Pernikahan Berselimut Dendam

Pernikahan Berselimut Dendam
Curiga


__ADS_3

Siapa orang yang menculik Alina dan Putra?


Mungkin itulah yang kini menjadi pertanyaan Erick, Sigit maupun yang lain, namun tidak dengan pak Indra yang langsung menerka dalang di balik orang orang yang sudah menangkap Putra dan Alina, meski tak bisa mengucapkan secara langsung, pak Indra yakin kalau orang itu adalah orang terdekat Erick.


''Pa, kasihan kak Alina,'' ucap Diana, sedih dengan kabar yang baru saja sampai di telinganya, sedangkan Erick tetap menampakkan wajah datarnya.


''Kamu tenang saja, Papa akan cari kak Alina sampai ketemu,'' melirik ke arah Erick yang masih saja bergeming.


''Rick, kamu di rumah saja, Om pinjam Sigit sebentar.''


Erick mengangguk tanpa suara, sedangkan Sigit malah menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ini pertama kalinya ia harus bekerja sama dengan Pak Indra dalam situsasi dirinya yang dalam mode pendekatan dengan Diana.


''Doakan aku semoga berhasil,'' bisiknya saat pak Indra sudah berlalu.


Diana mengangguk pelan, malu malu, ingin rasanya memberi penyemangat namun stop dulu belum halal.


Segera Sigit mengikuti pak Indra yang sudah di samping mobil.


''Pak, biar saya saja yang nyetir.''


Pak Indra tersenyum. ''Biasa saja, jangan terlalu formal, aku jadi nggak enak.''


''Kita mau kemana, om?'' tanya Sigit setelah beberapa menit membelah jalanan.


''Ke rumah Bima.'' jawabnya singkat.


Ke rumah pak Bima, apa Om Indra tau siapa orang yang sudah menculik Alina dan Putra saat ini.


Sigit hanya bisa bicara dalam hati, tak mau terlalu bertanya dan hanya mengikuti alur yang sedang berjalan.


¤


¤


¤


''Silahkan masuk, Tuan!''


Ternyata Bima sudah tau kedatanganku, hebat sekali dia.


''Selamat datang, Indra.'' Suara berat pak Bima menyongsong kedatangan pak Indra, pria yang masih bertengger di ujung tangga itu nampak begitu santai saat menyapa Pak Indra dan Sigit yang serius.


''Rupanya kamu bawa Sigit sebagai alat,'' cetusnya menghampiri pak Indra dan Sigit.


''Katakan! di mana Alina?'' Tanya Pak indra ke pokok permasalahan.

__ADS_1


"Alina," kata pak Bima mengulangi. Pria itu terlihat bingung dengan ucapan pak Indra.


"Kenapa kamu menanyakan Alina padaku, apa hubungannya?"


Pak Indra tersenyum sinis. "Jangan pura pura bodoh, aku sudah tau semuanya, meskipun aku belum mendapatkan bukti, tapi aku yakin kalau kamulah penculik Alina."


Kenapa jadi seperti ini sih. Apa yang sebenarnya terjadi antara Om Indra dan Om Bima, kenapa malah membingungkan.


Sigit hanya bisa mencerna omongan kedua pria itu, karena belum tau pasti apa yang sebenarnya mereka bahas.


"Sebelum kamu membawa bukti, jangan pernah menuduh orang sembarangan," bantah pak Bima dengan mengeratkan giginya, tak terima dengan tuduhan yang di lontarkan Pak Indra.


"Tunggu saja, sebentar lagi semua kebusukan kamu akan terbongkar, dan kamu tidak lagi bisa mempermainkan Erick."


Tanpa permisi pak Indra meninggalkan ruang tamu, begitu juga dengan Sigit yang mengikutinya dari belakang.


Semua bukti ada di tanganku, jadi bermimpilah Indra.


"Kebusukan apa, Pa?" tiba tiba saja suara seorang gadis dari belakang mengejutkan pak Bima yang sedang berkelana dengan otaknya, pria itu membulatkan matanya dan menoleh menatap putri gadisnya yang ada di depan pintu kamarnya.


"Melani, sejak kapan kamu disitu?" tanya Pak Bima sedikit meninggikan suaranya.


"Dari Om indra datang, dan aku mendengarkan semua percakapan papa dan Om Indra." Ucap Melani dengan lantang dan tanpa rasa takut.


Dengan langkah lebarnya Melani menghampiri pak Bima, ingin sebuah penjelasan dari sebuah perbincangan yang menurutnya sangat mengganjal.


