
''Nanti kita terlambat, Kak?''
Alina terus mengeluh dengan perlakuan Erick. sedikitpun pria itu tak mau melepas dirinya, padahal acara yang di jadwalkan hanya tinggal satu jam lagi, namun Alina dan Erick masih betah berada di balik selimut.
''Nggak akan.'' dengan mata yang masih terpejam pria itu menjawab, kedua tangannya masih melingkar erat di perut Alina.
Kalau kak Erick kayak gini aku nggak bisa datang dong, kan aku juga kangen sama Diana dan yang lain juga.
Alina memutar otaknya mencari cara untuk bisa lepas dari suaminya.
''Kak, nanti kalau Erlin nangis gimana?'' Nada merengek.
Erick langsung mengambil ponselnya, menghubungi Sigit dan Diana yang saat ini bersama putrinya.
Ada apa ya kak? tanya Diana dari balik telepon.
''Erlin gimana?'' Tanya Erick menyalakan mode loudsepeaker.
Tenang saja kak, Erlin nggak kenapa napa kok, kalau kakak ingin lihat langsung VC saja.
''Nggak usah, satu jam lagi aku datang.'' Tukasnya.
Erick mematikan sambungan telepon dan kembali meletakkan di tempat semula.
''Aku mau sekali lagi.'' Disertai senyum seringai.
Mata Alina membulat sempurna, baru juga berapa menit istirahat dari pertempurannya, kini bisa bisanya Erick mengatakan minta lagi.
Aaaaaahhh
Alina menjerit dalam hati, masih tak terima dengan permintaan suaminya.
''Tapi,__
Erick yang di landa kabut gairah pun tak memberi kesempatan Alina untuk bicara, hingga terjadi pergulatan kembali di atas ranjang tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Suasana gedung sudah sangat ramai, para tamu undangan sudah banyak yang hadir termasuk seluruh keluarga Pak Indra di sana.
Namun Erick dan Alina masih belum juga nampak, berkali kali Romi dan Putra sibuk menghubunginya, sedangkan Sigit sibuk mengurus Erlin.
''Apa jangan jangan Erick lupa?''
Romi dan Putra hanya mengangkat kedua bahunya, sedikitpun mereka tak mendapatkan informasi tentang keduanya.
Pak Indra ikut panik dan menatap ke arah luar gedung, pria paruh baya itu mondar mandir saat acara hampir saja di mulai.
Selang beberapa menit berlalu, akhirnya Pak Indra dan yang lain bernapas dengan lega saat melihat mobil Erick berhenti di depan gedung.
Dasar.
"Ayo dong sayang, kita turun!" entah yang ke berapa kali Erick membujuk Alina.
__ADS_1
"Enggak, kakak saja yang turun," masih kekeh, bahkan Alina mencegah Erick yang hampir saja melepas seat beltnya.
"Ini semua gara gara Kakak." Menyalahkan.
Alina menunduk dan sesekali melihat penampilannya dari kaca spion.
Erick menghela napas panjang lalu meminta maaf, pria itu ikut cemberut melihat Alina yang memprihatinkan.
Erick mencondongkan kepalanya ke arah kepala Alina.
''Kalau kamu nggak mau masuk, aku juga nggak mau.''
Alina mendorong tubuh Erick, hatinya masih saja kesal mengingat kelakuan Erick saat di atas ranjang.
''Kakak mau membuat aku malu di depan orang orang? lihat nih!"
Menunjuk lehernya yang di penuhi tanda merah.
Erick hanya menahan tawa, kenapa ia baru sadar kalau leher Alina kini seperti macan tutul. Dan semua itu adalah ulahnya.
"Aku tau caranya." Erick membuka tas yang ada jok belakang lalu mengambil kain yang bermotif bunga bunga.
"Pakai ini!" memberikan syal cantik untuk Sang istri.
Alina mengernyitkan dahinya dan kembali manatap gaun yang ia pakai.
"Kak, kamu nggak lihat baju aku?"
Erick kembali melihat baju yang beberapa jam lalu. "Lihat."
Karena tak juga turun, Om Indra yang makin sebel itu menghampiri mobil Erick dan mengetuk kaca mobilnya.
''Sayang, lihat ada Om Indra.''
