Pernikahan Berselimut Dendam

Pernikahan Berselimut Dendam
Putri


__ADS_3

Entah apa yang akan di katakan jika bertemu dengan Alina, namun antusias Erick semakin tinggi saat mendengar penjelasan Sigit mengenai perceraiannya yang batal.


''Kita harus cari kemana lagi kak, aku capek, tanganku pegel.'' Romi yang menjadi supir sudah mengeluh karena sudah berjam-jam mereka memutar kota, namun tak ada tanda tanda menemukan Alina.


Erick mengingat-ingat beberapa tempat tinggal Alina.


Apa mungkin dia kembali ke rumah bibinya.


Sigit hanya bisa diam dan sesekali pria itu menghubungi seseorang.


''Jalan terus, nanti aku tunjukkan.'' Entahlah hati Erick semakin yakin kalau ia akan ke rumah Bibi Alina.


''Kakak yakin kita ke sini?'' Dengan susah payah mobil yang Erick tumpangi itu masuk ke sebuah gang kecil.


Erick masih menatap kiri kanan memastikan kalau ia tak salah jalan.


''Iya,'' Jawabnya.


Semakin kesal dengan iparnya yang hanya memainkan ponsel, akhirnya Romi mematikan mesinnya.


''Sigit, sekarang gantian kamu yang nyetir, enak saja, disini aku yang tua, kenapa kamu yang santai.''


Sigit hanya berdecih dalam hati melihat abang iparnya yang kini sudah keluar dari mobilnya.


Ada senyum seringai saat melihat Romi ada di luar, dengan cepat Sigit mengunci pintunya dan beralih ke arah setir, lalu kembali menancap gasnya, meninggalkan Romi yang berkacak pinggang seraya menendang kaleng yang ada di depannya.


''Jangan bercanda Sigit, aku lagi serius.''


''Iya kak, maaf,'' akhirnya Sigit memundurkan laju mobilnya menghampiri Romi yang ada di belakang.


Seketika pria itu masuk dan menoyor jidat adik iparnya.


''Dasar adik ipar nggak ada akhlak, awas saja kamu berani ninggalin aku, aku pastikan kamu di pecat dari keluarga Dewantoro.'' Ancam Romi.


Sigit hanya bisa diam. Tak mau meladeni ucapan nyinyir Romi yang terus meluncur, kayak emak-emak kekurangan duit belanja.


''Stop,'' Ucap Erick menghentikan celoteh Romi.


Pria itu membuka kaca mobilnya, menatap sebuah rumah sederhana yang ada diseberang jalan, rumah itu nampak terbuka, itu artinya memang ada penghuni disana.


''Itu kan rumah bibinya Kak Alina,'' cetus Sigit yang masih ingat betul dengan bangunan yang masih belum berubah.


Erick mengangguk.


Sedangkan Sigit dan Romi langsung turun menjalankan perintah Erick.


Dengan langkah lebarnya kakak beradik itu menghampiri rumah yang di tunjuk Erick.


''Permisi.'' sapa Romi pertama kali, pria itu mendengar suara tangis seorang bayi dari dalam.


Tak ada sahutan, akhirnya Sigit mengetuk pintu dan kembali menyapa.


''Selamat siang, ada yang bisa saya bantu, Pak?'' Seorang laki laki keluar menemui Romi dan Sigit.


''Maaf pak, kami hanya numpang tanya, apa di rumah ini ada yang namanya Alina?''


Pria yang ada di hadapan Sigit dan Romi itu menatap penampilan keduanya dengan lekat.


''Bapak siapa ya? Terus dari mana? Dan kenapa mencari Alina?'' Tanya pria itu bertubi tubi.


Sigit mengulurkan tangannya.

__ADS_1


''Nama Saya Sigit, keluarga suami Alina, dan kami kesini ingin bertemu dengan dia.''


Pria itu menerima uluran tangan Sigit dan mengangguk.


''Siap, ___


Suara cempreng dari dalam itu berhenti saat mendapati Sigit dan Romi.


''Pak Sigit, Bang Romi.''


''Alina,'' ucap Sigit


Sontak pria itu menghampiri Alina yang sedang memberi susu ke bayinya.


Mata Alina berkaca, sejak kembali ke kota ia memang tak ingin menemui keluarga Pak indra, karena itu hanya akan membuatnya mengingat masa lalunya bersama Erick saja.


''Bapak mau apa kesini?'' Tanya Alina.


Sigit menatap ke arah Romi yang ada di belakangnya.


''Panggil saja Sigit, sekarang aku adalah suami Diana.''


