
Semburat jingga masih nampak indah, namun tak seindah hati Alina saat ini, tatapan Erick begitu tanjam seakan busur panah yang siap meluncur menancap ke jantung dan hatinya.
Pria yang baru saja masuk itu terlihat membendung amarah yang mendalam.
''Kakak kenapa?'' Alina menggoyang goyangkan lengan Erick yang masih saja diam seribu bahasa, rahangnya yang kokoh makin mengeras saat pria itu mengeratkan giginya.
''Kamu mau tau aku kenapa?''
Alina mengangguk, karena ia benar benar tak tau penyebab kemarahan suaminya.
''Apa yang kamu lakukan tadi pagi sama Putra?'' tanya nya.
Alina menggeleng, hatinya kembali mengingat kebaikan Putra tadi pagi.
''A... aku tidak melakukan apa apa, kak,'' jawab Alina gugup, bahkan gadis itu menunduk dan tak berani menatap mata Erick yang semakin menyala.
''Jangan bohong.'' Teriak Erick lagi.
Alina hanya bisa mengernyit mendengar suara keras suaminya.
''Aku nggak bohong, aku tidak melakukan apa apa,'' jawabnya lagi berusaha jujur.
Namun bukan Erick yang percaya begitu saja, pria itu menarik tangan Alina dan membawanya berjalan menuju kamar.
''Kak sakit.'' Keluh Alina dengan lutut yang masih luka gadis itu berjalan dengan tertatih tatih mengikuti langkah lebar Erick.
''Aku memang memberi kebebasan ke kamu, tapi bukan berarti kamu berani beraninya bermesraan dengan pria lain di rumah ini.''
Harus dengan cara apa supaya kamu percaya kalau aku tidak melakukan itu kak.
Alina hanya bisa bicara dalam hati, mencoba mencari pegangan untuk menghentikan langkah Erick. Namun nihil, tenaga Erick yang bagaikan monster itu siap membanting tubuhnya, dan Alina hanya perumpamaan kapas yang bisa di ombang ambingkan ke mana saja.
__ADS_1
''Siapa yang bermesraan, bang Putra hanya menolongku saat aku jatuh.''
Hahahaha.... Erick tertawa terbahak bahak, tak menghiraukan Alina yang sudah hampir tersungkur.
''Tapi apa namanya jika seorang perempuan ada di gendongan laki laki yang jelas jelas bukan suaminya, heeemm....Apa kamu masih bisa ngelak?'' Masih menyeret Alina.
Kali ini Alina sudah jengah untuk memberi alasan dan lebih memilih diam.
Setelah sampai di kamarnya, Erick menghempaskan tubuh Alina di atas ranjang.
Alina hanya menggelengkan kepalanya saat melihat Erick melepas dasi yang membelit lehernya seharian penuh.
''Kakak mau apa?'' tanya Alina ketakutan, gadis itu terus meringsuk mundur mencari cara untuk bisa lepas dari suaminya.
''Aku mau kamu melayaniku. ''ucap Erick menyeringai, pria itu merangkak mendekati Alina yang berbaring.
''Tapi nggak gini caranya, kak.'' Alina mengangkat tangannya menahan tubuh Erick yang hampir saja menyentuhnya.
Seketika Erick menepis tangan Alina dan mencium bibirnya dengan paksa, apa yang bisa di lakukan Alina kali ini, oh tidak, gadis itu sudah terjerembab di bawah kungkungan suaminya, bahkan kedua tangannya sudah terkunci dan tak bisa apa apa, bibir Erick terus beraksi dan tak memberi jeda sedikit pun, tenaga yang begitu perkasa membuat Alina bagaikan kelinci yang lemah dan hanya menerima perlakuan Erick.
Bahkan Erick sudah tak peduli dengan air mata Alina yang menetes di pelipisnya. dengan teganya pria itu membuang seluruh pakaian Alina dengan asal hingga kini keduanya saling polos tanpa sehelai kain.
''Kak aku mohon,'' dengan suara serak Alina masih mencoba mengiba, namun tidak bagi Erick yang terus melanjutkan aksinya hingga keduanya saling menyatu di atas hati yang pilu.
