
''Aaaw..... sakit, kak, Alina memekik kesakitan saat tangan Erick mendarat tepat di kepalanya, dengan kuat dan kasarnya pria yang berstatus suaminya itu menarik rambut Alina.
''Apa salah Aku?'' Tanya Alina dengan suara tersendat, merasakan sakit akibat perlakuan Erick padanya.
''Kamu itu bodoh apa pura pura bodoh.'' Cecarnya tepat di telinga Alina yang masih setia duduk di depan cermin.
Tak niat melepaskan, Erick malah mencengkeram erat rambut Alina hingga sang empu meringis.
''Maksud kakak apa?'' tanya Alina ingin penjelasan secara detail. Ia benar benar tak paham yang di maksud suaminya.
''Apa yang kamu bicarakan sama Diana tadi siang?''
Deg, Alina terkejut dan tak bisa berkata apa apa lagi, mulutnya terkunci, tak menyangka perbincangannya tadi siang di ketahui oleh suaminya yang berada di kantor. Bodohnya yang mengira akan mudah, namun kini malah makin rumit.
Apa di rumah ini ada orang yang mengadu pada kak Erick tentang obrolanku tadi siang, tapi siapa.
''Kakak, aku minta maaf, aku tidak akan meminta Diana untuk membantuku keluar lagi, tapi lepaskan, aku mohon.'' Pinta Alina memegang pergelangan tangan Erick berharap cepat melepaskannya.
Seketika Erick mendorong tubuh Alina hingga tersungkur di lantai.
Erick ikut berjongkok dan mencengkeram dagu Alina dengan erat.
''Sekali lagi kamu bilang ke orang lain, aku pastikan kamu benar benar tidak akan berada di sini, dan jangan berharap kamu bisa bertemu Diana dan Putra.'' Kembali menarik lengan Alina dan menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.
Alina kembali terisak, meratapi nasibnya saat ini ada di genggaman seekor harimau yang ganas.
Mau sampai kapan kamu menyiksaku, kak, apa sebenarnya salah orang tuaku, sampai kamu begitu kejam memperlakukan aku seperti ini.
''Sekarang kamu turun, buatkan aku makanan.'' titahnya dengan memalingkan wajahnya.
''Kak,'' Alina meraih tangan Erick dan mematung di hadapannya sebelum melangkah.
''Jika orang tuaku pernah punya salah, atas nama mereka aku minta maaf, tapi beri kesempatan aku untuk menjadi istri yang baik buat kakak, aku janji, aku akan nurut.''
Dengan wajah melas Alina memohon, bukan lemah, hanya mencari cara untuk menaklukkan ego seorang Erick.
Pria itu menepis tangan Alina hingga kembali terjatuh.
''Sampai kapanpun aku tidak akan membiarkanmu hidup dengan tenang, jadi jangan harap belas kasihan dariku.''
Tak mempedulikan Alina yang berderai air mata, Erick kembali melangkah menuju pintu.
Beberapa kali kamu menyakitiku, dan kamu sendiri yang sudah memulai peperangan ini, bahkan kamu sudah lupa dengan semua janji kamu sendiri, dan aku pastikan suatu saat kamu pasti akan berlutut seperti aku.
Berulang kali hati yang tersakiti itu mengutarakan isinya, dan berulang kali Alina berharapkan indah pada masanya.
Setelah punggung Erick menghilang, John dan Alex masuk ke kamar Alina dan membantunya untuk berdiri.
__ADS_1
''Maafkan kami tidak bisa menolong Non,'' cicit John.
Alina tersenyum paksa, meskipun hatinya tersayat, kini John dan Alex sedikit menjadi obat di saat dirinya terpuruk.
''Tidak apa apa, pak, lagi pula ini tak seberapa, doakan saja aku kuat untuk melewati ini semua.'' mengelus rahangnya yang sedikit terasa perih karena tercakar kuku kecil Erick.
Kedua penjaga itu mengangguk lalu meninggalkan Alina yang sudah duduk di tepi ranjang. Tak bisa berbuat apa apa selain merasa iba.
Kejadian tadi siang, iya, itulah akibat Erick murka padanya, kebahagiaan kilat yang di rasakan bersama Diana hanyalah seutas tipuan yang ia rasakan.
Kini faktanya Alina kembali merasa tercabik cabik saat Erick memarahinya. Dengan sengaja pria itu menambah goresan luka di relung hatinya.
