
''Pak ada Luna di bawah,'' Ucap Sigit yang baru saja menerima panggilan dari resepsionis.
"Suruh dia masuk!" tanpa menatap sahut Erick.
Karena setelah ponselnya hidup, Erick sudah membaca pesan yang di baca duluan oleh Alina, dan Erick sudah menebak pasti masalah itu yang akan di bicarakan.
"Hai Lun, apa kabar?" sapa Erick saat pintu ruangannya terbuka lebar, benar, raut wajah gadis itu nampak jengkel namun tak membuat Erick heran.
"Silahkan duduk!" masih sibuk dengan laptop di depannya.
Sigit yang merasa jadi pengganggu memilih untuk pergi.
"Aku kecewa sama kamu."
Erick menghentikan aktivitasnya menutup laptopnya dan menghampiri Luna yang memilih duduk di samping gadis itu.
"Maaf, tadi malam ponselku mati, dan aku nggak lihat pesan kamu," jelas Erick.
"Jangan bohong," Luna menyelidik, Ia bukan anak kecil yang bisa di bohongi begitu saja. "Jelas jelas sudah kamu baca dari awal." lanjutnya lagi, sorot matanya nampak marah dan tak terima dengan alasan Erick.
"Sebenarnya Alina yang baca," Terpaksa Erick harus jujur, tak mau terpojok dengan pertanyaan Luna yang mungkin bertubi tubi hanya karena satu kesalahannya.
Heh.... Luna tersenyum sinis. ''Semenjak menikah kamu memang sering mengabaikanku,'' dengan percaya diri kata itu di ucapkan. ''Harusnya kamu tau arti sebuah persahabatan,'' lanjutnya, masih saja melupakan amarahnya untuk Erick dan berusaha melunakkan hati pria itu.
''Terus apa yang kamu mau sekarang, apa kamu minta tebusan?'' Erick kembali beranjak, kali ini bukan ke arah meja kerjanya melainkan ke arah jendela, menatap pemandangan luar yang begitu indah.
''Berikan aku waktu sedikit saja, seperti dulu aku selalu memberikan waktuku untuk kamu, bahkan aku selalu mementingkan kamu dari pada diriku sendiri.'' Tiba tiba saja suara itu berada tepat di belakang Erick, terkejut saat hembusan napas terdengar makin mendekat.
''Jangan Lun,'' Erick menghentikan Luna yang hampir saja menciumnya.
''Aku sudah menikah, dan kamu bisa mendapatkan laki laki yang lebih baik dari aku.''
Menghindar, beralih ke kursi kebesarannya.
''Rick, aku sudah tau kalau kamu menikahi Alina hanya untuk balas dendam.''
Erick membulatkan matanya dengan sempurna, tak mengerti bagaimana Luna bisa tau misi awalnya tersebut.
''Apa Paman yang bilang?'' menatap lekat wajah Luna yang ada di sampingnya.
''Itu tak penting, aku akan tetap menunggumu sampai kamu berhasil membalaskan dendam orang tua kamu.''
Erick hanya bisa menatap punggung Luna yang meninggalkan ruangannya. Masih bertanya tanya dengan ungkapan Luna yang baru saja menghiasi kupingnya.
__ADS_1
Maaf Lun, kamu begitu baik padaku, tapi aku tidak bisa mencintaimu.
Kali ini Erick tak mau tergoda dengan yang lainnya dan memilih fokus dengan kerjaannya hari ini.
Baru beberapa menit kembali bergulat dengan dokumen di depannya, pintu kembali terbuka tanpa sebuah ketukan.
''Paman,'' menyapa pak Bima yang baru saja masuk. Dengan kedua tangan menengadah sambutan itu di persembahkan untuk orang tua asuhnya.
''Ada apa paman kesini, apa ada sesuatu yang perlu di bicarakan?''
''Iya,'' jawabnya membenarkan jasnya, mencari tempat yang nyaman untuk berbincang.
''Tentang apa?'' tanya Erick makin penasaran dengan wajah pak Bima yang sedikit datar.
''Tentang kamu dan Alina, apa kamu mulai jatuh cinta dengan gadis itu?'' tanya pak Bima menyelidik.
