Pernikahan Berselimut Dendam

Pernikahan Berselimut Dendam
Mulai terurai


__ADS_3

''Aku harus bicara sama kak Erick, semuanya harus jelas,'' untuk yang ke sekian kali Alina berharap ada titik terang akan permasalahan yang tak ia mengerti, dengan jalan yang masih tersenyok Ia keluar dari kamarnya menatap pintu kamar Erick yang tertutup rapat.


''Non mau ke mana?'' tanya Alex.


''Ke kamar kak Erick, aku mau bicara sama dia.'' Jawabnya.


''Kak, ini aku Alina,'' seru Alina seraya mengetuk pintu, rasa ingin tau yang begitu besar membuat antusiasnya semakin tinggi.


Tak ada jawaban, Alina kembali mengetuk.


''Kakak, buka pintunya!" Kembali meninggikan suara.


Ceklek, Pintu terbuka lebar.


Erick yang membukanya pun kembali memunggungi Alina.


''Ada apa?" Tanya nya dengan nada datar.


''Aku mau bicara, ini tentang hubungan kita.''


Erick berjalan kembali menuju sofa lalu duduk di sana, sedangkan Alina mengikutinya dari belakang mematung di samping tempat duduk Erick.


''Mau bicara apa, cepat katakan, aku tak punya banyak waktu?''


''Aku ingin penjelasan, sebenarnya kesalahan apa yang di perbuat papa sampai kakak membenciku seperti ini.''


Erick menyunggingkan bibirnya, darahnya kembali naik jika ingat tubuh kaku papa nya yang berlumuran darah, baginya itu adalah hal yang paling menyedihkan.


''Kamu mau tau?'' Erick kembali beranjak mendekati Alina.


Gadis itu hanya mengangguk.


''Kesalahan papa kamu tidak bisa di maafkan, karena sekarang dia sudah meninggal, kamu lah yang harus bertanggung jawab, karena dia sudah, _


Ucapan Erick tiba tiba saja menggantung karena ponsel yang ada di meja itu berdering.


Karena berisik Erick segera menerima panggilan tersebut.


''Iya Om, ada apa?'' tanya Erick.


Rick, om mau bertemu sama kamu, kamu bisa kan datang ke kantor kamu sebentar, ini penting.


''Apa ada masalah dengan perusahaan kita?'' tanya Erick sedikit kaget.


Tidak, ini masalah kamu sama Alina.

__ADS_1


Seketika Erickk menatap wajah Alina, dengan mata yang merah menyala Erick melempar ponselnya dan kembali mendekati Alina.


''Bicara apa kamu sama Diana?''


Alina menggeleng, wajahnya nampak takut saat Erick terus mengikuti jalan mundurnya.


''Aku nggak bicara apa apa, kami hanya ngobrol saja.'' jawab Alina, entah itu berdalih atau tidak, memang itulah kenyataannya.


Erick mencengkeram lengan Alina dengan kuat.


''Kalau hanya ngobrol, kenapa Om Indra mau bicara masalah kita, siapa lagi yang bilang kalau bukan kamu,'' menekankan Alina untuk menjawab.


''Oke, aku memang bilang ke Diana kalau kakak selalu menyakitiku, kenapa, apa salahnya, aku juga berhak di bela, bukan hanya disiksa.'' Jelasnya.


Merasa tertantang dengan omongan gadia itu,


Erick menarik lengan Alina menuju kamar mandi, seketika ia menyiram tubuh Alina dengan air dingin hingga basah kuyup. Tak ada ampun, dan tak ada belas kasihan, cintanya sudah terpendam oleh kebencian yang sudah menguasai dirinya.


''Kayaknya gudang belum cukup membuat kamu jera,'' ucapnya penuh seringai.


''Dan sekarang kamu butuh variasi baru, tunggu aku pulang.'' Lanjutnya, mendorong tubuh Alina hingga terhempas ke dinding.


Alina hanya bisa merosot menatap punggung Erick berlalu, meskipun kamar mandi itu tak tertutup rapat, namun Erick mengunci pintu kamarnya.


''Kalian jaga Alina, aku mau pergi sebentar.'' pesan Erick sebelum pergi.


Apa yang di katakan Alina pada Diana, tapi Om Indra juga harus tau kalau apa yang aku lakukan bukan tanpa sebab.


Di dalam gedung pencakar langit, Om Indra sudah menanti kedatangan Erick, hari libur, tak ada yang beroperasi kecuali satpam yang ada di sana, dan menurut pak Indra cukup aman untuk keduanya berbincang.