Alina tersenyum, tak menyangka dia ketinggalan momen bahagia Sigit dan Diana.


''Aku juga sudah punya Istri kak, Romi mengangkat jari telunjuknya.


''Semoga kalian bahagia, maaf aku nggak bisa datang.''


''Silakan duduk!" Adi memersilahkan keduanya untuk singgah di ruang tamu yang sempit.


"Kalian mau apa datang ke sini?"Tanya Alina lagi.


Alina mengangguk tanpa suara, raut wajahnya kembali gundah saat membahas tentang putri kecilnya.


"Kakak sudah menikah lagi?" Romi makin menyelidik.


Alina tersenyum lalu menggeleng.


"Lalu?" kini giliran Sigit yang minimpali.


"Dia putri kak Erick."


Deg, jantung Romi dan Sigit berpacu dengan cepat setelah mendengar penjelasan Alina.


"Maksud kakak apa?" Tanya Sigit memastikan.


Bayi itu tersenyum saat menatap kegugupan Romi dan Sigit, mungkin menganggap kedua pria itu pelawak.


Dari pada Sigit dan Romi salah paham, akhirnya Alina menceritakan semuanya.


"Sebenarnya waktu pak Sigit datang ke rumah, aku mau bilang ke kak Erick kalau aku hamil. Tapi semua terlambat, kak Erick terlanjur pergi, dia tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan sama sekali, dan akhirnya aku memutuskan untuk merawat bayiku sendiri di tempat yang jauh dan aman.''


Sigit dan Romi hanya diam mendengarkan cerita Alina.


Hatinya merasa terenyuh, membayangkan selama dua tahun Alina harus hidup sendiri dengan bayi di kandungannya tanpa seorang suami dan orang tua.


"Kak, seandainya kak Erick kembali, apa kakak masih mau menerimanya?"


Alina menatap Adi yang ada di sampingnya.


Wajah pria itu nampak datar tanpa ekspresi.

__ADS_1


"Dia adik aku satu satunya, dan aku tidak akan membiarkan dia terluka lagi, jadi jika kedatangan Erick hanya untuk menyakitinya, lebih baik mereka cerai." Tukas Adi.


Sigit dan Romi saling pandang lalu kembali menatap Alina.


"Kak, apa kakak masih mencintai Kak Erick?" Tanya Romi, pria itu bagaikan polisi yang mengimintidasi tersangka.


Aku masih sangat mencintainya. Tapi jika dia datang hanya untuk menyakitiku, lebih baik aku mundur saja.


"Sekarang aku tidak butuh cinta, tapi aku butuh kepercayaan, karena dalam rumah tangga yang paling penting harus saling percaya.''


Alina mengusap air matanya dan mencium pipi gembul putrinya.


"Siapa namanya kak?" Tanya Sigit.


"Namanya Erlin."


"Wah, kayaknya cocok nih sama Neon." Romi yang gemes mengambil alih Erlin dari tangan Alina.


"Kak, boleh nggak aku ajak keluar?"


"Boleh, asal jangan sampai nangis."


Tenang ya dek, kita akan bertemu papa.


Segera Romi membawa bayi Erlin menuju mobilnya yang terparkir sedikit jauh. Setelah menoleh ke kanan kiri yang sepi, Romi langsung masuk ke dalam.


Tanpa minta izin, pria itu meletakkan Erlin di pangkuan Erick.


"Lucu sekali, dia bukan anak Sigit kan?" tanya Erick saat menatap setiap jengkal wajah yang terlalu imut.


"Ayo tebak anak siapa ini?" Romi basa basi seraya mengelus rambut Erlin yang sedikit merah.


Apa dia putrinya Alina.


"Masa sih kak, nebak kayak gitu saja nggak bisa." Meremehkan.


Romi berdecak lau meneguk air mineral di dalam botol.


"Anak Alina kan?"


Romi mengangkat kedua jempolnya di depan Erick.


"Dan kakak tau nggak siapa papanya?"


Erick mengernyit lalu menggeleng, "Mungkin saja pria yang waktu itu menemani Alina di rumah sakit."


"Salah." cetus Romi seketika.


Romi mengambil ponsel miliknya dan memotret wajah Erlin dan Erick.


"Dia adalah putri kakak."


Erick kembali mengangkat bayi itu lalu mencium pipi gembulnya meninggalkan satu tetes air matanya disana.


"Katakan sekali lagi Rom! Dan aku harap aku nggak salah dengar."


Romi tersenyum.


"Namanya Erlin, dia adalah putri kakak dan kak Alina."


Tangis Erick pecah seketika mendengar pernyataan dari Romi.

__ADS_1


__ADS_2