Pernikahan Berselimut Dendam

Pernikahan Berselimut Dendam
Sindiran


__ADS_3

Dua hari di rawat, Alina sudah bisa tersenyum renyah, apa lagi Diana sang baby sister selalu bercanda yang tak ada henti hentinya, dan itu membuat kesehatan Alina makin stabil saja.


''Nanti kalau kamu sudah nikah, mungkin suami kamu bukan makin tua, tapi malah makin muda,'' cetus Alina saat membereskan baju ke dalam tas, karena hari ini Alina sudah bisa pulang.


''Itu artinya aku yang tua duluan dong, kak?'' tukas Diana.


Alina menghentikan aktivitasnya dan mendekati Diana.


''Kok bisa?''


''Ya bisa lah, kita sebagai perempuan kan harus mengandung, melahirkan, ngurus anak, sedangkan suami hanya kerja, kalau di rumah menuntut haknya, enak banget tu jadi laki.''


Eheemmm..... tiba tiba saja suara deheman dari pintu itu menyambar.


Alina dan Diana menoleh, ternyata Sigit yang datang.


''Pak Sigit,'' seru Alina dan Diana serempak.


''Mana bisa laki laki awet muda, lihat aku!" membenarkan jas yang di pakainya. "Masih muda, tampan begini saja sudah di panggil pak, apa lagi nanti punya anak satu, bisa bisa di panggil kakek."


Alina dan Diana hanya menahan tawa mendengar ucapan absurd Sigit.


Mengalihkan pembicaraan, "Bapak mau apa kesini, kan aku sudah mau pulang?" tanya Alina yang sudah siap untuk jalan.


"Mau jemput kamu," sahut Erick yang baru saja datang.


Alina kembali meletakkan tas bajunya dan menghampiri Erick.


"Kak, aku minta maaf, untuk sementara aku akan tinggal sendiri."


"Kenapa?" tanya Erick, sedikit tak terima dengan pilihan Alina.


"Aku butuh waktu untuk menerima kamu kembali, aku nggak mau kejadian yang lalu terulang lagi, aku ingin kita sama sama belajar, bagaimana menghargai pasangan kita."


Dengan berat Alina mengatakan itu semua di hadapan Erick, tapi itulah yang harus di lakukan supaya Erick tau apa arti sebuah pernikahan.


"Apa kamu yakin?"


Alina mengangguk dan meraih tasnya lalu keluar.


Diana hanya bisa mengikuti Alina dari belakang, begitu juga dengan yang lain.


Berulang kali kamu menyakiti aku, tapi cintaku tak pernah pudar hanya waktu yang akan menjawab, jika kamu serius pasti kamu akan memperjuangkan aku.


"Di, aku minta maaf ya, sudah merepotkan kamu, untuk sekarang aku akan naik angkut saja."


"Nggak, kakak nggak boleh naik angkut, sekarang kakak tinggal pilih, mau naik mobil siapa." Menunjuk mobil yang berjejer di sana.


"Kalau kakak nggak mau naik mobil aku, Kakak bisa naik mobil Kak Erick, tapi jangan naik angkut."


Alina kembali menoleh menatap Erick yang mematung di belakangnya dengan kedua tangan yang di masukkan ke dalam saku celananya, sedangkan Sigit sudah membuka pintu mobil miliknya.

__ADS_1


Tinggal selangkah lagi Alina naik, sebuah mobil datang tepat di samping mobil Erick.


"Bang Putra," memekik, Alina terkejut, kenapa bisa bersamaan mereka datang.


"Alina kamu sudah mau pulang?" tanya Putra meraih tas yang dari tadi menggantung di tangan Alina.


"Aku antar kamu, dan aku sudah siapkan rumah untuk kamu," menarik tangan Alina menuju mobilnya.


Ternyata bang Putra sudah mencarikan tempat untukku.


Bukan tanpa alasan, karena Putra lah satu satunya orang yang di minta oleh Alina untuk mencarikan kontrakan.


"Tapi, Bang," Bahkan ucapan Alina terpotong saat Putra membukakan pintu mobil untuknya.


"Diam, sekarang lebih baik kamu fokus dengan kehidupan baru kamu. Lupakan masalah kamu."


Terpaksa Alina mengikuti Putra untuk ikut dengannya.


