
''Ning, suaminya kaya kok mau maunya tinggal di kontrakan.''
Alina tersenyum, begitu juga dengan Erick yang baru saja turun dari mobilnya, pandangan yang asing bagi para tetangga untuk keduanya yang hidup simpang siur antara kemewahan dan kesederhanaan.
Erick mendekati Alina yang sudah tiba di teras, meraih tangannya menunjukkan kemesraannya layaknya pengantin baru.
''Pingin variasi saja Bu, bagaimana rasanya menempati rumah kontrakan,'' Ucap Erick asal ceplos yang penting mereka percaya.
''Suami idaman, beruntung sekali Ning, jarang jarang sekarang ada laki laki yang begitu.''
Tak mau lama lama meladeni tetangga yang sedang berkerumun, Alina menganggukkan kepalanya. ''Maaf Bu, kami masuk dulu,'' menarik tangan Erick yang terus menampakkan gigi putihnya di depan mereka.
''Kamu kenapa sih sewot gitu?''
Alina menghentak hentakkan kakinya meletakkan tas yang di pakainya ke kursi ruang tamu, masih sebel dengan tingkah suaminya hari ini yang jelas jelas tak memberikannya kebebasan.
''Kakak yang kenapa?'' balik tanya, seolah olah memang Erick lah yang membawa kekacauan atas hidupnya.
''Kok aku?'' masih tak mengerti, Erick melepas jas dan duduk di samping Alina yang masih memasang wajah cemberut.
"Sini!" mengangkat tubuh mungil Alina dan membawa ke pangkuannya, mendekap tubuhnya dengan erat.
Alina hanya diam, menyandarkan kepalanya di dada bidang Erick, entah perasaan apa yang saat ini mengendap, rasanya Alina juga bahagia bisa bersama laki laki yang di cintai. Perasaan yang sudah lama ingin di salurkan, namun dengan kenyataan pahit yang ada Alina jadi sedikit mengundurkan kemantapan hatinya untuk seratus persen percaya pada suaminya.
''Aku kerja, dan kakak nggak boleh jemput aku seenaknya saja, aku kan malu.'' ternyata Alina malah memikirkan kejadian di restoran, di mana Erick menjemputnya sebelum waktunya pulang. Dan Anton, selaku bosnya pun tak bisa berbuat apa apa selain mempersilahkannya.
''Makanya kita pulang, dan kamu nggak perlu kerja lagi.'' Erick merogoh sakunya dan mengeluarkan dompet miliknya.
''Ini untuk kamu,'' meletakkan barang berharganya di kedua telapak tangan Alina yang saat ini menikmati posisi ternyaman.
''Apa ini?'' pura pura bodoh, padahal dia tau itu adalah tempat untuk menyimpan uang dan berbagai kartu, tapi masih saja bertanya.
''Itu kotak obat,'' Alina terkekeh mencubit pipi Erick.
Dompet yang sempat di pegangnya itu pun di kembalikan, ''Nggak usah, aku nggak terlalu butuh uang.''
Seketika Erick melempar dompet itu ke sembarang arah.
''Kenapa di buang?'' Alina beranjak dan kembali memungut benda itu, membawanya ke hadapan suaminya.
__ADS_1
''Kamu nggak butuh kan? untuk apa di ambil?'' mode marah, bahkan kali ini lebih serius dari pada yang tadi.
Inilah kelemahan Alina, tak bisa melihat laki laki yang di cintainya itu ngedumel, memendam amarah dalam hati.
''Iya aku terima.'' Erick menghentikan langkahnya yang hampir saja sampai di depan pintu kamarnya. Suara itu bagaikan air yang mengguyur seluruh tubuhnya.
Egois, maunya menang sendiri, tapi kenapa aku bisa tergila gila sama dia.
Alina mendekati suaminya dan mematung di depannya mendongakkan wajahnya menatap wajah tampannya.
''Puas?'' Erick tersenyum menundukkan kepalanya hingga saling bertukar napas, saling menatap menyusuri setiap jengkal wajah.
''Belum,'' jawabnya menyeringai, raut wajahnya nampak menyimpan sesuatu yang tak di mengerti, sorot matanya tajam, namun ada sejuta makna, ini pertama kalinya Alina merasakan keanehan suaminya dari dekat dan lama. Bahkan jantungnya tak dapat di kondisikan, ternyata pria itu lebih tampan dari yang ia kira.