Cinta, itulah yang memang melekat di diri Erick dari dulu, namun semua itu harus berganti dengan benci saat ada selipan rumor yang didengarnya.
Erick menghela napas panjang menyandarkan punggungnya, lalu tersenyum.
''Cinta itu hilang setelah aku tau siapa pembunuh papa, dan paman tenang saja, aku tidak lupa dengan ucapan mama waktu itu, aku akan membuat Alina menderita.''
Ada senyum yang terukir di sudut pak Bima seraya menepuk bahu Erick.
''Permisi...'' tiba tiba saja suara Sigit kembali membuyarkan lamunan keduanya.
Erick beranjak dan kembali ke kursi kebesarannya.
''Ada apa?'' tanya Erick.
''Ini ada laporan yang harus bapak tanda tangani,'' menyodorkan beberapa dokumen di depannya.
Kini mata Sigit beralih melirik ke arah Pak Bima yang menyibukkan jari lentiknya dengan ponsel.
''Sigit, nanti sore Alina akan pulang, kamu ambil baju di rumah kontrakan itu.''
''Baik, pak.'' meninggalkan Erick dan pak Bima.
Sebenarnya apa yang di bicarakan pak bima?
Sigit hanya bisa bertanya dalam hati karena samar samar pria itu mendengar Erick menyebut nama Alina.
''Aku harus bilang ke Om Indra, dan semoga masalah ini cepat selesai dan tidak ada kesalah pahaman lagi.''
__ADS_1
Segera Sigit meninggalkan ruangan Erick menuju ruangannya, tak mau kalah cepat, pria itu ingin menghubungi Pak Indra dan membicarakan apa yang baru saja di lihatnya.
Namun kali ini niatnya melenceng, terlena saat tak sengaja menatap profil gadis cantik yang bernama Diana.
Iseng, itulah Sigit yang kini malah melakukan panggilan untuk gadis itu.
Halo, suara merdu menyapa.
Antara geli dan gembira itulah Sigit saat ini, seumur hidupnya baru kali ini laki laki itu berani menggoda wanita.
''Lagi ngapain?'' tanya nya singkat, bahkan menyebut namanya pun tak mau.
Lagi tiduran sama Kak Alina, memangnya kenapa?
Sigit menahan nafas.
''Nggak, ingin tau kabar kamu saja, siapa tau butuh bantuan aku.''
Modus....
Suara dari seberang sana yang membuat Sigit terkekeh lalu mengernyit kan dahinya dan kembali menatap layar ponselnya.
''Lagi pula siapa yang butuh bantuan kamu, dasar sekretaris ganjen.'' lanjut Diana dengan tertawa kecil.
''Awas saja ya, sebentar lagi aku pastikan kamu menjadi milikku,'' tanpa menunggu Diana yang sudah mangap, Sigit memutuskan sambungannya.
Diana terkejut dengan pernyataan Sigit kali ini, tak tau bagaimana menyikapinya, hatinya terasa senang, namun rasa takutnya akan berumah tangga pun masih sangat besar, apa lagi ini bukan kali pertama Sigit mengatakan itu.
''Kenapa, Di?'' tanya Alina saat Diana hanya bengong dengan kedua tangan di dadanya.
''Apa kakak pernah di tembak cowok?''
''Pernah,'' jawab Alina seraya mengingat itu sudah beberapa kali di alaminya.
''Gimana rasanya, apa jantung kakak terasa mau loncat?'' tanya Diana dengan polosnya.
Alina tertawa lepas. ''Apa pak Sigit nembak kamu?'' tanya balik Alina.
''Mungkin, aku nganggapnya gitu.''
''Jika kamu merasa berbunga bunga saat di tembak, itu artinya kamu juga menyukainya, tapi jika biasa saja itu artinya kamu tidak menyukai pria itu.''
Aku sangat senang kak, apa itu artinya aku cinta sama pak Sigit, eh lupa, mas Sigit, apa ini yang di katakan cinta, bahkan saat ini aku ingin dia ada di depan mataku.
__ADS_1
Nyatanya Diana belum berani mengungkapkan perasaannya di depan orang lain dan masih ingin memastikan apa yang terjadi antara dirinya dan Sigit.