Sebelum mobil Putra benar benar berlalu, Alina kembali menatap Erick yang masih di tempat.


Aku mencintai kamu kak, jika kamu memang masih mencintaiku, rebut hatiku, yakinkan aku untuk bisa memilihmu.


"Sigit kita pulang sekarang."


Tak perlu menunggu sesuatu yang tak menghasilkan apa apa, Erick pun masuk ke mobilnya.


"Kamu tidak apa kan, Al?" tanya Putra mencairkan suasana, karena Alina hanya diam dan terus bergelut dengan otaknya untuk menyusun masa depannya.


"Soal rumah jangan di pikirkan, aku sudah menyewanya untuk dua tahun ke depan, jadi kamu nggak perlu buru buru untuk kerja." Timpal Putra.


Alina tersenyum. "Bang, aku kangen sama Erna, abang mau nggak nganterin aku ke rumahnya!"


Putra melihat jam yang melingkar di tangannya, ternyata sudah jam tiga sore, itu artinya Erna sudah pulang dari restoran.


"Boleh, kita ke sana sekarang ya, dan ini untuk kamu."


Menyodorkan sebuah paper bag untuk Alina.


Tanpa bertanya gadis itu membuka isi tas itu.


"Nggak usah, bang, ini terlalu berlebihan, nanti kalau aku sudah punya uang aku akan beli sendiri."


"Al, nolak rejeki itu nggak baik, terima saja, aku ikhlas kok."


Sebenarnya aku butuh ponsel, tapi nggak enak juga, selama ini bang Putra sudah begitu baik menolongku dan mencarikan ku tempat tinggal, aku nggak boleh manja.


"Nggak usah, Bang, lebih baik abang simpan saja."


Alina mengembalikan pemberian dari Putra tepat di pangkuannya.


Selang beberapa menit, kini Putra mendaratkan mobilnya tepat di depan rumah Erna dan itu membuat Alina heran.

__ADS_1


"Dari mana bang Putra tau rumah Erna?" tanya Alina menyelidik.


"Aku pernah nganterin dia waktu nggak bawa motor," jawab Putra.


Alina hanya mnaggut manggut mengerti.


"Permisi..." Seru Alina seraya mengetuk pintu rumah itu.


Sedangkan Putra berada di belakang Alina.


Baru beberapa kali ketukan, pintu terbuka dengan lebarnya.


Alina langsung memeluk wanita yang sedang berdiri di hadapannya.


"Erna, aku kangen sama kamu." Ucap Alina mengharukan, bahkan wanita itu dengan eratnya merengkuh tubuh Erna, namun tidak bagi sahabatnya yang menatap tajam ke arah Putra.


"Aku juga," jawab Erna datar.


Alina melepaskan pelukannya dan menatap lekat wajah Erna yang sedikit suram.


''Kamu kenapa Er, sakit?'' tanya Alina menempelkan punggung tangannya di jidat Erna.


Iya, aku sakit hati karena bang Putra tidak menepati janjinya demi kamu.


"Kita masuk yuk!" ajak Erna mengalihkan pembicaraan.


Putra ikut masuk dan duduk di samping Alina.


"Bu, ada Alina di depan," ucap Erna menghampiri Bu Haya yang ada di dapur.


Segera wanita tua itu ke ruang tamu menemui Alina dan Putra.


"Alina, Putra, kalian apa kabar?"


Kedua tamu itu bersalaman dengan Bu Haya yang memang sudah mereka kenal.


"Kami baik, Bu, Ibu sendiri gimana kabarnya?"


Bu Haya terlihat menghembuskan napas kasar.


"Sedikit tak baik, jawabnya lesu. "Karena beberapa hari Erna,_


"Aku kurang enak badan, Al." Sahut Erna yang baru keluar membawa minuman.


"Maaf ya, Er, aku nggak bisa jenguk kamu, karena aku ada masalah sedikit."


"Nggak apa apa, aku tau kok, apapun tentang kamu itu lebih penting, kalian dari mana saja?" tanya Erna ketus.


"Aku nggak bisa cerita ke kamu, ini masalah keluarga, jadi maaf ya, Er."


''Tidak apa apa, tidak semua apa yang ada di diri kamu aku harus tau, termasuk hati kamu kan?''

__ADS_1


Alina sedikit tersindir, entah, ucapan Erna terasa menusuk kalbu.


__ADS_2