''Akhirnya kamu datang juga,'' lebih dari tiga puluh menit wajah Erick sudah berada di hadapannya.


''Om mau bicara apa?'' tanya Erick basa basi menghampiri Pak Indra dan duduk di sampingnya.


''Katakan yang jujur, apa masalah kamu dan Alina.''


Heh.... Erick tersenyum, ''Bukankah Diana sudah menceritakan semuanya, kenapa Om masih bertanya.''


''Rick, Om memang bukan orang yang dekat sama kamu, tapi Om sebagai orang yang lebih tua berhak tau alasan kamu membenci Alina.''


Tanpa suara Erick beranjak mengambil laptop dan amplop dari laci.


''Om lihat sendiri!" membuka laptop di depan Om Indra.


Sebuah putaran video yang membuat pak Indra membulatkan matanya, melongo, lima belas tahun yang lalu, semua berduka, air mata seakan membanjiri keluarga yang di tinggalkannya.

__ADS_1


"Video apa ini?" tanya Pak Indra penasaran. Padahal sudah jelas itu sebuah pertengkaran.


"Ini meeting antara papa dan Om Johan sebelum dia di bunuh," Jelasnya, seperti apa yang di katakan pak Bima.


Pak Indra terus menyaksikan perdebatan di video tersebut, pikirannya mulai menerka nerka apa yang di maksud Erick.


"Jadi maksud kamu Pak Johan yang membunuh kak Tirta?"


Tanya Pak Indra menatap Erick yang sudah menitihkan air mata.


''Siapa lagi? Om tau kan, kalau papa itu orang baik dan nggak pernah punya musuh.''


Pria itu kembali rapuh dan tak bisa diam begitu saja.


''Tapi kamu tau kan kalau mereka bersahabat.''


''Tapi dalam bisnis semua tidak mengenal sahabat, mereka tetap bersaing dan bisa melakukan apapun, yang penting sukses." Tegas Erick masih tak mau kalah.


"Apa ada bukti lain?"


"Apa ini belum cukup Om, mereka habis berdebat, dan malamnya papa terbunuh, aku lihat papa saat aku dan mama datang, tapi papa sudah tidak bernyawa, papa sudah di penuhi dengan darah, memang tidak ada satu orang pun di sana, itu artinya bukti mengarah ke om Johan, dan waktu itu mama langsung pingsan, untung ada om Bima yang membantu kami."


"Bima," ucap Pak Indra mengulangi, karena waktu itu pak Indra masih berada di luar negeri, dan pria itu tak tau seluk beluk dengan kejadian yang menewaskan kakak iparnya.


"Jadi Bima yang memberi bukti ini?" tanya Pak Indra lagi memastikan.


Erick mengangguk tanpa suara.


Apa apaan ini, dulu dia yang melarangku untuk mengusut kasus Kak Tirta, tapi kenapa sekarang dia memberi bukti pada Erick, apa maksudnya, sebenarnya ada apa.


Pak Indra menghela napas panjang menepuk nepuk punggung Erick, menenangkannya untuk tidak emosi.


"Tapi Rick, ini sudah berlalu, sekarang kamu harus pikirkan masa depan, kalau kamu membalas dengan cara menghukum Alina, permasalahan tidak akan selesai, kasihan dia."


"Jadi om membela dia, apa om nggak ingat ucapan mama yang menyuruhku untuk balas dendam." Erick masih tak terima, meski sudah berlalu, tapi goresan luka kehilangan papanya masih membekas.


"Ingat." jawab Pak Indra, namun kali ini tak mau bicara panjang lebar, karena sudah nampak Erick di liputi amarah, tak baik jika mereka saling bantah dan ujung ujungnya akan menjadi perdebatan.


"Ya sudah, sekarang kamu pulang, istirahat, tenangkan diri kamu, jangan terlalu kejam, Alina adalah gadis yang kamu cintai, tahan emosi kamu, jangan sampai kamu menyesal jika dia tidak ada di sisimu lagi."


Aku akan lebih menyesal jika aku tidak bisa membalaskan dendam untuk papa.


Pak Indra yang masih merasa ganjil hanya diam dan berkelana dengan otaknya, ingin mencari bukti yang lebih akurat.


Aku harus cari tau lagi, kalau memang benar pak Johan pembunuh Kak Tirta, aku bisa apa, tapi kalau tidak, siapa pembunuh yang sebenarnya.

__ADS_1


__ADS_2