
Dengan perlahan Putra membuka pintu yang sedikit lapuk, mendekati Alina yang sedang berbaring dengan mata terpejam. Ada rasa iba melihat Alina yang masih demam karena kehujanan malam itu.
Seandainya waktu itu aku yang menikahi kamu duluan, pasti kamu tidak akan seperti ini, aku akan membahagiakan kamu, dan sedikitpun tidak akan menyakiti kamu, betapa bodohnya kak Erick sudah menyia nyiakan kamu.
Hampir saja tangan Putra membelai pipi mulus Alina, wanita itu mengerjap ngerjapkan matanya, spontan Putra menarik tangannya kembali dan mengulas senyum.
''Maaf tadi ada nyamuk.'' Kilahnya.
''Bang Putra sudah pulang?'' Tanya nya, dengan bantuan Putra, Alina mencoba untuk mengangkat kepalanya yang masih terasa berat.
''Ini obat untuk kamu.'' membuka kantong kresek yang baru saja di belinya.
Setelah membantu Alina meminum obat, Putra duduk di lantai menyandarkan punggungnya di tepi ranjang.
''Abang kenapa?'' tanya Alina membuka selimut yang menghangatkan tubuhnya selama dua malam ini.
Nggak mungkin aku bilang ke Alina kalau aku dan dia jadi buronan kak Erick, tapi nggak mungkin kita akan seperti ini terus, kasihan Alina. Batin Putra.
Setelah melihat tontonan TV di warung, Putra merasa was was dengan keselamatan Alina.
''Aku nggak apa apa kok, cuma capek saja, sekarang kamu istirahat, aku akan menemani kamu disini.''
Putra melepas topi dan kaca matanya, membongkar beberapa baju untuk dirinya dan Alina.
''Sekarang kita di mana sih bang, apa kita jauh dari kak Erick?''
Putra mengangguk tanpa suara, meskipun tak keluar negeri, Putra pun merasa kalau tempat yang di singgahi saat ini aman untuk sementara. Apa lagi ia sudah menghapus semua jejak dirinya.
''Ini rumah siapa, Bang?'' tanya Alina menatap setiap sudut ruangan yang sudah lapuk.
''Nyewa, maaf ya, aku nggak bisa memberi tempat tinggal yang bagus, uang kita nggak cukup, papa sudah blokir kartu aku.''
Alina mengangguk, ada rasa menyesal karena sudah menyusahkan Putra, namun saat Ini Alina masih belum siap untuk bertemu dengan Erick kembali.
''Bang Putra, sebaiknaya bang Putra pulang, aku berani kok disini sendiri.'' Mencoba untuk kuat meskipun saat ini ia takut tanpa sandaran.
Putra berdiri dan duduk di samping Alina, keduanya menatap kedepan luar jendela.
__ADS_1
''Tidak, aku akan tetap menemani kamu, kita akan keluar sama sama, kita akan menghadapi kak Erick bersama.''
Alina sedikit mengundurkan duduknya, merasa canggung saat mendengar suara Putra yang terlihat sangat tulus, sedangkan mereka hanya berdua berada dalam satu atap, apa lagi yang mereka tempati di pinggir perkampungan.
''Apa kamu sudah merasa baikan, kening kamu masih panas?'' Menempelkan punggung tangannya di jidat Alina.
''Nggak apa apa, nanti malam biar aku yang tidur di kursi.'' Menyungutkan kepalanya ke arah kursi kayu yang ada di samping ranjangnya.
''Alina Alina, kamu takut, aku nggak akan ngapa ngapian kamu, tenang saja, kamu itu sepupu iparku, aku hanya akan menjaga sampai waktu yang pas untuk kita keluar.''
''Tapi aku nggak mau kembali sama kak Erick?'' Jawabnya seketika, semenjak kejadian malam itu Alina benar benar menutup pintu hatinya untuk pria yang kini masih berstatus suaminya.
''Maksud kamu?'' Putra memastikan, karena selama ini Putra belum tau pasti apa yang terjadi dengan Alina dan sepupunya.
