikit tegang.
''Kenapa? apa kita kedokter saja. Aku takut terjadi sesuatu sama kamu.''
''Nggak usah, mendingan sekarang kakak disini dulu, aku ke kamar mandi sebentar.''
Alina mengambil tespack yang ada di laci dan membawanya ke kamar mandi.
Sedangkan Erick hanya duduk manis di tepi ranjang seperti yang di inginkan Alina seraya menatap pintu kamar mandi yang kembali tertutup rapat setelah Alina masuk.
''Untung aku sempat beli ini.''
Dua puluh menit berlalu, Erick yang tak sabar itupun mendekati kamar mandi dan mengetuknya, tak berapa lama Alina membuka pintunya. Wajahnya berseri diiringi senyuman manis. Kedua tangannya bersembunyi di belakang.
''Kamu kenapa?'' Erick nampak penasaran.
Alina terus mengukir senyum di depan suaminya.
Sebuah kecupan mendarat di pipi Erick.
''Aku ada kejutan untuk kakak.''
''Apa?'' Erick semakin penasaran.
''Kakak tutup mata dulu dong, kalau masih buka kan nggak surprise.''
Tak mau berlama lama dengan hati yang dag dig dug, Erick menyetujui permintaan Alina.
Setelah Erick memejamkan mata, Alina memasang benda pipih nan panjang itu tepat di depan wajah Erick.
"Sekarang, buka mata kakak!"
Dengan perlahan Erick membuka matanya, dan betapa terkejutnya saat menatap benda yang ada di depannya itu menampakkan dua bergaris merah.
"Kamu hamil?"
Masih tak percaya dengan bukti itu, Erick juga perlu penjelasan dari bibir Alina.
Alina mengangguk pelan tanpa suara.
__ADS_1
Erick meraih benda itu dan menatapnya dengan lekat.
Itu artinya waktu itu Alina juga sudah hamil, dan saat aku pergi meninggalkaannya, dia sedang mengandung anakku.
Rasa bahagia bercampur sedih kini menyelimuti diri Erick, entah harus bilang apa, yang pastinya kabar itu sangat menggembirakan baginya.
''Maafkan aku.'' Ucapnya.
Erick merengkuh tubuh Alina, menciumi wajahnya bertubi tubi hingga tak memberi kesempatan Alina untuk menghindar.
Erick berlutut dan mengelus perut Alina yang masih rata. ''Papa akan jaga Mama, kamu, dan juga kakak Erlin, kalian adalah kehidupan papa, dan sedetikpun papa tidak akan meninggalkan kalian.''
Erick mencium perut Alina yang tertutup dress.
"Sekarang kita turun, kamu harus makan yang banyak supaya sehat."
Alina mengangguk mengikuti suaminya keluar dari kamarnya.
Masih seperti yang tadi, suasana di lantai bawah masih sangat ramai, kelucuan Neon dan Erlin saling menyahut memberi makna tersendiri bagi mereka.
"Karena saat ini semua berkumpul, aku ingin memberikan sesuatu yang tak kalah mengejutkan lagi untuk kalian."
Semua saling pandang dan menerka nerka dengan apa yang akan di berikan Erick.
''Apa?'' Serempak.
"Mau tau aja apa mau tau banget?"
"Bingiiitttt...." jawab seluruh penghuni rumah dengan gemuruh. Hingga seluruh pembantu Erick ikut berkerumun menunggu kejutan dari Erick.
Erick merangkul pundak Alina.
''Alina hamil.''
Semua menerbitkan senyum dan berhamburan memeluk Alina bergantian, Tante Rasti menangis bahagia mendengar ucapan Erick.
''Akhirnya Kak Tirta dan Kak Hani akan mempunyai cucu yang kedua.''
Erna, Melani, Sita dan Diana juga tante Rasti serta pembantu perempuan memberi selamat seraya memeluk Alina satu persatu.
"Kak," kali ini Sigit mendekati Erick yang ada di samping Alina.
"Aku boleh nggak peluk kak Alina untuk mengucapkan selamat?"
"Nggak!" seketika Erick mendorong tubuh Sigit hingga terhuyung.
Sedangkan Diana yang mendengar ucapan suaminya itu langsung mundur dan menarik telinga Sigit.
"Mau sampai kapan kecentilan terus, ha!"
''Aawwww.. Bercanda Yang, godain Kak Erick saja.'' Kilahnya.
Suasana makin riuh saja dan semua meluapkan kebahagiaan.
Kak Tirta, aku minta maaf karena sudah menyakiti kakak, dan aku juga ngak pantas hidup bahagia. Tapi aku akan membuat Erick dan Alina serta cucu-cucu kakak bahagia selamanya.
End
__ADS_1