"Tolong ceritakan, sebenarnya Kak Alina dan bang Putra di mana? apa benar Papa yang nyulik mereka.


"Ya nggak lah, mana mungkin papa culik abang kamu," jawabnya mengelak, dan mengalihkan tatapannya ke arah lain.


"Papa yakin?" tanya Melani menyelidik, bukan sifat papanya yang gerogi dalam menjawab sebuah pertanyaan seperti saat ini.


"Melani, kamu itu masih kecil jadi nggak usah ikut campur, masuk kamar!" menunjuk ke arah pintu kamar Melani.


"Nggak, papa jawab dulu pertanyaan Melani, apa benar papa yang nyulik kak Alina dan bang Putra?"


Plaaakkk..... sebuah tamparan mendarat di pipi Mulus gadis itu.


"Ini nggak seberapa, kalau kamu masih menuduh papa, siap siap kamu akan berada di kamar selama satu bulan." Ancam Pak Bima, lalu beranjak meninggalkan Melani yang masih meringis dan memegang pipinya yang memerah.


Papa jahat, papa egois, dia selalu mementingkan dirinya sendiri, selalu mengabaikan aku dan bang Putra.


Melani yang merasa terpukul dengan kejadian itu memilih untuk keluar dari rumahnya.


Dengan pikiran yang masih kalut, gadis itu melajukan mobilnya, menerobos jalanan yang sangat ramai, tak peduli dengan dirinya, yang pastinya Melani ingin membawa pergi masalahnya saat ini.

__ADS_1


"Seandainya bang Putra ada, dia tidak akan membiarkan aku seperti ini," gerutu Melani.


Gadis itu terus memukul setirnya yang tidak bersalah.


Karena saking tak fokusnya, tiba tiba saja mobil melani menabrak mobil yang berhenti di tepi jalan, untung gadis itu sempat mengerem yang menjadikan hantaman itu tak terlalu keras. Kalau tidak, mungkin akan lebih parah lagi.


Setelah puas dengan jeritannya, Melani mengelus jidatnya yang sempat terbentur setir.


Ya ampun, kenapa bisa nabrak sih.


Mau tidak mau Melani harus turun saat orang orang mulai berkerumun di sana.


Dengan perasaan yang takut, Melani mendekati mobil yang sedikit ringsek itu, belum ada penumpang yang keluar, namun ocehan demi ocehan terus terlontar untuknya.


"Saya minta maaf," ucap Melani menangkupkan kedua tangannya.


"Makanya lain kali kalau nyetir itu yang fokus, jangan melamun saja," celetuk orang yang berambut keriting.


Melani hanya mengangguk dan menoleh menatap seseorang yang baru saja membuka pintu mobil.


"O.... jadi kamu yang nabrak mobil aku?" suara familiar membuat Melani semakin takut saja.


Itu kan suara mas Anton, jadi ini mobil dia.


''Ma... maaf, aku akan bawa mobil kamu ke bengkel,'' ucap Melani menunduk dengan kedua tangan saling terpaut.


''Mohon maaf ya, Ibu ibu, biar saya selesaikan sendiri masalah ini.'' Ucap Pria itu, pria yang sudah membuat Melani tergila gila, namun masih memendam perasaannya.


''Kamu kenapa sih, nggak fokus gitu?'' tanya Anton memberikan sebotol air mineral ke arah Melani.


Huuaaa.... hua..... tiba tiba saja Melani menangis dengan kerasnya setelah meneguk air dari Anton.


''Hei.... kenapa kamu malah nangis, aku cuma nanya?'' Ucap Anton panik dan mengambil sapu tangan dari sakunya.


''Usap air mata kamu, aku nggak mau orang orang salah paham.''


Melani sedikit lega dan menyeka air matanya lalu menatap lekat wajah Anton.


''Aku kangen sama bang Putra, aku butuh dia.'' Ucap Melani di sela sela tangisnya.


''Karena merasa kasihan Anton menarik tubuh Melani dan membawa ke pelukannya.


Putra, Putra, apa tu orang nggak mikir dulu sebelum bertindak.


''Anggap saja aku abang kamu, kita ke restoran sekarang.'' Ajaknya membawa Melani ke mobilnya, namun kali ini bukan Melani yang nyetir, melainkan dirinya.

__ADS_1


Kenapa harus minta dianggap abang, kenapa nggak pacar saja.


__ADS_2