''Aku mau cerai sama dia, bang Putra, tolong bantu aku untuk berpisah darinya, aku sudah nggak bisa lagi untuk bersamanya.''
Kali ini Alina sangat yakin akan keputusannya, Ia tak mau menoleh ke belakang dan berharap ada laki laki yang baik yang mau menerima apapun keadaannya.
''Aku akan bantu, tapi bukan sekarang.''
Alina mengerti dan percaya bahwa Putra lah saat ini satu satunya orang yang bisa membantunya, meskipun ia sendiri tak tau bagaimana, setidaknya menyanggupi permintaan Alina membuat gadis itu lega.
''Bang, aku takut,'' ucap Alina berbisik, meraih kembali selimutnya.
''Jangan takut, ada aku di sini, kamu diam saja, aku akan keluar.''
Putra memakai kembali kaca mata hitam dan topinya laku keluar untuk membuka pintu.
Putra bernafas dengan lega setelah tau siapa yang datang.
''Iya ada apa ya, Bu?'' ternyata yang punya rumah itu yang datang.
''Ini saya ada sedikit makanan, saya lihat kemarin istri tuan sakit, semoga lekas sembuh.'' menyodorkan rantang makanan ke arah Putra.
Dengan senang hati Putra menerimanya, apa lagi, tadi pagi Putra hanya membeli nasi dua bungkus untuk mereka berdua.
''Terima kasih ya, Bu, istri saya baik baik saja kok, cuma demam karena kehujanan,'' jawabnya.
__ADS_1
''Memangnya Tuan ini kenapa pindah ke kampung?''
''Rumah saya di gusur, karena milik pemerintah.'' Sebuah alasan yang tiba tiba saja meluncur dari bibir tak bertulang Putra dengan lugasnya.
Ibu itu hanya manggut janggut mengerti.
''Baiklah, kalau gitu saya pulang dulu, salam untuk istri, Tuan.''
Putra mengangguk lalu kembali menutup pintu rumahnya setelah ibu itu memutar tubuhnya memunggunginya.
Aneh, di dalam rumah tapi pakai topi dan kaca mata. apa itu memang kebiasaannya? Batin Wanita yang kini sudah keninggalkan rumah Putra.
Alina yang sempat menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut kembali menyibaknya dan bangun mengahampiri Putra yang sedang duduk di ruang tamu dan membuka makanannya.
''Kenapa Bang Putra bilang kalau aku istri Abang?'' tanya nya, meskipun kemarin masih samar samar dengan pendengarannya, tapi kali ini Alina ingin memastikan sendiri.
''Heemm.....memangnya kenapa? apa aku harus bilang kalau kita berteman, pasti mereka tidak akan mengizinkan kita tinggal satu rumah.''
Benar juga apa kata bang putra, nggak apa apa deh, yang penting tempat ini aman dari kak Erick.
''Sudah, ayo makan, pasti kamu lapar,'' ucapan Putra membuyarkan lamunan Alina yang sedang berkelana.
''Mau aku suapi?'' Goda Putra.
Alina menggeleng dan meraih piring yang sudah di siapkan Putra.
Bang Putra sangat baik padaku, aku harus melakukan sesuatu untuknya, aku tidak bisa bersembunyi terus seperti ini, semoga ada jalan keluar supaya aku dan bang Putra cepat pergi dari sini.
¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤
''Ternyata bang Putra hanya membual, dia memberi waktu aku seminggu untuk menjawab permintaannya, tapi nyatanya dia pergi sama Alina.'' curat Erna pada sahabat satu profesinya di restoran.
Lusi tertawa dan menepuk nepuk tangan Erna, gadis itu merasa di tipu dengan ungkapan Putra.
''Berapa kali aku bilang, Alina itu memanfaatkan kepolosannya untuk memikat pria yang kaya, kamu saja yang terlalu mempercayainya.'' Cetus Lusi dengan kedua tangan di lipat.
Apa benar kata Lusi, kalau selama ini dia hanya pura pura baik.
__ADS_1
Erna merasa sangat sedih, di saat sudah memantapkan hatinya untuk berlabuh, justru kenyataan pahit menamparnya.