
Setelah Alina berada di rumah Pak Indra, Ia menceritakan semua yang di ketahuinya tanpa meninggalkan sepatah kata pun, wanita itu terus menjelaskan secara gamblang apa yang di dengarnya dari pak Komar.
''Jadi kamu sudah bertemu dengan pak Komar?'' Tanya Pak Indra memastikan.
Alina mengangguk lalu mengambil sapu tangan yang masih di simpan di saku celananya.
''Apa ini?'' Pak Indra mengambil sepotong kain berwarna biru yang di letakkan Alina di atas meja.
''Itu adalah milik pembunuh papa Tirta yang sempat di ambil pak Komar. '' Jelas Alina.
Sama seperti Alina waktu di rumah pak Komar, pak Indra pun menjewer dan membaca tulisan yang tertera di pojok.
''Dugaanku benar, ternyata Bima pembunuh kak Tirta.''
Marah itu pasti, karena orang yang masih punya hubungan darahlah yang sudah tega menghabisi nyawa kakak iparnya.
Pak Indra mengepalkan tangannya, matanya tiba tiba saja memerah seperti mengeluarkan bara api yang membara.
''Papa tenang dulu, jangan gegabah,'' tutur Bu Rasti yang menyaksikan kemarahan pak Indra.
''Om,'' Alina menggenggam tangan Pak Indra.
''Aku mohon, Om jangan libatkan Pak Komar, kasihan dia sudah tua,'' ujarnya.
Pak Indra tersenyum, ''Kamu tenang saja, Om tidak akan melibatkan siapapun termasuk kamu, jangan keluar rumah, Dan kamu Diana,'' beralih menatap Diana yang ada di samping Alina. ''Jaga Alina, jangan sampai Bima tau semua ini, Biar Sigit yang menyelidikinya.''
''Pa,'' rengek Diana setelah Pak Indra menyebut nama Sigit.
''Kenapa?'' Tanya Pak Indra mengangkat kedua bahunya saat melihat Diana yang memanyunkan bibirnya hingga lima centi.
Sedangkan Romi, Bu Rasti, dan Alina hanya menatap wajah cemas Diana.
''Kok pak Sigit, anak buah papa kan banyak.'' Protes.
Seketika Romi menoyor jidat Diana, karena pria itu tau maksud dari Diana yang mengeluh.
''Diana, Sigit itu yang paling bisa di handalkan, jadi papa membutuhkannya dalam urusan ini, kalau anak buah papa itu badannya saja yang gede, tapi otaknya cetek, tapi, Sigit itu cerdas dan bisa kerja sama.''
''Bayarannya untuk aku,'' menengadahkan tangan ke arah Pak Indra.
Seketika Pak Indra menyerahkan kartu tipis idaman para wanita.
__ADS_1
Cih, Romi berdecih, ''Belum juga jadi istri sudah mau menerima gajinya, dasar cewek matre.'' ejek Romi.
''Biarin, iri bilang bos,'' Diana tak mau kalah, gadis itu masih kekeh menerima bayaran Sigit dari papanya.
Bu Rasti dan Alina hanya terkekeh melihat tingkah konyol Diana.
Ting tung... Suara bel berbunyi, meskipun sudah larut malam, Pak Indra tak mau mengulur waktu lagi, baginya malam ini semua rencananya harus di rancang secara perinci dan perfec, dan pak Indra tak mau ada kegagalan, dan berharap bisa membuktikan kalau tersangka itu adalah orang dalam.
Diana berlari membuka pintu, karena ia sudah tau siapa yang datang, pasti lah orang yang beberapa waktu lalu di telepon pak Indra.
''Bapak,'' sapa Diana cengar cengir.
''Kok bapak lagi, apa kamu lupa kalau aku maunya di panggil Mas,'' bisik Pria yang masih ada di ambang pintu. Agenda baru buat Sigit untuk menggoda Diana.
''Malam, mas Sigit,'' dengan wajah merah merona, Diana meralat panggilannya untuk Sigit.
''Gitu kan manis,'' mencubit pipi Diana.
''Kenapa nggak disuruh masuk!'' Ucap Pak Indra dari ruang tamu.
Karena sudah cukup bercanda, Diana menggiring Sigit menghampiri papanya.
''Alina, kamu ada disini juga,'' sedikit heran, pasalnya ia belum tau tujuan Pak Indra memanggilnya.