Alina menoleh, rasanya ingin lenyap dari tempat itu supaya tidak malu, namun apa daya itu bukan dunia jin, dan bagaimanapun juga Alina harus tetap menghadapi kenyataan. Tak ada pilihan lain, akhirnya Alina mengambil kembali syal yang tadi dibuang dan memakainya.
Setelah leher Alian tertutup rapat, Erick membuka kaca mobilnya dan tersenyum.
''Sebentar lagi aku turun, Om tunggu saja di dalam.''
Pak Indra hanya menganggukkan kepalanya, matanya menatap curiga ke arah Alina yang hanya menunduk.
Alina kenapa ya, perasaan cuaca sangat panas kenapa dia pakai syal.
Tak mengulur waktu, terpaksa Alina ikut turun.
''Anggap saja tidak ada orang, hanya kita berdua.'' Erick menarik pinggang Alina hingga tak ada jarak.
''Ingat, hanya kita berdua.''
Meskipun banyak tamu berlalu lalang, Alina tetap mengingat kata kata suaminya yang baru saja meluncur.
Hanya kita berdua.
__ADS_1
Dengan percaya diri Alina menemani suaminya menemui para kolega bisnisya, meskipun sedikit risih dengan penampilannya sendiri, setidaknya Alina tak malu dengan lehernya yang tak berbentuk.
''Selamat datang kembali pak Erick. Sudah dua tahun tidak bertemu, ternyata pak Erick masih saja tetap tampan.'' Goda salah satu rekan bisnisnya.
''Bisa saja, sudah tua, Pak.''
Semua orang bergelak tawa mendengar bualan Erick, mereka ikut menikmati suasana yang sangat menggembirakan.
Sedangkan Alina hanya bisa mengulas senyum dan terus mengikuti langkah suaminya.
Suasana yang tadinya sedikit tenang kini makin bergemuruh, ruangan itu berdesak desakan di penuhi para tamu yang ingin menyongsong kedatangan Erick.
''Kak, mendingan aku nggak usah ikut.''
Erick malah mengeratkan pelukannya. ''Kamu harus tetap bersamaku,'' bisik Erick di tengah tengah tamu yang berkerumun.
''Kakak...'' teriak Diana dari ujung ruangan.
Alina yang sayup sayup mendengar itu celingukan mencari arah sumber suara.
''Diana.''
Setelah melihat sepupu suaminya, Alina menjawil pinggang Erick.
''Apa?'' tanya Erick di sela sela jabat tangan dengan salah satu tamunya.
''Aku mau sama Diana saja.''
Erick ikut menatap Diana dari jauh, ternyata benar saudaranya itu melambai lambaikan tangannya ke arah Alina.
Sebuah kecupan mendarat di pipi Alina sebelum pergi meninggalkannya.
Semua tamu hanya geleng geleng melihat keromantisan Erick, tak menyangka dulu pria yang terkenal angkuh itu menyimpan banyak sejuta kasih sayang untuk istrinya.
''Kakak kenapa pakai syal?'' tanya Diana di tengah tengah keramaian.
Alina hanya tersenyum kecut, tak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya.
''Nggak kenapa-napa, aku cuma nggak biasa pakai baju terbuka saja.'' Kilahnya.
Kini Diana membawa Alina ke sebuah ruangan khusus, disana hanya ada Melani, Sita, Erna dan juga dirinya serta Tante Rasti.
Sama seperti Diana, yang lain pun ikut heran dengan baju Alina.
''Nggak apa apa Al, buka saja, lagian di sini kan hanya keluarga, nanti kalau keluar pakai lagi.'' Goda tante Rasti, dan sepertinya wanita itu memang tau penyebab Alina pakai Syal.
''Aku malu tante.''
Diana tersenyum, menarik kain panjang dari leher Alina.
Jerit itu menggema, hingga Erlin dan Neon melongo melihat tingkah ibu ibu muda yang kayak ABG.
Semua hanya bisa menganga saat menatap leher Alina, tak bisa membayangkan bagaimana reaksi Erick saat membat maha karya itu.
__ADS_1
Kak Erick, awas kamu ya, pokoknya malam nanti aku nggak mau tidur sama dia. Ancam Alina dalam hati.