Aku harus turun dan membuat makanan untuk kak Erick.
Alina bangkit dari ranjangnya, sebelum menjalankan perintah sang suami, gadis itu pergi ke kamar mandi membasuh mukanya menutupi matanya yang sedikit sembab.
"Bibi..." serunya saat tiba di dapur.
Bi Irah yang sedang merapikan peralatan dapur sontak terkejut dengan kedatangan Alina di belakangnya.
''Non butuh sesuatu?" tanya Bi Irah ramah.
"Aku mau masak untuk kak Erick."
Tak ada jawaban, pandangan Bi Irah fokus di dagu Alina yang sedikit memerah.
"Den Erick menyakiti Non lagi?"
"Biasanya menu makan malam kak Erick apa ya, Bi?" tanya nya mengalihkan pembicaraan.
''Sandwich keju telur.'' jawab Bi Irah seraya menyiapkan bahan makanan yang akan di masak.
Alina tersenyum kecil mengingat masa kecilnya.
Ternyata tak Erick tak melupakan makanan Favorit kami.
Dengan antusias Alina mulai menyibukkan tangannya dengan bumbu dan peralatan dapur.
Kali ini Bi Irah hanya menjadi penonton dan sesekali memberi arahan karena Alina melarangnya untuk membantu.
Aaaa.... tiba tiba saja Alina menjerit seraya memejamkan matanya saat sesuatu terasa perih di jarinya. Gadis itu mengenggam erat jari telunjuknya.
"Non kenapa?" tanya Bi Irah panik.
"Kena pisau, Bi," rengeknya.
Bi Irah mencoba membuka genggaman tangan Alina.
__ADS_1
"Ya Tuhan, ini banyak darahnya Non, harus di obati." Lirih, berlari mencari kotak obat yang ada di laci.
Sedangkan Alina maaih mendesis dan mencuci tangannya menunggu Bi Irah datang.
"Ada apa, Bi?" tanya Erick yang baru saja turun dari tangga.
"Non Alina jarinya teriris pisau," ucapnya lalu pergi.
Tak terlihat khawatir sedikitpun Erick melanjutkan langkahnya menuju ruang makan yang ada di dekat dapur.
''Sini, Non.'' meraih tangan Alina yang terluka.
''Lain kali jangan melamun saja, untung saja lukanya kecil, meskipun pisau, ini bahaya.''
''Nggak apa apa Bi, Aku sudah terbiasa, jangankan luka sekecil ini, luka dalam pun aku sanggup menghadapinya.'' Sengaja mengucapkannya dengan lantang.
Dulu saat di gigit semut saja kamu nggak rela, dan sekarang, aku mati pun kamu nggak mungkin peduli.
Erick yang masih bisa mendengar ucapan Alina merasa tersindir, namun pria itu tetap diam dengan memainkan ponsel di tangannya.
Kurang lebih tiga puluh menit, Alina sudah selesai dengan aktivitasnya, ia menata makanan tepat di depan Erick yang sudah menunggunya dari tadi.
''Silahkan, Tuan, maaf lama karena ada kecelakaan sedikit,'' ucap Alina ketus.
''Lain kali aku nggak mau ada kejadian seperti tadi lagi.'' Timpal Erick.
Alina kembali memutar tubuhnya.
''Aku juga nggak mau ada kejadian seperti tadi, karena aku nggak rela darahku terbuang sia sia hanya untuk melayani orang yang sudah menyakitiku.''
Tanpa rasa takut Alina berucap lalu pergi.
Baru saja tiba di dapur, suara Erick memanggilnya kembali menembus gendang telinganya.
''Ada apa lagi?'' tanya nya setelah sampai di dekatya.
''Kamu mau meracuniku?'' Erick memekik dengan sorot mata tajam.
''Nggak, memangnya kenapa?'' tanya Alina.
Erick menggeser piringnya ke arah Alina.
"Coba saja!"
Dengan perlahan Alina mulai menyiapkan makanan ke dalam mulutnya dan mulai mengunyahnya.
Kok jadi asin banget ya, kayaknya takaran garamnya sudah pas, kok jadi kayak gini. batinnya.
__ADS_1
"Enak?" tanya Erick.
Alina hanya mengangguk, karena saking tak betah dengan apa yang di rasakan, Alina segera berlari meninggalkan Erick.