''Sigit, aku butuh bantuan kamu,'' ucap Pak Indra saat Sigit duduk di hadapannya.
''Pak sekretaris, mau tidak mau tugasnya harus berhasil, karena calon bini kamu sudah menerima bayarannya,'' ujar Romi menunjuk ke arah Diana yang menunduk dan memainkan ponselnya pura pura tak tau dengan tatapan Sigit.
Ah... kenapa sih kak Romi bikin malu saja, harusnya dia nggak bilang ke mas Sigit, kalau dia menganggap aku matre gimana.
Merasa terpojok, terpaksa Diana menahan malu, wajahnya bagaikan badut yang sedang memainkan perannya saya melirik ke arah Sigit.
Terpaksa Diana mengambil kartu yang sudah di simpannya itu dan menyodorkan ke arah Sigit.
''Apa ini?'' Tanya Sigit, tak ingin menyentuh benda itu.
''Itu bayaran dari papa buat kamu,'' jawab Diana merengut.
Tanpa malu Sigit menarik tubuh Diana hingga gadis itu terjerembab ke dalam pangkuannya.
''Buat kamu saja, kamu sudah menerima gajiku, itu artinya kamu juga sudah siap melayaniku,'' bisik Sigit di telinga Diana.
__ADS_1
Gadis itu hanya bisa menelan ludahnya dengan susah payah, bulu halusnya tiba tiba saja berdiri, merinding saat mendengar penuturan Sigit. Apalagi saat melihat wajah Sigit yang di penuhi dengan seringai.
Kenapa mas Sigit jadi mesum sih, apa dia memang seperti ini, atau hanya menakut nakutiku saja.
Sadar dengan keberadaannya yang bisa mengancam dirinya, Diana segera berdiri dari duduknya dan berlari ke kamarnya, tak peduli semua yang hanya bisa melihat tingkah konyolnya.
''Kamu bilang apa?'' tanya Alina, kali ini mencairkan hatinya yang sempat beku.
''Aku bilang, dia harus siap melayani aku seperti kamu melayani pak Erick.''
Plaakkk.... Alina menepuk lengan Sigit dengan kerasnya hingga membuat sang empu menyengir.
Pusing, itulah Bu Rasti yang memilih ke belakang, begitu juga dengan Alina yang memilih ke kamar karena sudah tak di butuhkan lagi. Sedangkan Romi masih ada di sana karena ia juga berbuat ingin membantu Pak Indra untuk menguak misteri yang lama terpendam.
''Sigit,'' Mulai serius dan tak ada canda seperti tadi.
''Kita harus selidiki bima, ada kemungkinan kalau pembunuh kak Tirta adalah Bima.''
''Apa?!'' Sigit terkejut, meskipun ia tau pak Bima tak begitu tulus menolong Erick, namun kasus ini Sigit benar benar tak menyangka.
''Dari mana om tau?''
''Alina.'' Jawab pak Indra singkat.
''Alina, dari mana dia tau?''
''Pak Komar, supir papanya yang kini tinggal di perkampungan kumuh.''
Sigit hanya manggut manggut mengerti, tak perlu banyak tanya pria itu langsung menangkap beberapa cara supaya Pak Bima membuka mulut.
''Sigit,'' panggil lagi Pak Indra saat Sigit berkelana dengan otaknya.
''Setelah kasus selesai, aku ingin kamu mempersatukan lagi Alina dan Erick, karena aku yakin mereka itu saling mencintaii, hanya saja masalah ini yang membuat Erick bingung.
Panjang lebar pak Indra mengatakan, karena selain om nya Erick, Pak Indra juga sangat menyayangkan jika mereka berpisah. Apa lagi cinta itu sudah terjalin dari kecil.
Sigit hanya garuk garuk kepala, bagaimana bisa dirinya yang belum punya pasangan harus bertugas mempersatukan Alina dan Erick, jelas lah dia iri dengan perintah pak Indra yang terakhir.
''Tenang bro,'' Kata Romi menepuk lengan Sigit yang nampak galau.
''Setelah kak Alina dan kak Erick bersatu, Papa sudah punya hadiah untuk kamu, jadi cepatlah berhasil, maka kamu akan cepat menerima hadiahmu,'' lanjut Romi lagi.
__ADS_1
Pak Erick, Alina, kalian jangan nyusahin aku ya, jangan memperlambat rencanaku untuk segera menikah, cepatlah baikan.