Ini sangat menyakitkan bagi Alina di saat suaminya dengan paksa merenggut keperawanannya, bahkan Erick tak memberi ampun pada gadis itu sedikitpun demi sebuah ego, hingga Erick merasa puas untuk menyalurkan hasrat, meluapkan amarahnya yang menggebu sejak beberapa jam yang lalu.
Kurang lebih satu jam Erick menjamah istrinya, kini pria itu ambruk di samping Alina. Sedangkan wanita itu hanya bisa terisak, menarik selimut dan menutup seluruh tubuhnya memunggungi Erick merasa jijik dengan dirinya, meskipun Erick suaminya Alina merasa bagaikan wanita murahan.
Aku kira kamu berubah dan mencintaiku. Tapi aku salah, ternyata kamu hanya serigala yang berbulu domba.
Alina menoleh setelah mendengar dengkuran napas halus dari arah suaminya.
__ADS_1
Kamu benar benar penjahat, aku benci kamu, ucap Alina dalam hati.
Alina yang tak betah dengan dirinya itupun beranjak, membawa selimut besarnya menuju kamar mandi, meskipun rasa sakitnya bertubi tubi di beberapa bagian sensitifnya serta lututnya yang masih memar, Alina tak peduli, baginya saat ini lebih baik menjauh dari Erick.
Tanpa menunggu waktu, Alina mengguyur seluruh tubuhnya dengan air shower, sesekali gadis itu menggosok badannya yang kini banyak bekas bibir suaminya.
''Aku benci kamu, kak Erick aku benci,'' teriak Alina memukul tembok lalu merosot duduk, hatinya kini hancur berkeping keping, harapannya untuk memulai hidup baru kembali meredup, Alina hanya bisa meratapi nasibnya yang terlalu sial untuk di nikmati.
Maaf kak, kali ini sudah tidak ada tempat lagi untuk kamu, meskipun aku istri kamu, tapi hatiku tidak, kamu sudah menyia nyiakan kesempatan dariku, dan aku tidak akan lagi termakan rayuanmu. Aku berjanji, demi papa dan mama, aku tidak akan membuka hatiku untuk kamu, lebih baik aku menjadi janda dari pada harus punya suami seperti kamu.
Alina kembali menitikahn air matanya bersamaan air yang terus mengalir membasahi tubuhnya.
Sedangkan Erick yang sudah membuka mata dari tadi hanya bisa menatap ke arah sprai yang terkena noda merah.
Alina.
Tiba tiba saja hatinya memanggil nama kekasih kecilnya, jantungnya bergetar saat menatap pintu kamar mandi.
Tidak, itu belum setimpal dengan apa yang sudah di lakukan orang tua kamu, aku bahkan bisa melakukan yang lebih buruk dari ini.
Erick mengepalkan tangannya, ternyata mengambil mahkota Alina adalah permulaan misinya yang mulai berjalan, dan pria itu masih kekeh ingin balas dendam pada gadis yang tak tau apa apa tersebut.
Satu jam lebih Erick hanya bisa menatap layar ponselnya, dan sesekali mengedarkan pandangannya ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat, bahkan suara gemericik air itu masih terdengar menembus gendang telinganya.
Apa yang di lakukan di dalam, apa dia tidak kedinginan.
Cemas, itulah yang Erick rasakan saat ini, dengan sigap Erick kembali memakai pakaiannya yang berserakan di lantai lalu mendekati pintu kamar mandi.
Baru saja tangannya ingin mengetuk, pintu sudah di buka dari dalam, Erick kembali menarik tangannya.
''Apa kakak puas sudah menyakitiku?''ucap Alina tersendat, matanya yang sembab itu tak bisa lagi mengeluarkan air mata karena sudah mengering.
__ADS_1
Tak menjawab apapun, Erick malah pergi minggalkan Alina.
Erick yang berada di depan kamarnya tak mengerti dengan apa yang terjadi, di satu sisi ia ingin membalaskan dendam orang tuanya di sisi lain hatinya nyeri saat melihat Alina.