''Kak,'' tiba tiba saja suara Alina membuyarkan Erick yang sudah bergelut dengan otaknya. Erick kembali memalingkan wajahnya takut kebablasan dan tak bisa memendam hasratnya.
''Belum siap?''
Alina diam, ini yang membuatnya bimbang, hatinya belum begitu yakin untuk melepaskan mahkotanya dan masih ingin bukti kalau dirinya adalah pelabuhan terakhir hati Erick. takut kecewa dan terluka seperti yang pernah ia alami sebelumnya.
''Bukan belum siap, tapi apa kakak yakin kalau kakak nggak akan berubah lagi, aku takut setelah kakak mendapatkanku, kakak akan mencampakkan aku seperti waktu itu.''
''Harus dengan cara apa lagi aku membuktikan?''
Mengangkat tubuh mungil Alina hingga ke kamar, merebahkannya di atas kasur dengan pelan.
''Dengan memberi aku waktu, sampai aku siap untuk semuanya.''
Erick mengangguk mengerti, mungkin itu memang bukan hal yang gampang bagi Alina yang pernah tersakiti olehnya.
''Loh, itu koper siapa?'' tanya Alina kembali mengangkat kepalanya saat Erick menarik koper ke depan lemari kamarnya.
''Koper aku,'' jawabnya, mulai menata baju yang ada di dalamnya, sungguh lancang sudah membawa barang milik nya tanpa sepengetahuan yang punya rumah.
''Kenapa kakak bawa baju segala sih, apa kakak akan tidur di sini lagi?''
Heeemmm.... Masih sibuk dengan aktivitasnya. ''Sampai kamu mau ikut baru aku akan pulang.''
Apalah Alina yang hanya bisa menerima, gadis itu mengambil ponselnya dan membukanya membiarkan Erick yang masih sibuk merapikan bajunya.
__ADS_1
Hi.... hi.... hi... terdengar suara tawa kecil dari bibir Alina.
''Kenapa kamu tertawa gitu, apa ada yang lucu?'' Dari jauh nampak ada yang kepo dengan apa yang di lakukan sang istri.
''Diana dan pak Sigit mau ke sini,'' kata Alina yang ternyata membaca pesan dari sepupu suaminya.
Ternyata Diana, aku kira Putra.
Ting tung, bunyi notif kembali menggema, namun kali ini dari ponsel Erick.
Alina melirik sang empu yang masih belum selesai lalu melirik ke arah ponsel yang di letakkan dimeja samping ranjangnya.
Kira kira siapa yang kirim pesan ke Kak Erick.
Karena saking penasarannya, Alina meraih ponsel itu dan membukanya.
Ternyata pesan dari Luna, ucap Alina dalam hati.
Dengan tak sopannya, Alina membaca pesan yang ada di ponsel suaminya.
Rick, aku mau ketemu sama kamu di cafe tempat biasa, jangan sampai nggak datang, aku tunggu.
Setelah membaca pesan itu, Alina mengembalikan ponsel Erick ke tempatnya, hatinya kembali goyah dan ingin bertahan dengan keadaannya saat ini.
''Itu pasti mobil Pak Sigit,'' tanpa menunggu suaminya, Alina keluar dari kamarnya untuk menyambut tamu yang datang.
''Kakak...aku kangen.'' berhamburan memeluk Alina yang beberapa hari ini tak di temuinya karena sibuk.
Keduanya masuk dan duduk di ruang tamu, menunggu Erick yang masih ada di kamar.
''Mana pak Erick?''
''Di kamar.'' mimik wajah Alina sangat malas saat mengucapkan nama suaminya, rasa hatinya semakin resah setelah membaca pesan dari Luna.
''Al, kamu baik baik saja kan?'' tanya Sigit menepuk tangan Alina.
Gadis itu mengangguk.
Aku sangat tidak baik, aku bingung harus bagaimana, apa aku harus pulang dan mempertahankan rumah tanggaku, tapi bagaimana jika kak Erick ada hubungan dengan Luna, apa kak Erick serius denganku atau dia akan pindah ke lain hati lagi.
__ADS_1